Kamis, 31 Juli 2008

Kak Ato (Muhammad Tatohirin)


Mencari Format dalam Mengembangkan Minat Baca Masyarakat

Kamis, 8 Desember 2004

JAKARTA - Dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca, bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI, di aula Perpustakaan Nasional RI pada tanggal 8 Desember 2005 sangat menarik untuk disimak. Menurut Muhammad Tatohirin atau yang lebih dikenal dengan nama Kak Ato, gerakan memasyarakatkan minat baca merupakan usaha yang harus dilakukan secara terus-menerus dan memerlukan waktu yang cukup panjang. Di samping itu, untuk keberhasilan sebuah gerakan diperlukan pengkajian tentang problematika sekitar masalah peningkatan minat baca masyarakat. Dengan demikian dapat dibuat formula gerakan yang tepat pada sasaran yang sesuai.

Masih menurut Kak Ato, masyarakat Indonesia sudah mengenal budaya membaca secara lisan dengan mendongeng pada anak ketika menjelang tidur. Mendongeng dapat dijadikan jembatan untuk mengetahui cerita selanjutnya melalui membaca. Dengan kata lain mendongeng perlu pemikiran, taktik strategi dan kebijakan, yang harus dirumuskan secara konprehensif untuk mencari formula dongeng yang berafiliasi dengan menumbuhkan gerakan minat baca yang paripurna. Demikian menurut Kak Ato yang juru dongeng itu.

Seminar Nasional yang dihadiri oleh 100 orang undangan dari seluruh Indonesia ini menampilkan Okke Hatta Rajasa. Isteri Menteri Perhubungan itu mengusung topik menumbuhkan minat baca melalui kegiatan mobil pintar. Menurut Okke karena kebiasaan membaca memang belum mengakar pada masyarakat kita. Mobil pintar ini tidak melulu membawa buku melainkan berbagai macam permainan yang paling disukai anak, setelah anak menunjukan minat yang baik, terhadap suatu masalah, peran tutor amat berperan dalam membimbing anak dalam mengarahkan menjadi gemar membaca, tetapi itupun memerlukan waktu yang panjang. Peran tutor amat dominan dalam mobil pintar, sehingga pendirian 100 perpustakaan desa pun jika tidak ditunjang oleh tutor yang terlatih teramat mustahil untuk dapat menjamin suatu keberhasilan.

Seminar menghadirkan pula Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional, yang mengetengahkan program program dan pengembangan budaya baca serta pembinaan perpustakaan desa yang ada di tanah air. Di samping itu Sekjen Dewan Buku Nasional Frans M. Parera juga turut membawakan makalah dengan topik Pengarang, Penerbit buku anak dan kebudayaan prediktif agenda kerjasama dengan komunitas industri buku nasional. Dari kalangan akademisi yang bergabung untuk membawakan makalah adalah Riris K. Toha Sarumpaet yang mengusung topik Pengembangan budaya baca nasional dari sudut pandang akademisi. Semetara itu topik tentang dukungan keluarga dalam menumbuhkan minat baca disampaikan oleh Ketua PKK Pusat. Seminar dibuka oleh Supriyanto, Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional RI.

Sumber: http://intranet.pnri.go.id/berita/index.asp?ID_Record=584

Kak Wees (Wachidus Sururi)

W a c h i d u s S u r u r i (Kak WeEs)
Dari kesenangannya mendongeng dan berimajinasi, mendirikan Rumah Dongeng Indonesia. Menurutnya, dongeng selain sebagai media pendidikan pada anak juga dapat menumbuh-kembangkan daya imajinasi anak sebagai pendorong kreatifitas dalam mengapresiasi lingkungan dan hidupnya. Keuntungan dongeng dan lebih dari sekedar hiburan adalah adanya kedekatan anggota keluarga bahkan masyarakat menjadi lebih akrab dan saling memiliki, media pendidikan tanpa menggurui dan sebagai media pematangan jiwa. Dongeng pun dapat dijadikan media komunikasi alternatif di kalangan anak jalanan untuk memudahkan penyampaian pesan-pesan tersembunyi dari para pendampingnya. Mendongeng bisa dipandang sebagai wujud kasih sayang, karena dengan kegiatan mendongeng akan tercipta hubungan batin yang akrab dan hangat antara anak dengan orang tua. Selain itu, mendongeng juga bisa berfungsi untuk mentransfer nilai-nilai kehidupan dan pesan-pesan moral kepada generasi mendatang dengan cara wajar, santai dan menyenangkan. Strategisnya fungsi mendongeng inilah yang kemudian melatari Kak WeEs untuk memilih menjadi pendongeng profesional.
:: Lembaga Rumah Dongeng Indonesia Jl. Saman RT 04/RW. 15 No. 114 BangunHarjo, Sewon, Bantul YOGYAKARTA-55187 Telp.: 0274-387292, Fax: 0274-372084

Sumber : http://www.indonesia.ashoka.org

Kak Imung


Tanamkan Cinta Islam lewat Dongeng

''PEMBERIAN nama kepada anak selain merupakan doa, juga sebagai peringatan. Contohnya Yanuarto karena lahir Januari. Febrianti lahir...,'' kata Kak Imung. Sekitar 150 anak di Masjid Baitul Muttaqien, Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan menyambung bersama-sama, ''Februari''.

Ketika Kak Imung mengatakan Apriliani, Meilani, dan Juni, anak-anak pun langsung menyebutkan bulan kelahiran nama-nama itu dengan tepat. ''Kalau Barjuli lahir...,'' kata Kak Imung.

Anak-anak serempak menjawab Juli. ''Agustus,'' kata ustad itu. ''Juli,'' bantah siswa-siswi taman pendidikan Alquran itu tak mau kalah. ''Bar (setelah) Juli kan Agustus,'' jelas Kak Imung. Spontan semua hadirin, termasuk para remaja anggota IPNU/ IPPNU yang menjadi panitia safari dongeng anak di masjid itu, terpingkal-pingkal.

Itulah salah satu gaya Kak Imung dalam membawakan dongeng anak Islam. Metode lain adalah bernyanyi. Lagu anak-anak Pada Hari Minggu diubah syairnya dengan kata-kata untuk menanamkan kecintaan anak kepada Islam.

Di bulan Ramadan kita wajib berpuasa, agar menjadi takwa pada Allah Ta'ala, banyaklah membaca Alquran dan sunah, jangan kotori dengan amal yang sia-sia, agar mendapatkan banyak pahala.

Langkah-langkah itu hanya sebagai pengantar sebelum Kak Imung membawakan kisah anak yang mbolos mengaji. Di tengah-tengah cerita, kalau peserta tampak kurang antusias, dia kembali melakukan hal-hal yang membangkitkan semangat.

Jadwal Penuh

Contohnya melucu, mengajak bertepuk tangan, dan menyanyi. Hasilnya, selama dua jam dia mendongeng, anak-anak selalu mengikuti dengan gembira. Tak ada yang mengeluh atau rewel.

Nama asli dia adalah Mulyadi Yulianto SPt, kini duduk di lajnah pendidikan dan pengajaran Al Irsyad, Purwokerto. Profesinya sebagai pendongeng membuat dia harus berkeliling setiap hari selama Ramadan ini, baik di taman pendidikan Alquran, masjid maupun sekolah. Pada hari libur, bahkan dua kali dia harus mendongeng, yakni pagi dan sore. Permintaan banyak sekali, kalau dipenuhi bisa sehari tiga kali.

Kak Imung mengaku senang dan bangga bisa membuat anak senang dan bersemangat belajar agama. Anak-anak adalah generasi yang harus mendapat pendidikan agama. Untuk mengajar mereka perlu metode khusus. Selama ini kebanyakan yang dipakai adalah metode untuk orang tua.

Selama Ramadan ini, Kak Imung memenuhi panggilan mendongeng atas nama Masjid Fatimatuzzahra Jl Gunung Muria (kompleks Unsoed). Masyarakat yang ingin mengundang Kak Imung, harus lewat masjid tersebut dengan peserta minimal 50 anak. Untuk acara mendongeng itu tidak dipungut biaya.

Kendala yang dihadapi dalam memenuhi permintaan mendongeng selama bulan Puasa ini adalah hujan yang turun hampir setiap sore. Asal penyelenggara siap, walau hujan, Kak Imung tetap datang. (Budi Hartono-20n)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com


Berita Utama |

UKIR PERILAKU ANAK DENGAN DONGENG (SUPLEMEN)

Mendongeng boleh dibilang kegiatan sangat sederhana. Tapi faktanya, tidak semua orang mampu melakukan. Gambaran sederhananya, mendongeng adalah bertutur dengan intonasi yang jelas, menceritakan sesuatu hal yang berkesan, menarik, punya nilai-nilai khusus dan punya tujuan khusus pula.

Mendongeng berbeda dengan bercerita yang sebagian besar bahannya berdasarkan fakta dengan bahasa yang datar dan
baku. Mendongeng lebih banyak disisipi khayalan, bahkan cenderung membual. Meski ada unsur membual, mendongeng punya tujuan jelas yaitu menyampaikan pesan-pesan moral tanpa berkesan menggurui atau memaksakan pendapat.

Bagi anak-anak, penyampaian pesan tanpa mendoktrinasi mereka sangatlah penting. Anak-anak tidak dapat dipaksa untuk melakukan perbuatan begini atau bersikap begitu. Mereka harus diberi contoh. Salah satu cara memberi contoh perbuatan yang baik atau buruk, media yang pas buat anak adalah mendongeng.

Semua orang tua sebenarnya punya bakat mendongeng. Tapi berani bertaruh, hanya segelintir saja dari mereka yang mau mengasah bakat mendongengnya. Dengan alasan tidak punya waktu dan sebagainya, media ideal ini terabaikan. Padahal jelas-jelas murah dan dapat dilakukan kapan saja, asal suasana hati anak pas senang.

Orang tua lebih suka berteriak,"Budiiiii, jangan nakal. Bapak sentil nanti. Kamu tidak boleh begini, begitu" dan seterusnya. Dengan cara itu, maksud orang tua untuk melarang anak melakukan sesuatu dengan cepat kesampaian. Tapi apakah hal itu efektif. Belum tentu. Malah, bisa jadi anak-anak bakal reaktif.

Dengan mendongeng, anak diajak berinteraksi, diajak berfantasi dan berpikiran kritis. Maka jangan heran, jika di saat Anda asyik mendongeng --tentu saja bila materinya mengasyikkan-- anak-anak akan bertanya,"Lho Pak, kok begini, kok begitu, Terus bagaimana? Kalau begini bagaimana?" dan seterusnya. Memang butuh waktu dan tenaga. Tapi niscaya, hasilnya bisa dirasakan.

Berdasarkan 'survey acak', orangtua--khususnya kaum ibu-- ternyata juga suka mengembangkan bakat berceritanya. Tapi kalau tidak disalurkan dengan benar, kegiatan bercerita -yang sudah dibumbui dengan bualan dan kebohongan-bagi orang tua itu-- akan berubah menjadi kegiatan ngomongin tetangga.

Nah lho! Pilih mana, mendongeng kepada anak atau bercerita ngalor-ngidul dengan tetangga.

Tujuan Luhur

Secara gamblang tokoh dongeng Kusumo Priyono Ars atau yang disapa akrab Kak Kusumo menjelaskan, kegiatan mendongeng sebenarnya tidak sekedar bersifat hiburan belaka, melainkan memiliki tujuan yang lebih luhur, yakni pengenalan alam lingkungan, budi pekerti dan mendorong anak berperilaku positif.

Menurut dia, cakrawala pemikiran anak dapat berkembang sesuai dengan nalurinya. Apabila diperhatikan, anak-anak mempunyai jiwa perasaan halus dan mudah terpengaruh. Sudah menjadi sifat mereka untuk suka mencontoh atau meniru. Begitu pula mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang menarik minal anak sehingga menumbuhkan fantasi serta imajinasinya.

Guru taman kanak-kanak atau sekolah dasar yang terbiasa mendongeng, barangkali tidak menyadari bahwa melalui berbagai cerita yang didongengkannya, ia tengah menyajikan fakta-fakta secara sederhana.

Ketika guru bercerita tentang sekuntum bunga mawar atau kupu-kupu yang cantik, secara tidak langsung ia sedang mengajarkan ilmu pengetahuan alam dengan cara yang paling sederhana dan menarik. Meski demikian, hakekat dari cerita itu, kata Kusumo, bukanlah kumpulan ilmu pengetahuan dengan cara yang paling sederhana dan menarik. Meski demikian, hakekat dari cerita itu bukanlah kumpulan ilmu pengetahuan alam, lampiran geografi atau pemaparan sejarah.

"Cerita dan bercerita adalah bagian dari olah seni. Oleh karena itu, orang tua dapat mengajarkan anak tentang fakta-fata yang menarik dari kumbang, kupu-kupu, bunga atau apa saja dengan cara mendongeng-mengantarkan keindahan alam langsung kehadapan anak."

Keuntungan lain dari mendongeng di kelas, kata Kusumo adalah menghadirkan atmosfer relaksasi di kelas, bermanfaat sebagai media penyegaran yang kreatif. Di samping itu, mendongeng merupakan cara termudah, tercepat untuk membina hubungan antara guru-murid dan salah satu cara paling efektif untuk membentuk tingkah laku di kemudian hari.

Dengan kata lain, tujuan utama mendongeng adalah memperkaya pengalaman batin anak dan menstimulir reaksi sehat atasnya. Tentu, hasilnya jelas tidak dapat dilihat seketika. Berdasarkan kecenderungan dari sifat-sifat anak, jelaslah bahwa mendongeng bukanlah perkara gampang. Di dalam memilih cerita dongeng misalnya, orang tua dituntut selektif dan jangan asal memilih cerita. Sebab, bisa jadi suatu cerita justru merangsang perilaku negatif anak.


Sumber: http://lebah.formasi.com/bpr_home1.html

Kak Agus DS (Agus Djapan Sodik)



Dongeng
Sarat Pesan

Thursday, 29 May 2008

Gerakan, mimik, visual, dan didukung peranan boneka membuat sebuah dongeng menjadi istimewa. Di Pendopo Petra Toga Mas Surabaya ramai dengan anak-anak yang asyik menyaksikan pertunjukan sulap dari Agus Djapan Sodik. Kak Agus, demikian dia dipanggil, adalah pendongeng sekaligus pesulap. Sulap yang dibawakan di antaranya permainan kartu remi, tukar dua pipa yang di dalamnya ada gelas dan botol, bernyanyi dengan menirukan suara hewan, dan mendongeng dengan menggunakan boneka Bio.

Saat salah satu anak diminta mengambil satu kartu dan Kak Agus meminta menunjukkan kepada teman-temannya.Kartunya 10 hati. Kemudian kartu tersebut dikocok lagi, lalu diambilnya kartu tersebut. Ternyata kartunya sama 10 hati.

Aksinya berlanjut dengan boneka Bio. Sebelum bernyanyi boneka Bio ditanya Kak Agus. “Berapa umurmu Bio?” tanya Kak Agus. Kata Bio, umurnya 715 tahun. Anak-anak tertawa karena itu adalah hari jadi Surabaya.

Juga ada boneka Sogik dan Berang. Tiga boneka ini menghibur anak-anak yang hadir pada acara Performance

Mendongeng yang diadakan Kanisius bekerja sama dengan Petra Toga Mas, Minggu (25/5).Berbagai cerita dibawakan dengan apik oleh pendongeng berkepala plontos ini. Menurut August Windu Aji, Marketing Communication Kanisius, sebenarnya Performance Mendongeng ini bagian Tour Road Show yang diawali dari Bandung,

Jogjakarta, Semarang, kemudian dilanjutkan di Malang, Jember, Surabaya, dan Bali. Di Surabaya diawali dengan workshop yang diadakan Sabtu (24/5) kemudian Perfomance Mendongeng yang dibawakan oleh Agus Djapan Sodik, jelas Windu.

Kiprah Agus sudah tidak diragukan lagi. Dia mengisi acara di stasiun televisi, seperti Kring-kring Oh Lala, Cabe Rawit,dan Pesta Anak sekaligus mendongeng di luar negeri. Baginya, mendongeng memberikan nilai atau moral yang baik melalui kemasan yang ringan.

Gerakan, mimik, visual, dan didukung peranan boneka membuat sebuah dongeng menjadi istimewa. Ketika mengadakan workshop di Bandung, Agus diminta membuat buku tentang mendongeng. Permintaan ini dipenuhi dan terbitlah buku Mendongeng Bareng Kak Agus Ds, Yuk! Pengerjaan buku ini memakan waktu empat bulan.

Dengan dongeng pula anak mengenal banyak pengetahuan sekaligus membuka imajinasi. Seperti yang dialami anak-anak dari Panti Asuhan Don Bosco, Surabaya, yang penuh semangat memperhatikan Kak Agus mendongeng.

Dongeng yang menarik tidak menggurui. Dongeng harus bisa membuat anak-anak tertarik, terlibat, dan merasakan pengalaman baru. Jika sudah masuk dalam zona ini mudah bagi siapa saja untuk memasukkan pesan, asal tetap dikemas menarik.

Oleh Agustinus Sepanca Naryanto

Guru Ekstrakurikuler Teater dan Staf IT SMA St Maria, Surabaya

as_024@yahoo.com

Surya Online

http://www.surya.co.id/web

Kak Aga


8 Resolusi 2008

Sebenarnya banyak sekali resolusi saya di 2008. Secara gitu loohh… 2008, saya harus membangun kembali puing-puing sisa kejayaan masa kuliah. Loohh... apa hubungannya dengan kuliah? kan udah beresss.... Yaaa, maksudnya masa kejayaan saya, semuanya saya peroleh di masa-masa kuliah, dari mulai prestasi lomba, prestasi belajar, sampai dengan nominasi-nominasi, award-award dan oscar-oscar lainnyahhh...hehehee....

  1. Saya sedang membantu sebuah sekolah yang dulu saya pernah mengajar dengan sedikit pengetahuan dan wawasan tentang dunia pendidikan. Dan saya kepengen sekolah itu maju, baik dari segi SDM pengajarnya maupun anak-anaknya. Sekolah itu letaknya di desa dan para gurunya sampai sekarang digaji melalui dana BOS. Saya ingin memajukan sekolah tersebut dari segi kualitas sumber daya manusia yang dihasilkannya. Terima kasih banyak-banyak buat mas Hernowo yang telah banyak memberikan ilmu tentang pendidikannya, sehingga ilmu yang sedikit saya serap itu akan saya sumbangkan. Mudah-mudahan ilmunya tambah hebat.
  2. Saya memproyeksikan di 2008, sy harus memliki mobil yang nyaman (mimpinya pengen avanza sihh.... biar kalo hujan ga kehujanan dan panas ga kepanasan.
  3. Saya bermimpi mendapatkan beasiswa dari luar negeri untuk mengembangan ilmu tentang dunia kependidikan. Tahun ini saya gagal, mudah-mudahan tahun depan saya sukses.
  4. Pada tahun 2008, akan membaca lebih banyak buku minimal sebulan lebih dari 1 buku
  5. Saya harus bisa membuat satu buah buku Novel anak di tahun 2008 minimal 2, dan buku cerita anak.
  6. Saya akan lebih sering membuat resensi dari produk-produk anak tentunya. Kenapa produk anak? Secara gitu produk anak itu memang produk yang saya senengin. Saya bersyukur juga, bahwa 2 resensi buku anak saya sudah di muat di kompas anak.
  7. Saya ingin tampil sebagai pendongeng tetap di salah satu media elektronik, lebih khususnya mungkin Radio. Saya ingin bekerja sama dengan salah satu radio di Bandung.
  8. Saya ingin lebih fokus lagi dalam membimbing anak. Saya ingin anak saya merasa aman dan nyaman dalam naungan kedua orang tuanya,khususnya saya sebagai bapaknya. Saya ingin memberikan seluruh kemampuan terbaik, kasih sayang,materi (yang meskipun tidak begitu banyak), waktu, dan semuanya..semuanyaaa...yang ada dalam diri saya.

Amin...
Ya Allah bimbing saya dalam mengarungi mimpi-mimpi itu, agar tetap hidup di dalam diri saya. Sehingga saya tetap istiqamah dan mampu menjaga Api itu tetap menyala....
Amin ya Rabbal Aalamiinn....

Sumber : http://agarumahdongeng.multiply.com/journal

Kak Agam


Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.

KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu Kak Agam dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.

Sumber : http://kakagam.multiply.com/tag/dongeng%20indonesia


Rabu, 30 Juli 2008

Kak Joko (Djokolelono)


Bicara Tentang Dongeng

Siang disudut Children Corner Toko Gunung Agung di Tendean Plaza, Jakarta Selatan. Lebih 50 anak-anak kecil berkumpul membentuk setengah lingkaran asyik menyimak dongeng yang diceritakan Djokolelono. Dengan mimik lucu, bersahabat dan kadang diseling bahasa yang diplesetkan menjadi sebuah lelucon yang menyegarkan. Bukan hanya kata dan lelucon, juga dengan sajian gambar-gambar menarik di tiap lembaran kertas, semakin membuat sekumpulan anak itu betah tak beranjak dari tempatnya.

Trend barukah ini? Mendongeng dengan dilengkapi gambar atau alat peraga lain seperti boneka, wayang dan lainnya. Menurut Djokolelono pecinta anak, hal ini tergantung pandangan orang, apalagi yang tidak terbiasa. Bagi pria berambut merah dan eksentrik ini, mendongeng dengan dilengkapi gambar merupakan siasatnya agar anak lebih konsentrasi menyimak dongeng yang dia sajikan. Gambar hanya sebagai alat untuk menarik perhatian anak. Selain gambar sebagai alat agar anak konsentrasi menyimak dongeng, ada juga pendongeng yang memanfaatkan boneka, juga wayang sebagai pelengkap. “Karena anak sampai umur 5 tahun, perhatian mereka pada sesuatu masih mudah terpecah atau terpengaruh ketika melihat obyek lain,” ungkap Djokolelono. Kadang juga dilengkapi dengan bunyi-bunyian untuk memikat perhatian mereka. Djokolelono yang tertarik pada dunia dongeng ini mulai asyik menekuni dunia anak sejak ia menulis cerita anak-anak. Tentu saja karena ia senang pada anak-anak, dengan visi menghibur dan cerita menjadi nomor dua, tentu cerita dengan muatan pesan moral yang baik. Seperti siang itu ia mendongeng tentang sebuah persahabatan antara seorang anak dan sebatang pohon. Sebuah persahabatan antara alam dan manusia yang saling memberi dan menerima, saling membutuhkan. Meski dalam cerita ini digambarkan anak sejak kecil hingga tua renta lebih banyak meminta pengorbanan sang pohon. Tentang pohon yang diminta mengorbankan diri dari mulai daun, ranting, dahan bahkan tubuhnya, pohonnya sendiri untuk ditebang sebagai bahan membuat rumah.

Djokolelono melihat dunia anak seperti dunianya dulu ketika masih kanak-kanak yang senang bila orang tua mendongeng untuknya. Ketika kecil ia suka menonton wayang dengan suritauladan antara kejahatan dan kebaikan, antara hitam dan putih. Dan ia merasa terhibur.

Yang sangat disayangkan adalah mulai memudar bahkan hilangnya permainan tradisional anak seperti petak umpet, gangsingan, gobag sodor atau permainan lain yang sering dilakukan anak-anak ketika terang bulan dihalaman rumah. Kini sejalan dengan perkembangan dunia, anak lebih suka bermain playstation atau melihat film laga anak-anak dari negeri asing yang membanjiri dunia pertelevisian kita. “Hal ini merupakan kegagalan kita mempertahankan atau setidaknya melestarikan permainan tradisional. Namun saya kira belum terlambat untuk mengembalikan dan mengenalkan kembali anakanak kita pada permainan tradisional,” kata Djokolelono.

Untuk menumbuhkan kembali kecintaan anak pada permainan dan cerita rakyat bisa saja dimulai dengan melakukan metode-metode tertentu. “Tapi jangan drastis, bisa saja kita membuat wayang dengan jalan cerita yang up to date. Cerita anak dengan tokoh yang mudah dikenal dan diingat anak, dengan nama yang populer. Kita lihat cerita Keluarga Cemara, cukup bagus meski konon masih kalah dengan Harry Potter. Tapi itu saya kira

terletak pada marketingnya,” Katanya panjang lebar. Menumbuhkan kembali kecintaan anak pada cerita negeri sendiri agar tidak dilakukan dengan drastis karena dia punya alasan, bila kita paksakan anak harus kembali pada cerita rakyat dengan mengenalkan hikayat atau apapun namanya dikhawatirkan terlalu ekstrim sehingga anak akan kaget dan acara seperti mendongeng bisa menjadi klasik, kuno, terlalu tradisionil. “Karena itu pelan-pelan, setahap demi setahap kita kenalkan anak pada cerita dengan nama-nama umum dan tentunya yang bermuatan moral yang baik, tentang budi pekerti,” Kata pria yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan periklanan ini.

Bicara tentang komik yang saat ini membanjiri toko-toko buku, kita bisa sangat kompleks kalau bicara masalah komik sebagai sumber manusia. Dunia industri komik tidak menguntungkan, seperti labirin layaknya. Masih juga komik dari luar lebih maju dengan penyajian gambar dan cerita yang menarik. “Dulu masanya Ali Sadikin kita dilecut untuk membuat buku. Itu sangat bagus, namun sempat menurun akibat masuknya buku-buku import. Saya ingin dunia buku atau cerita anak berkembang lagi dengan kekayaan cerita yang kita miliki,” katanya. Ingat saja ketika serial Mahabharata atau Ular Putih ditayangka televisi, saat itu opera tradisional sempat naik pamor lagi dengan dibungkus cara-cara modern. Pernah juga kita buat film animasi yang menyajikan cerita rakyat seperti Cindelaras, Hang Tuah, Bawang Merah Bawang Putih dan lainlain. Namun hanya sesaat filmfilm animasi ini muncul kepermukaan. Menurut Djokolelono cerita anak bagus tapi dari segi promosi kurang, di iklan cetak promosi sangat berperan.

Namun yang mulai nampak menggembirakan saat ini menurut Djokolelono kehadiran toko buku dan kebutuhan buku mulai terasa. Anak-anak kembali ke toko buku, peran buku sudah eksis lagi, mereka mulai merasakan kebutuhan akan bacaan apalagi bila saat-saat tertentu dihadirkan acara-acara menarik seperti mendongeng di toko buku, akan semakin menarik minat anak pergi ke toko buku.

Diakhir perbincangan, Djokolelono berharap Toko Gunung Agung membuat serial buku anak yang populer sifatnya. Bisa saja diambil dari media televisi yang kemudian dikemas menjadi buku. Juga tentunya kreatifitas dan peran serta para penulis kita untuk turut menyumbangkan cerita bagi anak-anak kita.

Sumber : http://www.tokogunungagung.co.id/index.php?go=read_toga_news&id=18

Selasa, 29 Juli 2008

MENJADI PENDONGENG TERBAIK (SUPLEMEN)

Menjadi Pendongeng Terbaik

Kegiatan mendongeng tidak semata-mata berarti menceritakan tentang dongeng-yang bermuatan kisah rekaan ataupun khayalan-pada anak-anak. Lebih luas dari itu, mendongeng lebih berarti bercerita tentang apa saja pada anak-anak atau para penyimak lainnya. Bahan cerita bisa bersumber dari buku-buku (dongeng, cerita rakyat, fabel, dan sebagainya) maupun kisah karangan si pencerita sendiri.

Memang, dongeng bisa dinikmati siapa saja, namun sejauh ini anak-anak bisa dikatakan sebagai penonton atau sasaran utama. Umumnya, kegiatan mendongeng atau bercerita memang dekat dengan kehidupan anak-anak. Cerita-cerita yang dibacakan ataupun disampaikan umumnya dikemas sedemikian rupa agar dapat dicerna para penikmat cilik ini. Dengan kemampuan membaca yang rata-rata masih minim, penyampaian cerita secara lisan tepat ditujukan untuk anak-anak.

Pudentia MPSS, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, mengatakan, sebenarnya awal kegiatan mendongeng itu sebagai salah satu sarana hiburan maupun pengisi waktu luang. Apalagi di masa belum ada alternatif hiburan dari media lain seperti televisi, mendongeng menjadi hiburan dan sekaligus sarana komunikasi seseorang dengan anak maupun lingkungannya. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, sama nasibnya dengan tradisi lisan lainnya, peran kegiatan mendongeng atau bercerita kemudian digantikan media lain. Menyusul munculnya tradisi tulisan, perkembangan industri percetakan, hingga masa multimedia seperti saat ini, cerita tidak harus dinikmati dari mendengarkan omongan seorang pencerita. Peran pencerita digantikan oleh banyak pihak dan banyak bentuk dalam industri media hiburan. "Sebenarnya tidak masalah jika terjadi secara alamiah, namun persoalannya kita tidak sadar ada yang berharga di situ," Pudentia menjelaskan.

Diakui, selain sebagai salah satu bentuk hiburan, kegiatan mendongeng mempunyai posisi yang "menguntungkan". Selain bertugas menghibur, kegiatan ini juga bisa menjadi sarana didaktis. "Melalui ekspresi, penjiwaan, dan komunikasi orangtua atau penutur, anak akhirnya bisa mempersonifikasi dan memilih unsur yang baik dari cerita," ungkap Pudentia. Henny Supolo, pemerhati persoalan pendidikan anak, juga mengungkap hal serupa.

Menurut Supolo, hubungan kegiatan mendongeng dengan pembentukan kepribadian anak terjadi saat anak mulai dapat mengidentifikasi tokoh. "Ketika anak ikut hanyut dalam cerita, ia segera melihat dongeng dari mata, perasaan, dan sudut pandangnya," jelas Supolo. Melalui pendekatan mendongeng, nilai-nilai kemanusiaan dapat ditanamkan pada anak tanpa terasa seperti digurui. Proses penyerapan cerita dan pesan-pesan di balik cerita, menurut Supolo, sangat berharga bagi proses belajar anak. Proses ini bahkan terus berlanjut setelah kegiatan bercerita tersebut selesai, melalui diskusi atau tanya jawab yang berlangsung pada anak.

DENGAN memandang kegiatan mendongeng tidak semata sebagai sarana hiburan, muncul pertanyaan, kualifikasi seperti apakah yang layak menjadi pendongeng atau pencerita yang baik? Sejauh ini memang tidak ada batasan ataupun persyaratan ketat bagi seseorang pendongeng. Namun, beberapa pengamat menganggap unsur kedekatan antara pendongeng dan pendengar menjadi unsur yang patut dipertimbangkan. Menurut Pudentia, misalnya menganggap yang pertama dan utama menjadi seorang pendongeng bagi anak adalah orangtua. Tugas bercerita ini terutama sebaiknya dilakukan sang ibu yang sejak awal sudah memiliki kedekatan dengan anak. "Kegiatan mendongeng sebetulnya bisa mulai dilakukan sejak sang anak masih dalam kandungan," jelas Pudentia. Kegiatan mendongeng yang dimaksud di sini tidak berarti harus bercerita panjang lebar tentang sesuatu.

"Hanya dengan membunyikan sesuatu yang imajinatif secara singkat pun sebetulnya orangtua sudah masuk dalam dunia mendongeng," Pudentia menambahkan. Sayangnya, sejauh ini masih banyak orangtua yang belum terlalu sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan itu-sering kali secara naluriah-sesungguhnya sudah masuk ke area mendongeng. Padahal, bentuk hubungan orangtua dan anak yang secara dini seperti inilah yang perlu dikembangkan. "Banyak orangtua saat ini tidak punya waktu untuk mendongeng, lalu mengalihkan tugas tersebut kepada orang lain. Menyedihkan. Padahal sebetulnya, justru perlu ditumbuhkan dari keluarga, dan ini yang terbaik," keluh Pudentia.

Selain orangtua, belakangan memang bermunculan orang- orang yang secara khusus bercerita atau mendongeng bagi anak-anak. Di kalangan ini, ada yang kemudian benar-benar mengembangkan kemampuan mendongeng secara profesional dan dikenal sebagai seorang pendongeng atau story teller. Untuk menjadi para pendongeng yang sering kali tampil di atas "panggung" ini, sudah tentu diperlukan keahlian khusus. Hal ini diakui oleh Margareth Read MacDonald, seorang story teller asal Amerika Serikat. Menurut MacDonald, setiap orang bisa menjadi seorang pendongeng yang baik. Ia juga menjelaskan, tidak semua pendongeng harus identik bercerita dengan tampil di atas panggung. "Setiap orang bisa duduk di depan anak-anak dan bercerita dengan baik di mana saja," jelas MacDonald.

Namun, untuk menjadi pendongeng atau berprofesi sebagai pendongeng memang diperlukan keahlian tersendiri. Margareth Read MacDonald menganggap untuk menjadi pendongeng yang baik diperlukan tiga modal utama. Pertama, sang pendongeng harus mempunyai cerita yang bagus. Ia melihat kebanyakan cerita yang disampaikan seorang pendongeng bersumber dari buku. "Tidak semua cerita itu siap untuk disampaikan kepada anak-anak," jelas MacDonald. Sering kali cerita dalam buku terlalu panjang dan akibatnya dapat membosankan anak-anak jika disampaikan secara lisan. Cerita-cerita ini masih harus dikemas lebih lanjut. Cerita yang telah dikemas untuk disampaikan secara lisan inilah yang dimaksud MacDonald dengan cerita yang bagus. Kemudian, dua modal lainnya untuk dapat mendongeng dengan baik menurut MacDonald adalah sang penutur menyukai dan menikmati cerita maupun proses penyampaiannya. "Anak-anak bisa melihat hal ini dari sang pendongeng," jelas MacDonald.

Suyadi yang sering dipanggil Pak Raden dan juga dikenal sebagai seorang pendongeng berpendapat, mendongeng yang baik berkaitan dengan isi cerita dan cara bercerita. Menurut Suyadi, isi cerita yang baik harus mendidik atau memiliki pesan moral. "Pesan moral tersebut tidak harus disampaikan langsung, tapi disampaikan melalui ekspresi figur sikap dan suara seorang anak yang baik misalnya," ungkap Suyadi. Namun, ia mengakui, tidak harus selalu cerita yang disampaikan sarat dengan pesan moral. "Ada dongeng yang memang semata-mata untuk menyenangkan anak-anak atau menenangkan," jelas Suyadi lebih lanjut.

Selain itu, untuk bisa mendongeng dengan teknik yang baik juga diperlukan ikatan batin dengan anak-anak. Seperti layaknya ikatan batin antara seorang anak dan ibu, sudah pasti sang anak akan merasa senang jika tahu sang ibu berada di dekatnya. Ikatan batin ini dapat dicapai dengan berperilaku baik kepada anak-anak. "Perlihatkan kalau kita senang dengan mereka," Suyadi mengungkapkan. "Tidak perlu diungkapkan, cukup ditunjukkan dan dirasakan saja." Apabila ikatan batin itu sudah terjalin dan anak-anak merasa senang dengan pendongeng, hasilnya apa pun yang disampaikan pasti akan didengarkan.

DALAM praktiknya, para pendongeng profesional pun kini benar-benar memperhatikan kebutuhan dan keinginan penontonnya. Tidak jarang pula kini mereka menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Poetri Soehendro, misalnya, yang awalnya menggeluti kegiatan ini pada sebuah radio swasta mengungkapkan, seorang pendongeng juga harus memahami perkembangan anak-anak sesuai masa sekarang. "Mereka tidak hanya mendengar lagu-lagu Sherina dan Tasya saja, tetapi juga sudah mendengarkan Britney Spears dan Limp Bizkit," ungkap Puteri. Konsekuensinya, ia pada saat mendongeng harus bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak. "Kita harus masuk ke gaya yang seperti itu, harus lebih funky," tambah Puteri. Dalam rangka inilah, Poetri Soehendro akhirnya mampu menempatkan diri sebagai sahabat mereka. "Saya harus menjadi the real person untuk mereka. Bisa mereka sentuh, peluk, bahkan jadi tempat mengadu," jelas Puteri lebih lanjut.

Agak berbeda dengan pendapat We Es Ibnoe Savy, pendongeng asal Yogyakarta. Bagi Ibnoe Savy, cerita yang paling baik adalah cerita yang berasal dari pengalaman batin pendongeng itu sendiri. Selain itu, ia menekankan, seorang pendongeng juga harus bersikap seperti apa yang disampaikan pada anak-anak, dengan kata lain sikap hidupnya harus menunjukkan suatu teladan. Ibnoe Savy menyadari bahwa dongeng merupakan media pendidikan yang sangat efektif bagi anak-anak. Oleh karena itu, kunci lain yang juga harus dimiliki seorang pendongeng adalah keseriusan. Akhmad Sutisna, pendongeng dalam bahasa Sunda yang juga dipanggil Uwa Kepoh, misalnya, amat meyakini bahwa mendongeng tidak bisa dilakukan secara sembarangan. "Harus dilakukan dengan serius," ungkapnya. Keseriusan yang dimaksud jelas-jelas membutuhkan wawasan yang luas, kondisi tubuh yang prima, serta konsentrasi yang tinggi yang harus dimiliki seorang pendongeng.

Menjadi bagian dari penonton, memiliki wawasan yang luas, dan menjiwai cerita merupakan bekal yang harus dimiliki dari dalam diri para pendongeng. Semua semakin lengkap jika diperkaya dengan kreativitas. Belakangan, para pendongeng tampaknya sadar betul akan hal ini. Tarlen Handayani, pengelola Toko Buku Kecil (Tobucil) di Bandung, mengatakan, kreativitas memang sangat diperlukan untuk membuat anak-anak mengerti cerita. Ketika mendongeng untuk anak-anak tuna netra, misalnya, pihak Tobucil harus menyediakan benda yang dapat diraba anak-anak tersebut. "Jika kami mendongengkan tentang kelinci, harus disediakan kelinci yang bisa mereka sentuh, raba, dan elus," jelas Handayani. (nca/bip/irn/sig/umi/wen)


Profesi Pendongeng Mulai Menjanjikan

Menjadi juru dongeng di masa lampau memang hanya dipandang sebelah mata. Para pendongeng pun menjalankannya sebatas hobi, ataupun profesi tambahan bagi mereka yang mencintai dunia anak dan buku-buku cerita. Masa kini tidak lagi demikian. Mendongeng sama seperti profesi lain yang dapat diandalkan sebagai gantungan hidup.

We Es Ibnoe Sayy, pendongeng dari Rumah Dongeng Indonesia yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta, membuktikan hal ini. Kini, tanpa sungkan-sungkan, ia cantumkan jenis pekerjaan sebagai pendongeng di kartu tanda penduduk (KTP)-nya. "Saya mencintai profesi ini dan hidup dari mendongeng," ungkapnya. We Es, begitu biasa ia disebut, mengaku setiap bulan rata-rata mendapat order mendongeng 5-6 kali. Bahkan, jika bulan Puasa, ia bisa manggung hingga 100 kali dalam sebulan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, We Es pernah mendongeng hingga ke Afrika Selatan.

Akhmad Sutisna (51), atau lebih dikenal dengan sebutan Uwa Kepoh, juga merasakan nikmatnya menjadi pendongeng. Namanya yang melambung sebagai pendongeng berbahasa Sunda itu juga sependapat bahwa dongeng dapat dijadikan gantungan hidup. Ia mencontohkan dirinya. Secara materi, dari hasil mendongeng ia mampu menghidupi istri dan tujuh anaknya. Bahkan, dari hasil mendongeng, dia mampu memiliki dua stasiun radio. Radio yang pertama, Suara Teruna Jaya, berlokasi di Pameungpeuk, Garut Selatan. Siaran dari radio ini dapat ditangkap hingga Pulau Christmas. Adapun sebuah stasiun radio lain miliknya berlokasi di Bandung. Radio yang bernama Radio Emsa ini dibelinya beberapa tahun yang lalu. "Alhamdulillah, dari hasil mendongeng, saya bisa punya semua ini," kata dia seraya menambahkan, segala sesuatu yang dilakukan dengan serius dan kerja keras pasti berhasil.

Sebagaimana halnya pekerjaan lain, mendongeng bagi Akhmad harus dilakukan dengan serius. "Mendongeng itu tidak bisa sembarangan. Mendongeng adalah pekerjaan serius yang harus dilakukan dengan serius juga," tuturnya. Selama ini, menurut Akhmad, banyak orang beranggapan bahwa mendongeng sama mudahnya dengan membaca buku. Cukup dibacakan dengan sedikit intonasi dan penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memberi kesan pada pendengar. Ternyata, mendongeng jauh lebih sulit dari sekadar membaca. Untuk mendongeng, kata Akhmad, dibutuhkan wawasan yang luas, kondisi tubuh yang prima, serta konsentrasi yang tinggi. "Kalau membaca biasa yang lurus-lurus saja (nadanya), tentu saja tidak menarik," kata Akhmad.

Bagi Kusumo Priyono, mendongeng tampaknya sudah mendarah daging. Bermula dari penghargaan yang ia terima sebagai juara mendongeng tingkat nasional yang diselenggarakan Yayasan Taman Mini Indonesia Indah. Sejak tahun 1985, ia lalu mengkhususkan dirinya dalam profesi ini. Sampai saat ini tidak kurang sudah 34 buku cerita dongeng yang ia ciptakan. Dalam waktu dekat, ia akan melengkapinya menjadi 44 buku. Tidak hanya itu, dongengnya pun kini merambah pada dunia animasi melalui pembuatan film animasi Garuda Perkasa. Tidak mengherankan jika selama ini ia sering dijuluki sebagai raja dongeng Indonesia. Dengan karya seperti itu, urusan materi bagi para pendongeng tampaknya tidak lagi menjadi penghalang.(IRN/SIG)

Sumber : www.kompas.com

Senin, 28 Juli 2008

Kak Seto (Seto Mulyadi)

Dongeng "si Komo"Di Kali Adem
JAKARTA– Kegembiraan anak-anak korban penggusuran Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara, tiba-tiba meledak ketika Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, Rabu (29/10) siang mengunjungi tempat pengungsian di tenda-tenda darurat yang dibangun seadanya.
Untuk sesaat puluhan anak-anak korban penggusuran Kali Adem boleh melupakan kedukaannya menyusul bongkar paksa yang dilakukan aparat Tramtib Jakarta Utara. Dengan menggunakan kapal milik nelayan, Kak Seto bersama rombongan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, datang mengunjungi anak-anak korban penggusuran, Rabu (22/10) siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Tidak kurang dari 40 anak-anak berkumpul di Mushola Serikat Nelayan Tradisional (SNT), Kali Adem Pluit Penjaringan Jakarta Utara untuk bertemu dengan Kak Seto yang hanya mereka bisa lihat di layar kaca.
Bukan hanya anak-anak yang datang, sejumlah ibu-ibu yang menggendong bayinya dan sejumlah warga yang panasaran ingin melihat Kak Seto yang terkenal dengan “Si Komo” secara langsung. “Pengen melihat Kak Seto secara langsung,” ujar seorang ibu yang menggendong bayinya.
Ratusan bahkan ribuan gubug di Kali Adem memang sudah rata dengan kali tetapi tetap menyisakan sebuah mushola berukuran kurang lebih 42 meter persegi. Untuk mencapai mushola tersebut melewati dua jembatan darurat yang dibangun dari puing-puing rumah warga.
Kak Seto tanpa canggung-canggung langsung berbaur dengan anak-anak korban penggusuran. Dia lalu mengeluarkan boneka buaya dan memainkan boneka tersebut dengan tangan kanannya sembari bercanda dengan anak-anak yang mengerubutinya di mushola. “Cita-citanya menjadi apa? Menjadi dokter, polisi, tentara, atau guru?” Tanya Kak Seto berkali-kali.
Atraksi sulap juga berlangsung ditimpali canda tawa. Sekali-kali Kak Seto mengundang anak-anak tersebut berkata: “sim salabim”. Walhasil anak-anak korban gusuran terlihat gembira.
Balon-balon juga setelah dipompa oleh Kak Seto, dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi binatang. Anak-anak diajak menebak binatang apa yang akan dibentuk oleh Kak Seto. “Hayo tebak, ini binatang apa?” Tanya Kak Seto. Anak-anak yang berkumpul langsung menimpali dengan menyebut nama binatang yang dibuat dari balon. ”anjing, kucing, dan seterusnya.”
Gerak dan lagu juga memeriahkan interaksi Kak Seto dengan anak-anak. Lagu “Kepala Pundak Lutut Kaki” dinyanyikan dan diikuti dengan gerakan memegang kepala, pundak lutut dan kaki. Anak-anak juga diajak menyanyi lagu “Bangun Tidur Ku Terus Mandi” dan sejumlah lagu anak-anak lainnya.

Saat berinteraksi dengan anak-anak korban gusuran di Kali Adem, Kak Seto terlihat senang walaupun matahari dengan terik menyinari yang tentunya membuat hawa di dalam Mushola panas.

Anak Nelayan
Pipit (11), anak korban gusuran diberikan kesempatan oleh Kak Seto untuk membacakan sebuah puisi yang ditulisnya dengan dengan judul “Balada Anak Nelayan“. Kak Seto menutup kunjungannya dengan mengajak anak-anak tersebut menyanyi lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” secara bersama-sama. “Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra….” Mengalun dari anak-anak korban gusuran Kali Adem.
“Kak Seto lucu banget,“ kata Rudi (12), seorang anak yang ikut menonton aksi Seto yang berlangsung selama 30 menit tersebut. Masih banyak lagi senyum gembira dari wajah anak yang lain, karena sejak Rabu (22/10) minggu lalu setelah aksi penggusuran, anak-anak Kali Adem tidak mendapatkan hiburan.
Kak Seto juga sempat mampir ke tenda-tenda darurat dan berdialog dengan warga yang tengah memasak di dapur umum. Selain berkunjung, Kak Seto juga memberikan sejumlah bantuan kepada anak-anak tersebut berupa susu dan peralatan sekolah. Anak-anak yang tidak sempat bertemu dengan Kak Seto di Mushola, terlihat menyalami Kak Seto di tenda-tenda darurat tersebut. “Anak-anak harus tetap sekolah,” ujar Kak Seto kepada orang tua anak-anak tersebut.
Kak Seto menjelaskan kepada wartawan tentang kedatangannya ke kawasan penggusuran ini bertujuan memberi dorongan kepada anak-anak tetap semangat bersekolah. Ia juga menambahkan bahwa kegiatannya sekaligus meredam trauma anak-anak pasca penggusuran.
Dokter Silvi Ulaan dari Puskesmas Pluit, Penjaringan Jakarta Utara menyambut positif apa yang dilakukan oleh Kak Seto untuk mengurangi trauma anak-anak yang menjadi korban gusuran tersebut.

Terancam Putus Sekolah
Keceriaan anak-anak korban penggusuran di Kali Adem ternyata tidak dialami ratusan anak korban penggusuran Kampung Sawah, Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mereka bahkan terancam putus sekolah jika Pemda tak segera menyalurkan dana bantuan pendidikan dan memberikan rumah yang layak sebagai pengganti tempat tinggal warga yang telah digusur.
Sejumlah anak sudah berhenti bersekolah sejak rumahnya digusur Kamis (2/10) lalu. Sebagian besar anak hingga kini masih meneruskan pendidikan, meskipun dengan bersusah payah.
Anak yang memerlukan alat transportasi untuk mencapai sekolahnya kini hanya masuk satu atau dua hari dalam seminggu, karena orang tuanya tak lagi memiliki uang untuk membiayai transportasi anaknya ke sekolah. Kebanyakan anak juga terpaksa menunggak biaya SPP dan berbagai biaya lain. Karena itu, jika bantuan pendidikan yang dijanjikan Pemda DKI tak segera disalurkan, mereka dipastikan tinggal menunggu waktu sebelum terpaksa berhenti bersekolah.
“Mereka masih sekolah, tapi semua biaya untuk sementara belum dibayar dulu. Masih untung kalau letak sekolahnya dekat. Kalau jauh, paling seminggu hanya masuk satu dua hari. Itu juga karena orang tuanya lagi ada duit, lalu disisihkan buat ongkos anaknya jalan ke sekolah,” ujar Ny. Manurung, salah satu warga korban penggusuran Tanjung Duren, ketika ditemui SH di halte Jalan S. Parman yang berubah menjadi tempat penampungan darurat, Rabu (29/10).
Sedangkan Mahendra (6), kini terpaksa tak bersekolah. Pada saat penggusuran terjadi, ia baru saja mulai bersekolah di SD Kemanggisan. Tetapi, belum lama ia bersekolah, rumah tempat Hendra—panggilan akrab Mahendra—digusur. Seragam, perlengkapan sekolah dan buku-buku baru Hendra seluruhnya rusak. Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai tukang uruk tanah di lahan sengketa Tanjung Duren, dengan sendirinya kehilangan mata pencaharian setelah penggusuran itu. Akhirnya, kini Hendra tak lagi melanjutkan pendidikannya.
“Waktu itu sudah mendaftar, bahkan sudah membayar cicilan uang pangkal sebesar Rp 10.000. Tetapi saat digusur itu, seragam, sepatu dan buku-buku tak sempat diambil. Bapak juga tak lagi kerja. Ya sudah, karena tak ada biaya, ya sekarang dia tak lagi sekolah,” ujar Ny. Wiwik, ibu Hendra.
Data Komisi Nasional Perlindungan Anak, di Tanjung Duren terdapat 251 anak, yang terdiri dari 18 siswa TK, 157 siswa SD, 44 siswa SMP dan 32 siswa SMU. (SH/thomas jan bernadus/ruth hesti utami/ali amrisyam)
Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0310/30/sh04.html 

MENDONGENG TAK HARUS DENGAN "DONGENG" (SUPLEMEN)

Orangtua disarankan meluangkan waktu untuk mendongeng bagi anaknya. Mendongeng tak hanya mengembangkan daya khayal anak, tapi juga merupakan sarana pemberi pengertian tentang moral pada mereka. Lalu bagaimana jika semua dongeng masa kecil Anda sudah habis Anda ceritakan dan buku dongeng pun telah habis Anda bacakan?

Menurut The Daily Telegraph, London, ternyata Anda tak harus selalu menceritakan dongeng. Kejadian sehari-hari juga boleh dijadikan ide ‘mendongeng.' Anak-anak senang, kok, mendengar cerita tentang masa kecil Anda, bagaimana Anda bertemu dan jatuh cinta pada suami, menceritakan proses kelahirannya serta masa batita yang mulai dilupakannya.

Menceritakan kenakalan Anda saat sekolah, misalnya, akan membuat anak merasa dekat dengan Anda. Sesekali, beri anak pemahaman di sela-sela dongeng Anda. Misalnya, "Sekarang Ibu menyesal melakukan itu, soalnya karena itu Ibu jadi tidak naik kelas."

Apa lagi yang bisa Anda lakukan?
Usahakan garis cerita yang pendek dan sederhana.
Gunakan penggambaran detail, seperti, "Ayah dulu memakai baju
kotak-kotak merah dan celana krem yang serasi waktu datang ke rumah Ibu." Itu akan memacu imajinasi mereka.
Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan anak yang terkadang di luar dugaan. Kuncinya, jangan menghindar.
Jangan takut menggunakan kata yang tidak familiar di telinga
anak. Itu justru kesempatan untuk menambah kosakatanya.
Berikan akhir yang jelas dan tidak menggantung.
Cerita tak harus mengandung nasihat. Membuat anak menjadi bagian
dari kenyataan sudah cukup.
Cerita tak harus berupa peristiwa besar. Misalnya, berbagi pengalaman saat Anda dulu kehilangan boneka kesayangan.
Album foto juga bisa menjadi alat bantu yang menyenangkan.

Dwi Astuti, Lotus Komang
Sumber :http://www.tabloidnova.com

Kak Kusumo (Kusumo Priyono)

Pada 1985, Kusumo Priyono tak memenuhi panggilan kakaknya untuk pulang ke lereng Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah, mengikuti pemilihan lurah. Bila tidak, mungkin predikat Raja Dongeng tak disandangnya kini.

Ia dikenal sebagai pencipta Gasa, Garuda Perkasa, yang lahir atas keprihatinan terhadap bangsa. Maklum, menurut dia, tokoh-tokoh kesayangan anak-anak sekarang selalu berasal dari impor dan aneh-aneh. Lihat Superman yang cawatnya kelihatan dari luar, Batman yang codot alias kelelawar sering menghama buah-buahan di pohon-pohon, atau tikus menjadi Mickey Mouse. “Garuda itu mulia tunggangan para dewa, itu tokoh teladan,” tuturnya tentang tokoh ciptaannya. Dan terutama, menurutnya, perilaku Gasa bisa jadi teladan anak-anak.

Sejak kecil, terutama setelah mampu membaca sendiri, ia sudah keranjingan mendengarkan dongeng dan mendongeng. Kegilaannya membaca semakin menjadi saat ia kelas 3 SD. Sepulang sekolah ia selalu nyamperi penyewaan buku. Segala macam buku termasuk komik dilahapnya. Tak aneh ia sangat mengagumi Panji Tengkorak dan Wiro Anak Hutan, selain Bende Mataram dan Satria Bukit Menoreh yang ia hafal benar. “Sekalipun sedang angon kerbau atau bebek, saya tetap membaca buku,” papar anak kedua dari sembilan bersaudara ini.

Puncaknya ia sampai menjual anak kerbaunya untuk membeli tempat penyewaan buku berikut isinya. Akibatnya -- rumahnya yang menjadi “markas” anak-anak -- semakin ramai saja. “Soalnya saya suka punya teman banyak. Teman-teman sekampung saya undang membaca di situ,” kenangnya.

Kak Kusumo -- begitu biasa ia dipanggil oleh anak-anak – memang tumbuh dan besar dalam buaian dongeng. Ayahnya R. Elang Sumawinata bin Pangeran Natagiri atau Pangeran Kusuma Natalaksana adalah cucu Sultan Cirebon. Meski seorang mantri pertanian, Sumawinata piawai mendongeng. Di kala senggang atau ketika sembilan anaknya hendak tidur, ia selalu mendongeng.

Sumawinata memang tak sekadar mendongeng. Di balik dongeng itu ia menyisipkan nasehat tentang sikap kepahlawanan, jiwa satria, kejujuran, dan etos kerja keras. “Itu dilakukan Bapak untuk menasehati kami. Ia tak pernah menasehati secara langsung selalu melalui dongeng,” tutur ayah dari Gasawati ini.

Ternyata dongeng membentuk kepribadiannya. Ia menjadi gemar mendongeng dan bakatnya kian terasah secara otodidak. Ia juga keranjingan meniru gaya bapaknya maupun dalang tertentu. Kadang-kadang, saat ia mendongeng, temannya hampir-hampir tak bisa membedakan antara imajinasi Kusumo dan kenyataannya. Cita-citanya pun tak seperti kebanyakan orang, ia “hanya” ingin jadi pendongeng. Sampai sekarang pekerjaannya sebagai pendongeng tertulis dalam KTP-nya.

Hebatnya, meski “melahap” komik dan novel, nilai rapor Kusumo tak pernah jeblok. Malah terbilang bintang kelas di setiap jenjang sekolah. “Nilai pelajaran sejarah, bahasa, dan hafalan selalu sembilan, kecuali matematika, saya enggak suka,” komentar Kusumo yang juga memahami psikologi anak.

Semasa kecil ia sempat dijuluki Yono Korden. Pasalnya korden rumahnya yang bergambar kancil, bunga, matahari, dan perahu itu seolah memberinya imajinasi cerita. Nah, saat lebaran ia meminta ibunya menjahit korden itu menjadi baju, “Rasanya gerah bukan main, korden kan tebal sekali,” kenangnya tergeli-geli.

Mulai SMP, buku-buku yang ia baca mulai menggelitiknya untuk menulis cerpen, puisi, dan novel. Masa-masa SMA pun ia masih terus mendongeng, malah, katanya, ke mana pun ia selalu dikerubuti temannya. “Saya di sekolah memiliki banyak teman, karena sukangobrol dan mendongeng,” ujarnya.

Kecintaannya terhadap dongeng akhirnya membuatnya terjun bebas ke dunia seni. Ia memilih kuliah di Studi Sastra dan Teater di Pusat Pengembangan Kesenian Jakarta. Hari-harinya di bangku kuliah itu juga penuh dengan aktivitas mendongeng. Bahkan ia memadukan keahliannya dengan seni peran.

Toh kehidupan sebagai seniman di Jakarta sempat membuatnya jenuh. Ia merindukan suasana kehidupan di desa, dan ingin kembali ke sana. Apalagi kakaknya yang telah mengakhiri jabatan lurah di lereng Gunung Sumbing, memanggilnya pulang untuk menggantikan posisi sang kakak. Saat itu tahun 1985. Ia bimbang juga, pasalnya, seminggu sebelum surat sang kakak datang ia telah mendaftar ikut lomba mendongeng tingkat nasional.

Tak dinyana ia memenangkan perlombaan itu, sontak hidupnya berubah. Uang senilai Rp 1 juta ia kantongi sebagai hadiah. Sebutan Raja Dongeng pun dilekatkan pada dirinya. Maklum, pesertanya datang dari seluruh provinsi di Indonesia. “Judul dongeng saya waktu itu Keong Emas,” paparnya. Banyak koran memberitakan kemenangannya, salah satu dengan memasang judul “Juara Mendongeng Nusantara dari Lembah Lereng Gunung Sumbing.” Nah, ia pun merasa terkenal dan tidak lagi tertarik pulang kampung.

Sejak itu ia memenuhi takdirnya sebagai raja dongeng, melakukan safari dongeng ke seluruh nusantara dari 1985 hingga 1989. Tak terbilang pengalaman unik menimpanya dalam perjalanan menebar cerita itu. Salah satunya ketika ia mendongeng di Kota Metro, Lampung Tengah, di sebuah pemukiman transmigrasi. Sembari bercerita tentang epos kepahlawanan Pangeran Diponegoro, ia memangku seorang anak kecil. Ia pun meniru kata-kata Jenderal Belanda “Godverdom! Tangkap ekstremis-ekstremis berkepala hitam itu,” suaranya menggelegar.

Dan tiba-tiba ada rasa hangat mengalir di celananya. “Ah ternyata anak yang saya pangku itu ngompol, kaget dengar teriakan saya,” ujarnya sembari tersenyum. Ibu si anak tergopoh-gopoh minta maaf. “Akhirnya saya, hanya bercawat dan bersarung, mencuci celana di sungai. Soalnya itu celana satu-satunya yang saya bawa,” kenang anak kedua dari sembilan bersaudara itu.

Kusumo tak mematok angka rupiah untuk urusan mendongeng. Di daerah pedesaan Jawa Tengah, ia kerap dibayar dengan pisang emas, kelapa dan beras. Bahkan saat mendongeng di Sulawesi, ia menerima ayam jago yang menurutnya sangat bagus. “Saya terbiasa dengan proyek sosial alias proyek thank you,” ujarnya.

Ia mengakui karir mendongengnya benar-benar merayap. Pernah mendongeng di kampung nelayan, desa terpencil, sampai masuk ke istana hingga ke mancanegara. Baru-baru ini ia memperoleh penghargaan The Asean Youth Exellence Award kategori bidang sosial dan anak pada 2001 di Kamboja.

Bertemu Neneng Chairunnisa saat ia menjadi juri Tilawatil Quran di Masjid Istliqlal, Jakarta. Ternyata Neneng putri Alamudin, salah seorang juri tilawatil. Empat bulan kemudiaan sang qoriah ia nikahi. Buah perkawainan itu melahirkan Gasawati.

Pada pemilihan gubernur DKI 2002, ia mencalonkan diri. Menang kalah tak masalah baginya. Sebab, ia hanya ingin mencoba apakah wakil rakyat dan para pejabat itu memegang janjinya, pemilihan gubernur berjalan demokratis. Siapa pun berhak mencalonkan diri. “Tapi ternyata mengecewakan, semua sandiwara belaka,” ujarnya.

Di masa kecilnya, Kusumo pernah ingin terbang seperti burung. Ternyata, hanya dengan mendongeng telah terbang melalang buana.

Sumber :http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/K/ads,20030627-37,K.html

Kak Ariyo (Moch Ariyo Faridh Zidni)

MALAM itu panggung utama Bobo Fair diramaikan anak-anak. Mereka menikmati suara renyah seorang pendongeng. Tawa dan komentar anak-anak bersahutan di sela-sela dongeng yang dibawakan Ariyo. Memasuki cerita kedua, anak-anak semakin merapat. Mereka kian antusias mendengarkan cerita itu. Mereka yang tadinya duduk di kursi belakang pindah ke hamparan karpet di bagian depan. Mereka lesehan, bergabung dengan anak-anak lain.


Ekspresi anak-anak itu beragam. Kadang mereka terbahak. Sebentar kemudian melonggo. Kadang-kadang melompat terkejut saat ceritanya menegangkan. Saat selingan lagu disuguhkan, anak-anak ikut bernyanyi sambil menggoyangkan badan.


Moch Ariyo Faridh Zidni, nama lengkap pendongeng itu. Pria kelahiran 28 tahun lalu itu menggabungkan dongeng dengan musik. Ariyo mengakui sering mengawinkan dongeng dengan seni lain.


"Jadi, aku bisa menggunakan suara, gerak tubuh, mimik wajah. Kadang aku suka eksperimen bikin dongeng sambil nyanyi duet," kata alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu. "Atau bikin satu dongeng sama tarian. Kadang mendongeng pakai boneka tangan alias finger puppet, atau pakai tali atau kertas, origami."


Ariyo sering juga menggabungkan dongeng dengan out bond. Dia mengaku terinspirasi film Pirates of Carabian. Jadi, tak ada batasan dalam mendongeng. Baginya mendapatkan inspirasi untuk variasi mendongeng modalnya cuma satu: sensitivitas. Pendongeng harus sensitif dalam menggali cerita dari sumber mana pun, mulai dari nonton film, petunjukan wayang, teater, ilustrasi komik, koran, dan yang paling penting: rajin membaca buku. Semua bisa dijadikan sumber inspirasinya.


"Termasuk mendengarkan cerita tema. Curhatan-curhatan temen itu bisa jadi dongeng," katanya. "Ambil satu segmen bagian cerita dia yang konyol yang lucu-lucu bisa jadi dongeng."


Sudah satu dekade Ariyo serius menggeluti dunia dongeng. Ia tertarik pada dunia dongeng setelah mengikuti mata kuliah bacaan anak. Salah satu bahasan mata kuliah tersebut adalah pendekatan terhadap anak-anak melalui story telling. Suatu hari seorang dosen mengajaknya mendongeng di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Di sana, Ariyo merasakan dongeng berdurasi 30 menit yang dibawakannya untuk menghibur anak-anak yang menjalani rawat inap begitu berarti. Sejak itu dia terpanggil untuk mendongeng. Foto: VHRmedia.com/Dian Ali Rahman.
Sumber :http://www.vhrmedia.com

Minggu, 27 Juli 2008

MENDONGENG ITU MUDAH (SUPLEMEN)



Mendongeng itu Mudah!


MEMILIH bacaan untuk anak di tengah-tengah lautan buku bacaan yang dewasa
ini demikian melimpah ruah, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Apalagi bila dihadapkan dengan buku-buku bacaan hasil terjemahan, entah itu
berupa komik, cerita pendek, atau novel.

Dalam upaya menumbuhkembangkan daya intelektual anak lewat bacaan, orang tua
mempunyai peran yang cukup penting. Orang tua harus menjadi pembaca pertama
buku-buku yang kelak akan dibaca anak.

Dalam memilih bacaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama,
lihat bahasa yang dipakainya, apakah mudah dicerna atau tidak oleh si anak.
Setelah itu lihat jalan ceritanya, konflik yang dihidupkannya, latar
ceritanya, dan sebagainya. Pasalnya, dewasa ini hal-hal yang bersifat
pornografis sudah merasuk ke dalam komik, novel, bahkan cerita pendek.
Jangan sampai hal yang belum pantas dibaca anak, malah menjadi santapannya.
Hal itu bisa membuat anak lupa pada tugas utamanya, yakni belajar menghayati
hidup dan kehidupan secara mandiri, arif dan bijaksana.

Kekerasan juga telah banyak mewarnai buku-buku yang katanya diperuntukkan
bagi anak-anak. Kalau teliti, mungkin kita akan bertanya-tanya benarkah
komik Batman itu diperuntukkan bagi anak-anak? Jika untuk anak-anak,
haruskah di usia dini anak-anak diperkenalkan kepada carut-marutnya dunia
yang babak-belur oleh persoalan kriminal Demikian pula ketika memilih bacaan
semisal Sin-chan yang nakal itu. Adakah bacaan semacam ini cocok pula
disajikan untuk anak-anak kita yang secara kultural berbeda jauh dengan
kehidupan orang Jepang?

Bahkan ketika kita membelikan VCD "Tom & Jerry" misalnya, harus hati-hati
pula. Di dalam VCD tersebut juga banyak terjadi tindak kekerasan, yang bisa
ditiru anak.

Ada baiknya orang tua bertindak arif dan bijaksana. Antara lain membelikan
anak sejumlah buku bacaan yang sarat dengan muatan lokal. Dongeng-dongeng
yang pernah dilisankan oleh orang tua kita menjelang tidur, saat ini sudah
banyak yang dibukukan. Entah itu berupa cerita rakyat dari Jawa Barat,
seperti Dalem Boncel, atau cerita fabel seperti Si Kancil, dan sebagainya.

Bacaan-bacaan yang sarat dengan pesan keagamaan, juga bisa dijadikan pilihan
di luar cerita-cerita yang sepenuhnya hanya berpihak pada persoalan sosial
atau kemanusiaan.

**

UNTUK menumbuhkan imajinasi di kepala anak, orang tua atau guru perlu
memiliki teknik mendongeng yang baik. "Tapi jangan mundur karena kurang
menguasai teknik. Pede aja lagi. Mendongeng itu mudah, cobalah apa adanya,"
ujar Andi Yudha.

Syarat utamanya adalah percaya diri dan komunikatif. Banyak orang tua tidak
percaya diri ketika mendongeng, akhirnya pesan dongengnya sulit ditangkap
anak. Anak jadi boring, sementara orang tua sendiri terlanjur hopelles untuk
meneruskan mendongeng.

"Mendongeng bisa dimulai dengan mengaktifkan indra yang kita miliki untuk
membantu memvisualisasikan cerita. Kemudian untuk menggali cerita bisa
mengungkap kejadian sehari-hari, masalah biasa kita temui bukan? Dan untuk
memotivasi diri, tanamkan keyakinan bahwa setiap orang biasa menyampaikan
segala sesuatu yang ada dipikirannya," ujar ayah 3 anak yang juga trainer
mendongeng ini.

Sebagai panduan, Andi memberikan kiat-kiat mendongeng sebagai berikut:

- Pilihlah cerita yang sesuai dengan kesehariannya dan minat anak. Jelaskan
tokoh, tempat dan kata-kata yang belum dimengerti anak. Dengan demikian anak
tidak bertanya terus dan dapat berkonsen- trasi kepada cerita.

- Bacakan cerita dengan antusias dan akting yang meyakinkan. Ser- takan
emosi, maka anak juga akan menghayati dan mengikutinya dengan emosi pula.

- Bedakan mimik, ucapan maupun tokoh yang ada dengan mengi- dentikkan diri
kita pada tokoh tersebut, atau boneka yang dibayangkan sebagai tokoh utama.
Beri ekspresi pada apa yang Anda ceritakan. Tapi jangan dilebih-lebihkan.
Variasikan kecepatan, irama suara sesuai kebutuhan teks. Misalnya untuk
membangun ketegangan- ketegangan.

- Variasikan nada suara pada pelbagai karakter. Hal ini akan lebih men
dramatisir dialog dan menghidupkan karakter yang ada. Lakukan se cara wajar
karena jika berlebihan, yang diingat anak justru suara An- da dan bukan
ceritanya.

- Jagalah kontak mata Anda dengan anak saat bercerita. Dekatkan tubuh Anda
dengan si kecil ketika membaca.

- Buatlah sinyal ketika cerita itu akan atau telah berakhir.

- Ajukan pertanyaan pada anak untuk mengetahui apakah cerita yang kita
sampaikan benar-benar diperhatikan. Doronglah anak untuk bertanya dan
mengomentari cerita tersebut dan tanyakan kembali isi cerita tersebut kepada
anak. Evaluasi terus cara kita mendongeng, bisa juga didiskusikan dengan
anak.***

Soni Farid Maulana/"PR" - Jalu
Sumber : Pikiran Rakyat , Minggu, 24 Juli 2005

Kak Andi (Andi Yudha Isfandiyar)



Minggu , 04 Mei 2008 ,
Not Only Teach But Also Touch.
Ricky Reynald Yulman

SATU hal yang sering dilupakan orangtua dan guru dalam mendidik anak menjadi manusia kreatif adalah memberi anak-anak motivasi. Namun, motivasi tak dapat diberikan dengan cara-cara yang membuat anak justru merasa takut dan tertekan.


PERINGATAN ini diungkapkan Andi Yudha Asfandiya, pemerhati dunia anak dalam seminar bertajuk Pendidikan Motivasi + Karakter Gerbang Kesuksesan Masa Depan, di Gedung Vidya Chandra Jalan Sangkuriang Cimahi, Kamis (1/5) pagi.


"Satu hal yang sangat penting dalam mengembangkan kreativitas dan kecerdasan anak adalah menciptakan suasana aman dan nyaman secara psikologis. Jangan sampai ada ungkapan-ungkapan negatif. Jangan ada caci maki, membentak, rasa tak percaya, suudzon, gerutu, cemberut, dan sejenisnya," ingat Andi.


Di hadapan sekitar 300 peserta seminar yang diadakan Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin dan Forum Masyarakat Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, yang juga CEO Mizan Media Utama ini mengatakan bahwa sekarang masih banyak orangtua dan guru sebatas mengajar.


"Padahal, kita sebaiknya menggunakan prinsip, not only teach but also touch. Dua aspek ini saling menyeimbangkan satu dengan yang lain buat membentuk karakter anak," ujarnya.


Aspek touch menurut Andi adalah merangsang dan memotivasi anak dengan kasih sayang. "Lewat cara ini anak menerima gambaran utuh pengalaman emosional dan kasih sayang," terang Andi.


Pencipta karakter kucing Mio dalam komik anak-anak terbitan Mizan ini menambahkan, bila kedua aspek tersebut dilakukan konsisten, maka peluang anak memperoleh kecerdasan makin terbuka.


Bukan cuma kecerdasan intelektual (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Keseimbangan ketiganya, membuat anak tumbuh menjadi anak kreatif dan bisa mengoptimalkan kemampuan mencari solusi dari setiap masalah yang akan dihadapi.


Ketika kecerdasan spiritual (SQ) berkembang baik, seseorang mulai menyadari secara penuh, gagasan, inovasi, dan kreativitas yang ia temukan mempunyai makna dalam kehidupannya. Kesadaran ini menumbuhkan keyakinan pada pemanfaatan lebih luas untuk kebaikan dengan dilandasi ketulusan serta kejernihan hati.


Motivasi bakal tepat sasaran bila orangtua dan guru lebih dulu memahami berbagai potensi kreativitas anak-anak yang sifatnya spontan, original, dan tak terduga. (ricky reynald yulman)


Biarkan Anak Mencoba
METODE rekreatif atau permainan seperti menggambar, mendongeng, dan memasak, sangat direkomendasikan oleh para ahli pendidikan untuk mengembangkan kreativitas anak. Biarkan anak berani mencoba menggunakan media berupa botol plastik, biji kenari, biji asam jawa, dan sebagainya. Jangan buru-buru melarang, namun awasilah agar apa yang dilakukan anak tak sampai membahayakan dirinya.


Lingkungan kondusif bisa diciptakan dengan cara melibatkan anak dalam berbagai kegiatan atau suatu proyek yang dilakukan orangtua atau guru. Misalnya membuat kandang monyet, membuat kue ulang tahun, dan mencuci mobil.


Melalui metode ini anak-anak akan merasa aman secara emosional. Mereka pun merasa diterima dan dibolehkan membantu orang dewasa di sekitarnya. Sehingga para orangtua dan guru bisa lebih mudah menemukan dan menganalisa sampai di mana keseimbangan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ anak. (ricky reynald yulman)


Mendorong Anak Kreatif
ORANGTUA dan pendidik bisa membentuk anak-anak mereka menjadi anak-anak kreatif. Antara lain dengan memberi dorongan terkait beberapa hal:
- Menumbuhkan rasa percaya diri dan berani
- Memberi contoh
- Menyadari keberagaman karakter anak
- Sungguh-sungguh
- Memberi kesempatan anak berekspresi dan bereksplorasi
- Memahami detail karakter anak
- Responsif
- Positive thinking
- Menggunakan aneka metoda dan aneka media
- Disiplin dan konsisten
- Motivasional
- Melakukan satu pekerjaan bersama anak
- Not only teach but also touch
(sumber: Andi Yudha Asfandiya/http://tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=8183&kategori=16)


“Namanya si Ijo!” Kata kak Andi Yudha Asfandiyar, sambil mengelus-elus kepala seekor ular hijau yang melilit di lehernya. Anak-anak yang didongengi kak Andi serentak bergidik. Awalnya ada yang menjerit takut, jijik, tapi tak sedikit pula yang malah menghampiri karena penasaran. Lambat laun, semua ingin mencoba memegang ular tersebut. Bahkan melilitkan di lehernya. Kak Andi tidak hanya pintar mendongeng ternyata, tapi juga jago menggambar. Buktinya beberapa anak yang berani memegang dan mengalungkan ular tersebut di leher mereka lalu digambarnya kemudian hasil gambar tersebut dihadiahkan kepada mereka. Ternyata bukan anak-anak saja yang ikut menjerit, tapi juga ibu-ibu yang duduk di barisan belakang, merasa geli juga melihat ular hijau, besar bermain-main di leher manusia.

Seperti itulah suasana yang terjadi ketika pembukaan diskusi “Keluarga Pengarang” dan launching novel karya Bella “Beautiful Days” yang dilaksanakan pada hari sabtu (10/02) kemarin. Setelah pembacaan puisi dari anak-anak kampung Ciloang dilanjutkan dengan dongeng tadi. Setelah itu baru diskusi tentang menumbuhkan minat baca dan tulis terhadap anak sejak dini. Acara berlangsung tertib. Firman venayaksa sebagai moderator sampai bolak-balik panggung memandu jalannya diskusi. Panggung Acara diskusi “Keluarga Pengarang” memang ditujukan untuk semua usia, mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, tumpah ruah.

Pada akhir acara kami kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka; Asma Nadia, Hilman “Lupus” dan Biru Laut datang bersama-sama. Panggung yang di set seperti ruang keluarga oleh Pak Indra Kesuma, Rimba, langlang, Muhzen, Roy, Piter, Aji dan Awi semalam suntuk itu bertambah ramai karena ada diskusi kedua bersama ketiga penulis tadi. Alhamdulillah semua berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Hujan yang kami khawatirkan akan mengguyur kota Serang, berkat do’a semuanya tidak terjadi.

Keesokan harinya (11/02) kami kedatangan tamu yaitu Embay Mulya Syarif bersama anak lelakinya, Teguh. Ia datang untuk berbagi ilmu enterpreneurship kepada relawan Rumah Dunia sekaligus menyumbang uang sebesar Rp. 200.000 untuk kegiatan Rumah Dunia. Rencananya ia akan menjadi donatur tetap.
Sumber :http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=795

DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF (SUPLEMEN)



DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF

Bayi-bayi yang rajin didongengi terbukti memiliki simpul saraf (myelin) yang lebih aktif. Sudahkah Anda melakukannya?


Sejak si kecil masih dalam kandungan, Rika sudah biasa mendongeng untuk anaknya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari aktivitas yang sedang dilakukannya sampai cerita-cerita sarat pesan moral yang dibaca dari beragam buku. Hingga anaknya lahir, Rika masih terus melakukan kebiasaan tersebut. Sambil memandikan, menyuapi dan bersiap tidur pun, ibu satu anak ini menyelipkan satu-dua cerita. Hasilnya? "Saya lihat perkembangan anak saya lebih cepat dibanding bayi-bayi seusianya. Saya rasa memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mendongeng pada anak sejak bayi," ujarnya.

Ada lagi contoh nyata: seorang mempelai perempuan memilih satu lagu khusus untuk mengiringi pernikahannya. Ketika ditanya alasannya, dengan lugas ia menjawab, "Lagu ini rasanya akrab sekali di telinga saya. Katanya sewaktu bayi saya sering didongengi cerita yang tertulis sebagai syair lagu ini." Wah, masa sih efek dongeng pada bayi bisa sedahsyat itu?

AKTIFKAN SIMPUL SARAF

"Dari banyak penelitian sudah dibuktikan bahwa mendongeng pada anak memang banyak sekali manfaatnya. Jangankan sejak bayi, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan pun mendongeng sudah bisa dilakukan," ujar Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati anak yang sudah berulang kali mengikuti seminar tentang dongeng di berbagai negara. Jadi kalau ada pertanyaan mulai kapan bayi bisa didongengi, jawabannya adalah sejak indra pendengaran bayi mulai berfungsi di dalam kandungan.

Ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. "Kalau dilakukan dengan ketulusan hati, 'transmisinya' jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya," tambahnya.

Di beberapa kesempatan, Andi Yudha selalu menekankan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan ketahanan mental anak. Ia lantas menguraikan manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas mendongeng pada bayi:

* mengaktifkan simpul saraf

Banyak penelitian membuktikan, cerita-cerita yang didengar anak sejak bayi dapat mengaktifkan simpul-simpul saraf di otaknya (myelin). Cara kerjanya sederhana saja kok. Seperti halnya senam otak, banyaknya informasi yang didapat anak dapat membuat otak si kecil menjadi lebih aktif. Ini pun berimbas pada perkembangan IQ-nya.

* merangsang indra
Dongeng yang disampaikan dapat merangsang indra bayi, terutama indra pendengaran dan penglihatan. Banyak pakar yang sependapat bahwa 5 tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa emas atau masa sedang giat-giatnya anak menyerap berbagai hal yang didengar dan dilihat. Jadi, meski belum bisa memberikan respons yang berarti, semua cerita yang disampaikan orang tua akan ditangkap oleh indra pendengaran dan penglihatannya untuk kemudian direkam dalam memorinya. Kedua indra tersebut juga jadi terlatih menangkap sedemikian banyak informasi.

* perkembangan lebih cepat

Banyaknya informasi yang didapat oleh bayi bisa mengoptimalkan pertumbuhannya. "Jangan heran kalau bayi yang lebih sering mendengar cerita nantinya jadi lebih cepat tengkurap, merangkak dan sebagainya. Itu semua akibat perkembangan otaknya lebih optimal karena banyaknya rangsang yang diterima," lanjut Andi Yudha.

Perkembangan kemampuan ini tidak berhenti sampai di usia bayi saja. Setelah anak tumbuh lebih besar pun banyak manfaat yang masih terasa apabila dongeng sering diperdengarkan pada bayi. "Paling tidak, karena perkembangan otaknya optimal, stimulus apa pun yang diajarkan padanya akan ditangkap lebih cepat."

* lebih peka
Selain perkembangan kemampuan fisik dan intelektual, bayi-bayi yang sering mendengarkan orang tuanya bercerita diyakini akan tumbuh menjadi anak yang lebih peka. Seiring dengan pertambahan usianya, kepekaan ini akan mendukung sederet sikap positif lainnya, seperti rasa ingin tahu, percaya diri, sikap kritis, kemauan eksploratif, dan sebagainya. Dengan kata lain kecerdasan emosional, spiritual, dan ketahanan mentalnya kian terasah. Memang, tidak semua manfaat positif langsung terasa pada anak sejak bayi karena ada sifat-sifat yang mungkin baru terlihat setelah si anak tumbuh besar.

TAK HANYA MEMBACAKAN BUKU

Banyak yang beranggapan mendongeng untuk bayi hanya bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita. "Padahal tidak hanya sebatas dengan membacakan buku," tandas pendongeng yang baru berkeliling ke beberapa kota besar di Indonesia untuk mendongeng di Taman Kanak-Kanak.

Jadi, bagaimana lagi dong cara mendongeng untuk bayi?

1. Sambil beraktivitas

Momen-momen saat bayi makan, mandi, dipangku, ditimang, dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk mendongeng. "Jadi, tidak harus membacakan cerita sebelum tidur. Kalau harus selalu seperti itu sih, bisa-bisa orang tuanya yang tidur duluan," kelakar Andi. Kendati begitu, boleh-boleh saja membacakan buku cerita tertentu untuk bayi, tapi tidak mutlak harus menggunakan cara tersebut.

2. Gunakan alat bantu
Gunakan alat bantu supaya dongeng menjadi menarik, selain memberi manfaat lebih untuk merangsang indra bayi. Misalnya dot susu yang sudah tidak terpakai diandaikan sebagai topi atau sepatunya sebagai rumah-rumahan. Demikian halnya dengan kapas, popok, botol sampo, dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan sebagai pendukung cerita. Kelebatan benda-benda dengan warna yang berbeda-beda itu akan menarik perhatiannya sekaligus merangsang penglihatannya. Selain itu, biarkan si kecil memegang dan merasakan tekstur alat bantu dongeng tersebut yang amat bermanfaat untuk merangsang indra perabanya.

3. Mainkan intonasi suara

Intonasi suara yang berbeda-beda amat bermanfaat bagi indra pendengarannya. Selain itu intonasi yang berbeda-beda ini akan membuat cerita menjadi lebih menarik. "Coba bandingkan antara cerita yang dibacakan orang tua dengan suara datar sambil terkantuk-kantuk dengan cara bertutur yang amat hidup dan variatif. Ada suara tinggi untuk tokoh A, suara rendah untuk tokoh B, suara cempreng untuk tokoh C, dan sebagainya," saran Andi Yudha.

4. Tambahkan gerakan

Gerakan pantomim sederhana juga bisa disisipkan saat mendongeng. Misalnya ketika bercerita tentang kuda melompat, orang tua dapat menyontohkannya dengan gerakan melompat disertai ekspresi muka yang mendukung. "Tak perlu belajar pantomim secara khusus. Cukup gerakan sederhana saja asal mendukung cerita," lanjut Andi. Biarkan anak belajar berimajinasi sesuai dengan usianya. Bila si kecil sudah bisa membuat beberapa gerakan, tak ada salahnya memanfaatkan hal tersebut.

5. Libatkan perasaan

Seperti sudah disebutkan di atas, ketulusan orang tua bisa menjadi "transmisi" yang kuat untuk mengirim sinyal pada bayi. Ikatan batin bisa dibangun dari aktivitas tersebut. Begitu juga rasa sayang dan perhatian orang tua dapat terungkap di situ. "Banyak orang tua yang sekadar mengikuti teori untuk membacakan cerita pada bayinya meski sedang jengkel atau lelah. Jangan salah, bayi bisa merasakan itu semua lo," kata Andi.

6. Semua hal bisa diceritakan

Ingat, tidak cuma cerita yang sarat dengan pesan moral yang bisa didongengkan pada si kecil. Kejadian sehari-hari yang paling sederhana pun bisa diceritakan. Misalnya saat mengganti popok, menyuapinya, mengajaknya jalan-jalan di taman kompleks dan sebagainya. "Untuk usia ini, cerita dengan pesan moral boleh saja sesekali diperdengarkan, tapi tidak tiap kali bercerita harus ada tokoh antagonis dan protagonisnya," tukas Andi. Cerita yang mau didongengkan bisa disiapkan sebelumnya dengan menyontoh buku. Bisa juga spontan karena ada kejadian menarik saat itu. Intinya, banyak hal bisa dijadikan cerita untuk si kecil.

7. Batasi waktunya

Rentang perhatian dan konsentrasi bayi masih sangat terbatas. Itulah sebabnya, tidak disarankan untuk membacakan si kecil buku cerita yang tebal sampai selesai. "Cukuplah selama 2-5 menit sebagai permulaan," sarannya. Meski waktunya singkat, tapi kalau frekuensinya sering, lebih terasa manfaatnya.

8. Kesabaran

Satu hal yang juga harus menyertai kegiatan mendongeng adalah kesabaran ekstra. Bagaimana tidak? Karena respons yang ditunjukkan bayi sering tidak terlihat. Berbeda dari anak yang usianya lebih besar, yang responsnya sudah lebih jelas, semisal senang, sebal, tertarik dan sebagainya.

Jadi, orang tualah yang harus jeli mengamati situasi, apakah bayinya sedang "enak" didongengi atau sebaliknya. "Cari kesempatan yang enak bagi orang tua maupun bayinya," saran Andi pula.

JANGAN SALAH PILIH

Meski memberi sederet manfaat, ada beberapa hal yang mesti dicermati kala bercerita pada bayi. Yang pasti, orang tua harus pandai memilah-milah bahan cerita. Jauhkan cerita yang dapat berdampak negatif, seperti cerita tentang menjelek-jelekkan kelemahan orang lain. "Yang seperti ini ya tidak benar. Kalau yang diceritakan tidak pas, bisa-bisa malah mengganggu perkembangannya," tukas pria yang pernah mengikuti pelatihan mengenai masalah anak-anak atas undangan ACCU-UNESCO, di Tokyo, Jepang ini.

Lalu, cerita apa lagi yang sebaiknya tidak didengar anak? "Antara lain, keluh kesah orang tua, baik mengenai keharmonisan rumah tangga maupun masalah finansial. Contohnya, ibu yang curhat pada bayinya mengenai sang mertua. Yang seperti ini jelas kurang bijaksana disamping tentu saja sama sekali tidak bermanfaat bagi anak," tandasnya.

Selain itu orang tua harus menyadari bahwa di usia ini bayi begitu cepat menyerap semua informasi. Kalau sampai ada informasi yang keliru, bisa jadi efeknya tidak langsung terlihat saat itu juga, melainkan setelah si bayi tumbuh lebih besar. Runyam kan?
Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman/nakita

Sumber :http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06290&rubrik=bayi 


Pak Raden (Drs. Suyadi)

Nama aslinya Drs. Suyadi, namun ia lebih dikenal dengan panggilan Pak Raden. Lahir pada 28 Nopember 1932 di ujung Timur Pulau Jawa di tepi pantai Laut Selatan tepatnya di desa Puger dari keluarga besar dengan 9 bersaudara. Apa katanya tentang Film Boneka ‘Si Unyil’ yang diputar dalam versi yang jauh dari aslinya di sebuah TV Swasta? Bagaimana pandangannya tentang dunia anak-anak? Berikut obrolan TOGANEWS dengan Pak Raden yang belakangan kerap muncul pada acara-acara mendongeng di Toko Gunung Agung; Sejak kapan sih Pak Raden suka mendongeng? Saya sendiri tidak tahu, tapi sekali-sekali mendongeng yang bukan secara professional begini, tiap kumpul-kumpul mendongeng. Sejak kecil saya suka dongeng dan saya sebetulnya seorang ‘Perupa’, bidang saya senirupa. Di dalam bidang senirupa itu saya pilih senirupa yang naratif, yang mendongeng misalnya illustrasi buku anak-anak. Itu kan bidangnya senirupa tapi sifatnya mendongeng. Saya juga suka mendalang, satu bentuk seni yang bertutur. Dari dulu saya suka mendongeng dengan gambar, dengan main wayang ataupun dengan boneka.

Dalam pandangan Bapak, dunia anak-anak itu seperti apa sih?
Dunia yang menyenangkan. Rasanya tidak ada kesusahan. Kalau pada anak-anak yang bahagia, kalau pada anak-anak yang menderita ya memprihatinkan. Tapi dunia anak seharusnya dunia yang membahagiakan dalam keadaan yang normal, keadaan yang baik, keadaan yang tidak terganggu oleh situasi macam-macam.

Tentang film boneka ‘Si Unyil’ yang diputar dalam versi baru?
Saya sudah protes, tapi tidak digubris. Sejak semula saya tidak setuju, kok formatnya jadi lain. Unyil itu kan anak desa dan satu hal yang sangat menyimpang adalah bahwa ‘trade mark’ nya sudah hilang. Sesuatu yang khas secara visual dari Si Unyil itu anak kecil dengan muka lucu, pakai peci, pakai sarung diselempangkan, itu tidak ada lagi. Dulu kita lihat gambar anak pakai peci, sarung diselempangkan; Oo itu Unyil. Sekarang apa? Tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Unyil yang tadinya sudah enak-enak hidup di desa, sekarang dibawa ke kota dengan alasan katanya anak-anak sekarang tidak suka lihat kehidupan di desa. Omong kosong! Justru kita ingin anak itu mengenal desa. Begitu banyak hal yang bisa kita pelajari dari desa. Kok terus dijadikan anak kota. Lalu satu hal lagi kalau sudah di kota itu apa yang mau dilakukan? Playstation? Kalau di desa dia dekat dengan alam, hutan, jurang, gunung, goa, segala macam. Sehingga kesempatan untuk bertualang banyak. Saya tidak anti, mungkin kalau nanti di desa akan ada juga Playstation, nah kalau seperti itu akan masuk juga akhirnya. Tapi kenapa dia harus dipindahkan? Satu lagi, penampilan Unyil dan lainnya dibuat dengan penggunaan kedipan mata dan mulut yang bergerak kalau bicara. Itu jelek sekali! Seperti monster kecil-kecil, melotot-lotot, dari segi estetikapun tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal kita mendidik anak itu tidak hanya dengan petuah- petuah, dengan cerita, dakwah tapi secara visual anakpun harus dididik dia harus dibiasakan melihat sesuatu yang indah dan apa yang kita lihat dengan Unyil sekarang? Kasihan anakanak sekarang disuruh melihat film yang, sorry ya terus terang kadar estetikanya begitu rendah. Kasihan anak-anak Indonesia.

Bicara tentang komik luar yang sekarang lagi banjir, komentar Bapak?
Saya tidak anti komik, saya juga tidak anti membanjirnya komik. Cuma yang saya sayangkan para insan komik kita terdesak oleh komik-komik yang datang dari luar. Mereka punya alasan yang sebetulnya cukup masuk akal. Kalau kita menerbitkan sendiri, bayar pengarang, bayar ongkos cetak dsb, itu mahal. Tapi kalau kita menterjemahkan, gampang kan? Jauh lebih murah. Seperti di TV membuat sinetron untuk anakanak mahal, tapi kalau beli Doraemon-kan gampang. Mestinya harus ada kemauan dari kita sendiri, kemauan pelukis, para perupa kita, seniman kita harus diberi kesempatan. Sekarang masalahnya ini dari luar semua. Seniman harus diberi tempat, memang dari luar banyak yang baik, tapi dari kita juga banyak.

Apa yang paling menyenangkan dari masa kecil anda?
Yang paling menyenangkan terus terang kalau baca buku anak-anak. Zaman dulu paling senang kalau baca buku mungkin karena dulu belum ada TV jadi anak-anak menghabiskan waktunya dengan membaca. Di sekolah kalau sudah pelajaran membaca, itu yang paling saya nantikan, kenapa? Selain pelajarannya menyenangkan juga illustrasinya bagus-bagus. Ini hikmahnya kalau buku illustrasinya bagus, anak-anak dengan sendirinya akan suka membaca.

Terakhir, apa yang Bapak harapkan dari anak-anak kita?
Harapan saya adalah terhadap apa yang dinikmati anak. Buku yang bagus untuk anak, film yang bagus untuk anak, tontonan yang bagus untuk anak. Saya lihat sekarang di Gunung Agung banyak buku yang bagus untuk anak.
Sumber : http://www.tokogunungagung.co.id

Kak Bimo (Bambang Bimo Suryono)


Seseorang yang memiliki keahlian langka, yaitu sebagai pendongeng yang mampu menirukan berbagai karakter dan 154 bunyi-bunyian. 17 tahun menggeluti dunia mendongeng serta mendedikasikan keahlian tersebut untuk turut “Membangun Karakter Bangsa Melalui Dongeng”.

Sejumlah prestasi dan penghargaan telah diperoleh dalam rentang waktu pengabdiannya. Konsep dongeng yang dikembangkannya adalah dongeng edukatif untuk membangun karakter secara massal, atraktif-interaktif, segar-humor, serta bercita rasa nasional.

Audiens yang menjadi pecinta fanatik dongengnya berasal dari beragam usia, dari kanak-kanak hingga dewasa. Kemampuan penguasaan audiennya sangat tinggi, dari jumlah audien sedikit hingga belasan ribu orang. Hal yang sulit dicari tandingannya adalah kemampuan kreatifnya untuk mengendalikan audiens dalam waktu singkat hingga berjam-jam lamanya. Uniknya, tak seorang pun yang teralih perhatiannya, hanyut dalam alur dan pesan-pesan ceritanya.

Ribuan jam terbang menjadikan Kak Bimo good experience, kerap menjadi narasumber/bintang tamu dalam berbagai event pendidikan, seperti: seminar, lokakarya, workshop, family gathering, launching product, super motivator, spiritual engineering, stadium general, maupun master of ceremony.

Kak Bimo adalah penggagas orisinal “Yogya Kota Dongeng”, dan menjadikan dongeng sebagai ikon pendidikan kota Jogjakarta.
Sumber : htt://kakbimo.wordpress.com