<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410</id><updated>2012-02-16T20:11:41.746-08:00</updated><title type='text'>Juru Dongeng Indonesia</title><subtitle type='html'>Inilah Data Para Pendongeng Indonesia Yang Berhasil Saya Kumpulkan Dari Situs Internet dan kiriman teman2.Mari Bergabung...!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>61</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-2647496124415005571</id><published>2009-09-30T06:18:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T06:21:20.327-07:00</updated><title type='text'>Pak Gentong</title><content type='html'>Siapa bilang anak FISIP "hanya" bisa turun ke jalan dan melakukan demonstrasi ? Jika anda salah satu dari kebanyakan orang yang memiliki anggapan seperti itu, sebaiknya pikir dua kali lagi. Karena Rabu (22/3) kemarin BEM FISIP mengadakan satu acara bakti sosial untuk anak-anak. Dan ini jelas aksi yang berbeda dari 'biasanya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak kurang lebih 40 orang anak dari SD Kertajaya 6 dan MI Baiturrahman, meramaikan suasana fakultas ini. Mereka dikumpulkan dalam ruang 250 untuk mendapatkan hiburan dari Pak Gentong, seorang pendongeng anak nasional. Oleh Pak Gentong, mereka dihibur dengan cerita-cerita lucu yang amat menarik dan mengandung nilai-nilai moral bagi anak-anak. Dengan gaya bertuturnya yang sangat atraktif, Pak Gentong mampu memeriahkan suasana dalam ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penampilan dari Pak Gentong, BEM FISIP juga mengundang team-teman dari Fakultas Psikologi dengan teater bonekanya. Fakultas Psikologi merupakan satu dari tiga fakultas di Airlangga yang memiliki teater boneka. Mereka, dengan gaya bertuturnya yang juga menarik, tak kalah dengan penampilan Pak Gentong sebelumnya. Penampilan teater boneka ini juga didukung oleh interaksi dari dua orang presenternya, yang sangat memikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemui di ruangan tersebut, Ketua BEM FISIP menyatakan bahwa pihaknya memang memiliki ide untuk mengadakan acara tersebut sejak lama, namun baru hari itu bisa diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya ingin memberikan suatu bentuk pengabdian kepada masyarakat sekitar Airlangga. Dan acara ini merupalan satu bentuk kepeduliannya. Kedua SD tersebut dipilih karena memiliki sarana dan prasarana yang kurang memadai, sehingga dipandang sangat cocok untuk even ini. "Siswa yang hadir juga diberi bingkisan oleh panitia," begitu imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© 2008 WartaOnline Unair, DesignsByDarren.com, Some Rights Reserved.&lt;br /&gt;Valid XHTML 1.0 Transitional&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-2647496124415005571?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/2647496124415005571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=2647496124415005571' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2647496124415005571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2647496124415005571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/pak-gentong.html' title='Pak Gentong'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-198529295506699294</id><published>2009-09-30T03:45:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T03:46:57.427-07:00</updated><title type='text'>Nabila Jasmintia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsM3EaILz1I/AAAAAAAAAIA/1QnqULQ8Tgk/s1600-h/nabila_jasmintia.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsM3EaILz1I/AAAAAAAAAIA/1QnqULQ8Tgk/s320/nabila_jasmintia.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387210128137899858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Pendongeng Cilik -  Si Pendongeng Cilik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai teman-teman…! Yuk, kita kenalan dengan Nabila Jasmintia (Lala). Ia adalah salah satu pendongeng cilik berbakat. Siswa SDN Jagakarsa 01 Pagi, Jakarta Selatan ini kerap memenangkan lomba dongeng. Tak hanya itu! Peserta Konferensi Anak 2007 ini, beberapa waktu lalu, juga memenangkan adu bakat yang diadakan TRANS 7. Ayo, segera simak hasil liputan BERANI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabila, sejak kapan kamu suka mendongeng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak usia 7 tahun. Awalnya, aku mengikuti lomba dongeng yang diadakan toko buku Gramedia Matraman, Jakarta. Berawal dari iseng, aku malah jadi pemenangnya. Dan, sampai sekarang aku jadi suka mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mengajari kamu mendongeng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibulah yang selalu setia dan sabar mengajari aku mendongeng. Ibuku adalah muridnya Ibu Murti Bunanta, ahli sastra anak Indonesia. Tak hanya mengajari, ibu juga selalu membuatkanku alat peraga sebagai alat pendukung waktu aku mendongeng. Misalnya boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana datangnya ide untuk cerita dongengmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan aku punya perpustakaan kecil di rumah! Jadi, idenya ya dari bukubuku yang ada di perpustakaan itu. Sebelum mendongeng, aku berusaha baca bukunya dulu. Tapi kadang, kalau bingung, ibu membantu aku mencari dan memilih ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng apa yang kamu sukai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dongeng yang aku bawakan, tentunya yang aku sukai. Tapi dongeng yang paling sering aku ceritakan adalah “1.000 Kucing untuk Kakek” dan “Mencabut Singkong”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kamu menyukai kedua cerita itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lucu dan ada interaksi dengan penonton. Misalnya, saat aku membawakan cerita “1.000 Kucing untuk Kakek”, aku selalu membagi-bagikan origami kucing yang aku buat sendiri kepada para penonton. Kalau cerita “Mencabut Singkong”, aku suka karena tokohnya banyak dan aku bisa mengubah suaraku sendiri untuk memainkan tokoh-tokoh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.berani.co.id/Tokoh_Detail.aspx?ID=22&amp;amp;URLView=default.aspx&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-198529295506699294?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/198529295506699294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=198529295506699294' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/198529295506699294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/198529295506699294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/nabila-jasmintia.html' title='Nabila Jasmintia'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsM3EaILz1I/AAAAAAAAAIA/1QnqULQ8Tgk/s72-c/nabila_jasmintia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8022475436778867471</id><published>2009-09-30T03:10:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T03:12:07.547-07:00</updated><title type='text'>Bambang Purwanto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMu0YNTV0I/AAAAAAAAAHw/oTe_t6gUoVs/s1600-h/bp.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMu0YNTV0I/AAAAAAAAAHw/oTe_t6gUoVs/s320/bp.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387201056651564866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMANYA Bambang Purwanto (35), namun ia lebih suka mengenalkan dirinya sebagai Ayah Salwa. Selain menjadi guru, Bambang juga menjadi pendongeng yang berkeliling ke TK/RA dan SD/MI. "Sudah lebih dari lima tahun saya menjadi pendongeng. Kadang juga melatih para guru untuk belajar mendongeng," kata Bambang, setelah mendongeng di SD Islam/MI Al Halim Perum Gading Tutuka 2, Desa Ciluncat, Cangkuang, Kab. Bandung, Sabtu (16/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang masih memiliki darah Purwokerto, Jawa Tengah ini mengambil nama anak pertamanya, Salwa, sebagai nama alias saat mendongeng. "Seperti Ustaz Abu Syauqi atau Ayah Syauqi, jauh lebih terkenal daripada nama aslinya, Kang Deni Tresnahadi. Akibat dongeng, saat mendaftar ke SMP Taruna Bakti, malah disarankan mengajar di TK atau SD," ucapnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng, menurut Bambang, bisa memberikan banyak manfaat kepada anak-anak, seperti menanamkan akhlak maupun daya imajinasi. "Kalau dongeng kepada anak-anak TK cukup mengalir ceritanya dari awal sampai akhir, tetapi kalau ke anak-anak SD, harus lebih memancing daya pikir dan imajinasinya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang juga mengenalkan dongeng melalui situs pribadinya, yang juga mengajarkannya kepada para guru. "Saya juga sedang menyusun modul pelatihan Motivasi Pelajar Sukses (Mops). Saya prihatin karena orang tua dan para guru kurang mengenalkan dongeng kepada anak-anak sehingga pendidikan terasa kering," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak lebih terpaku kepada media televisi sehingga interaksi dengan orang tuanya menjadi kurang. "Padahal dengan dongeng, misalnya sebelum tidur, membuat imajinasi dan kreativitas anak berkembang. Kedekatan komunikasi juga terjalin," ujar Bambang. (Sarnapi/"PR")***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=76192&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8022475436778867471?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8022475436778867471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8022475436778867471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8022475436778867471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8022475436778867471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/bambang-purwanto.html' title='Bambang Purwanto'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMu0YNTV0I/AAAAAAAAAHw/oTe_t6gUoVs/s72-c/bp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-1575508856399535064</id><published>2009-09-30T02:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T03:06:47.608-07:00</updated><title type='text'>Yuniani Miftahul Ni’mah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMtq4zOELI/AAAAAAAAAHo/rq4x8elCf50/s1600-h/yn.gif"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMtq4zOELI/AAAAAAAAAHo/rq4x8elCf50/s320/yn.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387199794090217650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Yuniani Miftahul Ni’mah. Namun di keluarga besar SD Aisiyah Nganjuk, panggilan akrabnya Bu Yuni. Ibu muda asal Desa Loceret Nganjuk ini mulai masuk jajaranAisiyah sebagai guru baru setahun silamm. Hanya saja, dalam waktu yang masih terbilang baru itu , alumnus Pondok Pesantren Al- Islam Kelurahan Kapas Sukomoro tersebut telah mampu mengukir prestasi yang mengharumkan nama sekolah. Sarjana Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang tersebut ternyata piawai mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kepiawaiannya itu pula, pada Hari Anak Nasional tahun 2009 lalu, Bu Yuni berhasil menyabet gelar juara pertama lomba mendongeng , yang diadakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;Bu guru berjilbab kelahiran 14 Juni 1983 itu, berhasil membawa pulang piala kejuaraan dengan rasa suka cita, begitu pula bagi keluarga besar SD Aisiyah menyambutnya dengan rasa syuikur. Prestasi ini akan semakin melengkapi kualitas sumberdaya manusia di SD Aisiyah, jelas Aris Nasution, SE selaku Kepala Sekolah.&lt;br /&gt;Dalam lomba mendongeng yang diikuti para guru SD se Jawa Timur tersebut, Yuni menampilkan naskah yang ditulisnya sendiri selama dua hari, Judulnya Si Ducky Yang Malang.&lt;br /&gt;Cerita tersebut mengisahkan seekor bebek yang selalu membantah nasihat orang tua. Dasar bebek nakal dan sok usil, dia keluar dari rombongannya. Akhirnya si bebek tersesat hingga tengah malam terlepas dari rombongan. Dia kebingungan dan diliputi kecemasan, ditengah hutan si bebek menangis. Beruntung ada burung hantu yang mengetahui. Si hurng yang baik hati bersedia mengantar kerumah, namun ternyata ditengah jalan sudah bertemu dengan saudaranya, hingga si bebek bisa kembali kerumah.&lt;br /&gt;Ini upaya kami menyampaikan pendidikan budi pekerti dikalangan anak. Sebab budi pekerti harus ditanamkan pada diri anak sejak usia dini, tandas Yuni istri seorang kontraktor tersebut.&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Yuniani Miftahul Ni’mah. Namun di keluarga besar SD Aisiyah Nganjuk, panggilan akrabnya Bu Yuni. Ibu muda asal Desa Loceret Nganjuk ini mulai masuk jajaranAisiyah sebagai guru baru setahun silamm. Hanya saja, dalam waktu yang masih terbilang baru itu , alumnus Pondok Pesantren Al- Islam Kelurahan Kapas Sukomoro tersebut telah mampu mengukir prestasi yang mengharumkan nama sekolah. Sarjana Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang tersebut ternyata piawai mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.nganjukkab.go.id/nganjuk/news/news.php?id=2244&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-1575508856399535064?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/1575508856399535064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=1575508856399535064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1575508856399535064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1575508856399535064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/yuniani-miftahul-nimah.html' title='Yuniani Miftahul Ni’mah'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMtq4zOELI/AAAAAAAAAHo/rq4x8elCf50/s72-c/yn.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6037571206437547817</id><published>2009-09-30T02:35:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T06:28:44.426-07:00</updated><title type='text'>FOTO2 Pro DONGENG (suplemen)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsNcsh7tlZI/AAAAAAAAAII/X26EDcUKLA0/s1600-h/erlangga7.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsNcsh7tlZI/AAAAAAAAAII/X26EDcUKLA0/s320/erlangga7.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387251499358066066" /&gt;http://www.erlangga.co.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=518&amp;amp;Itemid=366&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMv9HP1VQI/AAAAAAAAAH4/OoO3EPdGGoo/s1600-h/ft2.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMv9HP1VQI/AAAAAAAAAH4/OoO3EPdGGoo/s400/ft2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387202306229228802" /&gt;&lt;br /&gt;http://annida-online.com/berita.php?id=228&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMmrLY3qGI/AAAAAAAAAHg/u76X9KNUl54/s1600-h/ft1.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMmrLY3qGI/AAAAAAAAAHg/u76X9KNUl54/s400/ft1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387192102498576482" /&gt;http://kakbimo.wordpress.com/2009/01/22/deklarasi-gerakan-membangun-watak-bangsa-melalui-cerita/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6037571206437547817?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6037571206437547817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6037571206437547817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6037571206437547817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6037571206437547817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/foto2-pro-dongeng-suplemen.html' title='FOTO2 Pro DONGENG (suplemen)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsNcsh7tlZI/AAAAAAAAAII/X26EDcUKLA0/s72-c/erlangga7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-1797628117722594315</id><published>2009-09-30T02:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T02:06:26.997-07:00</updated><title type='text'>Tuti Gunawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMfd7zlpfI/AAAAAAAAAHQ/V8tjLBWyB6Q/s1600-h/tg.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMfd7zlpfI/AAAAAAAAAHQ/V8tjLBWyB6Q/s400/tg.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387184178395981298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Belajar dengan Dongeng&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Terkadang orantua atau guru merasa kebingungan mengajari anak-anak. Saking bingungnya, orangtua dan guru cenderung kaku dan otoriter dalam mengajarkan anak-anak. Mereka dipaksa untuk menghafal, menghafal, dan menghafal. Sehingga anak-anak pun tidak merasa nyaman dengan hal itu. Akibatnya, materi pelajaran yang diberikan tidak terekam oleh mereka. Lantas, apa yang harus dilakukan agar anak-anak mampu mengingat? Bagaimana cara metode mengajar yang baik? Untuk mengetahuinya, Hutami Pudya dari Jurnal Bogor, telah mewawancarai Tuti Gunawan, Pemerhati Pendidikan dan Penulis. Berikut penuturannya.&lt;br /&gt;Kapan waktu belajar anak yang efektif?&lt;br /&gt;Waktu yang efektif untuk belajar adalah ketika keadaan emosionalnya sedang baik dan tidak labil. Karena dengan keadaan emosional yang baik, si anak akan mudah mengingat dan mencerna materi pelajaran yang diberikan. Bagian otak yang behubungan dengan emosi adala Limbik. Si Limbik ini sangat berperan besar dalam menyimpan memori dan waktu yang lama. Oleh karena itu, buatlah belajar anak-anak menjadi sesuatu yang menyenangkan sehingga keadaan emosionalnya pun baik. Kalau anak-anak terpaksa harus belajar, kemampuan mereka mengingat pelajaran pun sangat minim. Bahkan mungkin tidak ingat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Apa tanggapan Anda mengenai metode belajar-mengajar, guru menerangkan dan murid hanya duduk manis untuk mendengarkan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru berdiri di depan, kemudian merenangkan, dan murid-murid duduk manis di bangkunya masing-masing. Itulah keadaan kelas yang mungkin pernah kita alami dulu. Kalau sekarang, rasanya sudah tidak efektif lagi pola belajar yang demikian. Zaman semakin maju dan canggih. Kalau pola mengajari murid hanya sebatas itu, mereka tidak akan berkembang. Murid pun akan cenderung bosan dan belajar dengan penuh keterpaksaan. Mereka mau datang ke sekolah hanya karena takut kalau membolos, dan hanya gugur kewajiban. Metoda mengajar yang seperti itu adalah metoda yang sia-sia, sebab anak pun akan kesulitan untuk mengingat materi pelajaran yang telah diberikan. Hal itu disebabkan kondisi emosionalnya yang kurang baik lantaran dirundung keterpaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lantas, bagaimana cara mengajar yang baik?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Cara mengajar yang baik adalah dengan mengarahkan atau membangkitkan emosionanya menjadi baik. Buat anak-anak senang dengan belajar, bukan suatu keterpaksaan. Kemudian, libatkan seluruh panca indra mereka, seperti indra perasa, pengecap, penglihatan, penciuman, dan pendengaran. Kalau motode lama, yakni guru menerangkan, murid mendengarkan, panca indra anak-anak tidak dilibatkan semua. Yang dilibatkan hanya indra penglihatan dan pendengaran. Selain itu, harus ada interaksi antara guru dan siswa, jangan hanya satu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan agar belajar anak lebih menyenangkan?&lt;br /&gt;Banyak cara yang bisa dilakukan agar belajar lebih menyenangkan. Salah satu cara yang paling ampuh agar belajar terasa menyenangkan adalah dengan cara mendongeng. Maksudnya begini, jangan buat materi pelajaran menjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bagi mereka. Misalnya, menerangkan pelajaran biologi dengan cara mendongeng. Pengajar bisa menerangkan bagaimana air diserap oleh tumbuh-tumbuhan dengan bentuk cerita petualangan si air. Dengan begitu, anak-anak akan mudah mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dapatkah Anda menceritakan gaya mengajar Anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah guru kimia di SMA Regina Pacis. Waktu itu saya sedang menerangkan mengenai reaksi kimia antara asam dan basa. Saya mencari cara bagaimana agar siswa-siswa saya mudah memahami materi pelajaran yang saya berikan. Akhirnya saya membuat sebuah perumpamaan asam dan basa seperti perempuan dan laki-laki. Asam sebagai perempuan, dan basa sebagai laki-laki. Asam dan basa seperti hati yang terpisah. Ketika asam dan basa yang berlainan jenis ini disatukan, maka akan timbul benih-benih cinta alias reaksi kimia. Setiap saya memberikan analogi seperti itu, siswa-siswa saya selalu antusian dan memerhatikan saya saat menerangkan hal tersebut. Analogi seperti itu cocok karena masa SMA adalah masanya tumbuh benih-benih cinta. Gara-gara dongeng asam dan basa tersebut, mantan murid saya yang sudah lama sekali tidak bertemu, lalu bertemu kembali dengan saya, mengaku masih mengingat kisah cinta asam dan basa. Ia bilang, ia tidak akan pernah lupa dengan hal itu. Selain itu, anak didik saya tidak pernah saya paksa untuk menghafal, tetapi terbiasa dan membuatnya menjadi hal yang menyenangkan. Contohnya, saya ingin anak didik saya hafal rumus unsur kimia. Agar mereka hafal di luar kepala, saya buat dalam bentuk nyanyian dan tarian. Alhasil, mereka tidak seperti sedang menghafal unsur kimia, tetapi sedang menari dan menyanyi untuk meluapkan rasa senangnya. Dan cara itu pun berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa keuntung metode mengajar tersebut?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan metode belajar yang demikian adalah, anak-anak tidak akan merasa terpaksa untuk menerima informasi yang kita berikan. Mereka tidak seperti belajar. Keadaan emosional mereka pun cenderung akan baik sehingga materi pelajaran mudah sekali mereka ingat. Selain itu, hubungan antara pengajar atau guru dengan para siswa pun akan lebih dekat. Suasana belajar pun tidak kaku. Si pengajar nyaman, siswanya pun demikian.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan Anda concern terhadap pendidikan anak-anak dan mengapa Anda begitu peduli dengan pendidikan anak-anak?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi guru, saya adalah seorang pendongeng, penulis, dan pesulap. Buku karya saya diantaranya adalah Teknik Bercerita dan Kumpulan Kartu Cerita, Putri Alma Mencari Buah Emas. Sejak usia 13 tahun, saya sudah concern atau peduli dengan dunia anak-anak. Di usia tersebut, saya sudah giat mendongeng. Saya kumpulkan anak-anak di lingkungan rumah saya, dan saya mendongeng untuk mereka. Saya suka sekali mendongeng karena sejak kecil, ayah sya sering sekali mendongeng untuk saya, sehingga hubungan kami sangat dekat. Mulai dari A sampai Z, saya ceritakan semua ke ayah saya. Saya sangat terbuka dengan ayah. Makanya tak heran gaya saya saat mengajar seperti orang mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Apa manfaat dari mendongeng?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali manfaat dari mendongeng. Salah satunya adalah hubungan emosional antara orangtua dan anak. Dengan mendongeng, kecerdasan anak juga akan terbentuk, khususnya kecerdasan linguistik. Dari bayi, seharusnya si buah hati sudah didongengkan dan rajin diajak dialog. Sebab, dengan begitu, anak akan cepat ngomong. Hasil dari mendongeng, anak akan suka membaca, menulis, dan menuturkan kembali apa yang orangtuanya ceritakan. Hal itu tentu akan melatih daya ingat anak. Saya menjadi penulis juga karena ayah saya yang suka mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bisakah Anda menyebutkan siapa inspurator Anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya SD, saya tergolong murid yang nakal. Beberapa guru saya sampai kuwalahan menghadapi kenakalan saya. Guru-guru saya sering sekali menghukum saya. Namun, ada satu guru yang sama ekali tidak menghukum saya. Namanya Ibu Darti. Beliau justru memberikan saya tanggung jawab yang besar. Ia mendekati saya, dan berbicara, “Tuti, kalau Ibu tidak bisa mengajar, kamu yang gantikan ya. Kamu yang mengajari kawan-kawan kamu,”. Saat itu, saya merasa dihargai. Saya sadar, ia tidak melihat saya sebagai anak nakal, tetapi seorang anak yang memiliki potensi. Sejak saat itulah saya tidak menjadi anak nakal lagi. Setiap kali saya menceritakan Ibu Darti, saya selalu terharu dan ingin mengeluarkan air mata. Beliau salah satu inspirator saya.&lt;br /&gt;http://www.jurnalbogor.com/?p=27266&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-1797628117722594315?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/1797628117722594315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=1797628117722594315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1797628117722594315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1797628117722594315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/tuti-gunawan.html' title='Tuti Gunawan'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMfd7zlpfI/AAAAAAAAAHQ/V8tjLBWyB6Q/s72-c/tg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8229553324775360519</id><published>2009-09-30T01:58:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T02:00:18.316-07:00</updated><title type='text'>PENDONGENG MISTERIUS</title><content type='html'>Data Pendongeng Misterius/Minim data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mas Amir, Karangdowo, Solo&lt;br /&gt;2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8229553324775360519?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8229553324775360519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8229553324775360519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8229553324775360519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8229553324775360519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/pendongeng-misterius.html' title='PENDONGENG MISTERIUS'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-4952773412691138945</id><published>2009-09-27T19:52:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T20:01:09.138-07:00</updated><title type='text'>Heru Prakoso</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsAmhPx4kVI/AAAAAAAAAHI/q1QLIirC5a4/s1600-h/heru.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsAmhPx4kVI/AAAAAAAAAHI/q1QLIirC5a4/s400/heru.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386347506948411730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mencetak Pendongeng Andal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorot mata penasaran terpancar pada wajah ceria para siswa TK Komimo Jatiwaringin. Sesekali, mereka bangun dari duduk manisnya untuk ikut berceloteh. Hari itu, Selasa (15/9), mereka seolah terlibat dalam cerita Dedek Oni dan Naga Pencuri yang dibawakan Kak Heru, Si Paman Dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan petikan gitar dan permainan boneka, Heru mengkisahkan Dedek Oni, si yatim piatu penjual kue, yang membuat naga pencuri sadar dan mau menebus kesalahannya. Heru memilih dongeng ini untuk disampaikan dalam acara pemberian santunan kepada sejumlah lansia dan anak yatim piatu. "Pesan moral bisa disampaikan dengan cara yang menghibur," ujar Heru Prakoso, demikian nama lengkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Heru mungkin tak asing bagi pemirsa cilik. Sejak 2007, ia tampil sebagai perancang sekaligus pendongeng acara  Rumah Dongeng di DAAI TV. Jauh hari sebelumnya, tepatnya awal tahun 1990-an, ia lebih dulu menghibur anak-anak pemirsa TPI lewat tokoh Belu dalam Film  Boneka Si Komo . "Disamping menjadi pendongeng, saya juga terus berupaya mencetak pendongeng baru," ucap jawara Lomba Dongeng Tingkat Nasional tahun 1992 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Santono, Kak Ryan, dan Kak Nunung, adalah tiga kawan Heru yang sukses melejitkan diri sebagai pendongeng penyabet gelar juara nasional. Mereka menerapkan teknik-teknik mendongeng yang diajarkan Heru. "Kak Nunung adalah seorang guru di Bogor, Jawa Barat," jelas Heru yang sudah 20 tahun mendongeng di sejumlah TK jaringan Yayasan Mentari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen&lt;br /&gt;Sebagai pendongeng, Heru memegang teguh komitmennya terhadap dunia pendidikan anak usia dini. Ia ingin guru-guru TK bisa tampil sebagai pendongeng hebat, dan pembentuk karakter. "Selepas Lebaran, saya akan mengajar dongeng di Aceh, satu-satunya daerah di Nusantara yang belum saya kunjungi," kata pelatih dongeng Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru yakin semua orang bisa menjadi pendongeng hebat. Sebab, tidak perlu bakat untuk mendongeng. "Ini keterampilan yang bisa dikuasai dengan berlatih," komentar sarjana ekonomi alumnus Universitas Krisnadwipayana, Jakarta Timur, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, meyakinkan orang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, yang dibimbingnya bukan cuma guru baru. Para guru senior juga ikut di kelas mendongeng Kak Heru. "Banyak yang tidak berani beralih ke paradigma baru itu," ungkap juri Lomba Dongeng Tingkat Nasional tahun 1994 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru kemudian mencoba menggugah kesadaran para guru TK tentang tugas mulia yang diembannya. Lantas, ia mengingatkan keinginan anak untuk bereksplorasi tanpa dibatasi dengan cara klasik, yakni menyuruh mereka mengunci mulut dan memaksa anak mendengarkan guru. "Guru yang seperti itu berarti melanggar hak asasi anak, bisa saya laporkan ke Komnas Perlindungan Anak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru mengajak guru TK untuk pintar membuat persetujuan dengan siswanya. Pria kelahiran Jakarta, 3 Juni 1964, ini ingin guru dan murid dapat berteman akrab. "Antara guru dan murid tak boleh ada jurang, tetapi harus ada kesepakatan di antara mereka tentang bagaimana seharusnya kelas berjalan," imbuh ayah empat anak yang menjadi pengisi suara film kartun Kampung Edu-UNICEF, TVRI dan SpaceToon, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan majemuk&lt;br /&gt;Heru juga menyerukan agar TK memanfaatkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya untuk menyampaikan dongeng. Menurutnya, tak perlu perlengkapan mahal untuk bisa menarik perhatian anak. "Pergunakan barang-barang yang akrab di mata anak dan libatkan kemahiran Anda menyanyi, main alat musik atau menari," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru lantas membiasakan guru dengan pola dan konsep dongeng yang baik. Dongeng harus ada bagian pembuka, konflik, dan akhir yang bahagia. "Ambil intisari kisahnya lalu ceritakan kembali. Jangan dihafal," saran Heru yang bersama UNICEF giat memasyarakatkan tontonan sehat kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru juga mengingatkan guru untuk berhati-hati dalam memilih kata. Sebab, anak TK memiliki kapasitas memori baru sekitar 2.500 kata. Pilihan kata juga harus disesuaikan dengan latar belakang penonton cilik. "Selanjutnya, berlatihlah agar bisa tampil percaya diri," saran pemain dan pengisi suara Festival Teater Boneka Tingkat Asia di India tahun 1992 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali mendongeng, Heru mengandalkan aksi teater, sulap, permainan gitar dan alat peraga. Tutur katanya mencoba menggugah seraya menghibur pemirsa cilik. Termasuk ketika bercerita di depan anak-anak nelayan Kapuk, Muara, Jakarta Utara, ataupun putra-putri pemulung Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru mengajak gadis dan bujang belia tersebut untuk melihat jauh ke dalam diri mereka masing-masing. Mereka dirangkul untuk menguatkan diri menghadapi keterbatasan ekonomi keluarganya. "Saya ceritakan tentang anak yang ditinggal kedua orang tuanya lalu berusaha menjual kue. Makin hari makin jauh ia berjalan hingga dagangannya laku lebih banyak. Dari situ, ia bisa menabung dan membeli motor untuk memperluas jangkauan pemasarannya. Mengandalkan kekuatan akal pikirannya, anak tersebut akhirnya punya cukup uang untuk mendirikan pabrik kue sendiri," Heru mengisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal karir&lt;br /&gt;Heru mengawali karirnya sebagai pembawa acara di Pasar Seni Ancol dan Dunia Fantasi pada tahun 1983 hingga 1992. Heru digamit Kak Seto untuk mengikuti festival cerita dengan boneka tingkat Asia pada tahun 1989 di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. "Dengan memadukan gaya wayang orang, boneka wayang dari kayu, dan suara unik, kami berhasil mengumpulkan poin penilaian tertinggi dan menjuarai festival bergengsi tersebut," kenang dosen PGTK Mentari, Jakarta, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan tersebut membuka mata Heru tentang profesi  puppeter , pemain boneka atau pendongeng. Festival yang sama sekaligus memperlihatkan untuk kelas Asia, Indonesia terbilang maju dalam mengembangkan teknik mendongeng. "Saya yang ketika itu masih kuliah berpikir untuk serius menekuni dongeng," kata Heru yang tengah menyiapkan buku berjudul provokatif,  Ingin Berpenghasilan Melebihi Sarjana? Yuk Kita Mendongeng!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilannya yang mengesankan di kompetisi tingkat Asia mengirimkan Heru ke Jepang. Selama enam bulan di tahun 1991, Heru bersama seorang pendongeng dan pemain musik latar menggelar pertunjukan boneka Tsubasa menghibur anak-anak cacat. "Kami menikmati fasilitas dengan level seniman berkelas saat berkeliling Jepang," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Negeri Sakura, Heru naik panggung membawakan cerita rakyat berbahasa Indonesia. Pelajar Jepang kemudian menerjemahkannya ke bahasa setempat. "Dari kesempatan itu pula kami berbagi tips olah vokal dengan pemain boneka Jepang," tandas pimpinan Bonekaria ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pada 1992, Heru diminta menjadi pemain sekaligus pengisi suara pada Festival Teater Boneka Tingkat Dunia di India. Sebuah lembaga donor mensponsori keberangkatannya ke India. "Sepulang dari sana, saya mengadaptasi boneka naga yang saya mainkan di India menjadi Si Komo, boneka komodo yang karakternya diciptakan Kak Seto," katanya.&lt;br /&gt;(reiny dwinanda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://www.republika.co.id/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-4952773412691138945?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/4952773412691138945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=4952773412691138945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/4952773412691138945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/4952773412691138945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/heru-prakoso.html' title='Heru Prakoso'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsAmhPx4kVI/AAAAAAAAAHI/q1QLIirC5a4/s72-c/heru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7800458367939782708</id><published>2009-09-25T03:07:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T19:46:28.794-07:00</updated><title type='text'>Kak Nitnit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SryXKW3SfBI/AAAAAAAAAHA/ewsgrx1t0UY/s1600-h/knit.jpeg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SryXKW3SfBI/AAAAAAAAAHA/ewsgrx1t0UY/s400/knit.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385345458620234770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Anak adalah amanah bagi orang dewasa untuk melahirkan, merawat dan memberi pendidikan yang sangat layak.&lt;/p&gt;Anak adalah anugrah yang sangat unik. Anak adalah anak, bukan orang dewasa dalam bentuk kecil.&lt;br /&gt;Setiap anak dilahirkan dalam kesucian. Bagai hardsik yang baru dikeluarkan dari pabrik. Tugas orang dewasa disekitarnya lah untuk meng-install operating sistem / soft ware yang dianggap baik dan sesuai dengan norma kebudayaan serta sesuai dengan prospek masa depan anak.&lt;p&gt;&lt;br /&gt;http://www.youtube.com/watch?v=9bbxmrSxC9Q&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://kaknitnit.com/index.html&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://balitamembaca.blogspot.com&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7800458367939782708?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7800458367939782708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7800458367939782708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7800458367939782708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7800458367939782708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2009/09/kak-nitnit.html' title='Kak Nitnit'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SryXKW3SfBI/AAAAAAAAAHA/ewsgrx1t0UY/s72-c/knit.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7914090098567224135</id><published>2008-08-27T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T01:30:29.593-07:00</updated><title type='text'>Sujiwo Tejo</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLUQdezhOXI/AAAAAAAAAGo/3gUDHb3yRYw/s1600-h/tejo+wayang2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLUQdezhOXI/AAAAAAAAAGo/3gUDHb3yRYw/s400/tejo+wayang2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239111840186841458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';"  lang="SV"&gt;Mendongeng agar Anak Gemar Membaca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Mendongeng ternyata bisa memacu anak gemar membaca. Apalagi jika materi dongengan disajikan dengan menarik dan interaktif, seperti mementaskannya dalam bentuk teater atau drama di panggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Begitulah pendapat sejumlah pendongeng, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Ketua Kelompok Pecinta Bacaan Anak (KPBA) Murti Bunanta menuturkan, pada saat mendongeng, guru atau orangtua harus lebih dulu menunjukkan buku bacaan kepada anak. Bahkan, jika perlu, anak diminta membaca sebelum dibacakan ulang oleh orangtua atau guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;”Dasar untuk mendongeng adalah buku. Jadi, bukunya ada dulu. Bukan sengaja membuat naskah untuk dipertunjukkan kepada anak. Tujuan KPBA mendorong anak agar gemar membaca, salah satu-nya dengan mendongeng,” papar Murti di sela-sela Seminar ”From Page to Stage” dalam Festival Men-dongeng Ke-6 di Bentara Budaya Jakarta pekan lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Sebaliknya, menurut Sachiko Watanabe, Supervisor Ohanashi Caravan (grup pendongeng asal Jepang), kelompoknya selalu membagikan buku bergambar kepada anak yang sebelumnya telah didongengi. Dengan begitu, anak terpancing menceritakan kembali isi buku kepada kawan atau keluarga di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;”Anak juga belajar mengingat kembali adegan demi adegan yang ditampilkan pendongeng. Dia akan meniru dan menunjukkannya kepada orangtua. Kami berharap, ini akan menginspirasi anak agar tertarik pada buku dan membaca. Jadi, dari buku, pentas, lalu kembali ke buku,” paparnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Ohanashi Caravan adalah yayasan yang menaruh perhatian pada kebudayaan dengan mem-perkenalkan cerita rakyat melalui pentas boneka, penerbitan, dan pendistribusian buku. Grup yang didirikan 30 tahun lalu ini berkeliling dunia mementaskan cerita anak semenarik mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Interaktif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;* Agar anak bisa menghayati cerita, sebaiknya dia dibiarkan ikut berinteraksi dengan pendongeng. Cara seperti ini dilakukan grup Ohanashi Caravan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Sachiko menuturkan, anak sebaiknya diberi kesempatan memberi komentar atas dongeng yang disajikan. ”Anak biasanya ingin menjadi bagian dari cerita atau menirukan tokoh. Jadi, biarkan saja itu terjadi, ini juga tidak merusak cerita,” ujarnya. Hal senada dikatakan Sujiwo Tejo, pendongeng, yg rutin memberikan pelatihan ke sekolah-sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Mendongeng secara interaktif, apalagi dengan media atau alat peraga, biasanya sulit diusahakan orangtua, apalagi jika mereka sibuk bekerja. Namun, sebenarnya orangtua bisa membuat media yang sederhana, seperti boneka, tali, kertas warna, atau manik-manik. Orangtua bisa menyiapkan media itu kala senggang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;”Alat peraga sangat penting. Kalau sekadar membacakan cerita, anak bisa bosan. Untuk mem-buat wayang beber, orangtua bisa membuatnya dari kertas, lalu digambari seperti adegan dalam cerita. Jika orangtua tak bisa atau tak punya waktu, biasanya sekolah mempunyai jadwal mendongeng,” ujar Anne Pellowski, pendongeng dari New York.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Sebagian sekolah memasukkan pelajaran mendongeng dalam kurikulum lokal. Hanya saja, lanjut Murti, guru harus pintar memilih materi bacaan. ”Selain itu, dongengan sebaiknya ditampil-kan dalam bentuk drama agar menarik,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Di Jepang, karena guru sekolah (terutama SD dan SMP) sibuk menyiapkan materi pelajaran, mendongeng tak bisa dilakukan sendiri. Maka, pendongeng seperti Ohanashi Caravan sangat dibutuhkan. Biasanya, pihak sekolah mengundang Ohanashi mendongeng dan melakukan semacam workshop bagi guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Hal seperti itu juga dilakukan di AS. Seperti dikatakan Anne, pendongeng datang ke sekolah untuk pelatihan. ”Setelah itu, biasanya guru dan pustakawan mengembangkan diri dan membuat program mendongeng,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Membangun karakter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;* Manfaat lain mendongeng adalah melatih anak agar tak malu dan percaya diri. Awalnya, anak mungkin diam saja. Namun, lama-lama anak mulai bertanya dan menirukan tokoh dalam cerita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Selain itu, mendongeng juga bisa menjadi wahana membangun karakter anak. Guru dan orangtua bisa menilai bagaimana sikap anak dengan menanyakan pendapatnya tentang sesuatu hal setelah dia didongengi. Setelah pendongeng selesai bercerita, anak sebaiknya ditanya, tokoh mana dalam cerita yang disukai dan mengapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Orangtua bisa menilai kecenderungan anak terhadap sesuatu hal. Apa yang dia sukai dan tidak, apa yang dia anggap baik atau buruk. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  &gt;Apalagi jika cerita itu menyelipkan petuah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 27pt; color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  lang="SV" &gt;Sachiko mencontohkan cerita tentang tujuh gajah yang dilarang induknya makan buah tertentu. Namun, seekor anak gajah ingin tahu, mengapa memakan buah saja dilarang. Sang anak gajah nekat memakan buah, dan seketika dia sakit. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';font-size:100%;"  &gt;Adakah orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya?!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:'Trebuchet MS';" &gt;(Susi Ivvaty)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://parenting.pustaka-lebah.com/?p=22&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7914090098567224135?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7914090098567224135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7914090098567224135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7914090098567224135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7914090098567224135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/sujiwo-tejo.html' title='Sujiwo Tejo'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLUQdezhOXI/AAAAAAAAAGo/3gUDHb3yRYw/s72-c/tejo+wayang2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8974224097526636133</id><published>2008-08-27T00:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T01:13:54.337-07:00</updated><title type='text'>Slamet Gundono</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLUMpKlH3bI/AAAAAAAAAGg/XMD6Ocynfro/s1600-h/sg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLUMpKlH3bI/AAAAAAAAAGg/XMD6Ocynfro/s400/sg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239107642869669298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-weight: bold;"&gt;Menebar &lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dongeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Jakarta&lt;/b&gt; &lt;/b&gt;-- Ada keramaian yang hangat di ruang aula Bentara Budaya &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Jakarta&lt;/b&gt;. Tempat digelarnya beragam acara kesenian yang terletak di Jalan Palmerah Selatan, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Jakarta&lt;/b&gt;, itu tampak dipenuhi ratusan anak-anak pada Minggu (24/7) siang. Bukan, tempat itu bukan menjelma menjadi sekolah taman kanak-kanak. Namun, saat itu tengah digelar acara kesenian yang memang diperuntukkan bagi bocah-bocah lucu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata mereka tampak membulat saat terdengar suara musik cokekan dari teras aula. Mereka langsung menoleh. Dari pintu masuk, muncul serombongan anak-anak membawa kentongan masuk berbarengan dengan Slamet Gundono. Dalang wayang suket yang bertubuh tambun ini menggiring anak-anak ke depan panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di atas panggung, Gundono tidak berperan sebagai seorang &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;pendongeng&lt;/b&gt; satu arah. Dia malah mengajak anak-anak pendengarnya untuk berinteraksi bersama. Puluhan anak yang ada di depan diajak naik ke atas panggung dan bernyanyi menirukannya. Lantas mulailah pertunjukan wayang suket digelar dengan judul Senggrutu. Lewat dongeng inilah Gundono membuka rangkaian festival mendongeng keenam di Bentara Budaya &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Jakarta&lt;/b&gt;, 23 - 26 Juli 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya improvisasi, Gundono mengisahkan bagaimana seorang raksasa muncul merusak hutan dan menelan segala isinya, termasuk Senggrutu, seorang bocah yang tinggal di hutan. Di dalam perut raksasa, Senggrutu melawan dan berhasil membelah perut raksasa itu. Gundono mengakhiri cerita dengan menari-nari keluar ruangan. Puluhan anak kecil yang menontonnya mengikuti keluar. "Yang penting interaksi rasa dengan mereka, biar mereka sendiri yang membentuk imajinasi," ujar Slamet Gundono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng memiliki banyak sekali kajian moral. Alur cerita di dalamnya selalu memberikan pesan tentang moral baik dan buruk yang terwakili dengan berbagai subyek pelaku cerita. Lewat kisah-kisah inilah, kita bisa menyampaikan pendidikan sosial yang bermoral dan berbudi pekerti baik kepada anak di lingkungan sosial sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kebiasaan mendongeng ini semakin jarang dijumpai seiring dengan semakin kerasnya tuntutan hidup yang memaksa orang tua bekerja hingga larut malam. Waktu mereka semakin minim saat bersama anak sehingga dongeng tak lagi terlantun menemani mereka saat menjelang tidur. Tak mengherankan jika kisah orang tua--biasanya nenek yang mendongeng pada cucunya--mendongeng kini telah menjadi dongeng itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dongeng di Indonesia banyak memiliki simbol-simbol, terutama cerita fabel. Tiap daerah di semua provinsi Indonesia memiliki dongeng sendiri. Satu yang paling dikenal adalah cerita Kancil dalam berbagai episode. Lantas ada cerita si Nyamuk (Aceh), Pak Belalang (Palembang), Pangeran Katak (Bali), Uthak-uthak Ugel (Jawa), dan Ande Ande Lumut (Jawa). Begitu juga dongeng yang telah menjadi legenda, macam cerita Dewi Sri, Malin Kundang, dan Sangkuriang, dengan muatan moral sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murti Bunanta, pimpinan Kelompok Pecinta Bacaan Anak, menelaah kandungan moral yang ada dalam cerita rakyat ini secara perlahan mulai luntur. Dongeng yang sekarang ditulis ulang hanya berkisar pada cerita tertentu saja. Ini pun mulai dimasuki opini si penulis ulang agar tambah seru. Hasilnya terkadang malah membuat semacam distorsi moral itu sendiri. Bahkan beberapa yang sudah disinetronkan juga meluncur jauh dari pesan-pesan moral. "Seharusnya pengarang itu bisa mengambil intisari cerita rakyat untuk kembali diketengahkan," ujar Murti Bunanta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang tengah diusahakan Kelompok Pecinta Bacaan Anak untuk mengembalikan kemurnian isi cerita dongeng pada tempatnya. Karena cerita rakyat ada yang untuk anak, remaja, dan orang dewasa, harapannya supaya cerita-cerita itu tidak salah sasaran. Setelah mengadakan penelitian untuk mengendapkan kajian moral, ada ratusan tema dongeng di Nusantara. Murti sendiri telah menuliskan dalam enam tema. Dari enam tema ini dapat ditulis ulang sebanyak 50 judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam festival ini akan diperdengarkan beragam dongeng dari dalam dan luar negeri. Dari Puteri Kemang hingga Tunjur (Palestina), The Four Brahmins (India), Baby Sitter of An Egg (Jepang), Three Little Ghost Sister (Jepang), dan Gandharva Sen Is Dead (India). &lt;b&gt;andi &lt;/b&gt;dewanto&lt;br /&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : www.korantempo.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8974224097526636133?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8974224097526636133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8974224097526636133' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8974224097526636133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8974224097526636133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/slamet-gundono.html' title='Slamet Gundono'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLUMpKlH3bI/AAAAAAAAAGg/XMD6Ocynfro/s72-c/sg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7315587990172795425</id><published>2008-08-27T00:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T00:53:01.784-07:00</updated><title type='text'>Sekali lagi, Apa Perlunya Mendongeng untuk Anak? (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:130%;"  &gt;Sekali lagi,                 Apa Perlunya Mendongeng untuk Anak?&lt;/span&gt;                 &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;img src="http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/3/2/mesatua.JPG" align="left" border="0" height="230" hspace="3" width="227" /&gt;Sudah sering disebut,                 kegiatan budaya mendongeng di lingkungan keluarga kini nyaris                 punah. Kondisi ini akibat desakan kebudayaan modern dengan                 hadirnya media televisi di rumah-rumah. Anak-anak akhirnya                 terlempar jauh karena tayangan dongeng modern itu tidak sesuai                 dengan akar budaya si anak. Sebagian besar dongeng yang berupa                 film-film kartun itu merupakan film impor yang datangnya dari                 Amerika, Jepang dan negara lainnya. Benarkah surutnya tradisi                 mendongeng di lingkungan keluarga banyak disebabkan kurang                 perhatiannya para orangtua lagi paada anak-anaknya? Sebenarnya,                 apa perlunya mendongeng untuk anak?&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;NEGARA&lt;/strong&gt;                 Jepang sangat terkenal memproduksi film kartun dan film animasi,                 akan tetapi masyarakat di negeri itu masih kuat dengan sastra                 tradisi mendongeng. Aktivitas mendongeng di negara tersebut,                 tidak saja melibatkan pemerhati sastra anak-anak, tetapi juga                 pemerintah dan kalangan pengusaha. Pihak-pihak yang peduli akan                 dongeng ini menjalin kerja sama yang serasi untuk melestarikan                 budaya mendongeng, yang di Bali dikenal dengan istilah masatua.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;Seperti yang pernah                 dimuat media pusat baru-baru ini, disebutkan, sebuah organisasi                 independen di Jepang, Ohanashi Caravan Centre dikabarkan secara                 rutin mendongeng dua kali dalam seminggu. Organisasi mendongeng                 ini mendapat dukungan banyak pihak, mulai perseorangan sampai                 perusahaan swasta raksasa seperti Sumitomo Enterprince Group,                 Tokyo Electronic Power Co dan lain-lainnya. Berbagai yayasan                 seperti Toyota Foundation dan Mitsubishi Bank Foundation juga                 sangat antusias membantunya.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;Menengok apa yang terjadi                 di Jepang itu, ternyata sebagai negara industri terkuat di Asia,                 Jepang sangat peduli dengan perkembangan mental anak-anak                 melalui dongeng. Sebab banyak psikolog yang menilai bahwa                 mendongeng merupakan cara efektif untuk membentuk kepribadian                 anak sejak dini. Anak-anak dapat menilai mana perbuatan yang                 baik dan mana yang buruk melalui tokoh-tokoh dalam cerita.                 Dongeng mengandung nilai-nilai etika, moral, kejujuran, kerja                 keras, kesetiaan dan lain-lain.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;Selain itu, masyarakat di                 Jepang dapat menyeimbangkan pertumbuhan kebudayaan modern dengan                 kebudayaan tradisional. Kebudayaan modern yang sarat dengan                 teknologi itu berhasil digaetnya dengan memproduksi film kartun                 yang menarik seperti "Doraemon", "Saint                 Seiya", "Candy-candy", hingga "Ninjai                 Hatori". Sebaliknya, kebudayaan tradisional seperti                 mendongeng yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut                 dapat digalakkan terus oleh organisasi Ohanashi Caravan Centre.                 Kedua jenis budaya ini dapat terlaksana seiring dan sejalan.                 Bahkan film kartun dan animasi dari Jepang mampu menerobos dunia                 melalui layar kaca televisi dan banyak pemerhati dongeng dari                 negara-negara lain yang belajar di Ohanashi Caravan Centre.                 Termasuk pendongeng Indonesia, Seto Mulyadi, sempat belajar di                 lembaga budaya itu.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Perasaan Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;               Mungkinkan organisasi sejenis Ohanashi di Jepang itu muncul di                 Indonesia? Kalau saja komitmen melestarikan budaya tradisional                 tetap melekat kuat, mengapa tidak? Sebab, dongeng yang dikenal                 sekarang ini oleh anak-anak lebih banyak dalam bentuk tulisan                 yang dicetak dalam bentuk buku. Padahal tradisi mendongeng di                 nusantara ini sejatinya bersifat lisan dengan alur cerita yang                 sederhana dan latar cerita yang polos, menurut kemampuan                 pendongengnya. Walaupun dengan penuh keluguan dan kepolosan,                 dongeng yang disampaikan secara lisan ini tetap menarik.                 Anak-anak bisa menangis, marah, benci bercampur sayang dibuatnya                 saat mendengar dongeng. Perasaan-perasaan seperti ini, hampir                 tidak pernah dirasakan anak-anak ketika menonton film kartun di                 layar televisi.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;Surutnya tradisi                 mendongeng di lingkungan keluarga, banyak disebabkan kurang                 perhatiannya orangtua. Para orangtua terlalu sibuk sehingga                 merasa lelah setelah di rumah. Sehingga kesempatan mendongeng                 tidak ada lagi. Maka organisasi yang mirip Ohanashi di Jepang                 perlu muncul di Indonesia. Jalan ke arah itu tampaknya sudah                 mulai dirintis di Jakarta. Di ibu kota negara ini sudah muncul                 pendongeng-pendongeng profesional, walaupun belum terbentuk                 wadah seperti Ohanashi. Tukang-tukang cerita yang siap menghibur                 anak-anak itu seperti Pak Kusumo, Pak Kanto dan Kak Seto                 Mulyadi. Mereka ini adalah pendongeng keliling yang siap                 dipanggil untuk bercerita di depan anak-anak pada saat acara                 perpisahan di sekolah atau ulang tahun anak-anak di rumah.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;Mereka sangat piawai                 mendongeng, mampu menirukan suara-suara yang mendekati                 tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk lebih menarik perhatian                 anak-anak, pendongeng-pendongeng tadi sering menggunakan boneka                 yang telah dipersiapkan sebelumnya. Perkembangan mendongeng di                 Jakarta oleh tukang-tukang cerita ini semakin meningkat                 intensitasnya. Banyak pesanan dari orangtua untuk menghibur                 anak-anaknya, sekaligus juga bersifat mendidik. Para orangtua                 pun rela merogoh koceknya untuk membayar honor pendongeng.                 Bahkan mendongeng itu, kini sudah menjadi lahan pekerjaan baru                 di kota metropolitan Jakarta.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Telepon Cerita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;               Pendongeng-pendongeng seperti yang disebutkan tadi, tampaknya                 perlu dicontoh dan diterapkan di daerah. Di Denpasar misalnya,                 belum terdengar ada tukang cerita panggilan. Membangkitkan dan                 melestarikan tradisi masatua yang sering didengungkan hanya                 sebatas wacana saja. Justru perhatian terhadap kebudayaan                 warisan leluhur ini dilakukan oleh perusahaan Telkom Kandatel                 Denpasar melalui layanan telkom cerita dengan menekan telepon                 nomor 20414. Manajemen Telkom sangat peduli dengan dongeng,                 sebab kebiasaan mendengarkan cerita dengan tutur kata yang                 santun, anak-anak akan menyukai dan meresapi jalan cerita                 tersebut. Motto Telkom cerita ini adalah, menjadikan anak bangsa                 berbudaya Indonesia berakar adat daerah. Layanan telepon cerita                 ini sangat variatif, mulai dari cerita anak tradisional Bali                 cerita anak nasional, cerita anak manca negara dan cerita anak                 yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Upaya menggali tradisi                 mendongeng akhirnya tetap menghadapi kendala. Kendala ini                 berhadapan dengan teknologi, karena cerita-cerita itu dapat                 diakses melalui layar kaca televisi dan pesawat telepon.                 Masyarakat menginginkan yang serba praktis, namun akhirnya                 dilematis. Akibatnya tradisi mendongeng kehilangan makna budaya.&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;* I Nyoman Suaka,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;               IKIP Saraswati Tabanan&lt;/span&gt;                 &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;                 &lt;/p&gt;                                                 &lt;small&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/3/2/kel1.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7315587990172795425?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7315587990172795425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7315587990172795425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7315587990172795425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7315587990172795425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/sekali-lagi-apa-perlunya-mendongeng.html' title='Sekali lagi, Apa Perlunya Mendongeng untuk Anak? (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7062050494757939316</id><published>2008-08-26T00:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T01:56:34.046-07:00</updated><title type='text'>PAPINTO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLPFKvRpH2I/AAAAAAAAAGY/f8qUOhKXXd8/s1600-h/papinto1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLPFKvRpH2I/AAAAAAAAAGY/f8qUOhKXXd8/s400/papinto1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238747579841847138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOxk7AJwSI/AAAAAAAAAGQ/WV8bqnY-r8w/s1600-h/papinto.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOxk7AJwSI/AAAAAAAAAGQ/WV8bqnY-r8w/s400/papinto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238726039433756962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PAPINTO STORYTELLING DI BAPERPUS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu, 13 Juni 2007 suasana ruang anak di Baperpus Jatim sangat meriah. Anak-anak tertawa terpingkal oleh dongengan Papinto, pendongeng handal di Surabaya. Pagi itu Papinto bercerita tentang hewan-hewan penghuni rimba raya, yang dihadiri lebih dari 40 anak setingkat SD dan TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara storytelling memang merupakan kegiatan rutin dari layanan anak-anak di Baperpus. Setiap Hari Rabu minggu II diadakan kegiatan storytelling dan pemutaran film anak. kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terutama anak-anak untuk aktif ke perpustakaan. Yang pada gilirannya akan memberikan peningkatan pula minat baca pada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencerita kali ini, Papinto memang seorang yang eksis terhadap masalah minat dan kemauan membaca anak. Dia seorang pendongeng profesional yang dengan ikhlas hati membantu kegiatan storytelling di Baperpus. Dia juga memiliki sanggar dongeng di kawasan Kedurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Call Papinto : 031-7532576&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.perpusjatim.go.id/berita.php?nid=65&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7062050494757939316?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7062050494757939316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7062050494757939316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7062050494757939316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7062050494757939316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/papinto.html' title='PAPINTO'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLPFKvRpH2I/AAAAAAAAAGY/f8qUOhKXXd8/s72-c/papinto1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-480566966958535291</id><published>2008-08-26T00:10:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T00:14:49.943-07:00</updated><title type='text'>Ismadi Retty</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOtSCc6XFI/AAAAAAAAAGI/rPgYSrD4mIU/s1600-h/isma.JPG"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOtSCc6XFI/AAAAAAAAAGI/rPgYSrD4mIU/s400/isma.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238721316969405522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendongeng Nasional Ismadi Retty Tularkan Tips kepada Guru PG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Malu dan Canggung Goyang Pinggul&lt;br /&gt;Mendongeng itu mudah. Hal ini disampaikan pendongeng nasional Ismadi Retty alias Pak Kumis di hadapan 104 guru play grup (PG) se-Kabupaten Tuban saat pelatihan mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DWI SETIYAWAN, Tuban&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP wanita memiliki potensi besar mendongeng. Setidaknya, itulah yang disampaikan Madi, panggilan akrab Ismadi Retty, untuk menggambarkan begitu mudahnya mendongeng. Sebagian wanita, terutama ibu-ibu, kata dia, senang rasan-rasan. Saat rasan-rasan itulah sebenarnya mereka telah mendongeng. Ekspresinya kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetangga sebelah itu lho, kok gitu ya Jeng.... Aku saja nggak disapa," tutur Madi memerankan seorang wanita yang rasan-rasan. Seluruh peserta yang memenuhi aula UPTD SKB Dinas Pendidikan Tuban pun dibuat terpingkal-pingkal oleh aksi kocak pria yang punya nama populer Pak Kumis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madi menyatakan, mendongeng tidak hanya bertujuan menghibur. Namun, dalam materi yang diceritakan, sang pendongeng bisa memasukkan pesan yang bertujuan untuk memberi nasihat dan pelajaran kepada anak-anak usia prasekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru materi yang terselip dalam dongeng inilah yang nantinya mudah terserap anak-anak," tandas pria kelahiran Surabaya 16 Juni 1958 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendongeng nasional itu menambahkan, untuk mendongeng seseorang harus mengeksplorasi ekspresi, vokal, dan materi secara utuh. Modal utama lain yang tak boleh diabaikan, lanjut dia, tidak kenal malu dan canggung. Kalau perlu, menggoyangkan pinggul, meloncat-loncat, tertawa, atau mengedipkan mata pun, sang pendongeng tak perlu malu. "Kalau sedikit-sedikit malu, nanti nggak jadi dongeng dong," tandas Madi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi yang diangkat dalam dongeng pun, kata dia, tidak harus yang berat-berat. Hal kecil-kecil yang terkait rutinitas di sekolah dan di rumah pun bisa dijadikan materi dongeng. Untuk menyampaikannya, tambah bapak dua anak itu, juga tidak harus menggunakan alat peraga permanen. Semua peralatan yang ditemui di lingkungan sekitar pun bisa dipakai. Bahkan, gambar di buku pun bisa mengilhami sekaligus dipakai alat untuk mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madi kemudian memberikan contoh, kalau ada gambar binatang di buku atau kertas, maka sang pendongeng bisa memvisualisasi gambar tadi menjadi hidup. Teknisnya, setelah menunjukkan gambar dan memberikan pengantar, sang pendongeng memerankan binatang tadi, mulai dari cara berjalan, perilaku, cara bicara, hingga karakter yang melekat pada hewan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, Madi juga memberikan contoh mendongeng tanpa alat. Ceritanya pun tak kalah hidup. Teknisnya, semula dia memvisualisasi matahari dengan dua pasang jari telunjuk dan ibu jari yang dipertemukan membentuk lingkaran di atas kepala. Untuk memberikan gambaran sinar matahari yang menerpa bumi, pria yang tiga kali menyabet juara nasional mendongeng tersebut kemudian menurunkan kedua tangannya bersama-sama. Setelah itu, dia pindah posisi menggantikan peran seorang anak yang menyapa matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat pagi, matahari, setiap hari sekarang saya bisa bangun pagi lho," kata Madi dengan lafal suara yang dikecilkan seperti anak-anak. Dialog antara matahari pun kemudian berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang tinggal di Waru, Sidoarjo, itu juga mengatakan, tanpa kemasan pesan yang menarik, anak usia tiga tahun hanya bisa konsentrasi 2 hingga 3 menit. Kemudian, anak berusia 4 tahun konsentrasi sekitar 4 menit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lanjut dia, kalau pesan tersebut dikemas menarik seperti dongeng, konsentrasi anak bisa lebih lama. Bahkan, kalau anak-anak senang, mereka bisa meminta materi tersebut diperpanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tips mendongeng, pria yang juga anggota Forum Pendidik Anak Usia Dini (PAUD) Jatim ini memberikan sejumlah tips menghadapi anak yang sulit diatur dan kasus-kasus lain yang dihadapi para guru PG. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_radar&amp;amp;id=158653&amp;amp;c=87&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-480566966958535291?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/480566966958535291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=480566966958535291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/480566966958535291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/480566966958535291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/ismadi-retty.html' title='Ismadi Retty'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOtSCc6XFI/AAAAAAAAAGI/rPgYSrD4mIU/s72-c/isma.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8545249491644873475</id><published>2008-08-26T00:01:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T00:02:15.292-07:00</updated><title type='text'>Pak Kumis (Sujarwo)</title><content type='html'>Boneka Aini Hibur Anak Panti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASURUAN - Sebanyak 115 anak yatim piatu dari panti asuhan se-Pasuruan kemarin dibuat terkesima dengan dongeng yang diceritakan Pak Kumis dan Boneka Aini. Gaya mendongeng yang mereka tampilkan membuat anak-anak itu terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman-teman, mau nggak dengar cerita aku. Pak Kumis, aku mau kasih dongeng teman-teman di sini tentang asal mula Reog Ponorogo lho," tutur Aini si boneka dengan suara kenesnya keluar dari mulut pendongeng Pak Kumis. Mereka tampil di atas panggung expo buku, dan pameran pendidikan di gedung STKIP PGRI Pasuruan, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kumis, yang bernama asli Sujarwo pun mengiyakan permintaan Aini. "Iya bocah manis, Pak Kumis juga ingin mendengar cerita kamu," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum itu, Pak Kumis sempat melontarkan pertanyaan kepada Aini. Dari mana boneka yang menampilkan bocah berjilbab itu tahu cerita Reog Ponorogo. Dengan suaranya yang lantang Aini mengaku dapat cerita itu dari baca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dari mulut mungil boneka yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itupun meluncur kisah legenda Reog Ponorogo. Tentu saja, bahasa dongeng yang disampaikan Aini, bahasa Indonesia yang mudah dipahami anak-anak kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali Pak Kumis memutus cerita Aini, dengan melontarkan pertanyaan seputar ceritanya. Aini pun berusaha menjawab dengan sigap. "Waduh, jangan khawatir Pak Kumis. Semua pertanyaan pasti bisa tak jawab. Aini Gitu Lho," ujarnya setengah guyon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Aini yang suka ceplas-ceplos, kerap mengundang tawa anak-anak panti asuhan itu. Mereka tertawa sambil tidak melepaskan pandangan matanya kepada tangan Pak Kumis yang dibuat menggerak-gerakkan Aini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya melulu di atas panggung, Aini dan Pak Kumis juga beberapa kali menghampiri penonton yang duduk asyik di depan mereka. Salah seorang bocah lucu bernama Anisah terlihat takut ketika didekati Aini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo senyum dong. Masa takut sama Mbak Aini. Aku kan cakep ya Pak Kumis," ungkap Aini. Pak Kumis juga menghibur Anisah yang wajahnya terlihat ketakutan. Setelah tangannya dipegangi Aini yang ingin kenalan, dia pun akhirnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil berusia 5 tahunan itupun mengaku senang dengan Aini. "Senang, diajak kenalan," akunya polos, ketika ditanya perasaannya didekati Aini dan Pak Kumis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingan cerita Aini dan Pak Kumis juga dibarengi dengan tampilnya seorang badut yang lucu. Karena memang, kehadiran Pak ’Kumis’ Sujarwo ke acara pentas dongeng untuk anak di gedung STKIP itu bersama rekan-rekannya dari Badan Perpustakaan Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuan dongeng ini bukan semata-mata cerita sekedarnya, tapi juga untuk membangkitkan minat baca anak," ungkap Sujarwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara, anak-anak yang berasal dari panti asuhan Kota, maupun Kabupaten Pasuruan itu mendapat hadiah khusus. "Isinya adalah buku cerita untuk anak, dan beberapa bingkisan lainnya," tutur Adji Mulyono dari Ceria Book Store (CBS) yang menginginkan anak-anak juga senang membaca seperti Aini. (via)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8545249491644873475?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8545249491644873475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8545249491644873475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8545249491644873475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8545249491644873475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/pak-kumis-sujarwo.html' title='Pak Kumis (Sujarwo)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-382727528813441474</id><published>2008-08-25T23:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T23:36:25.834-07:00</updated><title type='text'>Ki Heru Cokro</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mendongeng Tak Hanya Baca Cerita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDIRI- Mendongeng bukan sekadar membaca cerita. Pernafasan, intonasi, dan yang terpenting, kreativitas, adalah faktor penting bagi pendongeng. Bila tidak, pendongeng akan kehilangan daya tariknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Ki Heru Cokro, pendongeng dari Sanggar Chandrakirana Surabaya akan membantu para guru, atau yang tertarik dengan dunia dongeng-mendongeng. Dia akan membeberkan teknik-teknik khusus mendongeng. Yakni dalam pelatihan mendongeng yang digelar oleh Radar Kediri pada 5 Februari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ki Heru, sering terjadi pendongeng ditinggal audiennya. Saat pendongeng bercuap-cuap, anak-anak justru ngomong sendiri-sendiri. "Itu indikasi si pendongeng telah gagal," kata Ki Heru ketika ditemui di Strawberry Story Telling Center Pare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria bertubuh besar tersebut menjelaskan bahwa mendongeng telah teruji efektif untuk menyampaikan pelajaran kepada anak-anak. "Tetapi sayang sekarang sudah banyak ditinggalkan," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sudah sulit ditemui pendongeng-pendongeng di daerah. Di TK pun jarang sekali guru yang mau mendongeng. Alasannya bermacam-macam. Mulai kekurangan bahan untuk mendongeng, tidak bisa berakting, dan masih banyak lagi. Celakanya, ada juga yang beralasan ’malas’. Yang terakhir inilah perlu dicari penyebabnya. "Karena dalam pendidikan anak, mendongeng merupakan metode yang harus digunakan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sulistyo Budi, dari Strawbery, kemalasan tersebut bisa jadi karena stamina tidak mendukung. Mendongeng memang perlu stamina prima. Selain kerja otak, fisik juga banyak diforsir. Tidak hanya mulut, seluruh badan juga harus bergerak. Itulah sebabnya banyak yang malas. Karena memang melelahkan. Kondisi seperti itu, menurut Budi, juga pernah dialami salah seorang pengasuh di Strawbery. Ketika tengah mendongeng tiba-tiba pusing dan nafas terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelatihan mendongeng ini memang sengaja diadakan untuk memberi bekal para guru dan orang tua," sambung Hanis, ketua panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, Radar Kediri sengaja mendatangkan narasumber yang qualified. Agar peserta benar-benar mendapat ilmu yang bermanfaat. Tidak sekadar mendapat sertifikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ki Heru Cokro merupakan salah seorang pendongeng yang saat ini tinggal beberapa gelintir," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menguasai teori, Ki Heru juga punya pengalaman segudang. Sering mendongeng di berbagai daerah. Baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, dalam pelatihan nanti akan dibuat semi-entertaint. Pada awal acara disajikan teater anak-anak. Kemudian disusul dengan lagu-lagu dan penampilan Juara I mendongeng se-Jawa Timur. Setelah itu diberikan materi dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi ke-2, peserta diajak berlatih langsung. Latihan meliputi pernafasan, vokal, dan intonasi. Pada sesi ini, peserta akan langsung dipandu asisten yang cukup. "Dengan demikian pelatihan kali ini bisa efektif," pungkas Hanis. (hid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_radar&amp;amp;id=193690&amp;amp;c=61&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-382727528813441474?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/382727528813441474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=382727528813441474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/382727528813441474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/382727528813441474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/ki-heru-cokro.html' title='Ki Heru Cokro'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8412640171131301688</id><published>2008-08-25T23:23:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T23:27:07.032-07:00</updated><title type='text'>Kak Eva (Eva Sinaga)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOiEykpzMI/AAAAAAAAAGA/J4ydCrmlDB0/s1600-h/dongeng-01.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOiEykpzMI/AAAAAAAAAGA/J4ydCrmlDB0/s320/dongeng-01.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238708994740702402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;AGENDA:: Catatan dari Hari Anak 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Persahabatan Yang Tak Berjarak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik mentari, pagi itu, terasa menyengat Jakarta. Tapi anak-anak itu tak menghiraukannya. Mereka terlena dalam kegembiraan yang mungkin jarang menyambanginya. Anak-anak itu adalah asuhan dari “Dunia Pelangi”, sebuah wadah anak-anak muda dari berbagai agama yang concern dalam melakukan pendampingan anak-anak pemulung dan jalanan yang bermarkas di Jl. Damai Cipete Jakarta Selatan. Awalnya aktivitas ini dimotori oleh aktivis Forum Dialog Generasi Muda Antar-iman (GEMARI). Mereka merilisnya sejak tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu (27/7) anak-anak dari Cipete ini mendapat teman dari anak-anak siswa Sekolah Dasar Pangudi Luhur (PL) yang berlokasi di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Mereka bermain bersama di anjungan Timor Timur TMII. Dalam rangka merayakan hari anak inilah panitia berharap tak ada lagi jarak diantara mereka. Anatara yang berpunya dan yang kurang beruntung. “Merangkai persahabatan antara ekonomi bawah (pemulung) dengan anak-anak yang mampu,” kata Anto Tablo, Ketua panitia. Bertemakan “Menjalin Kasih Merangkai Persahabatan”, acara itu mencoba mewujudkan pertemuan diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dari Cipete ini bisa dibilang kurang beruntung. Mereka jarang bisa berlibur dan mengunjungi tempat-tempat semacam Taman Mini Indonesia Indah. Maka liburan kali ini merupakan kesempatan yang baik buat mereka. Apalagi dalam acara ini mereka mendapat teman baru dari Sekolah Pangudi Luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, pertemanan dimulai dengan perkenalan, akrab dan kemudian terjalinlah persahabatan. Pun dalam acara ini, lebih banyak unsur permainannya. “Anak-anak dibagi lima kelompok besar. Mempertemukan mereka dalam permainan,” terang Anto. Dunia anak merupakan masa bermain. Dari sini lebih mudah mengajak mereka untuk saling mengenal. Meski latar belakang strata sosial berbeda. Toh, itu tidak menjadi kendala. Bahwa masih ada beberapa yang masih canggung itu proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak diajak untuk membuat lingkaran. Mereka saling bergandeng tangan sembari menyanyi. “tar-tar,” instruksi salah satu pendamping kepada salah satu anak. Artinya anak tersebut harus menyebutkan nama dua anak disebelah kirinya. Sebelumnya mereka disuruh menghapalkan nama rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai itu, acara berlanjut dengan pentas seni. Anak-anak dampingan Dunia Pelangi menyajikan tarian daerah dan modern. Mereka begitu atraktif dan penuh percaya diri. Dibalut kaos biru, anak-anak perempuan menari dengan iringan lagu khas anak-anak. Peserta laki-laki-pun tak mau ketinggalan. Mereka menyajikan atraksi akrobatik. Dan seorang siswa dari SD PL menyumbangkan sebuah lagu yang dibawakan dengan sangat baik, sepertinya ia sudah cukup lama belajar menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan. Itu yang coba diungkapkan oleh anak-anak Dunia Pelangi. Salah satu anak menjatuhkan diri kebawah setelah sebelumnya saling menyusun ke atas. Kemudian ditangkap oleh teman yang lain. Hal ini tentu tidak mudah. Membangun kepercayaan antar teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu acara yang tidak kalah serunya adalah dongeng. Pegiat dongeng anak, Eva Sinaga dengan gayanya yang sangat menyakinkan membuat perhatian semua anak tertuju kepadanya. Bahkan banyak panitia dan pendamping Cipete tertegun memperhatikan gayanya selagi sedang mendongeng tentang seekor kodok yang ingin mempunyai rambut panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang acara dilanjutkan dengan permainan. Pesrta dibagi menjadi 16 kelompok, masing-masing terdiri dari 5-6 orang. Pihak panitia menyediakan empat pos permainan. Tiap kelompok hanya diperkenankan bermain di tiga kelompok. Fitri (5) menatap anggota kelompoknya dengan mata sendu. Ia melihat teman-temannya bermain bakiak. Ia tidak bisa bermain bersama temannya yang jauh lebih besar. Permainan ini membutuhkan kecepatan. Kesenduan ini terobati pada pos berikutnya, ranjau air. “Mau main,” kata sang pendamping. Fitri hanya menjawab dengan anggukan. Matanya ditutup dengan kain hitam. Ia berjalan sesuai dengan instruksi dari teman yang lain. Alhasil, fitri bisa melewati rute walaupun ada beberapa gelas plastik yang jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian permainan ini mempererat pertemanan antara kedua komunitas. Dari sini terjalin teamwork yang solid. Muaranya bisa ditebak. Memenangkan permainan. Tapi tak cukup hanya itu. Peserta dituntut untuk mau berbagi dengan yang lain. Kepedulian antar teman yang satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara berakhir di Taman Burung. Anak-anak dapat melihat secara dekat berbagai macam burung yang selama ini jarang dilihat bahkan belum pernah. Paling banter hanya lewat TV. Mereka dengan rapi masuk ke areal Taman Burung dengan didampingi panitia dan juga orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Agriceli (Dunia Pelangi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=409&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8412640171131301688?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8412640171131301688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8412640171131301688' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8412640171131301688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8412640171131301688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/kak-eva-eva-sinaga.html' title='Kak Eva (Eva Sinaga)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLOiEykpzMI/AAAAAAAAAGA/J4ydCrmlDB0/s72-c/dongeng-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6598526390143680378</id><published>2008-08-24T20:10:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T20:19:14.134-07:00</updated><title type='text'>Renny Yaniar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLIkQhvdyxI/AAAAAAAAAF4/tWCoPGaA3nI/s1600-h/renny.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLIkQhvdyxI/AAAAAAAAAF4/tWCoPGaA3nI/s320/renny.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238289182939269906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Renny Yaniar : Bagaimana Saya Menulis Cerita Anak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Renny Yaniar adalah salah satu penulis cerita anak yang cukup produktif. Karya yang sudah dihasilkan yaitu sekitar 250 cerita anak berbentuk cerpen, dongeng, cergan dan komik anak. Ia juga telah menghasilkan 31 buku cerita anak. Salah satu bukunya menjadi Juara pertama penghargaan Adikarya Ikapi untuk buku cerita anak "Lautan Susu Cokelat" beberapa tahun yang lalu. Sesudah dirinya, tidak ada yang berhasil memperoleh juara pertama karena dianggap tidak ada yang layak oleh dewan juri hingga pada tahun 2005 ini. Saat ini ia adalah Pemimpin Redaksi Majalah Anak-anak Mombi, dan sebelumnya pernah bergabung di Majalah Bobo selama bertahun-tahun. Renny sangat mencintai dunia penulisan anak seperti napasnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawah ini adalah pendapatnya yang telah disampaikan pada diskusi PENAKOM tentang pentingnya penulisan karya untuk anak pada tanggal 14 Mei 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan mulai ‘Menulis Cerita Anak’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya karena saya suka membaca. Saat saya kecil, orangtua saya menyediakan saya beberapa jenis bacaan, seperti Majalah Bobo, komik-komik Nabi, dan majalah-majalah lain. Namun majalah Bobolah yang paling banyak memengaruhi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang melihat gambar rumah Bobo yang sangat nyaman. Saya membayangkan betapa senangnya tinggal di sana, dan mengalami banyak hal-hal lucu. Ada Bobo yang cerdik, Bibi Tutup Pintu yang gemar berseru,"Tutup pintu!", Coreng yang gemar menggambar, Tut Tut yang suka main kereta api, dan Paman Gembul yang suka makan wortel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di majalah Bobo pula, saya berkenalan dengan dua hewan yang bersahabat. Persahabatan mereka sangat menyentuh hati. Rong Rong kucing dan Bona gajah kecil berbelalai panjang. Belalainya bisa disulap menjadi apa saja, untuk menolong orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kisah Negeri Dongeng yang gambarnya luar biasa indah. Kisah-kisahnya sungguh membawa kita bertualang ke dunia dongeng. Bersama Nirmala dan Oki, kita melihat permadani terbang, kuda sembrani bersayap emas, kunjungan ke angkasa dan dasar laut, bertemu makhluk-makhluk ajaib, melihat pabrik pelangi. Sangat imajinatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca petualangan Deni Manusia Ikan pun sangat menggemaskan dan menegangkan.Hati bertanya-tanya, kapankah Deni bertemu orang tuanya? Kapankah makhluk setengah ikan itu mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen-cerpen dan dongeng-dongengnya pun bagus. Banyak di antara cerita itu yang menggambarkan kebaikan hati, kesabaran, dan ketabahan tokoh-tokohnya dalam menjalani hidup yang sulit, atau dalam memperjuangkan sesuatu. Cerita-cerita itu mengalir saja. Mengilhami dan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik, dan tidak menyerah dalam mencapai sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tulisan itu sangat berkesan buat saya. Saya pun jadi ingin menulis cerita anak. Karena saya pun memiliki sesuatu yang ingin dibagi. Baik itu ide cerita yang ada di benak saya atau pun pengalaman sehari-hari. Itulah awal saya menulis cerita anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mulai menulis. Namun cerita-cerita itu hanya saya simpan. Bertahun-tahun kemudian, saat saya kuliah di jurusan jurnalistik, saya mencoba mengirim karya-karya saya, termasuk karya yang saya tulis sejak kecil. Saya mencoba mengirimnya ke berbagai media yang memuat cerita anak, termasuk Bobo. Sebagian di antara cerita-cerita itu ada yang dimuat, sebagian lagi dikembalikan atau tidak ada kabarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang berjasa dalam mendorong Renny menulis khususnya menulis cerita anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang berjasa, sehingga saya punya keberanian untuk terus menulis. Hampir semuanya saya kenal saat saya masih kuliah. Ada Benny Rhamdani, teman saya sewaktu di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Melihatnya rajin menulis dan menceritakan pengalamannya menulis, saya pun jadi ingin rajin menulis seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Bapak Isman Santosa, editor cerita anak dari Majalah Bobo. Beliau rajin mengembalikan karya-karya saya yang tidak bisa dimuat dan memberi catatan-catatan untuk perbaikan. Ada Bapak Soekanto SA yang saat itu editor Gaya Favorit Press. Saya bertemu Pak Soekanto saat menyerahkan naskah. Sayangnya, naskah itu belum bisa dimuat. Dan Pak Soekanto beberapa kali mengirim buku-buku terbitan Gaya Favorit Press, disertai catatan, buku seperti inilah yang bisa dimuat. Mungkin banyak lagi orang yang berjasa, sehingga saya senang menulis. Dan saya sangat berterima kasih pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak cerita atau buku anak yang telah diterbitkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini saya sudah menulis sekitar 250-an cerita anak (cerpen, dongeng, cergam, dan komik). Karya-karya tersebut sudah dimuat di Majalah Bobo, Ananda, Suara Pembaruan, Bocil, Mombi, dan Kompas Anak. Saya juga sudah menulis 31 buku cerita anak. Dan saya sangat berharap, saya bisa menulis lebih banyak lagi cerita anak. Cerita-cerita yang lebih bagus dari yang pernah saya tulis sebelumnya. Karena sampai saat ini pun saya masih terus belajar menulis cerita anak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana komentar pembaca yaitu orang tua atau anak-anak yang membaca karya Renny?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon atau feedback dari pembaca buat saya sangat penting. Itu setidaknya memberi gambaran pada saya, apakah cerita-cerita yang saya tulis bisa menyentuh hati pembacanya atau tidak. Misalnya ada dua ibu yang bercerita pada saya, bahwa anaknya setiap malam ingin dibacakan buku The Dancing Fishes (Ikan-Ikan Penari). Ada juga seorang ibu yang bercerita, setiap malam sebelum tidur, anaknya berpura-pura menjadi tokoh Ringrang sambil berguling-guling. Anak itu mengatakan, "I dont want to swim, I don't want to swim!" persis seperti berang-berang yang ada di buku Ringrang is Afraid to Swim (Ringrang Takut Berenang). Ada juga anak yang mengirim email pada saya, menanyakan apakah lumba-lumba pelangi itu benar-benar ada? Anak itu senang lumba-lumba dan sudah membaca semua hal tentang lumba-lumba, tapi tak mendapati tulisan tentang lumba-lumba pelangi seperti yang ada dalam buku Lumba-Lumba Pelangi Terakhir. Ada juga kritik yang dilontarkan seorang bapak pada saya, katanya cerita-cerita kurang action yang seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun bentuk feedback, pujian atau kritik, menurut saya akan sangat berguna bagi kemajuan seorang penulis.&lt;br /&gt;Perlu saya katakan di sini, saya bukan ahli bacaan anak, saya juga bukan pengamat bacaan anak. Saya adalah orang yang senang menulis cerita anak, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis pemula salah satu faktor penghalang dalam menghasilkan cerita anak adalah masalah ide.? Bagaimana Renny memperoleh dan mengelola ide itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide itu itu bisa didapat dari mana-mana. Ada yang mengatakan, ide bisa didapatkan melalui bacaan, pendengaran, perasaan, penglihatan, dan pengamatan. Ide bisa didapatkan ketika membaca koran, buku, dan majalah. Ide bisa didapat saat menonton televisi, melihat pemandangan, bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ide juga bisa didapat dari apa yang sedang kita rasakan, seperti sedih, marah, jengkel atau gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu memang benar. Saya mendapat ide saat melihat suatu peristiwa, mengobrol, menonton, dan jalan-jalan. Tapi membaca pun menyumbang sangat banyak ide. Membaca buku ilmu pengetahuan, membaca koran, membaca cerita anak. Bahkan melihat ilustrasi cerita anak yang bagus pun bisa mendapat ide baru, yang sama sekali berbeda dengan cerita yang dibaca tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mendapat ide, sebaiknya cepat dicatat. Karena menurut pengalaman saya, kalau ide-ide itu tak dicatat, ide itu akan terlupakan. Memang, sampai saat ini saya tidak selalu mencatat ide-ide yang terlintas. Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena biasanya saya tidak bisa mengingat ide yang sama persis, dengan ide yang terlintas saat itu. Padahal bisa jadi ide itu sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saatnya ide-ide bermunculan dengan mudah. Namun ada kalanya sama sekali tak ada ide untuk dijadikan cerita. Kalau ini terjadi carilah ide sampai dapat, jangan menunggu sang ide datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Renny mendapat ide untuk beberapa buku cerita anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Jojo, The Green-Pencil-Tailed Gecko (Jojo, Tokek Berekor Pensil Warna) menceritakan tentang sekelompok tokek yang berekor pensil warna. Mereka adalah tokek yang senang berkelompok dan gemar menggambar. Sampai akhirnya timbul masalah saat Jojo, tokek berekor pensil warna hijau, merasa menjadi tokek yang paling penting. Saya mendapat ide cerita itu saat melihat cecak berlari di dinding. Cecak itu ekornya telah potus, dan sedang tumbuh ekor baru yang belum sempurna, sehingga bentuk ekornya seperti pensil. Saat itu saya bepikir, bagaimana ya kalau cecak mempunyai ekor pensil warna? Lalu ide pun berkembang menjadi sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Air, Selamat Datang! Menceritakan tentang seorang anak kecil yang menyadari betapa pentingnya air, karena merasakan betapa sengsaranya tidak ada air, karena air di kerannya tak mengalir. Sampai-sampai keluarganya harus minta air ke tetangga. Anak itu pun memutuskan untuk berhemat air, saat air sedikit atau pun melimpah. Ide itu didapat saat di rumah saya air tidak mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Kebun Binatang 2158 mengisahkan kehidupan di masa depan, ketika banyak binatang sudah punah, sehingga anak-anak di masa itu hanya bisa melihat robot-robot di kebun binatang. Idenya timbul dari keprihatinan banyaknya hewan-hewan yang terancam punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Renny memulai Menulis Cerita Anak? Hal apa sebagai pendorong utama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan yang kuat menulis. Itulah salah satu hal terpenting dalam menulis cerita anak. Tanpa keinginan yang kuat, sebuah cerita anak yang paling sederhana pun rasanya sulit terwujud. Mungkin kita bisa mengatakan, kita kekurangan waktu. Itu bisa jadi benar, tapi sebenarnya kalau menulis itu sebuah kebutuhan, menulis akan menjadi sebuah keharusan. Sehingga kita akan menyediakan waktu setidaknya setengah jam, satu jam, atau dua jam setiap harinya, khusus untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita sudah mengharuskan diri kita menulis dan menyediakan waktu, kita bisa mencari ide dan tema untuk cerita kita. Atau membuka kembali buku catatan yang berisi ide-ide kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulislah hal-hal yang berarti untuk kita atau hal yang kita sukai. Lebih mudah kalau kita membuat kerangka cerita terlebih dahulu. Bagaimana alur ceritanya, siapa saja karakternya, bagaimana dan kapan setting ceritanya, bagaimana endingnya. Setelah kita mulai menulis dan terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usahakan, selesaikan dulu satu cerita, dan jangan berhenti. Tulisalah cerita semenarik yang kita bisa. Setelah kita menyelesaikan sebuah cerita, tinggalkan. Simpanlah tulisan untuk beberapa hari, lalu baca lagi. Saat itu biasanya kita akan menemukan beberapa kesalahan, dan itulah saat untuk memperbaikinya. Setelah itu editlah tulisan sampai bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana proses penulisan dari salah satu buku cerita anak karya Renny?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beri contoh tentang proses saya menulis cerita Lautan Susu Coklat. Ide cerita itu muncul ketika saya ketika saya memikirkan susu coklat. Saya memang sangat suka rasa susu coklat. Saat itu terpikir oleh saya, apakah ada orang yang belum pernah meminum susu coklat, sehingga sangat ingin tahu bagaimana rasanya? Saya pikir, menarik juga menulis cerita seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu saya mencari tokoh untuk cerita saya. Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan anak laki-laki bernama Tio yang berusia 8 tahun. Tio adalah salah seorang penghuni Panti Asuhan Kasih, milik Ibu Swasti yang penuh kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah dalam cerita ini adalah keinginan Tio untuk mengetahui rasa susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada Ibu Swasti, tapi itu membuat Ibu Swasti sedih, karena ia tak mampu membelikan Tio susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada teman-temannya, tapi teman-temannya malah menertawakan Tio. Mengapa? Karena karena susu coklat bukanlah hal yang asing buat mereka. Mereka meminumnya hampir setiap hari. Tio begitu ingin tahu rasa susu coklat, sampai-sampai memimpikannya. Di akhir cerita, Tio mendapatkan apa yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka akhir cerita yang menyenangkan, karena itu memberi harapan. Memang, ending cerita tidak harus selalu menyenangkan. Tapi setidaknya melegakan atau memuaskan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saran untuk penulisan cerita anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam penulisan cerita anak . Kta memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, misalnya pengetahuan, informasi, dan hiburan. Dalam menulis cerita, kita ingin menyisipkan pesan moral. Sangat baik kalau cerita tidak menggurui. Biarlah anak menyimpulkan sendiri cerita yang kita tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bagaimana cara menyajikannya ? Tentu yang menarik lebih disukai. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana, jangan menggunakan kata-kata yang bersayap dahulu. Gunakan bahasa yang baik dan benar, tapi tetap ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena anak-anak itu seperti gelas yang kosong. Kita ikut mengisi gelas itu. Yang mendidik anak adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat (termasuk kita media massa dan para penulis cerita anak). Karena pertanggungjawaban moral kita lebih besar, karena kita ikut mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa memberi saran soal bagaimana mengirimkan cerita anak yang telah kita selesaikan?Juga bagaimana menentukan media anak mana yang pas dengan karya kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah selesai menulis cerita, mau diapakan cerita itu? Disimpan? Bisa saja, tapi sayang, bukan? Membuat sebuah cerita adalah satu prestasi, karena kita sudah melalui berbagai rintangan. Rintangan melawan rasa malas sehingga kita mau menulis. Rintangan mencari ide yang menarik, lalu mengembangkannya dalam cerita sampai selesai. Alangkah baiknya kalau kita mengirim cerita itu ke majalah kalau itu berupa cerpen, atau ke penerbit kalau karya kita berupa buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengirim cerita, pelajari dulu media atau penerbit yang akan kita kirimi naskah. Apakah mereka memuat atau menerbitkan cerita anak? Jenis-jenis cerita anak seperti apa yang mereka muat atau terbitkan? Kita bisa membeli dan mempelajari majalah atau buku yang diterbitkan. Apakah cerita yang kita tulis sudah sesuai dengan misi majalah atau penerbit tersebut? Kalau sudah demikian, kita bisa mengirimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya mengirim cerita ke majalah dulu, saya menyertakan surat pengantar pada editor, berisi permintaan untuk dikembalikan dan dikoreksi, apabila cerita saya tidak bisa dimuat. Saya juga sertakan perangko pengembalian. Setelah saya lebih mengenal para editornya, itu lebih menyenangkan karena saya bisa berdiskusi tentang cerita anak itu secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim cerita anak pada penerbit pun tak jauh beda. Di surat pengantar, kita bisa menceritakan ringkasan ceritanya, ditujukan untuk usia berapa buku tersebut, dan usulan kita tentang bentuk bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mengirim cerita anak kepada majalah atau penerbit, bisa lewat pos. Namun kalau media anak atau penerbit itu satu kota dengan tempat tinggal kita, apa salahnya menyerahkannya langsung. Siapa tahu kita bisa berkenalan dengan editornya. Siapa tahu dari pertemuan itu kita bisa mendapat banyak masukan yang berguna dan mendapatkan kemungkinan-kemungkinan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, ada banyak majalah yang bisa kita kirimi cerita anak. Belum lagi para penerbit yang sangat banyak jumlahnya. Namun kita harus sabar menunggu pemuatan, karena biasanya banyak sekali stok cerita yang siap muat. Mudah-mudahan saja media anak yang cukup banyak itu bisa menjadi ladang yang subur untuk melatih keterampilan kita dalam menulis cerita anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber: http://www.rayakultura.net/wmview.php?ArtID=60&amp;amp;page=5&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6598526390143680378?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6598526390143680378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6598526390143680378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6598526390143680378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6598526390143680378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/renny-yaniar-bagaimana-saya-menulis.html' title='Renny Yaniar'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLIkQhvdyxI/AAAAAAAAAF4/tWCoPGaA3nI/s72-c/renny.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7193661145932851445</id><published>2008-08-24T18:52:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T18:57:28.567-07:00</updated><title type='text'>Ria Enes (Wiwik Suryaningsih)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLIRI8G4lvI/AAAAAAAAAFw/2pExvvh9iTs/s1600-h/ria_enes_03.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLIRI8G4lvI/AAAAAAAAAFw/2pExvvh9iTs/s320/ria_enes_03.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238268161856935666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ria Enes&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anugerah Prestasi Ria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;MENAMPILKAN wajah anak Indonesia seutuhnya. Itulah yang selalu menjadi keinginan penyanyi Wiwik Suryaningsih alias Ria Enes. Untuk itu, lewat Yayasan Dunia Suzan yang dipimpinnya, Ria membagi-bagikan hadiah untuk 15 anak berprestasi se-Jawa Timur. Acara --rutin digelar sejak 2001-- itu berlangsung di Gedung Indosat, Jl. Kayun, Surabaya, Senin pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan 250-an tamu undangan, 'kakak' dari boneka lucu Suzan ini membagikan penghargaan Anugerah Prestasi Anak 2003. Sebagian besar yang terpilih adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera. Empat di antaranya siswa Sekolah Luar Biasa (SLB). "Inilah wajah anak Indonesia seutuhnya. Meski terkungkung kekurangan, mereka tetap mampu berprestasi," kata perempuan 37 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria bilang, masing-masing pemenang berhak atas piala tetap serta sertifikat dari Dunia Suzan dan Dinas Pendidikan Nasional Jawa Timur. Untuk siswa dari keluarga prasejahtera --termasuk siswa SLB-- ditambah bonus masing-masing tabungan sebesar Rp 300 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengumpulkan data siswa berprestasi Ria menggandeng Dinas Pendidikan Nasional Jawa Timur. Sedang untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi siswa, ibu satu anak ini mendapat bantuan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat di Surabaya. Ria mengaku kewalahan juga menentukan pemenang, karena saking banyaknya nominator. "Tidak mudah lho menemukan anak berprestasi sesuai standar Dunia Suzan," ujar Ria kepada Nurul Fitriyah dari GATRA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.gatra.com/2003-09-21/artikel.php?id=31173&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7193661145932851445?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7193661145932851445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7193661145932851445' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7193661145932851445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7193661145932851445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/ria-enes-wiwik-suryaningsih.html' title='Ria Enes (Wiwik Suryaningsih)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SLIRI8G4lvI/AAAAAAAAAFw/2pExvvh9iTs/s72-c/ria_enes_03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5177345823577479498</id><published>2008-08-22T01:56:00.001-07:00</published><updated>2008-08-22T02:06:33.571-07:00</updated><title type='text'>GALERI FOTO SANG PENDONGENG (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK6Bfa7eJ1I/AAAAAAAAAFo/4kJM2TEdbrM/s1600-h/QQ.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK6Bfa7eJ1I/AAAAAAAAAFo/4kJM2TEdbrM/s400/QQ.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237265793483155282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK6AuozmxmI/AAAAAAAAAFg/NzyMD3A2qkQ/s1600-h/YY.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK6AuozmxmI/AAAAAAAAAFg/NzyMD3A2qkQ/s400/YY.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237264955394672226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK5_d1W0IHI/AAAAAAAAAFY/E5CYIEn3soQ/s1600-h/xx.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK5_d1W0IHI/AAAAAAAAAFY/E5CYIEn3soQ/s400/xx.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237263567194169458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5177345823577479498?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5177345823577479498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5177345823577479498' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5177345823577479498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5177345823577479498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/galeri-foto-sang-pendongeng-1.html' title='GALERI FOTO SANG PENDONGENG (1)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK6Bfa7eJ1I/AAAAAAAAAFo/4kJM2TEdbrM/s72-c/QQ.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5758029556907547290</id><published>2008-08-21T20:19:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T20:20:54.325-07:00</updated><title type='text'>Niken Wulandari</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bebaskan Posisi, Santai dan Dengarkan Dongeng&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak usia TK dan SD di Surabaya, ternyata banyak yang mengalami&lt;br /&gt;stres karena pelajaran di sekolahnya. Ini adalah hasil observasi&lt;br /&gt;mahasiswa Fakultas Psikologi Unair. Dan, dari hasil observasi itu, cara&lt;br /&gt;untuk mengatasi stres ini bisa dilakukan dengan meditasi. Seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah ruangan salah satu SD di kawasan Pucang, tidak seperi&lt;br /&gt;biasanya, puluhan siswa diam seribu bahasa. Sebagian terlentang di&lt;br /&gt;lantai. Ada yang kepalanya disandarkan pada temannya, atau gurunya.&lt;br /&gt;Sebagian lagi duduk bersila seperti sedang bersemedi. Semua mata siswa&lt;br /&gt;itu terpejam. Sayup-sayup terdengar musik intrumen klasik mengalun&lt;br /&gt;pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah mereka, terlihat seorang gadis dewasa berjilbab dan&lt;br /&gt;bertubuh sedikit gemuk, membacakan dongeng tentang Petualangan Terbang&lt;br /&gt;Ke Kerajaan Langit. Sesekali terdengar perintah dari perempuan&lt;br /&gt;pendongeng kepada anak-anak. "Biarkan tubuhmu santai?rileks?pejamkan&lt;br /&gt;mata. Hirup udara pelan-pelan, tahan?, satu?, dua?,tiga?, empat?.,&lt;br /&gt;hembuskan?," teriak pendongeng itu. Kemudian dia meneruskan dongengnya&lt;br /&gt;sampai 30 menit lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang apa sebenarnya anak-anak ini? Yang jelas, mereka tidak sedang&lt;br /&gt;dininabobokkan dengan dongeng pengantar tidur. Tetapi, anak-anak ini&lt;br /&gt;sedang melakukan meditasi. Mereka dipandu oleh mahasiswi-mahasiswi dari&lt;br /&gt;Fakultas Psikilogi Unair. "Ini namanya meditasi dengan story telling,"&lt;br /&gt;ujar Niken Wulandari, perempuan yang jadi pendongeng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa anak-anak ini harus bermeditasi? Ternyata jawabannya cukup&lt;br /&gt;mengejutkan. Anak-anak ini mengalami stres, akibat tekanan-tekanan dalam&lt;br /&gt;proses pembelajaran di sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, apa yang dilakukan Niken pada anak-anak SD itu merupakan&lt;br /&gt;kelanjutan dari Karya Tulis yang disusunnya bersama dua temannya Ani&lt;br /&gt;Christina dan Lupi Ariyanti. Dalam Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM)&lt;br /&gt;Nasional beberapa waktu lalu, mereka dinobatkan sebagai pemenang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis mereka berjudul Teknik Meditasi-Relaksasi Dengan Story&lt;br /&gt;Telling Untuk Menumbuhkan Kemampuan Coping Terhadap Stres Pada Anak Pra&lt;br /&gt;Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya tiga gadis ini melakukan observasi di beberapa taman&lt;br /&gt;kanak-kanak (TK) di Surabaya. Mereka mewawancarai guru, orang tua dan&lt;br /&gt;siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, bisa disimpulkan, anak-anak ini sebagian besar mengalami&lt;br /&gt;stres. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari mogok sekolah, pusing,&lt;br /&gt;bosan, malas mengerjakan PR, dan segala sesuatu yang berwujud penolakan.&lt;br /&gt;"Tekanan yang dirasakan sang anak cukup tinggi setiap harinya," ujar&lt;br /&gt;Lupi Ariyanti, mahasiswi angkatan 2000 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menyebabkan mereka stres? Anak-anak merasa tertekan dengan&lt;br /&gt;pelajaran dan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam Garis-Garis&lt;br /&gt;Besar Pedoman Kegiatan Belajar (GBPKB) TK, sebenarnya anak hanya&lt;br /&gt;dikenalkan pada bilangan. Tetapi, di TK saat ini, anak sudah diharuskan&lt;br /&gt;menyelesaikan soal-soal matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengenalan huruf, anak sudah diharusan menulis kalimat, bahkan&lt;br /&gt;dengan huruf halus. Belum lagi, matematika dan menulis halus itu juga&lt;br /&gt;menjadi PR mereka. Di sekolah dan di rumah mereka ketemu dengan materi&lt;br /&gt;yang di luar kemampuannya itu. "Selama ini memang sudah umum di TK-TK,&lt;br /&gt;tapi sebenarnya tanpa diketahui masyarakat, jiwa anak mereka terancam,"&lt;br /&gt;kata Ani Christina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dipresentasikan, lanjutnya, dewan juri dari Dirjen Dikdasmen kaget&lt;br /&gt;bukan main. "Mereka kaget melihat contoh pekerjaan anak-anak TK yang&lt;br /&gt;kami bawa. Katanya, perlu revisi kurikulum secara total," ujar Lupi,&lt;br /&gt;menceritakan saat mereka presentasi LKTM di UNS (Universitas Negeri&lt;br /&gt;Surakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat meditasi inilah diharapkan anak-anak bisa mengurangi stres pada&lt;br /&gt;dirinya. Meditasi, selama ini sering dimaknai kegiatan supranatural atau&lt;br /&gt;religius. "Padahal intinya, meditasi adalah usaha untuk memfokuskan&lt;br /&gt;pikiran pada satu obyek," timpal Ani, gadis Malang, kelahiran 30 Mei&lt;br /&gt;1982 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sambung Ani, meditasi tidak hanya milik orang dewasa. Tetapi bisa&lt;br /&gt;dilakukan pada anak. Seperti yang dilakukan Niken pada sebuah SD,&lt;br /&gt;meditasi dilakukan dengan cara menyuruh anak mencari posisi yang paling&lt;br /&gt;nyaman. Bisa duduk, tengkurap, atau terlentang. Selanjutnya, mata&lt;br /&gt;terpejam dan konsentasi mendegarkan dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah enam kali meditasi dalam dua minggu, Niken melihat ada perubahan&lt;br /&gt;pada diri anak-anak itu. Sebelumnya, mereka mengaku sering&lt;br /&gt;berdebar-debar saat akan sekolah, pusing, takut, bosan dan sebagainya.&lt;br /&gt;"Setelah meditasi, keluhan-keluhan itu banyak berkurang," katannya.&lt;br /&gt;"Sehingga, agresivitasnya juga menurun, dan itu positif buat peningkatan&lt;br /&gt;prestasi belajarnya," papar gadis kelahiran 4 Februari 1982 ini.(tomy c.&lt;br /&gt;gutomo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Jawa Pos, Jumat, 24 Okt 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5758029556907547290?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5758029556907547290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5758029556907547290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5758029556907547290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5758029556907547290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/niken-wulandari.html' title='Niken Wulandari'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-620855948625294998</id><published>2008-08-21T19:44:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T19:58:06.740-07:00</updated><title type='text'>RUA Zainal Fanani</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Para orang tua mendongenglah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tahu mendongeng banyak manfaatnya, banyak orang tua tidak pede&lt;br /&gt;melakukannya. Rani tahu benar manfaat dongeng bagi anak. Ia ingin melakukannya untuk Intan (3 tahun).&lt;br /&gt;''Tapi, aku nggak bisa. Imajinasi dan kemampuan mendongengku cekak,'' katanya. Sebagai gantinya, Rani membelikan sejumlah VCD tentang dongeng anak&lt;br /&gt;nusantara untuk buah hatinya.&lt;br /&gt;''Biarlah video yang menggantikan,'' tambahnya. Namun, pendongeng dan&lt;br /&gt;penulis dongeng anak-anak dari Yogyakarta, RUA Zainal Fanani tak&lt;br /&gt;sependapat. Menurut dia, orang ! tua tak usah merasa takut dengan&lt;br /&gt;hal-hal teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Para orang tua mendongenglah,'' saran dia. ''Kadang ada orang tua yang enggan mendongeng karena merasa tidak bisa mendongeng bagus, tidak bisa menirukan suara ini-itu, dan sebagainya,'' tuturnya.&lt;br /&gt;Menurut dia, mendongeng di rumah itu berbeda dengan mendongeng di kelas.&lt;br /&gt;Mendongeng di kelas, kata Zainal, sisi hiburannya harus tinggi, karena harus mengendalikan banyak anak.&lt;br /&gt;Apalagi mendongeng di depan ribuan anak-anak.&lt;br /&gt;Lain halnya mendongeng di rumah. ''Anak-anak itu dengan teknik&lt;br /&gt;mendongeng terjelek pun mau mendengarkan,'' katanya,&lt;br /&gt;''Asal orang tua terutama ibunya mau mendongeng.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadai pengaruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak, mendongeng di rumah itu tidak sekadar dongeng. Tetapi&lt;br /&gt;posisinya lebih merupakan kedekatan batin antara orang tua dengan anak!&lt;br /&gt;''Itu jauh lebih memenuhi dahaga anak-anak akan kehangatan dengan ayah ibunya,'' ungkap Zainal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, pendongeng ini berpendapat, karena kita meyakini makna edukatif dongeng itu sangat kuat, maka kita harus menyadari bahwa pengaruhnya kepada anak-anak akan banyak. ''Kalau yang kita dongengkan itu sesuatu yang tidak baik, tidak pas, mungkin pengaruhnya juga buruk. Sebaliknya, kalau kita mempersiapkan dongeng dengan baik, pengaruhnya juga akan baik.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng yang pengaruhnya buruk, misalnya orang tua yang terlalu banyak&lt;br /&gt;memberikan dongeng-dongeng yang berbau mistis atau yang bersifat 'mentalitas menerabas' seperti istilah antropolog Koentjaraningrat.&lt;br /&gt;Misalnya, kata dia, hanya dengan membaca semacam ayat-ayat tertentu,&lt;br /&gt;rapalan-rapalan tertentu, semua keinginan kontan bisa tercapai. Dari segi pandang pembentukan mental, dongeng yang instan seperti itu jelaslah buruk. Akibatnya, anak-anak ! mempunyai pandangan yang keliru tentang etos kerja, etos berusaha, sehingga ikhtiarnya kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Zainal Fanani menyarankan agar para orang tua dalam mendongeng membuat proporsi yang lebih menonjolkan cerita-cerita pada usaha keras. Di Cina, misalnya, orang dilatih kungfu dalam waktu panjang, sampai luka-luka dan baru dia menguasai ilmu kungfu. Demikian juga pada cerita Oshin dari Jepang yang sukses di masa tuanya, semasa kecil bekerja keras, menghadapi banyak tantangan. Para Nabi pun begitu&lt;br /&gt;berusaha keras dalam hidupnya. Mengutip sosiolog David McLelland, Zainal&lt;br /&gt;menyebutkan cerita yang baik itu setidaknya menanamkan tiga prinsip kehidupan. Yakni, kemauan untuk berprestasi, kemauan untuk bertahan hidup, dan kemauan untuk berkreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendongeng, Zainal mengingatkan! agar memasukkan unsur-unsur kasih&lt;br /&gt;sayang Allah. ''Kita harus katakan kepada anak-anak bahwa semuanya Allah&lt;br /&gt;berperan di sini. Cuma kita tetap kerja keras, sebelum kita berhasil, Allah ingin melihat usaha kita,'' kata Zainal yang juga pelatih Ardika (Armada Da'i Khusus untuk Kalangan Anak-anak), Yayasan Pusat Dakwah dan Pendidikan Silaturrahim Pecinta Anak-anak Yogyakarta. Zainal melihat kisah-kisah seperti karya HC Anderson menimbulkan Sindrom Cinderella.&lt;br /&gt;Yakni, bermimpi suatu saat akan ada pangeran yang lewat. ''Itu kurang&lt;br /&gt;tepat. Apalagi menawarkan mimpi-mimpi yang berkonotasi ke arah&lt;br /&gt;perjodohan,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat dongeng, lanjut Zainal, anak-anak berlatih berimajinasi.&lt;br /&gt;Imajinasi itu bisa banyak hal misalnya imajinasi ke masa lalu, ke dunia&lt;br /&gt;lain seperti binatang atau imajinasi yang sifatnya futuristik. Misalnya, anak-anak diajak bercerita tahun 3000 dengan membayangkan teknologi yang memungkinkan kita bisa bertamasya ke dasar lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak boleh dilupakan adalah mendongengkan tentang cerita yang memperkenalkan nilai baik dan buruk. ''Pada usia TK harus digambarkan hitam-putih, maksudnya kalau baik ya baik dan kalau jelek ya jelek, jangan digambarkan abu-abu,'' kata Zainal, ''Jadi, anak-anak bisa melakukan identifikasi tokoh dan identifikasi perbuatan.'' Misalnya,&lt;br /&gt;anak ingin seperti Nabi Muhammad SAW dan tidak ingin melakukan hal-hal&lt;br /&gt;yang merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Praktis Mendongeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda sudah berniat mulai mendongeng untuk si kecil, jangan takut.&lt;br /&gt;RUA Zainal Fanani memberikan beberapa tips teknis yang bakal mempermudah&lt;br /&gt;penyampaian pesan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bisa membacakan cerita atau menceritakan kembali isi cerita.&lt;br /&gt;Caranya bisa orang tua berhadapan dengan anak atau orang tua di samping anak membaca bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cerita bisa dibuat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang dibuat sampai jadi lalu diceritakan, bisa juga mengarang sambil mendongeng sehingga anak boleh mengusulkan saat pendongeng bercerita.&lt;br /&gt;Pendongeng yang membuat cerita sendiri ini membutuhkan kemampuan dan&lt;br /&gt;pengalaman supaya dongengnya tidak macet di tengah jalan. Harus ada konsistensi, tokoh-tokohnya jangan sampai lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perhatikan durasi dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sebelum tidur itu cukup baik. Hanya lebih baik lagi kalau disampaikan pada waktu yang tepat misalnya setelah belajar. Cerita menjelang tidur sebaiknya pendek saja, 15-2! 0 menit sudah cukup, terutama bila anak sudah mengantuk. Yang penting ada kesepakatan tentang frekuensi dalam seminggu. Anda kadang memberikan cerita sebagai hadiah itu baik, karena menjadi 'kejutan' bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hindari cerita mengandung konflik bertingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, cerita di mana pemerannya kalah dulu, kemudian akhirnya menang. Sebab, jangan-jangan ketika pemerannya kalah, anak sudah tertidur. Alhasil, yang masuk dalam benaknya, ''O, orang baik itu harus mengalah.'' Bagaimana pun cerita yang menarik itu ada unsur konfliknya, tetapi harus disesuaikan kemampuan si anak menangkap cerita. Anak TK membutuhkan cerita yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Setelah mendongeng, didiskusikan ceritanya dengan anak.&lt;br /&gt;Ini usaha untuk menginternalisasikan nilai cerita pada anak.&lt;br /&gt;Misalnya, ''Kamu atau temanmu pernah tidak mengalami seperti cerita&lt;br /&gt;itu?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://triagus.multiply.com/journal/item/17/Para_Orang_Tua_Mendongenglah_&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-620855948625294998?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/620855948625294998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=620855948625294998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/620855948625294998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/620855948625294998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/rua-zainal-fanani.html' title='RUA Zainal Fanani'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6075872918775311659</id><published>2008-08-21T19:31:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T19:34:03.248-07:00</updated><title type='text'>Kak Dungdung (Joyo Tio)</title><content type='html'>Mendongeng Bisa Kapan Saja&lt;br /&gt;Kamis, 21 Agustus 2008|07:56:27WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latih Kecerdasan Imajinasi dan Nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng atau bercerita dipercaya mampu menggugah imajinasi anak tumbuh, sekaligus membangun hati nurani anak. Namun, orang tua sering malas mendongeng karena sibuk dan lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dorongan memberikan dongeng kepada anak seharusnya berdasar pada upaya memaksimalkan kecerdasan anak. Dampaknya memang tidak bisa langsung dirasakan. Jadi, jangan mudah putus asa,'' saran Joyo Tio, pendongeng dari Bintang Matahari Organizer, Jakarta. Pria yang akrab disapa Kak Dungdung tersebut menambahkan, semangat mau mendongeng untuk anak sebaiknya dirasakan kedua orang tua. Jadi, saat lelah, ayah atau ibu bisa saling bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng juga dapat memperat hubungan anak dan orang tua. Sebab, terjadi interaksi yang begitu intens. Tidak perlu harus selalu di malam hari. Siang atau sore pun bisa. Tentu saja, pilih waktu yang tepat. Disarankan Kang Dungdung, kegiatan bercerita sudah bisa dimulai ketika si imut berusia enam bulan. ''Pada saat itu, anak memang belum sepenuhnya mengerti yang dikatakan orang tua ketika bercerita. Namun, anak dapat belajar memahami dari ekspresi orang tua dan lewat suaranya,'' terangnya saat seminar Bimbing si Kecil Mengembangkan Kecerdasannya bersama PT Mead Johnson Indonesia, di Town Square Surabaya, Sabtu (16/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat tip untuk mendongeng dari Kak Dungdung, yaitu sabar, santun, sayang, dan sopan. "Sabar artinya, meski Anda merasa anak tidak mendengar dan tidak paham cerita, jangan langsung berhenti cerita,'' ujarnya. Santun, pilih kata-kata yang dipahami anak dan jangan menggunakan kata-kata kasar atau jorok. Beri ungkapan sayang sebanyak-banyaknya saat mendongeng agar anak merasa nyaman. ''Terakhir, selipkan cerita tokoh yang bersikap sopan agar anak tahu perbedaan sopan dan tidak,'' sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pilih materi cerita dan alat bantu cerita sesuai dengan usia dan perkembangan kecerdasan anak. Anak usia 0-2 tahun umumnya belum bisa berfantasi karena keterbatasan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anak usia 2-4 tahun yang sudah masuk usia pembentukan, banyak sekali konsep baru yang harus dipelajari si kecil. Tak hanya itu, sang buah hati juga mulai suka mempelajari manusia dan kehidupan. Serta, sudah pandai berfantasi, yang puncaknya usia 4 tahun. ''Nanti, setelah empat tahun, tak ada salahnya Anda memakai alat bantu yang lebih kompleks,'' sarannya. (uji/tia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://batampos.co.id/Bugar/Mendongeng_Bisa_Kapan_Saja&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6075872918775311659?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6075872918775311659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6075872918775311659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6075872918775311659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6075872918775311659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/kak-dungdung-joyo-tio.html' title='Kak Dungdung (Joyo Tio)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-117582455809775205</id><published>2008-08-21T18:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T18:51:06.082-07:00</updated><title type='text'>Mulyadi Yulianto</title><content type='html'>Anak Kompleks Sulit Diatur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERGAUL dengan anak-anak dari berbagai daerah membuat seseorang merasa memiliki banyak saudara. Hal itu menimbulkan kebahagiaan tersendiri, yang tak pernah hilang. ''Itulah yang paling saya sukai dari profesi pendongeng,'' tutur Mulyadi Yulianto (33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ditemui usai mendongeng pada parade anak Indonesia sehat dan saleh, dalam rangka Hari Anak Indonesia di RSUD Banyumas, Minggu lalu. ''Panggilan akrab saya di dunia anak-anak adalah Kak Imung,'' tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengalami hal yang tak menyenangkan saat awal menjadi pembawa cerita. Karena masih baru, dia belum memiliki kiat menarik perhatian peserta. Akibatnya banyak anak tidak antusias mendengarkan dongengnya, bahkan ada yang membuat gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setelah 11 tahun menjalani profesi itu, dia sudah bisa ''menguasai'' peserta agar selalu mendengarkan cerita yang disampaikan. Dia juga sering mendongeng di luar Purwokerto, antara lain Cilacap, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga dan Kuningan (Jabar). ''Sukanya jauh lebih banyak dari dukanya,'' tutur ayah satu anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendongeng, papar Kak Imung, selalu ada anak yang sulit diatur. Setelah diperhatikan, mereka yang sukar diatur biasanya tinggal di kompleks perumahan. Mungkin karena pola asuh di keluarga. Kebanyakan penghuni kompleks perumahan adalah orang sibuk. ''Ini baru dugaan saya, berdasar pengamatan selama menjadi pendongeng,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Farida Afriyani itu mengaku menjadi pendongeng bukan sesuatu yang disengaja. Kemampuan yang dia miliki bukan diperoleh dari sekolah, melainkan belajar sendiri. Dia rajin tukar pikiran dengan pendongeng dari daerah lain. Konsultasi itu bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas dalam menciptakan trik-trik menarik perhatian anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pendongeng di Purwokerto masih sangat kurang. Oleh karena itu Kak Imung mengajak para pengajar TPA untuk membentuk forum ukhuwah pengajian anak. Forum itu akan membentuk badan pelatihan mendongeng. Dia tinggal di Jl Gunung Senggalang No 10 Bancarkembar, Purwokerto, telepon (0281) 621854. (Budi Hartono-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber :http://www.suaramerdeka.com/harian/0307/30/dar40.htm&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-117582455809775205?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/117582455809775205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=117582455809775205' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/117582455809775205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/117582455809775205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/mulyadi-yulianto.html' title='Mulyadi Yulianto'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6139695983338771101</id><published>2008-08-21T18:30:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T18:44:36.131-07:00</updated><title type='text'>Abas CH</title><content type='html'>Abas CH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Tirtoyudan, Tirtorahayu, Palur, Kulon Progo INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abas CH, pria kelahiran Kulon Progo, 15 Juni 1953, sekarang bekerja sebagai PNS yatu guru agama sebuah SMA di kota Magelang. Berkaitan dengan praktik budaya atau kesenian, Abas CH mempunyai keahlian dalam mendongeng cerita baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Abas CH mengatakan akan terus menekuninya sampai akhir hayat dikandung badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahliannya mendongeng justru ia dapat bukan dari bangku sekolah namun otodidak, alami. Semasa dewasa ia sering mendengarkan siaran RRI tentang cerita pewayangan. Pada waktu itu dia menilai bahwa cerita yang ada kurang dibawakan secara menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita hasil karyanya sering kali ia bacakan dalam acara-acara tertentu maupun dalam rutinitasnya membawakan sebuah acara pembacaan cerita bahasa Jawa di salah satu radio swasta di Yogya. Dalam pembacaan cerita dia begitu berkesan dengan cerita berjudul "Kumandanging Katresnan", dan "Nyai Blorong". Cerita-cerita ini ia ambil dari majalalah berbahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi yang pernah ia raih yakni mewakili Yogya sebagai pendongeng anak-anak nusantara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata seni dan Budaya, ia juga peranah mendapat penghargaan sebagai pendongeng yang diberikan oleh Kids Fun pada tahun 1998. Ia juga sering kerap kali diminta menjadi juri dalam lomba dongeng anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.gudeg.net/directory/73/962/Abas-CH.html&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6139695983338771101?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6139695983338771101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6139695983338771101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6139695983338771101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6139695983338771101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/abas-ch.html' title='Abas CH'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-575859272620790468</id><published>2008-08-21T00:06:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T00:07:55.762-07:00</updated><title type='text'>Ir. Kasiyanto (Kerajaan Dongeng Semarang)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Guru Tak Bisa Mendongeng ibarat Tubuh Tanpa Kepala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA tak bisa mendongeng, janganlah jadi guru. Pernyataan itu memang tidak menjadi syarat yang diwajibkan secara formal bagi mereka yang ingin menjadi pengajar. Namun guru yang ingin serius menjadi pendidik ternyata juga harus bisa jadi pendongeng yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya mendongeng dalam proses pendidikan terungkap dalam Seminar dan Pelatihan Metodologi Dongeng yang digelar Ikatan Guru RA/BA (Ikraba) Kabupaten Pekalongan di Masjid An Nur Islamic Centre Kedungwuni, Pekalongan, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak, menurut penuturan Ir Kasiyanto, pengajar dari Kerajaan Dongeng Semarang, dengan mendongeng. Sebab, sebuah dongeng atau cerita bisa merangkum berbagai fungsi yaitu sebagai penyampai pesan dan nilai, penambah pengetahuan dan pengalaman batin, serta membantu proses identifikasi diri dan perbuatan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dongeng juga mempunyai fungsi hiburan, mendidik emosi, imajinasi, dan kreativitas, serta menambah kemampuan berbahasa, dan kosa kata anak didik. ''Jadi, guru sebenarnya wajib bisa bercerita. Seorang guru yang tak bisa mendongeng ibarat tubuh tanpa kepala,'' tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menguasai teknik mendongeng yang baik, berarti seorang guru berkesempatan menggali potensi kecerdasan anak, baik kecerdasan intelegensi, emosi sosial, maupun spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat dongeng seorang guru bisa mengaduk-aduk rasa ingin tahu anak melalui berbagai jenis cerita, seperti cerita tentang hewan atau fabel dan tentang kemanusiaan serta benda-benda di sekitarnya. Lewat dongeng, guru juga bisa menyihir anak untuk selalu ingat berbagai nilai dan pengetahuan yang diselipkan dalam sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dongeng hanya bisa membekas dalam pikiran anak jika dibawakan dengan teknik yang baik. ''Guru harus memahami teknik dan unsur cerita seperti narasi, dialog, ekspresi, visualisasi, musik, dan cerita,'' jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sejak duduk di TK/RA/BA, anak-anak sudah disuguhi pendidikan yang dibalut teknik mendongeng yang baik, sejak dini potensi anak bisa digali. Adapun penggalian potensi anak sejak dini adalah modal yang bagus untuk mengarahkan hidup anak sesuai dengan bakat dan kecerdasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deteksi Sejak Dini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dra Retno Anggraeni MSi, pembicara yang lain mengungkapkan pentingnya pendeteksian potensi anak sejak dini. Di hadapan kurang lebih 350 guru yang mengikuti seminar, staf pengajar Unnes Semarang itu mengusulkan orang tua dan guru dapat bekerja sama dengan baik dalam mengembangkan kemampuan anak. ''Orang tua dan guru perlu menguasai cara untuk melakukan deteksi dini secara praktis. Hasil deteksi dini inilah yang nanti dapat mengarahkan perkembangan anak secara wajar sesuai dengan kebutuhan anak,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, beberapa pertanyaan mendasar harus menjadi renungan bagi para orang tua dan guru. Antara lain tentang definisi kecerdasan, apakah kecerdasan berarti menjadi anak yang penurut dan mendapat nilai bagus atau untuk meperjuangkan kebenaran? Lalu untuk siapa kecerdasan anak, apakah untuk kemandirian hidup si anak atau kepuasan orang tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut, kata Retno, harus direnungkan dan dirumuskan lebih dulu oleh para orang tua dan guru sebelum melakukan proses pengajaran dan pendeteksian potensi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, pendeteksian potensi anak diharapkan dapat menghasilkan analisis yang lengkap dari berbagai aspek, baik kecerdasan otak, emosi, sosial, maupun religius. Maka, definisi tentang kecerdasan dan tujuan hidup anak harus dapat mencakup berbagai aspek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya berbagai teknik pengajaran termasuk dongeng, diakui memang dapat memberikan pengaruh positif bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Bupati Pekalongan yang juga praktisi pendidikan, Dra Hj Siti Qomariyah, mengharapkan setelah mengikuti seminar para guru dapat menyelipkan pesan kepada anak-anak sejak dini agar selalu bisa membina kerukunan antarumat beragama. (Muhammad Burhan-74s)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.suaramerdeka.com/&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-575859272620790468?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/575859272620790468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=575859272620790468' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/575859272620790468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/575859272620790468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/ir-kasiyanto-kerajaan-dongeng-semarang.html' title='Ir. Kasiyanto (Kerajaan Dongeng Semarang)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-2497846712240892303</id><published>2008-08-20T23:53:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T00:00:36.055-07:00</updated><title type='text'>Mama Arif Hidayat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK0R3VdT2RI/AAAAAAAAAFI/wYlUmSwXZtI/s1600-h/mama.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK0R3VdT2RI/AAAAAAAAAFI/wYlUmSwXZtI/s320/mama.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236861584052312338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dongeng Sunda di Radio Sipatahunan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor (ANTARA News) - Salah satu budaya lisan Sunda, yakni dongeng rakyat berbahasa Sunda, nyaris punah oleh desakan budaya global modern, terutama televisi, sehingga dibutuhkan upaya-upaya untuk menjaga dan melestarikannya agar tidak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guna melestarikan budaya lisan Sunda, Radio Sipatahunan Kota Bogor, akan menyiarkan dongeng Sunda secara rutin setiap sore, pada Senin hingga Jumat," kata Encep Moch Ali Alhamidi, Kepala Seksi Pelayanan Media Pemerintah Kota Bogor yang juga Penanggungjawab Radio Sipatahunan, di Bogor, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiarkannya dongeng Sunda di Radio Sipatahunan yang mengudara di gelombang 89,4 FM itu, guna melestarikan budaya lisan Sunda yang nyaris dilupakan, terutama pada generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng Sunda akan dituturkan oleh pendongeng tradisional Sunda, Mama Arief Hidayat, serta program pelestarian budaya Sunda lainnya akan disampaikan budayawan Eman Sulaeman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Arif Hidayat menjelaskan, dongeng Sunda bertajuk "Sumur Ajaib" akan menceritakan kehebatan masyarakat Sunda dengan latar cerita tempo dulu. Dongeng ini sudah disampaikannya di radio milik Pemerintah Kota Bogor, mulai Senin (30/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cerita lengkapnya tidak bisa saya ceritakan di sini, tapi bisa didengarkan di radio," kata Mama Arif, pria yang bisa menirukan 16 jenis suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, ia sudah berhenti mendongeng sejak 1980-an, bersamaan makin menurunnya minat masyarakat terhadap budaya dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebetulnya, saya sudah berhenti mendongeng sejak tahun 1980-an. Tapi karena ada permintaan dari Radio Sipatahunan dan desakan dari Paguyuban Pasundan yang ingin menghidupkan kembali budaya dongeng Sunda, saya menyanggupinya," katanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, dongeng Sunda yang disiarkan di radio, pada tahun 1975-1980, sangat digandrungi warga Bogor. Salah satu pendongeng Sunda terkenal di Bogor adalah Mama Arif Hidayat yang membawakan dongeng "Si Riweuh" dengan suara khas.&lt;br /&gt;Setelah hampir 30 tahun menghilang, Mama Arif Hidayat, tampil lagi membawakan dongeng Sunda di radio. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber :http://www.antara.co.id/arc/2008/7/2/dongeng-sunda-di-radio-sipatahunan/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Mama Arif Hidayat: Captivating listeners with his tales&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When he first launched his storytelling career more than 30 years ago, Mama Arif Hidayat was already capturing the attention of his listeners.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They stayed glued to their seats to learn what would happen next in his two famous Sundanese tales, Sirjibang and Siriweuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Euuuhh... waktos ngaseep," he would say, his signature words meaning "time's up now, time to end the story".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The 55-year-old Sundanese man was born in Arafat, Saudi Arabia, as Sarip Hidayatulah before he took the popular name Mama Arif Hidayat. He is a legendary storyteller of West Java folklore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama" is the term used by the Sundanese in Bogor, West Java, for someone well versed in a particular field of knowledge, a master.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His storytelling career began when he started criticizing a private radio station in West Java's capital city Bandung for not appreciating Indonesian culture, particularly Sundanese culture, enough and for broadcasting Western music from dawn to dusk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why does this station air so many Western songs instead of Sundanese programs, or at least Indonesian music?" Arif asked in his letters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was then invited to the station where the management asked if he had any solution to offer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I said I could solve it and was prepared to help out," he said. He offered to tell his stories over the radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the station manager looking on, Arif made his debut the next morning, portraying two characters, first a very old man, then a woman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Three days later some sponsors asked him to present radio programs and appear in stage shows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His storytelling soon became popular, perhaps because his tales were unique or TV programming was not as varied as they are today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After three months, Arif toured radio stations across West Java, including Radio Wahana in Cirebon, before finally joining Radio Elpas in Bogor in 1977, to fill its folklore program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In no time, he was well known and capturing the hearts of many listeners.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"When I came to Bogor, I felt drawn in and I've never left. Believe it or not, people say, to control West Java, the first thing is to hold sway over Bogor, once the center of the Padjajaran kingdom of Pasundan region," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif was surprised at his own creative process, honed during the many broadcasts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I felt like I was being controlled by some magic force, allowing me to relate various legends without concepts, using diverse voices without faltering for months. I should thank God for my talent," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He told his stories without preparation, sometimes adding sayings of the Prophet Muhammad. He developed 18 different voices to portray many characters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His most famous stories at Radio Elpas were that of Sirjibang, which centers on supernatural powers, and Siriweuh, which is about a troublemaker he identified as himself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His tales made housewives and children gather in front of their radios in the afternoon. Some farmers even took their radio sets to their rice fields to not miss the programs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, in 1982 a strange quirk of fate caused him embarrassment and hurt his career.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif was invited by a political party to tell a Sundanese story in Petir village, Bogor regency, to support the party's campaign. Thousands of people crowded to see him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"In the beginning, it was all smooth but halfway through the tale, my voice left me, like an erased tape," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I felt I was talking normally, but the large crowd started to boo and heckle. Though I tried to remain calm, I was eventually led off the stage for losing my voice."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The incident robbed Arif of his self-confidence, forcing him to abandon his Elpas job and to turn down offers to do stage performances. Plagued by constant nervousness, he practically lost his narrative ability.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"During that long traumatic period, I realized that, as a storyteller, I should have belonged to all fans instead of a certain group," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recently, Sundanese cultural organizers in Bogor affiliated with Paguyuban Pasundan invited Arif to discuss ethnic cultural affairs. In June 2008 they persuaded him to return to the radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The effort aims to interest the Sundanese in Bogor in their own folklore and become more accustomed to speaking the local tongue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the assistance of Bogor city officials, Arif returned to the air, this time via Radio Sipatahunan, one of the city's outlets for communication and information on regional development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As of June 30, Arif is back on the air telling his inimitable Sundanese tales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://www.thejakartapost.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-2497846712240892303?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/2497846712240892303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=2497846712240892303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2497846712240892303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2497846712240892303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/mama-arif-hidayat.html' title='Mama Arif Hidayat'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK0R3VdT2RI/AAAAAAAAAFI/wYlUmSwXZtI/s72-c/mama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-1363063762442619333</id><published>2008-08-20T19:57:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T20:02:12.382-07:00</updated><title type='text'>DONGENG DONGENG VISUAL (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKzZ4OOzFOI/AAAAAAAAAFA/nG1yLpp92-E/s1600-h/H.gif"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKzZ4OOzFOI/AAAAAAAAAFA/nG1yLpp92-E/s400/H.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236800026641110242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DONGENG-DONGENG VISUAL &lt;br /&gt;for everyone BY &lt;a href="http://hikmatdarmawan.multiply.com/j"&gt;http://hikmatdarmawan.multiply.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;                                                                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, saya menonton Interview with Vampire karena sebuah rasa takjub: Kenapa seorang Neil Jordan (penyair Irlandia yang juga sutradara jenial – film-filmnya yang telah mencuat waktu itu adalah We’re No Angels dan Crying Game) kok mau memfilmkan cerita yang amat mokal dari seri novel Vampire Chronicles karya Anne Rice?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya juga menonton dengan antusias Bram Stocker’s Dracula (Coppola) dan Nosferatu (Warner Herzog). Bahan dasar ketiga film itu sama ‘aneh’-nya: mitos drakula/vampire, mahluk malam peminum darah. Pada karya Coppola dan Herzog, makhluk mitos itu ditempatkan dalam dunia yang ‘jauh’. Drakula-nya Coppola ada dalam sebuah dunia Eropa abad lalu, yang meski diberi bobot historis (sedikit), tapi diteatrikalisasi sedemikian rupa sehingga benar-benar terasa sebagai dongeng. Dan Nosferatu ada dalam sebuah dunia Eropa abad lampau yang kelam dan amat sureal. Sedangkan pada karya Neil Jordan, situasi awalnya saja sudah unik: seorang wartawan mewawancarai si penghisap darah…sebuah tabrakan yang disengaja antara dunia sehari-hari (“wawancara”/”wartawan”) dengan dunia mitos (“vampire”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Seusai menonton Interview With Vampire, takjub saya bergeser. Nyatalah bahwa dari ide yang selintas tampak silly dan mengada-ada itu bisa lahir sebuah karya sinematis yang puitis dan memberi komentar yang cerdas tentang eksistensi, moral dan modernisasi. Saya takjub, dan merasa nikmat: sebuah dongeng visual telah tersaji dengan amat asyiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Takjub dan nikmat macam itu pernah saya rasakan sebelumnya (misalnya ketika saya menonton E.T., Blade Runner atau trilogi Star Wars). Tapi kini rasa takjub dan nikmat itu semakin sering terjadi. Dalam sebuah ruang gelap dengan layar lebar dan suara menggelegar, atau dalam ruang keluarga dengan sebuah TV (atau dalam kamar dengan monitor komputer dan VCD), akal dan imajinasi saya dimanjakan. Daya refleksi sebagai seorang “dewasa” dan gairah naluri “kekanakan” saya bisa bercampur tanpa malu-malu ketika menyaksikan Batman meloncat dari gedung ke gedung sambil membawa semacam problem kejiwaan dalam topeng dan jubahnya; atau ketika ikut tegang menyaksikan T-Rex dan Velociraptor lepas dan memburu manusia akibat kesombongan dan keserakahan manusia di Jurassic Park; atau saat bersimpati pada upaya Prof. Xavier mengatasi dilema para mutant dalam X-Men; dan merinding melihat proses menghilangnya Dr. Crane dan bagaimana ia mengamuk dalam The Hollow Man .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Sebetulnya tak cuma di Hollywood sensasi macam ini (bisa) dibuat. Medium film secara umum telah mengalami kemajuan. Hongkong, misalnya, dapat ditengok sebagai alternatif. Karya-karya Tsui Hark (seperti Once Upon a Time in China atau The Blade) bisa dipandang sebagai upaya meracik teknologi, ide dan unsur menghibur yang berhasil. Hanya karena selera dan nilai rasa kebanyakan kita yang kadung dibentuk oleh serbuan produk Hollywood maka alternatif non-Hollywood terasa “di bawah standar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Memang Hollywood tak semata menyimpan kekuatan pada marketing-nya saja. Mereka juga berevolusi. Salah satu penyangga keberhasilan pemasaran mereka adalah inovasi terus-menerus – baik inovasi teknis maupun inovasi konsep kreatif. Sebagai industri, Hollywood jelas tak bersih dari ‘penyakit’  cari untung mudah dengan memproduksi produk-produk yang murah dan bermutu rendah. Bedanya dengan industri film di belahan dunia lain (seperti India atau Amerika Latin dengan telenovela mereka), Hollywood relatif rajin menelurkan karya-karya bermutu/inovatif, sambil tetap mempertahankan kesadaran pasar dalam produk-produk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Inovasi itulah yang memungkinkan sebuah evolusi kreatif di Hollywood berupa letupan ‘genre’ dongeng yang kini kita saksikan. Terus terang, sebutan “genre” dan “dongeng” sekedar untuk memudahkan penangkapan sebuah benang merah: ada kecenderungan Hollywood semakin banyak memproduksi film-film yang bukan jenis Realisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap dicatat, batas-batas “Realisme” dan “bukan Realisme” bisa amat kabur di Hollywood. Misalnya, situasi-situasi aksi dalam trilogi Die Hard atau serial Lethal Weapon (dan genre film aksi menempati porsi amat besar di Hollywood) jelas tak terjadi dalam kenyataan  sehari-hari. Tapi karena elemen realitas hadir secara signifikan (para jagoan aksi itu, betapapun, tak bisa terbang, misalnya), maka genre tersebut tak ditempatkan dalam jajaran dongeng. Sebaliknya, betapapun “nyata”-nya adegan-adegan E.T. atau X-files (bahkan banyak yang yakin betul bahwa cerita-cerita X-files memang berdasarkan kenyataan), toh film-film tersebut tak bisa disebut mengikut Realisme: mereka tak setia pada apa yang oleh kebanyakan orang disepakati sebagai  “realitas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah “dongeng”: ia, dengan sadar dan sengaja, menolak obsesi mimesis – peniruan dunia nyata sepersis mungkin. Kita akan bicara lebih lanjut soal konsep “dongeng” nanti. Yang jelas kini adalah bahwa sebutan “dongeng” mencakup sekian banyak genre film yang berbeda: science fiction, fabel (seperti Babe), petualangan, horor, kartun/animasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua genre itu kini dimungkinkan untuk tampil optimal secara visual, pertama-tama, karena inovasi teknis – khususnya, inovasi teknologis. Dua orang yang paling berjasa di bidang ini adalah Steven Spielberg dan George Lucas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Lucas barangkali contoh sebuah fokus yang berhasil. Sejak muda ia tampil sebagai sineas berbakat (misalnya dengan film American Grafitti yang banyak dipuji para kritisi). Secara komersial pun ia telah terbukti berhasil, lewat Star Wars. Tapi gairahnya terhadap special effect – khususnya setelah ia mengalami tantangan-tantangan visual dalam trilogi Star Wars – membawanya pada keinginan memfokuskan diri di bidang inovasi teknologis film, dan untuk itu ia rela berhenti membuat film dulu! Ia mendirikan Industrial Light Magic (ILM), perusahaan yang paling bertanggung jawab atas berbagai inovasi teknologis di Hollywood dalam dua dasawarsa terakhir. Dari ILM-lah, terutama, inovasi-inovasi robot, miniatur, hingga animasi komputer morph diarahkan untuk memanjakan sensasi para penikmat dongeng visual dimanapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teknologi kita bisa terkekeh ‘melihat’ John Lennon ternyata mendapat inspirasi lagu Imagine dari tokoh fiktif Forrest Gump; atau bersimpati pada Draco, naga yang bijak dan emosional dalam Dragon Heart; atau takjub pada 'tarian' Keanu Reeves dalam berkungfu dan menghindari peluru dalam The Matrix; atau gembira melihat pertandingan basket yang seru antara Michael Jordan dengan para tokoh kartun melawan para makhluk planet dalam Space Jam. Tapi bukan teknologi semata yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hollywood (di mana pun, sebetulnya), teknologi berjabat erat dengan imajinasi. Dan salah satu benak yang paling kaya imajinasi adalah Steven Spielberg. Semenjak E.T., ia layak disebut juru dongeng modern. Spielberg adalah salah satu sineas yang paling keras kepala dalam mewujudkan imajinasi secara visual. Dan dengan mendirikan Amblin Entertainment, ia menularkan semangat kreatifnya ke sutradara-sutradara muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Hollywood relatif tak punya problem teknis dalam memvisualkan imajinasi. Sinema-sinema dongeng (dan juga genre lain) kini semakin matang secara visual (artinya, makin nikmat dilihat; dan bisa amat artistik, kalau mau). Tapi kematangan dongeng-dongeng visual ini sebagai suatu karya sinematis yang utuh juga bergantung pada faktor lain: kematangan konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep, cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Lucas mengawali suksesnya di Hollywood dengan sebuah sinopsis berjumlah 12 halaman. Para pemodal besar, produsen, tertarik. Dan nyatalah ketika produknya jadi – trilogi Star Wars (yang konon kini sedang dipoles lagi untuk diedarkan ulang) – cerita itu menciptakan sebuah tradisi dan rantai produk (komik, novel, souvenir, dll.) yang tetap laris hingga kini. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sinopsis 12 halaman itu Lucas tak cuma menawarkan seru-seruan perang bintang, tapi ia juga menciptakan sebuah (embrio) universum yang koheren. Ia tak cuma menawarkan cerita, tapi sebuah konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas menawarkan sebuah konsep dalam bentuk dongeng. Tapi “dongeng” pun adalah sebuah konsep tersendiri. Tanpa terlalu melibatkan diri pada perbincangan diskursif yang amat ketat mengenai konsep “dongeng” (pasti butuh ruang tersendiri), dapat disimpulkan bahwa dongeng adalah sejenis bentuk tuturan yang amat didominasi unsur imajinatif; dan bahwa dongeng adalah salah satu medium untuk menyampaikan berbagai pesan, ide, ajaran, dan pengalaman emosional serta persaksian akan hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dongeng – betapapun besar jasanya dalam sekian abad peradaban manusia – sempat dijauhi, khususnya dalam alam modern ini. Dalam skala pribadi, seolah menjadi “konvensi bisu” bahwa jika seseorang beranjak dewasa, ia tak boleh lagi menikmati dongeng. Dalam skala peradaban, muncul pretensi bahwa sebuah peradaban “maju” mestilah bersih dari unsur-unsur “takhyul”, “mitos”, “legenda” dan sebagainya; dan secara umum ditekankan bahwa “kebenaran ilmiah” lebih bermakna daripada dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini asumsi-asumsi tersebut mulai banyak digugat. Dongeng pun mulai diapresiasi kembali tanpa menyempitkannya menjadi “sekedar konsumsi anak-anak”. Dunia sastra menunjukkan bahwa elemen dongeng bisa menjadi bagian yang amat sah, dan amat menarik, seperti terlihat, misalnya, dalam karya-karya Marquez, Salman Rushdie, Ben Okri, Isabelle Alende (yang salah satu karyanya difilmkan, yaitu House of the Spirit), Gunter Grass (juga salah satu karyanya, Tin Drum – tentang seorang anak yang menolak menjadi dewasa, dan mengiringi sejarah modern Jerman dalam kekanakannya yang menetap, pernah difilmkan) atau Danarto (yang karya-karyanya pernah dibayangkan Romo Mangun akan difilmkan) dan Seno Gumira Adjidarma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya itu agak berbeda dengan dongeng-dongeng klasik ala Grimm, HC Andersen atau Tolkien: dongeng-dongeng ‘baru’ itu lahir dari sebuah modernisme yang luka. Dalam intensitas yang beragam, mereka ingin mewartakan luka itu. “Kenyataan” adalah sesuatu yang problematis buat mereka. Ada bermacam “kenyataan”: kenyataan ilmiah, empirik, “resmi” – yang semakin tampak tak bersih dari kepentingan-kepentingan politik, sehingga kenyataan “sesungguhnya” (ketidakadilan, penggusuran, manipulasi) seringkali tertutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika bentuk cerita Realisme yang merajai sastra modern tak lagi memuaskan mereka. Salah satu bentuk perlawanan terhadap (pretensi) realisme dalam tradisi bercerita modern adalah hadirnya bentuk metafiksi. Istilah ini digunakan pertama kali oleh Gass (1970) dan diangkat ke permukaan oleh Patricia Waugh. Unsur metafiksi inilah yang bisa dianggap memberi bobot “dongeng” pada genre sastra kontemporer di atas  -- yang oleh sebagian disebut cerita “fantasi”; dan oleh yang lain, “realisme magis”. (Perlu dicatat bahwa menurut Waugh, unsur metafiksi telah muncul – secara potensial – sejak mula sejarah fiksi modern; jadi, bukan baru ada pada genre cerita mutakhir tersebut saja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafiksi adalah sejenis fiksi yang secara eksplisit  menelanjangi kondisinya sebagai rekaan; ia dibangun atas dasar oposisi terus-menerus – ia membangun ilusi, sekaligus menelanjangi bahwa yang dibangun itu adalah ilusi (Waugh, 1984). Menurut Waugh, ciri metafiksi bisa tampak pada unsur-unsur cerita (histoire)  maupun penyajiannya (discours).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, dunia selanjutnya – setelah sastra – yang kondusif terhadap bentuk mutakhir penceritaan tersebut adalah dunia film. Teknologi film telah matang. Evolusi diskursif cerita-cerita film mutakhir telah semakin memberi peluang (secara diskursif, karya-karya sinematis terbaik mutakhir memang relatif terasa semakin “cerdas” dari jaman, misalnya, Gone With The Wind). Dan pasar pun tampaknya semakin siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka unsur metafiksi pun memasuki ruang kreatif film secara leluasa, dan menjadikan ladang dongeng-dongeng visual semakin subur. Semakin banyak karya-karya sinematis yang tak terlalu ambil pusing apakah cerita mereka “benar terjadi”; tapi lebih mengasyiki bahwa cerita itu “mungkin terjadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajaran karya Tim Burton bisa menjadi contoh. Edward Scissorshand  berkutat pada kesepian seorang anak bertangan gunting. Batman  dan Batman Return meneropong problem kejiwaan sang pahlawan yang hampir paralel dengan problem kejiwaan para musuhnya. Bahkan karya biografis Ed Wood pun mengandung unsur metafiksi yang kuat lewat pilihan medium hitam-putih dan cerita penuh parodi dengan sekian situasi yang absurd. Pada Sleepy Hollow, Burton meracik dengan asyik antara dunia sains dan dunia sihir/gaib, dan memberi kita legenda dengan sentuhan humor kelam: kepala-kepala yang begitu mudahnya bergelindingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang mungkin” tampil lugas dalam dongeng-dongeng visual, berkat perkembangan teknis yang semakin matang. Sedangkan konsep (dan sesudah itu cerita) memungkinkan terjadi sebuah dialog antara penonton dengan karya sinematis yang terpampang di layar. Penonton sadar betul bahwa dirinya sedang dikibuli, tapi toh dengan nikmat terbawa emosi, bahkan kalau perlu berrefleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tentu saja, dalam evolusi kreatif tersebut masih tersedia ruang yang besar untuk karya-karya yang kurang bermutu, bahkan buruk. Contoh nyata adalah Independence Day yang mengeksploitasi Amerikanisme (dalam sisinya yang serba koboi dan superior) dalam bangun dongengnya – dan dengan rancangan marketing yang gila-gilaan, menjualnya ke seluruh dunia (di sini, layaklah kita bicara soal “ekspor ideologi”). Wajar. Tapi bukan berarti kita mesti pesimis terhadap kelanjutan artistik medium ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Terakhir, sedikit renungan. Menelaah evolusi kreatif di Hollywood mungkin bisa membuat kita minder. Dunia film negeri ini adalah sebuah pembicaraan tersendiri yang kompleks. Betapapun, kita tak akan bisa menjadi Hollywood (dan, sebetulnya, tak perlu). Tapi bukan berarti kita tak bisa ikut mendongeng lewat film, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak bahan mentah yang masih menunggu digarap di sekitar kita. Kita punya Danarto, Seno Gumira, Putu Wijaya, Idrus dan banyak lagi. Kita punya ratusan legenda. Kita juga punya Asmaraman S. Khoo Ping Hoo (Kisah Singosari-nya sungguh menarik jika difilmkan), jagoan-jagoan komik Ganes TH., Djair, Taguan Hardjo, dan sebagainya. Kenapa tidak? Local Content bisa menarik kok, apalagi jika disambut secara optimal oleh para local genius. Dan medium film itu sendiri (jika kita cuma bicara sebuah medium kreatifitas, belum soal-soal lain), seperti dicontohkan di atas, cuma butuh kunci kematangan teknis (yang disesuaikan dengan situasi lokal yang serba terbatas), dan konsep yang kuat – disamping  soal modus produksi yang memang khas dan patut dipelajari, untuk bisa disiasati. Tapi memang tak mudah. Tak ada yang mudah di negeri ini.&lt;br /&gt;                                                                                             &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-1363063762442619333?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/1363063762442619333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=1363063762442619333' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1363063762442619333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1363063762442619333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/dongeng-dongeng-visual-suplemen.html' title='DONGENG DONGENG VISUAL (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKzZ4OOzFOI/AAAAAAAAAFA/nG1yLpp92-E/s72-c/H.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-929717147411553333</id><published>2008-08-20T19:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T19:48:47.926-07:00</updated><title type='text'>Lili Suryadi Salim (Emoet Padaringan)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKzXMu_XmRI/AAAAAAAAAE4/BwxZm0reX9g/s1600-h/emot.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKzXMu_XmRI/AAAAAAAAAE4/BwxZm0reX9g/s320/emot.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236797080497264914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Profil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendongeng yang Jadi Direktur&lt;br /&gt;Oleh : Asep Saevata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17-Des-2007, 02:11:34 WIB - [www.kabarindonesia.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KabarIndonesia - PENDONGENG berbahasa Sunda yang disiarkan langsung oleh studio radio, tampaknya masih jarang terutama yang dikenal dan terkenal. Seperti halnya tempo dulu dialami oleh Jamar Media dan Wa Kepoh. Sebab, juru dongeng seringkali dipandang sebelah mata dan dijalani karena hobi, ataupun profesi tambahan bagi mereka yang mencintai dunia anak dan buku-buku cerita. Namun hal ini dibantah oleh pendongeng, Lili Suryadi Salim yang dikenal dengan sebutan Emoet Padaringan merangkap Direktur PT. Radio Duta Suara Subang atau DSS Biang Goyang Subang di jalur 106,9 FM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, tidak demikian sekarang ini karena pendongeng sama seperti profesi lain, yang dapat diandalkan sebagai gantungan hidup. "Alhamdulillah, saya sendiri bisa begini karena mendongeng walaupun belum sepenuhnya apa yang diinginkan terpenuhi karena memang sifat manusia selalu berkekurangan," katanya seraya menambahkan, kecukupan itu berupa pengalaman dan ketenangan. Mendongeng yang ditekuni sejak sekolah di Madrasah Tsanawiyyah dan berlanjut ke Madrasah Aliyah. Bahkan sebelum tamat sekolah pun Lili pada tahun 1987 sudah menjadi pendongeng di Studio Radio Daerah (Sturada) yang kini menjadi Benpas FM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan berkat ketertarikan Kepala Sturada waktu itu, Yanda Ruchendi dirinya terkenal dengan sebutan Mamang Bujang. "Sekitar 7 tahun saya mengudara di sana hingga mendapat jodoh dari penggemar sendiri," kata suami Yeni Susilawati. Juara Dongeng se-Jawa Barat tahun 1993 di Bandung ini ternyata terus melanglang buana mendongeng dari satu radio ke radio lain seperti Paksi dan Paramuda di Bandung dan Radio Populer FM Purwakarta. "Sampai saat ini pun selain di DSS masih menjadi pendongeng di Radio DSP Bekasi, DSK Karawang dan Radio Kayu Manis Jakarta," kata bapak dari Dany Arrobby, Wildan Dwyana Pebrian, Radtya Muhammad Tslatsa dan Nazwa Putri Nabila. "Soal jarak tidak menjadi masalah karena sekarang kan bisa direkam terlebih dahulu," tambahnya. Sudah tentu pemilik lebih dari sekian puluh karakter suara ini tidak serta merta langsung jadi pendongeng. Tetapi segala sesuatunya harus dilakukan dengan serius dan kerja keras pasti membuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lili yang hidup masa kecilnya di pedalaman Kecamatan Cibogo, Subang mengatakan, ketertarikan mendongeng setelah mendengar dan menonton langsung Jamar Media di sebuah hajatan. Dalam hatinya terbetik kalau hanya merubah-rubah suara rasanya mampu dan dipraktekkan di sekolah ternyata benar sehingga sering dijuluki pendongeng kecil. Bahkan setelah jadi penyiar merangkap ngadongeng sering pula diundang layaknya penceramah. "Suatu ketika ada pendengar setia seorang pensiunan yang sukarela membangunkan rumah dan ini merupakan rejeki serta kemurahan dari Allah," ujarnya karena dalam mendongeng pun bisa menyisipkan pesan-pesan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dirinya nikmatnya menjadi pendongeng bukan karena dongeng memiliki ratting tinggi dan tuntutan materi semata, namun memiliki tanggung jawab terhadap budaya mendongeng yang merupakan budaya buhun masyarakat Sunda. "Cerita yang paling disenangi pendengar adalah cerita silat dan horor. Naskah yang telah dibaca sudah ratusan judul dan sekarang pun lebih banyak karangan Ki Leuksa dari Sumedang," ujar Emoet Pandaringan yang merintis DSS sejak tahun 2005 dan masih nebeng di bangunan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai juru dongeng pun dirinya tidak ingin membuat pendengar menjadi malas, tetapi sebaliknya lebih giat berkarya dan membaca. Sebab, budaya membaca di kalangan pelajar dan remaja dirasakannya masih kurang. Untuk itulah dirinya selalu menjadwalkan pertemuan rutin dengan para pendengarnya di semua program bertatap muka, bertausiyah dan saling koreksi. "Mudah-mudahan dengan dongeng secara tidak langsung ikut membangunan manusia yang paripurna dan ikut mencerdaskan masyarakat terutama pendengar," ujarnya karena selain bertugas menghibur, mendongeng ini juga bisa menjadi sarana didaktis. (dali/alam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=21&amp;amp;dn=20071216212617 &lt;/i&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-929717147411553333?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/929717147411553333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=929717147411553333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/929717147411553333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/929717147411553333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/lili-suryadi-salim-emoet-padaringan.html' title='Lili Suryadi Salim (Emoet Padaringan)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKzXMu_XmRI/AAAAAAAAAE4/BwxZm0reX9g/s72-c/emot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8264598157718188986</id><published>2008-08-11T19:05:00.000-07:00</published><updated>2008-08-11T19:18:34.664-07:00</updated><title type='text'>Made taro</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKDwMRmILTI/AAAAAAAAAEw/xp5UWYWEV84/s1600-h/taro.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKDwMRmILTI/AAAAAAAAAEw/xp5UWYWEV84/s200/taro.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233446860676934962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="color: rgb(153, 153, 0);"&gt;“Cock-a-doodle-doo !! Marilah bermain !!! ”&lt;/h4&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;Kokok ayam bukan sekedar pertanda pagi, bahasa unggas ini juga mencitrakan anak-anak. Dalam bahasa kehidupan, hari esok adalah hari depan anak-anak. Pikiran sederhana inilah yang menggugah Taro untuk selalu dekat dengan anak-anak. Bahkan teater yang ia dirikan sejak tahun 1979 di beri nama “Teater Kukuruyuk “&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Made Taro adalah sosok pendidik yang sederhana. Ia sangat mencintai pekerjaannya yang selaras dengan hobinya bercerita, menginventarisasi permainan anak-anak, menciptakan lagu anak-anak. Sehingga banyak prestasi yang telah ia raih, diantaranya pernah meraih guru teladan tingkat Propinsi Bali, serta pernah meraih hadiah penulis cerita anak-anak terbaik tingkat Nasional di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis cerita anak bagi Taro, adalah panggilan jiwanya. Dorongan intuisi kreatifnya merangsangnya melakukan kegiatan menulis cerita anak-anak, sehingga ia sangat jarang memperhitungkan uang. Ketika ia memperbanyak buku yang ditulisnya, Taro melakukannya dengan merogoh koceknya sendiri, mengumpulkannya dari honorarium yang ia peroleh dari tayangan televisi maupun gajinya dari sekolah tempat mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taro sangat bangga bila berhadapan dengan mesin ketik dan anak-anak. Taro merasa ada ketenangan jiwa bila sedang menulis, mengarang lagu anak-anak. Ketika ia menulis, terbayang dalam pikirannya, kelak tulisannya dibaca banyak orang, tidak hanya dipajang di perpustakaan atau disimpan dalam rak buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taro bangga bila gubahan lagunya dinyanyikan anak-anak, sehingga ia merasa menjadi bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Inspirasi Taro mengalir seperti mata air pegunungan, tak pernah kering. Berawal dari melihat anak-anak di asrama guru-guru SMA II Denpasar yang bengong saban hari, tak berbuat sesuatu, Taro melihatnya sebagai anak-anak yang telah kehilangan dunianya. Maka Taro berinisiatip untuk mengajak anak-anak itu bergabung untuk mendengar ia bercerita, mengajaknya bermain, pergi ke pantai, berolah raga, dua kali seminggu. Ajakan Taro berhasil, anak-anak tersebut sangat antusias, bahkan sangat menanti-nanti kehadirannya untuk bercerita. Taro tak hanya bercerita, tapi mengajarkannya budi pekerti, bahkan sampai – sampai berhasil mendidik anak –anak untuk memakai pakain dalam, dimana para orang tuanya sangat susah untuk memberitahu anak-anak mereka. Banyak pujian yang ia terima dari para orang tua anak-anak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Taro mendirikan sanggar cerita untuk anak – anak para penghuni asrama guru tersebut. Lalu Taro mulai menggali cerita cerita rakyat serta menulisnya sebagai bahan bacaan untuk anak. Taro membagi cerita anak tersebut ke dalam tiga jenis yakni yang berkaitan dengan dongeng, mitos atau mite serta legenda. Buku dongeng Taro yang terakhir yakni “Dongeng-dongeng Pekak Mangku” diilhami oleh ayah Taro sendiri yang suka bercerita didepan anak-anak dan cucunya. Cerita yang paling menarik baginya adalah cerita Pan Cubling yang pernah ditampilkan dalam bentuk operet di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan Taro yang lain adalah masuknya permainan anak-anak dalam kurikulum mengajar di sekolah anak-anak. Permainan local anak-anak tersebut telah masuk sejak tahun 1994 tetapi realisasinya baru pada tahun 1996. Ada 17 jenis permainan yang telah diterapkan di sekolah dasar kini. Semua permainan itu ada yang menggunakan sedikit gerakan, sedikit orang, hingga permainan yang membutuhkan banyak orang dan halaman luas. Dalam permainan tradisional asli, anak –anak melakukannya secara spontan dengan tanpa nyanyian, tetapi agar menjadi lebih menarik, Taro menambahkan nyanyian dalam permaianan tersebut sehingga lebih menarik, lebih semarak dan menjadi hidup. Metode pengajaran permainan di sekolah pun ia ajarkan secara demokratis. Ada metoda yang mana, anak-anak sendirilah yang memilih permainan yang mereka senangi. Metodanya sama seperti metode berolah raga, dengan memberikan sedikit gerakan pemanasan atau gerakan seperlunya, bila perlu disertai nyanyian tradisional Bali, setelah pemanasan badan selesai, barulah anak-ana memulai permainan tradisional. Setelah selesai permainan, anak-anak di berikan gerakan minim, yang bertujuan untuk penenangan. Berkonsentrasi lewat bahasa-bahasa isyarat. Setelah gerakan penenangan selesai, barulah anak-anak diberikan cerita cerita menarik sebagai penutup oleh guru pengasuh masing-masing sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah usianya yang kian uzur, serta pensiun sebagai guru pengajar di sekolah, Taro tak pernah berhenti untuk dekat dengan dunia anak-anak. Kini setiap hari Rabu dan Minggu, Taro tetap datang ke Sekolah Dasar No 18 Dauh Puri Denpasar, memberi aba-aba, meniup pluit, mengajak anak-anak untuk bermain, mengolah tubuh , berlarian kesana kemari, sambil berdendang, menyanyikan lagu-lagu rakyat, membuat hari-harinya menjadi berguna. Tua bukan berarti berhenti mengabdi. Kecintaannya terhadap dunianya mengalahkan phisiknya yang kian uzur din terpa umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi Taro, mengkoleksi 150 lebih jenis permainan tradisional nyaris punah, yang ia inventarisir sedikit demi sedikit, seperti zikir para pendeta lewat tasbihnya, adalah sebuah sumbangan tak ternilai buat masa depan kita. Bentuk kerja tanpa kata yang ia lakoni menjadikan Taro sebagai sosok soko guru yang patut ditiru oleh generasi kita sekarang. Selamat bekerja terus, si tua karang dalam kebisuan dan kesepian di tengah jaman yang semakin tak berujung…….&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://pocastella.org/Face-Made-Taro.html&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Siapa Bilang Remaja tak Perlu Dongeng&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Dari judul tulisan ini muncul pertanyaan, masih tertarikkah remaja yang sudah duduk di SMA pada dongeng? Selama ini dongeng diidentikkan dengan dunia anak-anak usia anak SD dan TK. Namun, tidak demikian halnya dengan dongeng yang dibawakan oleh (Bapak) Made Taro, pensiunan guru itu. Ternyata model mendongeng Made Taro benar-benar bisa membuat pengapresiasinya yang remaja itu ikut terlibat secara fisik dan mental.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;DONGENGAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; Made Taro benar-benar mendapat sambutan hangat dari para remaja yang sudah berstatus murid SMA. "Dagangan saya laris," kata Made Taro setelah mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi oleh anak yang berusia remaja, seusai mendongeng. Pertanyaan dari para siswa SMA ini diibaratkan dagangan oleh Made Taro. Penulis pun selaku guru sebelumnya bertanya-tanya, apakah remaja tertarik dengan dongeng.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Memang murid SMA yang telah menginjak usia remaja kurang lazim disuguhi dongeng. Pendongeng (Made Taro) pun berkata demikian ketika bicara di hadapan siswa-siswi SMAN 6 Denpasar di Wantilan Jaba Pura Sakenan, Serangan, pada Selasa (14/12) lalu, sebelum mendongeng. "Baru pertama kalinya saya mendongeng di hadapan anak tingkat SMA," kata Made Taro yang biasanya akrab dengan panggilan Pekak Taro karena mendongeng di hadapan anak-anak tingkat TK dan SD.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Walaupun anak-anak tingkat SMA, Made Taro yang pensiunan guru itu ternyata punya strategi yang jitu, bagaimana mendongeng untuk anak yang sudah menginjak usia remaja karena mereka sudah memperoleh pembelajaran sastra -- pengetahuan dan apresiasi. Cara bercerita Made Taro benar-benar menunjukkan keprofesionalan. Keprofesionalan ini telah membuat anak usia remaja terhanyut pada cerita dongeng. ABG beraktivitas berkait dengan dongeng. Dalam tanya jawab pun salah seorang remaja bertanya bagaimana cara mendongeng yang baik, mungkin ABG itu ingin menjadi pendongeng. Banyak pertanyaan yang disampaikan oleh murid SMA, di antaranya mereka bertanya, "Untuk apa kami diajak mengucapkan kata-kata yang aneh?"&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Mungkin ada orang yang bertanya-tanya, "Mengapa anak usia SMA masih disuguhi dongeng atau cerita rakyat? Barangkali gurunya kurang kerjaan?" Pertanyaan semacam ini tentu wajar. Betapa tidak, anak tingkat SMA biasanya kegiatan bersastranya sudah berbentuk puisi modern, cerpen, novel, bahkan berteater. Remaja usia SMA bukan saja sebagai penikmat karya sastra seperti yang tersebut itu, melainkan juga sebagai penulis karya sastra yang potensial. Selama ini dongeng yang selalu diidentikkan dengan dunia kanak-kanak tidaklah selalu benar.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Pertanyaan seperti itu perlu diberi jawaban. Kita mencermati isi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran bahasa dan sastra &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; khususnya untuk SMA. Pada Kemampuan Bersastra, khususnya pada Kompetensi Dasar Menyimak Sastra salah satunya tercantum "Mendengarkan foklor (cerita rakyat) yang disampaikan secara langsung atau melalui rekaman". Kompetensi dasar seperti ini perlu disikapi oleh guru bahasa dan sastra &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sehingga murid benar-benar dapat menikmati cerita rakyat atau dongeng. Selama ini rekaman cerita rakyat belum banyak ada di dalam dunia pendidikan.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Idealnya, guru mampu bercerita atau membawakan cerita rakyat di hadapan murid. Namun, tentulah tidak semua guru bahasa dan sastra mampu bercerita dengan baik -- walau hapal jalan ceritanya. Agar bisa bercerita dengan baik, tidaklah semudah mempelajari pengetahuan dari buku yang bersifat keilmuwan atau berlatih keterampilan berbahasa -- menulis dan membaca, misalnya. Tampaknya bakat sebagai tukang cerita juga menentukan, seperti halnya seorang dalang atau seniman yang lain. Bagi guru yang tidak mampu bercerita dengan baik sebaiknya mencari alternatif. Caranya, guru bisa mengundang tukang cerita sehingga ada suasana yang beda dalam pembelajaran sastra. Murid pun tidaklah selalu belajar di dalam kelas yang bersifat monoton.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Berkaitan dengan mendongeng, ada anggapan umum yang perlu diluruskan. Kuranglah tepat jika dikatakan anak usia remaja tidak layak lagi diberi cerita dongeng -- cerita rakyat. Untuk itulah perlu dipaparkan sedikit konsep dongeng dengan karya sastra berupa cerpen. Cerita rakyat atau dongeng adalah cerita dari mulut ke mulut -- anonim. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penekun sastra tampaknya tidaklah terlalu membuat dikotomi antara dongeng dengan cerpen.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Tampaknya dongeng dengan cerpen dianggap sama saja. Bahkan, sastrawan sekaliber AA Navis (almarhum), sastrawan dari Sumatera Barat, menganggap dongeng dan cerpen sama saja. Marilah dicermati kalimat dalam cerpennya yang berjudul "Robohnya Surau Kami" -- "....Dan biang keladi kerobohan ini adalah sebuah dongengan yang tidak dapat disangkal kebenarannya...." Kutipan kalimat ini jelas menunjukkan bahwa seorang sastrawan tidak membedakan cerpen dengan dongeng. Putu Wijaya (1996) pun mengatakan, "....Di dalam dongeng nenek itulah saya menemukan realitas saya" (pada buku "Zig Zag"). Penjelasan kamus agak kabur, dongeng dikatakan "cerita yang tidak benar-benar terjadi" (Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 274). Apakah kisah cerpen benar-benar terjadi?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Kembali ke peristiwa Made Taro mendongeng di wantilan Pura Sakenan, ada beberapa catatan yang menarik bagi pendongeng, guru bahasa dan sastra, dan masyarakat peminat sastra. Dongeng telah membuka pikiran dan perasaan anak remaja untuk berkomunikasi dengan pendongeng, gurunya, dan dengan temannya. Banyak temannya yang memberikan dukungan moral ketika salah seorang di antaranya bertanya atau memberikan tanggapan. Kegairahan mereka berkomunikasi melebihi dari biasanya kalau mereka belajar di dalam kelas.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Pertanyaan dari pendongeng, "Pesan apa yang ada pada cerita?" tampaknya bukanlah hal yang sulit bagi murid SMA untuk mengungkapnya. Tetapi, diskusi bukan sebatas pertanyaan itu. Pertanyaan murid bertubi-tubi ditujukan kepada pendongeng, termasuk gurunya. Kegairahan anak sangat beda dengan kondisi di kelas. Mereka memang enak diajak berdiskusi daripada "digurui". Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi guru agar terus mencari strategi pembelajaran. Suasana pembelajaran pun akan menggairahkan. Jadi, keuntungan yang diperoleh selain mengangkat nilai-nilai yang ada dalam dongeng, juga menumbuhkan kompetisi para murid untuk berkomunikasi -- tujuan dari pembelajaran bahasa dan sastra menurut KBK.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; juga keuntungan lain dari kegiatan mendongeng di hadapan para remaja. Dengan mengapresiasi cerita rakyat, berarti dunia pendidikan telah mengangkat nilai-nilai budaya masyarakat yang sudah ada sejak dulu ke permukaan. Budaya masyarakat kita adalah budaya kebersamaan, bukan perseorangan. Karya sastra cerita rakyat yang tidak pernah kita tahu siapa penciptanya (anonim) adalah cermin masyarakat kita yang tidak suka pamer kepintaran. Jadi, siapa bilang remaja tak perlu dongeng?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;* igk tribana&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sumber :http://www.balipost.com/BALIPOSTCETAK/2004/12/19/kel1.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8264598157718188986?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8264598157718188986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8264598157718188986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8264598157718188986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8264598157718188986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/made-taro.html' title='Made taro'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SKDwMRmILTI/AAAAAAAAAEw/xp5UWYWEV84/s72-c/taro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3899586597875529119</id><published>2008-08-06T19:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T21:55:22.410-07:00</updated><title type='text'>DONNA WASHINGTON (TAMU KITA.....!)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJqAAy5ndfI/AAAAAAAAAEc/YOtRkR2A_Gc/s1600-h/dona3.gif"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJqAAy5ndfI/AAAAAAAAAEc/YOtRkR2A_Gc/s200/dona3.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231634668296041970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJp_1rf5QJI/AAAAAAAAAEU/YRvycc__iTg/s1600-h/dona2.gif"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJp_1rf5QJI/AAAAAAAAAEU/YRvycc__iTg/s200/dona2.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231634477330546834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJp_rPKkX0I/AAAAAAAAAEM/OeZyqHVqMbc/s1600-h/dona1.gif"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJp_rPKkX0I/AAAAAAAAAEM/OeZyqHVqMbc/s200/dona1.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231634297926213442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Donna Washington&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dlwstoryteller.com/"&gt;http://www.dlwstoryteller.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia salah satu pendongeng terbaik Amerika, dari penampilan video klipnya  kelihatan sekali  Ia sangat ekspresif, kuat dan  imajinatif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3899586597875529119?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3899586597875529119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3899586597875529119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3899586597875529119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3899586597875529119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/donna-washington.html' title='DONNA WASHINGTON (TAMU KITA.....!)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJqAAy5ndfI/AAAAAAAAAEc/YOtRkR2A_Gc/s72-c/dona3.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5824532033287195970</id><published>2008-08-01T20:03:00.001-07:00</published><updated>2008-08-04T21:22:39.308-07:00</updated><title type='text'>Kang Azul (Zulfikar M. Rahman)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJfD2IBAp2I/AAAAAAAAAD8/_YX5uSP8YNg/s1600-h/dominggu.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJfD2IBAp2I/AAAAAAAAAD8/_YX5uSP8YNg/s320/dominggu.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230864826846193506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dongeng Minggu lahir dari concern bersama tentang mulai menghilangnya budaya mendongeng di masyarakat kita. Tak perlu mengangkat nama institusi pencetusnya, esensi dari kegiatan sosial penuh makna ini tak lain ingin memberi alternatif acara yg baik, murah dan edukatif bagi anak2 dan dewasa. Imbuhannya, pemanfaatan area toko buku yg idealnya tidak hanya sbg tempat mencari dan membeli buku, tapi juga sbg tempat penularan nilai2 budaya cinta buku."&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Dongeng Minggu(DM) di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta bakalan diadakan lagi. Seperti biasa, DM akan dimulai pukul 11-13 WIB atau jam 11 ampe jam 1 siang di lantai 3 Toko Buku Gramedia Matraman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://ridathea.multiply.com/photos/album/11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5824532033287195970?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5824532033287195970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5824532033287195970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5824532033287195970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5824532033287195970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/kang-azul-zulfikar-m-rahman.html' title='Kang Azul (Zulfikar M. Rahman)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJfD2IBAp2I/AAAAAAAAAD8/_YX5uSP8YNg/s72-c/dominggu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5466266959596026531</id><published>2008-08-01T19:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T20:19:30.462-07:00</updated><title type='text'>Kak Ucon (Yusron Muchsin)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJPMwIQ-EMI/AAAAAAAAADM/-FSPTjRZp-s/s1600-h/Header.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJPMwIQ-EMI/AAAAAAAAADM/-FSPTjRZp-s/s320/Header.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229748719531724994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://dongengkakucon.blogspot.com/2008/03/timun-mas-vs-kopassus.html"&gt;Timun Mas vs Kopassus&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Adik-adik...kakak datang lagi nih. Semua sudah pada mandi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kakak mau menceritakan pengalaman kakak dalam mendongeng pada Rabu, 12 Maret 2007 lalu. Di hari itu kakak dan seorang pendongeng senior, Kak Eva, diminta untuk membawakan dongeng dalam pembukaan toko buku Gramedia baru di Mall Cijantung, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan dari teman-teman Gramedia itu sangat mendadak, hanya beberapa hari sebelum hari H. Yang membuat kakak dan Kak Eva bingung, durasi waktu mendongeng hanya 10 menit. Bukan itu saja, undangannya pun orang-orang dewasa, kebanyakan para pejabat Kopassus (Komando Pasukan Khusus), mengingat Mall Cijantung memang kepunyaan Kopassus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam sekali pertemuan dengan Kak Eva, bukan latihan yang kita lakukan tapi membahas model dongengnya kayak apa? Dan ceritanya tentang apa? Sekali lagi, mengingat waktunya hanya 10 menit. Sempat kita berdua menawar ke teman Gramedia agar durasi ditambah. Rayuan kita berdua ternyata dahsyat, dongengnya boleh molor hingga 15 menit. Hanya saja di akhir dongeng nanti kita harus membawakan satu lagu bersama-sama dengan para undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sedikit melegakan lagi, dalam acara itu juga ada hiburan paduan suara anak-anak. Anak-anak itu bisa kita pinjam untuk tetap di panggung, sehingga kita bukan melulu mendongengi anak-anak yang sudah kumisan (sebenarnya nggak ada sih Kopassus yang berkumis he he he).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Akhirnya waktu manggung tiba. Kita berdua sepakat model dongengnya kayak main drama, dan ceritanya kita pilih tentang Timus Mas yang sedikit kita modifikasi. Awalnya, Kak Eva keluar panggung sebagai Timun Mas (dengan menggunakan selendang batik) sedang mencari-cari kakeknya. Tapi nggak ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu si kakek, Timun Mas bercerita kalau mau melarikan diri karena ada raja lalim yang suka mengambil paksa warganya. Mereka diminta kerja paksa untuk membangun istananya yang megah. Maka, banyak warga termasuk Timun Mas pilih melarikan diri, mengungsi ke negeri seberang. Sayang, rencana tersebut bocor, sehingga si raja lalim mendatangi wilayah Timun Mas dan kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di sini ada kesalahan, kakak sebagai kakeknya Timun Mas belum waktunya sudah nongol ke panggung -- maklum nggak latihan sama sekali. Untung nggak merusak cerita, ini berkat kepiawaian Kak Eva)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Si Kakek pun memberikan tiga benda ajaib kepada Timun Mas, berupa pasir putih (staerofoam), tongkat ajaib (sedotan) dan tali ajaib (rapia), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sebagai bekal buat pelarian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pesan kakek, benda-benda ajaib itu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;bisa dipergunakan untuk menghindari penangkapan saat si raja mengejar. Hanya syaratnya, benda-benda itu baru &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;akan berfungsi bila dilakukan bersama-sama teman-teman pelarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek lekas pamit karena juga takut dengan si raja lalim. Di balik panggung kakak tetap berteriak-teriak dengan suara berat untuk memerankan raja lalim. (Ceritanya si raja dalam perjalanan dan sudah mendekati daerah Timun Mas. Padahal kakak lagi ganti kostum, berupa rambut ala suporter bola, tangan gantolan ala bajak laut, dan kumis palsu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di panggung, Timun Mas berkoordinasi dengan anak-anak (peserta paduan suara yang tinggal di panggung) untuk melawan si raja bersama-sama, menggunakan benda-benda ajaib. Kepada anak-anak pun dibagikan beragam benda ajaib. Wah, saat itu anak-anak semangat sekali. Bahkan sebagian sempat berdiri berebut benda yang dibagikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kakak sebagai raja lalim muncul dari samping panggung. (Saat ini, juga terjadi peristiwa lucu. Kumis palsu yang kakak pakai copot melulu saat kakak bicara. Akhirnya, kakak copot aja sekalian.) Si raja tidak langsung naik panggung. Dia samperin para undangan, orang-orang Kopassus, untuk mencari Timun Mas. (Eh, ternyata orang TNI yang kelihatan kaku itu mau kakak ajak main-main he he he). Puas mengerjain mereka, baru si raja belok ke arah panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat menginjak panggung, anak-anak dipimpin Timun Mas disambut lemparan pasir ajaib. Ajaib, pasir itu berubah jadi benih tanaman yang tumbuh cepat menjadi pohon-pohon besar alias hutan belantara. Tentu ini menghambat perjalanan si raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sakti, si raja bisa lolos. Hanya saja Timun Mas dan teman-temannya langsung menyambut dengan ayunan tongkat ajaib mereka. "Sim salabiiim...!!" Jreeeng...tiba-tiba kaki sang raja teras berat untuk melangkah. Saat diperhatikan kakinya, ternyata menjadi batu. Perlahan-lahan pinggulnya juga menjadi batu, lalu perut, terus dada, menyusul tangan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mau menyerah, raja pun berusaha berontak agar tak menjadi patung batu. Belum sukses usahanya, anak-anak sudah datang merubung memukul dan mengingat dengan tali ajaib. (Memerankan tokoh antagonis memang nggak enak. Nggak ada dalam cerita kakak sebagai raja dipukuli, tapi anak-anak mengeroyok beneran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena si raja lalim bisa dikalahkan bersama, semua merasa senang. Kita pun bernyanyi bersama, termasuk mengajak para undangan, sambil bertepuk tangan. "Kalau kau senang hati tepuk tangan...plok 3x" dst.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pertunjukan itu benar-benar 10-15 menit. Turun panggung, teman Gramedia menyambut gembira dan memberi selamat. Dia juga berkata, "Sebenarnya bisa lebih lama Kak...!" Nah lho, kan diminta mendongeng hanya 10-15 menit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita jawab saja, "Kalau masih penasaran dengan dongengnya, ya diundang lagi aja he he he (teteup...). Yang pasti kakak dan Kak Eva merasa puas, melihat antusias dari anak-anak maupun dari anak-anak berkumis. Ya, kita berharap kepuasan yang kita rasakan berdua, juga dirasakan oleh para undangan dalam pembukaan toko Gramedia itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber :http://dongengkakucon.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5466266959596026531?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5466266959596026531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5466266959596026531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5466266959596026531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5466266959596026531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/timun-mas-vs-kopassus-adik-adik.html' title='Kak Ucon (Yusron Muchsin)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJPMwIQ-EMI/AAAAAAAAADM/-FSPTjRZp-s/s72-c/Header.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-2239328506455380515</id><published>2008-08-01T19:44:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T20:23:04.373-07:00</updated><title type='text'>Kak Dwi (Dwi Cahyadi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJPKvl58bfI/AAAAAAAAADE/8cB4klB0CEo/s1600-h/100-1967.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJPKvl58bfI/AAAAAAAAADE/8cB4klB0CEo/s320/100-1967.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229746511285087730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Klub Dongeng Kanvas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Didirikan pada tahun 1987 oleh Zak Sorga. Dalam perjalanannya telah mementaskan puluhan naskah bertema sosial-kerakyatan bergaya komedi hitam diberbagai kantong-kantong budaya dan kampus-kampus di seluruh Indonesia, diantaranya : Aljabar, Berbiak dalam Asbak, Reuni Orang-orang, Menumbangkan Kedzaliman, Intifadhah, Blangwir Nylonong di Priok, Konspirasi, Kursi-kursi, Oksodus?Tidak, Peternakan Kota dan Tikus, Di Luar Ruang, Ekosistem diatas Kompor, Revolusi Burung, Melawan Arus Sepatu, Pasukan Berani Malu, Dongeng di Negeri Sulapan, Petruk Gugat/Wek-wek, dll. Tampil di Graha Bhakti Budaya TIM, Gedung Kesenian Jakarta, Taman Budaya Solo, Taman Budaya Lampung, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Teater Kanvas tiga kali berturut-turut memenangkan Festival Teater Jakarta sehingga dinobatkan sebagai Teater Senior.&lt;br /&gt;Sebagai komunitas teater yang berjiwa islami, Teater Kanvas telah dua kali menjadi bahan skripsi S1 yang mengurai tentang kisi-kisi ke-islamannya, salah satunya yang ditulis oleh Siska Dharmayantie SPA. S.Sos.I yang berjudul TEATER SEBAGAI SARANA DA'WAH (Suatu tinjauan terhadap Teater Kanvas jakarta) di Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah.&lt;br /&gt;"Penonton Teater Kanvas kebanyakan warga pengajian (di panggung terbuka menyedot sekitar empat ribu penonton untuk dua malam),-ibu, bapak, pemuda, anak-anak kecil, bayi-bayi, putri-putri berjilbab- yang khusuk, membludak memenuhi gedung pertunjukkan."(Republika, 21 Agustus 1996)&lt;br /&gt;Selain itu, fenomena Teater Kanvas mengundang komentar yang beragam dari banyak pengamat seni dan Seniman seperti : Danarto, Syu'bah Asa, Chaerul Umam, Pepeng dan lainnya.&lt;br /&gt;Saat ini Teater Kanvas telah mengembangkan dan membawahi dua divisi baru, yaitu : KLUB DONGENG KANVAS dan Grup Musik SNACK ANSAMBLE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLUB DONGENG KANVAS...?&lt;br /&gt;Klub Dongeng Kanvas dibentuk akhir tahun 2006......&lt;br /&gt;Beberapa personil Kanvas ternnyata bisa mendongeng dan sering mengisi dongeng di berbagai acara anak-anak...&lt;br /&gt;Akhirnya kita kumpulkan dalam satu wadah di bawah manajemen Teater Kanvas&lt;br /&gt;He..he..he.. lumayan buat side job kalo teater lagi sepi........(juga buat nambah-nambahin uang kas Kanvas...)&lt;br /&gt;Berniat mengundang kami dalam acara anak-anak....?&lt;br /&gt;Silakan Hubungi Kak Dwi Cahyadi 0815-994-6577&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://teaterkanvas.multiply.com/&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-2239328506455380515?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/2239328506455380515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=2239328506455380515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2239328506455380515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2239328506455380515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/08/kak-dwi-dwi-cahyadi.html' title='Kak Dwi (Dwi Cahyadi)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJPKvl58bfI/AAAAAAAAADE/8cB4klB0CEo/s72-c/100-1967.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6723835966173925312</id><published>2008-07-31T23:54:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T23:57:26.255-07:00</updated><title type='text'>Kak Ato (Muhammad Tatohirin)</title><content type='html'>&lt;h1 class="title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 class="title"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mencari Format dalam Mengembangkan Minat Baca Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 class="title"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kamis, 8 Desember 2004&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;                                  &lt;!-- begin content --&gt;  &lt;div class="node"&gt;&lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;JAKARTA - Dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca, bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI, di aula Perpustakaan Nasional RI pada tanggal 8 Desember 2005 sangat menarik untuk disimak. Menurut Muhammad Tatohirin atau yang lebih dikenal dengan nama Kak Ato, gerakan memasyarakatkan minat baca merupakan usaha yang harus dilakukan secara terus-menerus dan memerlukan waktu yang cukup panjang. Di samping itu, untuk keberhasilan sebuah gerakan diperlukan pengkajian tentang problematika sekitar masalah peningkatan minat baca masyarakat. Dengan demikian dapat dibuat formula gerakan yang tepat pada sasaran yang sesuai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masih menurut Kak Ato, masyarakat Indonesia sudah mengenal budaya membaca secara lisan dengan mendongeng pada anak ketika menjelang tidur. Mendongeng dapat dijadikan jembatan untuk mengetahui cerita selanjutnya melalui membaca. Dengan kata lain mendongeng perlu pemikiran, taktik strategi dan kebijakan, yang harus dirumuskan secara konprehensif untuk mencari formula dongeng yang berafiliasi dengan menumbuhkan gerakan minat baca yang paripurna. Demikian menurut Kak Ato yang juru dongeng itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seminar Nasional yang dihadiri oleh 100 orang undangan dari seluruh Indonesia ini menampilkan Okke Hatta Rajasa. Isteri Menteri Perhubungan itu mengusung topik menumbuhkan minat baca melalui kegiatan mobil pintar. Menurut Okke karena kebiasaan membaca memang belum mengakar pada masyarakat kita. Mobil pintar ini tidak melulu membawa buku melainkan berbagai macam permainan yang paling disukai anak, setelah anak menunjukan minat yang baik, terhadap suatu masalah, peran tutor amat berperan dalam membimbing anak dalam mengarahkan menjadi gemar membaca, tetapi itupun memerlukan waktu yang panjang. Peran tutor amat dominan dalam mobil pintar, sehingga pendirian 100 perpustakaan desa pun jika tidak ditunjang oleh tutor yang terlatih teramat mustahil untuk dapat menjamin suatu keberhasilan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seminar menghadirkan pula Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional, yang mengetengahkan program program dan pengembangan budaya baca serta pembinaan perpustakaan desa yang ada di tanah air. Di samping itu Sekjen Dewan Buku Nasional Frans M. Parera juga turut membawakan makalah dengan topik Pengarang, Penerbit buku anak dan kebudayaan prediktif agenda kerjasama dengan komunitas industri buku nasional. Dari kalangan akademisi yang bergabung untuk membawakan makalah adalah Riris K. Toha Sarumpaet yang mengusung topik Pengembangan budaya baca nasional dari sudut pandang akademisi. Semetara itu topik tentang dukungan keluarga dalam menumbuhkan minat baca disampaikan oleh Ketua PKK Pusat. Seminar dibuka oleh Supriyanto, Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional RI.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://intranet.pnri.go.id/berita/index.asp?ID_Record=584" title="http://intranet.pnri.go.id/berita/index.asp?ID_Record=584"&gt;http://intranet.pnri.go.id/berita/index.asp?ID_Record=584&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6723835966173925312?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6723835966173925312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6723835966173925312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6723835966173925312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6723835966173925312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-ato-muhammad-tatohirin.html' title='Kak Ato (Muhammad Tatohirin)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3623928550256952363</id><published>2008-07-31T23:47:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T23:48:55.667-07:00</updated><title type='text'>Kak Wees (Wachidus Sururi)</title><content type='html'>&lt;b&gt;W a c h i d u s   S u r u r i (Kak WeEs)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari kesenangannya mendongeng dan berimajinasi, mendirikan Rumah Dongeng Indonesia. Menurutnya, dongeng selain sebagai media pendidikan pada anak juga dapat menumbuh-kembangkan daya imajinasi anak sebagai pendorong kreatifitas dalam mengapresiasi lingkungan dan hidupnya. Keuntungan dongeng dan lebih dari sekedar hiburan adalah adanya kedekatan anggota keluarga bahkan masyarakat menjadi lebih akrab dan saling memiliki, media pendidikan tanpa menggurui dan sebagai media pematangan jiwa. Dongeng pun dapat dijadikan media komunikasi alternatif di kalangan anak jalanan untuk memudahkan penyampaian pesan-pesan tersembunyi dari para pendampingnya. Mendongeng bisa dipandang sebagai wujud kasih sayang, karena dengan kegiatan mendongeng akan tercipta hubungan batin yang akrab dan hangat antara anak dengan orang tua. Selain itu, mendongeng juga bisa berfungsi untuk mentransfer nilai-nilai kehidupan dan pesan-pesan moral kepada generasi mendatang dengan cara wajar, santai dan menyenangkan. Strategisnya fungsi mendongeng inilah yang kemudian melatari Kak WeEs untuk memilih menjadi pendongeng profesional.&lt;br /&gt;:: Lembaga Rumah Dongeng Indonesia Jl. Saman RT 04/RW. 15 No. 114 BangunHarjo, Sewon, Bantul YOGYAKARTA-55187 Telp.: 0274-387292, Fax: 0274-372084&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://www.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="a"&gt;indonesia.ashoka.org&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3623928550256952363?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3623928550256952363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3623928550256952363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3623928550256952363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3623928550256952363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-wees-wachidus-sururi.html' title='Kak Wees (Wachidus Sururi)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3358848593803397111</id><published>2008-07-31T23:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-21T00:19:58.293-07:00</updated><title type='text'>Kak Imung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK0XCFCec-I/AAAAAAAAAFQ/ARodDRwQA2M/s1600-h/kak-Imung-mendongeng.JPG"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK0XCFCec-I/AAAAAAAAAFQ/ARodDRwQA2M/s320/kak-Imung-mendongeng.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236867266181493730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="smJudul"&gt;&lt;h2&gt;&lt;span&gt;Tanamkan Cinta Islam lewat Dongeng&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="smIsi"&gt;&lt;p id="mulai"&gt;''&lt;b&gt;PEMBERIAN&lt;/b&gt; nama kepada anak selain merupakan doa, juga sebagai peringatan. Contohnya Yanuarto karena lahir Januari. Febrianti lahir...,'' kata Kak Imung. Sekitar 150 anak di Masjid Baitul Muttaqien, Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan menyambung bersama-sama, ''Februari''. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika Kak Imung mengatakan Apriliani, Meilani, dan Juni, anak-anak pun langsung menyebutkan bulan kelahiran nama-nama itu dengan tepat. ''Kalau Barjuli lahir...,'' kata Kak Imung. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anak-anak serempak menjawab Juli. ''Agustus,'' kata ustad itu. ''Juli,'' bantah siswa-siswi taman pendidikan Alquran itu tak mau kalah. ''&lt;i&gt;Bar&lt;/i&gt; (setelah) Juli kan Agustus,'' jelas Kak Imung. Spontan semua hadirin, termasuk para remaja anggota IPNU/ IPPNU yang menjadi panitia safari dongeng anak di masjid itu, terpingkal-pingkal. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itulah salah satu gaya Kak Imung dalam membawakan dongeng anak Islam. Metode lain adalah bernyanyi. Lagu anak-anak &lt;i&gt;Pada Hari Minggu&lt;/i&gt; diubah syairnya dengan kata-kata untuk menanamkan kecintaan anak kepada Islam. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Di bulan Ramadan kita wajib berpuasa, agar menjadi takwa pada Allah Ta'ala, banyaklah membaca Alquran dan sunah, jangan kotori dengan amal yang sia-sia, agar mendapatkan banyak pahala.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Langkah-langkah itu hanya sebagai pengantar sebelum Kak Imung membawakan kisah anak yang &lt;i&gt;mbolos&lt;/i&gt; mengaji. Di tengah-tengah cerita, kalau peserta tampak kurang antusias, dia kembali melakukan hal-hal yang membangkitkan semangat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Jadwal Penuh&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Contohnya melucu, mengajak bertepuk tangan, dan menyanyi. Hasilnya, selama dua jam dia mendongeng, anak-anak selalu mengikuti dengan gembira. Tak ada yang mengeluh atau rewel. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama asli dia adalah Mulyadi Yulianto SPt, kini duduk di lajnah pendidikan dan pengajaran Al Irsyad, Purwokerto. Profesinya sebagai pendongeng membuat dia harus berkeliling setiap hari selama Ramadan ini, baik di taman pendidikan Alquran, masjid maupun sekolah. Pada hari libur, bahkan dua kali dia harus mendongeng, yakni pagi dan sore. Permintaan banyak sekali, kalau dipenuhi bisa sehari tiga kali. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kak Imung mengaku senang dan bangga bisa membuat anak senang dan bersemangat belajar agama. Anak-anak adalah generasi yang harus mendapat pendidikan agama. Untuk mengajar mereka perlu metode khusus. Selama ini kebanyakan yang dipakai adalah metode untuk orang tua. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama Ramadan ini, Kak Imung memenuhi panggilan mendongeng atas nama Masjid Fatimatuzzahra Jl Gunung Muria (kompleks Unsoed). Masyarakat yang ingin mengundang Kak Imung, harus lewat masjid tersebut dengan peserta minimal 50 anak. Untuk acara mendongeng itu tidak dipungut biaya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendala yang dihadapi dalam memenuhi permintaan mendongeng selama bulan Puasa ini adalah hujan yang turun hampir setiap sore. Asal penyelenggara siap, walau hujan, Kak Imung tetap datang. (&lt;b&gt;Budi Hartono&lt;/b&gt;-20n)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sumber : http://www.suaramerdeka.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr noshade="true" width="600"&gt;&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0411/11/x_nas.html"&gt;Berita Utama&lt;/a&gt; |&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3358848593803397111?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3358848593803397111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3358848593803397111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3358848593803397111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3358848593803397111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-imung.html' title='Kak Imung'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SK0XCFCec-I/AAAAAAAAAFQ/ARodDRwQA2M/s72-c/kak-Imung-mendongeng.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-9200578521497333086</id><published>2008-07-31T23:29:00.001-07:00</published><updated>2008-07-31T23:33:40.609-07:00</updated><title type='text'>UKIR PERILAKU ANAK DENGAN DONGENG (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"   &gt;Mendongeng boleh dibilang kegiatan sangat sederhana. Tapi faktanya, tidak semua orang mampu melakukan. Gambaran sederhananya, mendongeng adalah bertutur dengan intonasi yang jelas, menceritakan sesuatu hal yang berkesan, menarik, punya nilai-nilai khusus dan punya tujuan khusus pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng berbeda dengan bercerita yang sebagian besar bahannya berdasarkan fakta dengan bahasa yang datar dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;color:navy;"  &gt;baku&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"   &gt;. Mendongeng lebih banyak disisipi khayalan, bahkan cenderung membual. Meski ada unsur membual, mendongeng punya tujuan jelas yaitu menyampaikan pesan-pesan moral tanpa berkesan menggurui atau memaksakan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak, penyampaian pesan tanpa mendoktrinasi mereka sangatlah penting. Anak-anak tidak dapat dipaksa untuk melakukan perbuatan begini atau bersikap begitu. Mereka harus diberi contoh. Salah satu cara memberi contoh perbuatan yang baik atau buruk, media yang pas buat anak adalah mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tua sebenarnya punya bakat mendongeng. Tapi berani bertaruh, hanya segelintir saja dari mereka yang mau mengasah bakat mendongengnya. Dengan alasan tidak punya waktu dan sebagainya, media ideal ini terabaikan. Padahal jelas-jelas murah dan dapat dilakukan kapan saja, asal suasana hati anak pas senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua lebih suka berteriak,"Budiiiii, jangan nakal. Bapak sentil nanti. Kamu tidak boleh begini, begitu" dan seterusnya. Dengan cara itu, maksud orang tua untuk melarang anak melakukan sesuatu dengan cepat kesampaian. Tapi apakah hal itu efektif. Belum tentu. Malah, bisa jadi anak-anak bakal reaktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendongeng, anak diajak berinteraksi, diajak berfantasi dan berpikiran kritis. Maka jangan heran, jika di saat Anda asyik mendongeng --tentu saja bila materinya mengasyikkan-- anak-anak akan bertanya,"Lho Pak, kok begini, kok begitu, Terus bagaimana? Kalau begini bagaimana?" dan seterusnya. Memang butuh waktu dan tenaga. Tapi niscaya, hasilnya bisa dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan 'survey acak', orangtua--khususnya kaum ibu-- ternyata juga suka mengembangkan bakat berceritanya. Tapi kalau tidak disalurkan dengan benar, kegiatan bercerita -yang sudah dibumbui dengan bualan dan kebohongan-bagi orang tua itu-- akan berubah menjadi kegiatan ngomongin tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lho! Pilih mana, mendongeng kepada anak atau bercerita ngalor-ngidul dengan tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuan Luhur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara gamblang tokoh dongeng &lt;b&gt;Kusumo Priyono Ars&lt;/b&gt; atau yang disapa akrab &lt;b&gt;Kak Kusumo&lt;/b&gt; menjelaskan, kegiatan mendongeng sebenarnya tidak sekedar bersifat hiburan belaka, melainkan memiliki tujuan yang lebih luhur, yakni pengenalan alam lingkungan, budi pekerti dan mendorong anak berperilaku positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, cakrawala pemikiran anak dapat berkembang sesuai dengan nalurinya. Apabila diperhatikan, anak-anak mempunyai jiwa perasaan halus dan mudah terpengaruh. Sudah menjadi sifat mereka untuk suka mencontoh atau meniru. Begitu pula mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang menarik minal anak sehingga menumbuhkan fantasi serta imajinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru taman kanak-kanak atau sekolah dasar yang terbiasa mendongeng, barangkali tidak menyadari bahwa melalui berbagai cerita yang didongengkannya, ia tengah menyajikan fakta-fakta secara sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika guru bercerita tentang sekuntum bunga mawar atau kupu-kupu yang cantik, secara tidak langsung ia sedang mengajarkan ilmu pengetahuan alam dengan cara yang paling sederhana dan menarik. Meski demikian, hakekat dari cerita itu, kata Kusumo, bukanlah kumpulan ilmu pengetahuan dengan cara yang paling sederhana dan menarik. Meski demikian, hakekat dari cerita itu bukanlah kumpulan ilmu pengetahuan alam, lampiran geografi atau pemaparan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cerita dan bercerita adalah bagian dari olah seni. Oleh karena itu, orang tua dapat mengajarkan anak tentang fakta-fata yang menarik dari kumbang, kupu-kupu, bunga atau apa saja dengan cara mendongeng-mengantarkan keindahan alam langsung kehadapan anak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan lain dari mendongeng di kelas, kata Kusumo adalah menghadirkan atmosfer relaksasi di kelas, bermanfaat sebagai media penyegaran yang kreatif. Di samping itu, mendongeng merupakan cara termudah, tercepat untuk membina hubungan antara guru-murid dan salah satu cara paling efektif untuk membentuk tingkah laku di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, tujuan utama mendongeng adalah memperkaya pengalaman batin anak dan menstimulir reaksi sehat atasnya. Tentu, hasilnya jelas tidak dapat dilihat seketika. Berdasarkan kecenderungan dari sifat-sifat anak, jelaslah bahwa mendongeng bukanlah perkara gampang. Di dalam memilih cerita dongeng misalnya, orang tua dituntut selektif dan jangan asal memilih cerita. Sebab, bisa jadi suatu cerita justru merangsang perilaku negatif anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"   &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: http://lebah.formasi.com/bpr_home1.html&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-9200578521497333086?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/9200578521497333086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=9200578521497333086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/9200578521497333086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/9200578521497333086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/ukir-perilaku-anak-dengan-dongeng.html' title='UKIR PERILAKU ANAK DENGAN DONGENG (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3127024797390282205</id><published>2008-07-31T23:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T02:20:23.555-07:00</updated><title type='text'>Kak Agus DS (Agus Djapan Sodik)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMiy__21gI/AAAAAAAAAHY/BCIUI06W_90/s1600-h/ds.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMiy__21gI/AAAAAAAAAHY/BCIUI06W_90/s320/ds.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387187838833317378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Dongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt; Sarat Pesan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:date year="2008" day="29" month="5"&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;Thursday, 29 May 2008&lt;/nobr&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:date&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;Gerakan, mimik, visual, dan didukung peranan boneka membuat sebuah &lt;b&gt;&lt;span&gt;dongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; menjadi istimewa.&lt;/nobr&gt; Di Pendopo Petra Toga Mas Surabaya ramai dengan anak-anak yang asyik menyaksikan pertunjukan sulap dari Agus Djapan Sodik. &lt;b&gt;&lt;span&gt;Kak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Agus, demikian dia dipanggil, adalah pendongeng sekaligus pesulap. Sulap yang dibawakan di antaranya permainan kartu remi, tukar dua pipa yang di dalamnya ada gelas dan botol, bernyanyi dengan menirukan suara hewan, dan &lt;b&gt;&lt;span&gt;mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; dengan menggunakan boneka Bio. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Saat salah satu anak diminta mengambil satu kartu dan &lt;b&gt;&lt;span&gt;Kak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Agus meminta menunjukkan kepada teman-temannya.Kartunya 10 hati. Kemudian kartu tersebut dikocok lagi, lalu diambilnya kartu tersebut. Ternyata kartunya sama 10 hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aksinya berlanjut dengan boneka Bio. Sebelum bernyanyi boneka Bio ditanya &lt;b&gt;&lt;span&gt;Kak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Agus. “Berapa umurmu Bio?” tanya &lt;b&gt;&lt;span&gt;Kak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Agus. Kata Bio, umurnya 715 tahun. Anak-anak tertawa karena itu adalah hari jadi &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Juga ada boneka Sogik dan Berang. Tiga boneka ini menghibur anak-anak yang hadir pada acara Performance&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;Mendongeng&lt;/nobr&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span&gt; yang diadakan Kanisius bekerja sama dengan Petra Toga Mas, Minggu (25/5).Berbagai cerita dibawakan dengan apik oleh pendongeng berkepala plontos ini. Menurut August Windu Aji, Marketing Communication Kanisius, sebenarnya Performance &lt;b&gt;&lt;span&gt;Mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; ini bagian Tour Road Show yang diawali dari &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Jogjakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Semarang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;, kemudian dilanjutkan di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Malang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;, Jember, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Bali&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span&gt;. Di Surabaya diawali dengan workshop yang diadakan Sabtu (24/5) kemudian Perfomance &lt;b&gt;&lt;span&gt;Mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; yang dibawakan oleh Agus Djapan Sodik, jelas Windu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Kiprah Agus sudah tidak diragukan lagi. Dia mengisi acara di stasiun televisi, seperti Kring-kring Oh Lala, Cabe Rawit,dan Pesta Anak sekaligus &lt;b&gt;&lt;span&gt;mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; di luar negeri. Baginya, &lt;b&gt;&lt;span&gt;mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; memberikan nilai atau moral yang baik melalui kemasan yang ringan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Gerakan, mimik, visual, dan didukung peranan boneka membuat sebuah &lt;b&gt;&lt;span&gt;dongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; menjadi istimewa. Ketika mengadakan workshop di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;, Agus diminta membuat buku tentang &lt;b&gt;&lt;span&gt;mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Permintaan ini dipenuhi dan terbitlah buku &lt;b&gt;&lt;span&gt;Mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Bareng &lt;b&gt;&lt;span&gt;Kak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Agus Ds, Yuk! Pengerjaan buku ini memakan waktu empat bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Dengan &lt;b&gt;&lt;span&gt;dongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; pula anak mengenal banyak pengetahuan sekaligus membuka imajinasi. Seperti yang dialami anak-anak dari Panti Asuhan Don Bosco, &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span&gt;Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span&gt;, yang penuh semangat memperhatikan &lt;b&gt;&lt;span&gt;Kak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Agus &lt;b&gt;&lt;span&gt;mendongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span&gt;Dongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span&gt; yang menarik tidak menggurui. &lt;b&gt;&lt;span&gt;Dongeng&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; harus bisa membuat anak-anak tertarik, terlibat, dan merasakan pengalaman baru. Jika sudah masuk dalam zona ini mudah bagi siapa saja untuk memasukkan pesan, asal tetap dikemas menarik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Oleh Agustinus Sepanca Naryanto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;Guru Ekstrakurikuler Teater dan Staf IT SMA St Maria, Surabaya&lt;/nobr&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;as_024@yahoo.com&lt;/nobr&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;Surya Online&lt;/nobr&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;nobr&gt;http://www.surya.co.id/web&lt;/nobr&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;nobr&gt;&lt;/nobr&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3127024797390282205?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3127024797390282205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3127024797390282205' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3127024797390282205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3127024797390282205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/agus-djapan-sodik.html' title='Kak Agus DS (Agus Djapan Sodik)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SsMiy__21gI/AAAAAAAAAHY/BCIUI06W_90/s72-c/ds.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-594534596430344286</id><published>2008-07-31T19:43:00.001-07:00</published><updated>2008-07-31T19:45:10.391-07:00</updated><title type='text'>Kak Aga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJJ4dk7VGoI/AAAAAAAAAC8/UEvd9o2cJXU/s1600-h/Dongeng-Di-Garda-Otto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJJ4dk7VGoI/AAAAAAAAAC8/UEvd9o2cJXU/s320/Dongeng-Di-Garda-Otto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229374566854630018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;8 Resolusi 2008&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Sebenarnya banyak sekali resolusi saya di 2008. Secara gitu loohh… 2008, saya harus membangun kembali puing-puing sisa kejayaan masa kuliah. Loohh... apa hubungannya dengan kuliah? kan udah beresss.... Yaaa, maksudnya masa kejayaan saya, semuanya saya peroleh di masa-masa kuliah, dari mulai prestasi lomba, prestasi belajar, sampai dengan nominasi-nominasi, award-award dan oscar-oscar lainnyahhh...hehehee....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Saya sedang membantu sebuah sekolah yang dulu saya pernah mengajar dengan sedikit pengetahuan dan wawasan tentang dunia pendidikan. Dan saya kepengen sekolah itu maju, baik dari segi SDM pengajarnya maupun anak-anaknya. Sekolah itu letaknya di desa dan para gurunya sampai sekarang digaji melalui dana BOS. Saya ingin memajukan sekolah tersebut dari segi kualitas sumber daya manusia yang dihasilkannya. Terima kasih banyak-banyak buat mas Hernowo yang telah banyak memberikan ilmu tentang pendidikannya, sehingga ilmu yang sedikit saya serap itu akan saya sumbangkan. Mudah-mudahan ilmunya tambah hebat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Saya memproyeksikan di 2008, sy harus memliki mobil yang nyaman (mimpinya  pengen avanza sihh.... biar kalo hujan ga kehujanan dan panas ga kepanasan.&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Saya bermimpi mendapatkan beasiswa dari luar negeri untuk mengembangan ilmu tentang dunia kependidikan. Tahun ini saya gagal, mudah-mudahan tahun depan saya sukses.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Pada tahun 2008, akan membaca lebih      banyak buku minimal sebulan lebih dari 1 buku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Saya harus bisa membuat satu buah buku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Novel anak di tahun 2008 minimal 2, dan      buku cerita anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Saya akan lebih sering membuat resensi dari produk-produk anak tentunya. Kenapa produk anak? Secara gitu produk anak itu memang produk yang saya senengin. Saya bersyukur juga, bahwa 2 resensi buku anak saya sudah di muat di kompas anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Saya ingin tampil sebagai pendongeng tetap di salah satu media elektronik, lebih khususnya mungkin Radio. Saya ingin bekerja sama dengan salah satu radio di Bandung&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Saya ingin lebih fokus lagi dalam membimbing anak. Saya ingin anak saya merasa aman dan nyaman dalam naungan kedua orang tuanya,khususnya saya sebagai bapaknya. Saya ingin memberikan seluruh kemampuan terbaik, kasih sayang,materi (yang meskipun tidak begitu banyak), waktu, dan semuanya..semuanyaaa...yang ada dalam diri saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;               &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Amin...&lt;br /&gt;Ya Allah bimbing saya dalam mengarungi mimpi-mimpi itu, agar tetap hidup di dalam diri saya. Sehingga saya tetap istiqamah dan mampu menjaga Api itu tetap menyala....&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Amin ya Rabbal Aalamiinn....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://agarumahdongeng.multiply.com/journal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-594534596430344286?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/594534596430344286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=594534596430344286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/594534596430344286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/594534596430344286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-aga.html' title='Kak Aga'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJJ4dk7VGoI/AAAAAAAAAC8/UEvd9o2cJXU/s72-c/Dongeng-Di-Garda-Otto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6039660498827683391</id><published>2008-07-31T19:26:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T19:31:33.950-07:00</updated><title type='text'>Kak Agam</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJJ0xH6mEzI/AAAAAAAAAC0/hpI-aQRaEvM/s1600-h/agam+nyengir+1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJJ0xH6mEzI/AAAAAAAAAC0/hpI-aQRaEvM/s320/agam+nyengir+1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229370504617792306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada zaman serba canggih seperti sekarang, kegiatan mendongeng di mata anak-anak tidak populer lagi. Sejak bangun hingga menjelang tidur, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari film kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti videogame.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;KENDATI demikian, kegiatan mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. &lt;span lang="SV"&gt;Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.&lt;span style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena Kak Agam di sini tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan Kak Agam, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tidak ada batasan usia yang ketat mengenai kapan sebaiknya anak dapat mulai diberi dongeng oleh Kak agam. Untuk anak-anak usia prasekolah, dongeng dapat membantu mengembangkan kosa kata. Hanya saja cerita yang dipilihkan tentu saja yang sederhana dan kerap ditemui anak sehari-hari. Misalnya dongeng-dongeng tentang binatang. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah dasar dapat dipilihkan cerita yang mengandung teladan, nilai dan pesan moral serta problem solving. Harapannya nilai dan pesan tersebut kemudian dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Keberhasilan suatu dongeng tidak saja ditentukan oleh daya rangsang imajinatifnya, tapi juga kesadaran dan kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik. Untuk itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kak Agam&lt;/span&gt; dapat menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka atau berbagai buku cerita sebagai sumber yang dapat dibaca oleh orang tua sebelum mendongeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : http://kakagam.multiply.com/tag/dongeng%20indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6039660498827683391?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6039660498827683391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6039660498827683391' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6039660498827683391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6039660498827683391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-agam.html' title='Kak Agam'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJJ0xH6mEzI/AAAAAAAAAC0/hpI-aQRaEvM/s72-c/agam+nyengir+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-95219391151362085</id><published>2008-07-30T20:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T20:43:45.945-07:00</updated><title type='text'>Kak Joko (Djokolelono)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE0lD5vB1I/AAAAAAAAACg/DBd-qYkeY0E/s1600-h/18.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE0lD5vB1I/AAAAAAAAACg/DBd-qYkeY0E/s320/18.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229018453661124434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Bicara Tentang Dongeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Siang disudut Children Corner Toko Gunung Agung di Tendean Plaza, Jakarta Selatan. Lebih 50 anak-anak kecil berkumpul membentuk setengah lingkaran asyik menyimak dongeng yang diceritakan Djokolelono. Dengan mimik lucu, bersahabat dan kadang diseling bahasa yang diplesetkan menjadi sebuah lelucon yang menyegarkan. Bukan hanya kata dan lelucon, juga dengan sajian gambar-gambar menarik di tiap lembaran kertas, semakin membuat sekumpulan anak itu betah tak beranjak dari tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trend barukah ini? Mendongeng dengan dilengkapi gambar atau alat peraga lain seperti boneka, wayang dan lainnya. Menurut Djokolelono pecinta anak, hal ini tergantung pandangan orang, apalagi yang tidak terbiasa. Bagi pria berambut merah dan eksentrik ini, mendongeng dengan dilengkapi gambar merupakan siasatnya agar anak lebih konsentrasi menyimak dongeng yang dia sajikan. Gambar hanya sebagai alat untuk menarik perhatian anak. Selain gambar sebagai alat agar anak konsentrasi menyimak dongeng, ada juga pendongeng yang memanfaatkan boneka, juga wayang sebagai pelengkap. “Karena anak sampai umur 5 tahun, perhatian mereka pada sesuatu masih mudah terpecah atau terpengaruh ketika melihat obyek lain,” ungkap Djokolelono. Kadang juga dilengkapi dengan bunyi-bunyian untuk memikat perhatian mereka. Djokolelono yang tertarik pada dunia dongeng ini mulai asyik menekuni dunia anak sejak ia menulis cerita anak-anak. Tentu saja karena ia senang pada anak-anak, dengan visi menghibur dan cerita menjadi nomor dua, tentu cerita dengan muatan pesan moral yang baik. Seperti siang itu ia mendongeng tentang sebuah persahabatan antara seorang anak dan sebatang pohon. Sebuah persahabatan antara alam dan manusia yang saling memberi dan menerima, saling membutuhkan. Meski dalam cerita ini digambarkan anak sejak kecil hingga tua renta lebih banyak meminta pengorbanan sang pohon. Tentang pohon yang diminta mengorbankan diri dari mulai daun, ranting, dahan bahkan tubuhnya, pohonnya sendiri untuk ditebang sebagai bahan membuat rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djokolelono melihat dunia anak seperti dunianya dulu ketika masih kanak-kanak yang senang bila orang tua mendongeng untuknya. Ketika kecil ia suka menonton wayang dengan suritauladan antara kejahatan dan kebaikan, antara hitam dan putih. Dan ia merasa terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat disayangkan adalah mulai memudar bahkan hilangnya permainan tradisional anak seperti petak umpet, gangsingan, gobag sodor atau permainan lain yang sering dilakukan anak-anak ketika terang bulan dihalaman rumah. Kini sejalan dengan perkembangan dunia, anak lebih suka bermain playstation atau melihat film laga anak-anak dari negeri asing yang membanjiri dunia pertelevisian kita. “Hal ini merupakan kegagalan kita mempertahankan atau setidaknya melestarikan permainan tradisional. Namun saya kira belum terlambat untuk mengembalikan dan mengenalkan kembali anakanak kita pada permainan tradisional,” kata Djokolelono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menumbuhkan kembali kecintaan anak pada permainan dan cerita rakyat bisa saja dimulai dengan melakukan metode-metode tertentu. “Tapi jangan drastis, bisa saja kita membuat wayang dengan jalan cerita yang up to date. Cerita anak dengan tokoh yang mudah dikenal dan diingat anak, dengan nama yang populer. Kita lihat cerita Keluarga Cemara, cukup bagus meski konon masih kalah dengan Harry Potter. Tapi itu saya kira&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;terletak pada marketingnya,” Katanya panjang lebar. Menumbuhkan kembali kecintaan anak pada cerita negeri sendiri agar tidak dilakukan dengan drastis karena dia punya alasan, bila kita paksakan anak harus kembali pada cerita rakyat dengan mengenalkan hikayat atau apapun namanya dikhawatirkan terlalu ekstrim sehingga anak akan kaget dan acara seperti mendongeng bisa menjadi klasik, kuno, terlalu tradisionil. “Karena itu pelan-pelan, setahap demi setahap kita kenalkan anak pada cerita dengan nama-nama umum dan tentunya yang bermuatan moral yang baik, tentang budi pekerti,” Kata pria yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan periklanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang komik yang saat ini membanjiri toko-toko buku, kita bisa sangat kompleks kalau bicara masalah komik sebagai sumber manusia. Dunia industri komik tidak menguntungkan, seperti labirin layaknya. Masih juga komik dari luar lebih maju dengan penyajian gambar dan cerita yang menarik. “Dulu masanya Ali Sadikin kita dilecut untuk membuat buku. Itu sangat bagus, namun sempat menurun akibat masuknya buku-buku import. Saya ingin dunia buku atau cerita anak berkembang lagi dengan kekayaan cerita yang kita miliki,” katanya. Ingat saja ketika serial Mahabharata atau Ular Putih ditayangka televisi, saat itu opera tradisional sempat naik pamor lagi dengan dibungkus cara-cara modern. Pernah juga kita buat film animasi yang menyajikan cerita rakyat seperti Cindelaras, Hang Tuah, Bawang Merah Bawang Putih dan lainlain. Namun hanya sesaat filmfilm animasi ini muncul kepermukaan. Menurut Djokolelono cerita anak bagus tapi dari segi promosi kurang, di iklan cetak promosi sangat berperan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang mulai nampak menggembirakan saat ini menurut Djokolelono kehadiran toko buku dan kebutuhan buku mulai terasa. Anak-anak kembali ke toko buku, peran buku sudah eksis lagi, mereka mulai merasakan kebutuhan akan bacaan apalagi bila saat-saat tertentu dihadirkan acara-acara menarik seperti mendongeng di toko buku, akan semakin menarik minat anak pergi ke toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakhir perbincangan, Djokolelono berharap Toko Gunung Agung membuat serial buku anak yang populer sifatnya. Bisa saja diambil dari media televisi yang kemudian dikemas menjadi buku. Juga tentunya kreatifitas dan peran serta para penulis kita untuk turut menyumbangkan cerita bagi anak-anak kita.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  Sumber : http://www.tokogunungagung.co.id/index.php?go=read_toga_news&amp;amp;id=18&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-95219391151362085?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/95219391151362085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=95219391151362085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/95219391151362085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/95219391151362085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-joko-djokolelono.html' title='Kak Joko (Djokolelono)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE0lD5vB1I/AAAAAAAAACg/DBd-qYkeY0E/s72-c/18.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-2949079654648321892</id><published>2008-07-29T01:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T01:11:40.795-07:00</updated><title type='text'>MENJADI PENDONGENG TERBAIK (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menjadi Pendongeng Terbaik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kegiatan mendongeng tidak semata-mata berarti menceritakan tentang dongeng-yang bermuatan kisah rekaan ataupun khayalan-pada anak-anak. Lebih luas dari itu, mendongeng lebih berarti bercerita tentang apa saja pada anak-anak atau para penyimak lainnya. Bahan cerita bisa bersumber dari buku-buku (dongeng, cerita rakyat, fabel, dan sebagainya) maupun kisah karangan si pencerita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Memang, dongeng bisa dinikmati siapa saja, namun sejauh ini anak-anak bisa dikatakan sebagai penonton atau sasaran utama. Umumnya, kegiatan mendongeng atau bercerita memang dekat dengan kehidupan anak-anak. Cerita-cerita yang dibacakan ataupun disampaikan umumnya dikemas sedemikian rupa agar dapat dicerna para penikmat cilik ini. Dengan kemampuan membaca yang rata-rata masih minim, penyampaian cerita secara lisan tepat ditujukan untuk anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pudentia MPSS, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, mengatakan, sebenarnya awal kegiatan mendongeng itu sebagai salah satu sarana hiburan maupun pengisi waktu luang. Apalagi di masa belum ada alternatif hiburan dari media lain seperti televisi, mendongeng menjadi hiburan dan sekaligus sarana komunikasi seseorang dengan anak maupun lingkungannya. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, sama nasibnya dengan tradisi lisan lainnya, peran kegiatan mendongeng atau bercerita kemudian digantikan media lain. Menyusul munculnya tradisi tulisan, perkembangan industri percetakan, hingga masa multimedia seperti saat ini, cerita tidak harus dinikmati dari mendengarkan omongan seorang pencerita. Peran pencerita digantikan oleh banyak pihak dan banyak bentuk dalam industri media hiburan. "Sebenarnya tidak masalah jika terjadi secara alamiah, namun persoalannya kita tidak sadar ada yang berharga di situ," Pudentia menjelaskan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Diakui, selain sebagai salah satu bentuk hiburan, kegiatan mendongeng mempunyai posisi yang "menguntungkan". Selain bertugas menghibur, kegiatan ini juga bisa menjadi sarana didaktis. "Melalui ekspresi, penjiwaan, dan komunikasi orangtua atau penutur, anak akhirnya bisa mempersonifikasi dan memilih unsur yang baik dari cerita," ungkap Pudentia. Henny Supolo, pemerhati persoalan pendidikan anak, juga mengungkap hal serupa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Menurut Supolo, hubungan kegiatan mendongeng dengan pembentukan kepribadian anak terjadi saat anak mulai dapat mengidentifikasi tokoh. "Ketika anak ikut hanyut dalam cerita, ia segera melihat dongeng dari mata, perasaan, dan sudut pandangnya," jelas Supolo. Melalui pendekatan mendongeng, nilai-nilai kemanusiaan dapat ditanamkan pada anak tanpa terasa seperti digurui. Proses penyerapan cerita dan pesan-pesan di balik cerita, menurut Supolo, sangat berharga bagi proses belajar anak. Proses ini bahkan terus berlanjut setelah kegiatan bercerita tersebut selesai, melalui diskusi atau tanya jawab yang berlangsung pada anak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;DENGAN memandang kegiatan mendongeng tidak semata sebagai sarana hiburan, muncul pertanyaan, kualifikasi seperti apakah yang layak menjadi pendongeng atau pencerita yang baik? Sejauh ini memang tidak ada batasan ataupun persyaratan ketat bagi seseorang pendongeng. Namun, beberapa pengamat menganggap unsur kedekatan antara pendongeng dan pendengar menjadi unsur yang patut dipertimbangkan. Menurut Pudentia, misalnya menganggap yang pertama dan utama menjadi seorang pendongeng bagi anak adalah orangtua. Tugas bercerita ini terutama sebaiknya dilakukan sang ibu yang sejak awal sudah memiliki kedekatan dengan anak. "Kegiatan mendongeng sebetulnya bisa mulai dilakukan sejak sang anak masih dalam kandungan," jelas Pudentia. Kegiatan mendongeng yang dimaksud di sini tidak berarti harus bercerita panjang lebar tentang sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;"Hanya dengan membunyikan sesuatu yang imajinatif secara singkat pun sebetulnya orangtua sudah masuk dalam dunia mendongeng," Pudentia menambahkan. Sayangnya, sejauh ini masih banyak orangtua yang belum terlalu sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan itu-sering kali secara naluriah-sesungguhnya sudah masuk ke area mendongeng. Padahal, bentuk hubungan orangtua dan anak yang secara dini seperti inilah yang perlu dikembangkan. "Banyak orangtua saat ini tidak punya waktu untuk mendongeng, lalu mengalihkan tugas tersebut kepada orang lain. Menyedihkan. Padahal sebetulnya, justru perlu ditumbuhkan dari keluarga, dan ini yang terbaik," keluh Pudentia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Selain orangtua, belakangan memang bermunculan orang- orang yang secara khusus bercerita atau mendongeng bagi anak-anak. Di kalangan ini, ada yang kemudian benar-benar mengembangkan kemampuan mendongeng secara profesional dan dikenal sebagai seorang pendongeng atau story teller. Untuk menjadi para pendongeng yang sering kali tampil di atas "panggung" ini, sudah tentu diperlukan keahlian khusus. Hal ini diakui oleh Margareth Read MacDonald, seorang story teller asal Amerika Serikat. Menurut MacDonald, setiap orang bisa menjadi seorang pendongeng yang baik. Ia juga menjelaskan, tidak semua pendongeng harus identik bercerita dengan tampil di atas panggung. "Setiap orang bisa duduk di depan anak-anak dan bercerita dengan baik di mana saja," jelas MacDonald.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Namun, untuk menjadi pendongeng atau berprofesi sebagai pendongeng memang diperlukan keahlian tersendiri. Margareth Read MacDonald menganggap untuk menjadi pendongeng yang baik diperlukan tiga modal utama. Pertama, sang pendongeng harus mempunyai cerita yang bagus. Ia melihat kebanyakan cerita yang disampaikan seorang pendongeng bersumber dari buku. "Tidak semua cerita itu siap untuk disampaikan kepada anak-anak," jelas MacDonald. Sering kali cerita dalam buku terlalu panjang dan akibatnya dapat membosankan anak-anak jika disampaikan secara lisan. Cerita-cerita ini masih harus dikemas lebih lanjut. Cerita yang telah dikemas untuk disampaikan secara lisan inilah yang dimaksud MacDonald dengan cerita yang bagus. Kemudian, dua modal lainnya untuk dapat mendongeng dengan baik menurut MacDonald adalah sang penutur menyukai dan menikmati cerita maupun proses penyampaiannya. "Anak-anak bisa melihat hal ini dari sang pendongeng," jelas MacDonald.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Suyadi yang sering dipanggil Pak Raden dan juga dikenal sebagai seorang pendongeng berpendapat, mendongeng yang baik berkaitan dengan isi cerita dan cara bercerita. Menurut Suyadi, isi cerita yang baik harus mendidik atau memiliki pesan moral. "Pesan moral tersebut tidak harus disampaikan langsung, tapi disampaikan melalui ekspresi figur sikap dan suara seorang anak yang baik misalnya," ungkap Suyadi. Namun, ia mengakui, tidak harus selalu cerita yang disampaikan sarat dengan pesan moral. "&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dongeng yang memang semata-mata untuk menyenangkan anak-anak atau menenangkan," jelas Suyadi lebih lanjut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Selain itu, untuk bisa mendongeng dengan teknik yang baik juga diperlukan ikatan batin dengan anak-anak. Seperti layaknya ikatan batin antara seorang anak dan ibu, sudah pasti sang anak akan merasa senang jika tahu sang ibu berada di dekatnya. Ikatan batin ini dapat dicapai dengan berperilaku baik kepada anak-anak. "Perlihatkan kalau kita senang dengan mereka," Suyadi mengungkapkan. "Tidak perlu diungkapkan, cukup ditunjukkan dan dirasakan saja." Apabila ikatan batin itu sudah terjalin dan anak-anak merasa senang dengan pendongeng, hasilnya apa pun yang disampaikan pasti akan didengarkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;DALAM praktiknya, para pendongeng profesional pun kini benar-benar memperhatikan kebutuhan dan keinginan penontonnya. Tidak jarang pula kini mereka menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Poetri Soehendro, misalnya, yang awalnya menggeluti kegiatan ini pada sebuah radio swasta mengungkapkan, seorang pendongeng juga harus memahami perkembangan anak-anak sesuai masa sekarang. "Mereka tidak hanya mendengar lagu-lagu Sherina dan Tasya saja, tetapi juga sudah mendengarkan Britney Spears dan Limp Bizkit," ungkap Puteri. Konsekuensinya, ia pada saat mendongeng harus bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak. "Kita harus masuk ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang seperti itu, harus lebih funky," tambah Puteri. Dalam rangka inilah, Poetri Soehendro akhirnya mampu menempatkan diri sebagai sahabat mereka. "Saya harus menjadi the real person untuk mereka. Bisa mereka sentuh, peluk, bahkan jadi tempat mengadu," jelas Puteri lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Agak berbeda dengan pendapat We Es Ibnoe Savy, pendongeng asal &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Bagi Ibnoe Savy, cerita yang paling baik adalah cerita yang berasal dari pengalaman batin pendongeng itu sendiri. Selain itu, ia menekankan, seorang pendongeng juga harus bersikap seperti apa yang disampaikan pada anak-anak, dengan kata lain sikap hidupnya harus menunjukkan suatu teladan. Ibnoe Savy menyadari bahwa dongeng merupakan media pendidikan yang sangat efektif bagi anak-anak. Oleh karena itu, kunci lain yang juga harus dimiliki seorang pendongeng adalah keseriusan. Akhmad Sutisna, pendongeng dalam bahasa Sunda yang juga dipanggil Uwa Kepoh, misalnya, amat meyakini bahwa mendongeng tidak bisa dilakukan secara sembarangan. "Harus dilakukan dengan serius," ungkapnya. Keseriusan yang dimaksud jelas-jelas membutuhkan wawasan yang luas, kondisi tubuh yang prima, serta konsentrasi yang tinggi yang harus dimiliki seorang pendongeng.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Menjadi bagian dari penonton, memiliki wawasan yang luas, dan menjiwai cerita merupakan bekal yang harus dimiliki dari dalam diri para pendongeng. Semua semakin lengkap jika diperkaya dengan kreativitas. Belakangan, para pendongeng tampaknya sadar betul akan hal ini. Tarlen Handayani, pengelola Toko Buku Kecil (Tobucil) di Bandung, mengatakan, kreativitas memang sangat diperlukan untuk membuat anak-anak mengerti cerita. Ketika mendongeng untuk anak-anak tuna netra, misalnya, pihak Tobucil harus menyediakan benda yang dapat diraba anak-anak tersebut. "Jika kami mendongengkan tentang kelinci, harus disediakan kelinci yang bisa mereka sentuh, raba, dan elus," jelas Handayani. (nca/bip/irn/sig/umi/wen)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;Profesi Pendongeng Mulai Menjanjikan &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Menjadi juru dongeng di masa lampau memang hanya dipandang sebelah mata. Para pendongeng pun menjalankannya sebatas hobi, ataupun profesi tambahan bagi mereka yang mencintai dunia anak dan buku-buku cerita. Masa kini tidak lagi demikian. Mendongeng sama seperti profesi lain yang dapat diandalkan sebagai gantungan hidup. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;We Es Ibnoe Sayy, pendongeng dari Rumah Dongeng Indonesia yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta, membuktikan hal ini. Kini, tanpa sungkan-sungkan, ia cantumkan jenis pekerjaan sebagai pendongeng di kartu tanda penduduk (KTP)-nya. "Saya mencintai profesi ini dan hidup dari mendongeng," ungkapnya. We Es, begitu biasa ia disebut, mengaku setiap bulan rata-rata mendapat order mendongeng 5-6 kali. Bahkan, jika bulan Puasa, ia bisa manggung hingga 100 kali dalam sebulan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, We Es pernah mendongeng hingga ke Afrika Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Akhmad Sutisna (51), atau lebih dikenal dengan sebutan Uwa Kepoh, juga merasakan nikmatnya menjadi pendongeng. Namanya yang melambung sebagai pendongeng berbahasa Sunda itu juga sependapat bahwa dongeng dapat dijadikan gantungan hidup. Ia mencontohkan dirinya. Secara materi, dari hasil mendongeng ia mampu menghidupi istri dan tujuh anaknya. Bahkan, dari hasil mendongeng, dia mampu memiliki dua stasiun radio. Radio yang pertama, Suara Teruna Jaya, berlokasi di Pameungpeuk, Garut Selatan. Siaran dari radio ini dapat ditangkap hingga Pulau Christmas. Adapun sebuah stasiun radio lain miliknya berlokasi di Bandung. Radio yang bernama Radio Emsa ini dibelinya beberapa tahun yang lalu. "Alhamdulillah, dari hasil mendongeng, saya bisa punya semua ini," kata dia seraya menambahkan, segala sesuatu yang dilakukan dengan serius dan kerja keras pasti berhasil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Sebagaimana halnya pekerjaan lain, mendongeng bagi Akhmad harus dilakukan dengan serius. "Mendongeng itu tidak bisa sembarangan. Mendongeng adalah pekerjaan serius yang harus dilakukan dengan serius juga," tuturnya. Selama ini, menurut Akhmad, banyak orang beranggapan bahwa mendongeng sama mudahnya dengan membaca buku. Cukup dibacakan dengan sedikit intonasi dan penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memberi kesan pada pendengar. Ternyata, mendongeng jauh lebih sulit dari sekadar membaca. Untuk mendongeng, kata Akhmad, dibutuhkan wawasan yang luas, kondisi tubuh yang prima, serta konsentrasi yang tinggi. "Kalau membaca biasa yang lurus-lurus saja (nadanya), tentu saja tidak menarik," kata Akhmad.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Bagi Kusumo Priyono, mendongeng tampaknya sudah mendarah daging. Bermula dari penghargaan yang ia terima sebagai juara mendongeng tingkat nasional yang diselenggarakan Yayasan Taman Mini Indonesia Indah. Sejak tahun 1985, ia lalu mengkhususkan dirinya dalam profesi ini. Sampai saat ini tidak kurang sudah 34 buku cerita dongeng yang ia ciptakan. Dalam waktu dekat, ia akan melengkapinya menjadi 44 buku. Tidak hanya itu, dongengnya pun kini merambah pada dunia animasi melalui pembuatan film animasi Garuda Perkasa. Tidak mengherankan jika selama ini ia sering dijuluki sebagai raja dongeng Indonesia. Dengan karya seperti itu, urusan materi bagi para pendongeng tampaknya tidak lagi menjadi penghalang.(IRN/SIG)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Sumber : www.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-2949079654648321892?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/2949079654648321892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=2949079654648321892' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2949079654648321892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2949079654648321892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/menjadi-pendongeng-terbaik.html' title='MENJADI PENDONGENG TERBAIK (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8947118723269548648</id><published>2008-07-28T19:27:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T19:33:59.331-07:00</updated><title type='text'>Kak Seto (Seto Mulyadi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI6ApBlqEMI/AAAAAAAAACY/g_TG6Csqfic/s1600-h/kakakseto_thumb4.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI6ApBlqEMI/AAAAAAAAACY/g_TG6Csqfic/s320/kakakseto_thumb4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228257659713097922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Dongeng "si Komo"Di Kali Adem&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA– Kegembiraan anak-anak korban penggusuran Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara, tiba-tiba meledak ketika Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, Rabu (29/10) siang mengunjungi tempat pengungsian di tenda-tenda darurat yang dibangun seadanya.&lt;br /&gt;Untuk sesaat puluhan anak-anak korban penggusuran Kali Adem boleh melupakan kedukaannya menyusul bongkar paksa yang dilakukan aparat Tramtib Jakarta Utara. Dengan menggunakan kapal milik nelayan, Kak Seto bersama rombongan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, datang mengunjungi anak-anak korban penggusuran, Rabu (22/10) siang sekitar pukul 14.00 WIB.&lt;br /&gt;Tidak kurang dari 40 anak-anak berkumpul di Mushola Serikat Nelayan Tradisional (SNT), Kali Adem Pluit Penjaringan Jakarta Utara untuk bertemu dengan Kak Seto yang hanya mereka bisa lihat di layar kaca.&lt;br /&gt;Bukan hanya anak-anak yang datang, sejumlah ibu-ibu yang menggendong bayinya dan sejumlah warga yang panasaran ingin melihat Kak Seto yang terkenal dengan “Si Komo” secara langsung. “Pengen melihat Kak Seto secara langsung,” ujar seorang ibu yang menggendong bayinya.&lt;br /&gt;Ratusan bahkan ribuan gubug di Kali Adem memang sudah rata dengan kali tetapi tetap menyisakan sebuah mushola berukuran kurang lebih 42 meter persegi. Untuk mencapai mushola tersebut melewati dua jembatan darurat yang dibangun dari puing-puing rumah warga.&lt;br /&gt;Kak Seto tanpa canggung-canggung langsung berbaur dengan anak-anak korban penggusuran. Dia lalu mengeluarkan boneka buaya dan memainkan boneka tersebut dengan tangan kanannya sembari bercanda dengan anak-anak yang mengerubutinya di mushola. “Cita-citanya menjadi apa? Menjadi dokter, polisi, tentara, atau guru?” Tanya Kak Seto berkali-kali.&lt;br /&gt;Atraksi sulap juga berlangsung ditimpali canda tawa. Sekali-kali Kak Seto mengundang anak-anak tersebut berkata: “sim salabim”. Walhasil anak-anak korban gusuran terlihat gembira.&lt;br /&gt;Balon-balon juga setelah dipompa oleh Kak Seto, dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi binatang. Anak-anak diajak menebak binatang apa yang akan dibentuk oleh Kak Seto. “Hayo tebak, ini binatang apa?” Tanya Kak Seto. Anak-anak yang berkumpul langsung menimpali dengan menyebut nama binatang yang dibuat dari balon. ”anjing, kucing, dan seterusnya.”&lt;br /&gt;Gerak dan lagu juga memeriahkan interaksi Kak Seto dengan anak-anak. Lagu “Kepala Pundak Lutut Kaki” dinyanyikan dan diikuti dengan gerakan memegang kepala, pundak lutut dan kaki. Anak-anak juga diajak menyanyi lagu “Bangun Tidur Ku Terus Mandi” dan sejumlah lagu anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berinteraksi dengan anak-anak korban gusuran di Kali Adem, Kak Seto terlihat senang walaupun matahari dengan terik menyinari yang tentunya membuat hawa di dalam Mushola panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Nelayan&lt;br /&gt;Pipit (11), anak korban gusuran diberikan kesempatan oleh Kak Seto untuk membacakan sebuah puisi yang ditulisnya dengan dengan judul “Balada Anak Nelayan“. Kak Seto menutup kunjungannya dengan mengajak anak-anak tersebut menyanyi lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” secara bersama-sama. “Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra….” Mengalun dari anak-anak korban gusuran Kali Adem.&lt;br /&gt;“Kak Seto lucu banget,“ kata Rudi (12), seorang anak yang ikut menonton aksi Seto yang berlangsung selama 30 menit tersebut. Masih banyak lagi senyum gembira dari wajah anak yang lain, karena sejak Rabu (22/10) minggu lalu setelah aksi penggusuran, anak-anak Kali Adem tidak mendapatkan hiburan.&lt;br /&gt;Kak Seto juga sempat mampir ke tenda-tenda darurat dan berdialog dengan warga yang tengah memasak di dapur umum. Selain berkunjung, Kak Seto juga memberikan sejumlah bantuan kepada anak-anak tersebut berupa susu dan peralatan sekolah. Anak-anak yang tidak sempat bertemu dengan Kak Seto di Mushola, terlihat menyalami Kak Seto di tenda-tenda darurat tersebut. “Anak-anak harus tetap sekolah,” ujar Kak Seto kepada orang tua anak-anak tersebut.&lt;br /&gt;Kak Seto menjelaskan kepada wartawan tentang kedatangannya ke kawasan penggusuran ini bertujuan memberi dorongan kepada anak-anak tetap semangat bersekolah. Ia juga menambahkan bahwa kegiatannya sekaligus meredam trauma anak-anak pasca penggusuran.&lt;br /&gt;Dokter Silvi Ulaan dari Puskesmas Pluit, Penjaringan Jakarta Utara menyambut positif apa yang dilakukan oleh Kak Seto untuk mengurangi trauma anak-anak yang menjadi korban gusuran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terancam Putus Sekolah&lt;br /&gt;Keceriaan anak-anak korban penggusuran di Kali Adem ternyata tidak dialami ratusan anak korban penggusuran Kampung Sawah, Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mereka bahkan terancam putus sekolah jika Pemda tak segera menyalurkan dana bantuan pendidikan dan memberikan rumah yang layak sebagai pengganti tempat tinggal warga yang telah digusur.&lt;br /&gt;Sejumlah anak sudah berhenti bersekolah sejak rumahnya digusur Kamis (2/10) lalu. Sebagian besar anak hingga kini masih meneruskan pendidikan, meskipun dengan bersusah payah.&lt;br /&gt;Anak yang memerlukan alat transportasi untuk mencapai sekolahnya kini hanya masuk satu atau dua hari dalam seminggu, karena orang tuanya tak lagi memiliki uang untuk membiayai transportasi anaknya ke sekolah. Kebanyakan anak juga terpaksa menunggak biaya SPP dan berbagai biaya lain. Karena itu, jika bantuan pendidikan yang dijanjikan Pemda DKI tak segera disalurkan, mereka dipastikan tinggal menunggu waktu sebelum terpaksa berhenti bersekolah.&lt;br /&gt;“Mereka masih sekolah, tapi semua biaya untuk sementara belum dibayar dulu. Masih untung kalau letak sekolahnya dekat. Kalau jauh, paling seminggu hanya masuk satu dua hari. Itu juga karena orang tuanya lagi ada duit, lalu disisihkan buat ongkos anaknya jalan ke sekolah,” ujar Ny. Manurung, salah satu warga korban penggusuran Tanjung Duren, ketika ditemui SH di halte Jalan S. Parman yang berubah menjadi tempat penampungan darurat, Rabu (29/10).&lt;br /&gt;Sedangkan Mahendra (6), kini terpaksa tak bersekolah. Pada saat penggusuran terjadi, ia baru saja mulai bersekolah di SD Kemanggisan. Tetapi, belum lama ia bersekolah, rumah tempat Hendra—panggilan akrab Mahendra—digusur. Seragam, perlengkapan sekolah dan buku-buku baru Hendra seluruhnya rusak. Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai tukang uruk tanah di lahan sengketa Tanjung Duren, dengan sendirinya kehilangan mata pencaharian setelah penggusuran itu. Akhirnya, kini Hendra tak lagi melanjutkan pendidikannya.&lt;br /&gt;“Waktu itu sudah mendaftar, bahkan sudah membayar cicilan uang pangkal sebesar Rp 10.000. Tetapi saat digusur itu, seragam, sepatu dan buku-buku tak sempat diambil. Bapak juga tak lagi kerja. Ya sudah, karena tak ada biaya, ya sekarang dia tak lagi sekolah,” ujar Ny. Wiwik, ibu Hendra.&lt;br /&gt;Data Komisi Nasional Perlindungan Anak, di Tanjung Duren terdapat 251 anak, yang terdiri dari 18 siswa TK, 157 siswa SD, 44 siswa SMP dan 32 siswa SMU. (SH/thomas jan bernadus/ruth hesti utami/ali amrisyam)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0310/30/sh04.html&lt;/i&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8947118723269548648?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8947118723269548648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8947118723269548648' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8947118723269548648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8947118723269548648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/dongeng-si-komo-di-kali-adem.html' title='Kak Seto (Seto Mulyadi)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI6ApBlqEMI/AAAAAAAAACY/g_TG6Csqfic/s72-c/kakakseto_thumb4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7388937734549483739</id><published>2008-07-28T19:08:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T19:12:25.675-07:00</updated><title type='text'>MENDONGENG TAK HARUS DENGAN "DONGENG" (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI58IWSUcfI/AAAAAAAAACQ/wgL2NwTwXjw/s1600-h/19580_dongeng+tak+dongenn.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI58IWSUcfI/AAAAAAAAACQ/wgL2NwTwXjw/s320/19580_dongeng+tak+dongenn.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228252700286939634" /&gt;&lt;/a&gt;Orangtua disarankan meluangkan waktu untuk mendongeng bagi anaknya. Mendongeng tak hanya mengembangkan daya khayal anak, tapi juga merupakan sarana pemberi pengertian tentang moral pada mereka. Lalu bagaimana jika semua dongeng masa kecil Anda sudah habis Anda ceritakan dan buku dongeng pun telah habis Anda bacakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut The Daily Telegraph, London, ternyata Anda tak harus selalu menceritakan dongeng. Kejadian sehari-hari juga boleh dijadikan ide ‘mendongeng.' Anak-anak senang, kok, mendengar cerita tentang masa kecil Anda, bagaimana Anda bertemu dan jatuh cinta pada suami, menceritakan proses kelahirannya serta masa batita yang mulai dilupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menceritakan kenakalan Anda saat sekolah, misalnya, akan membuat anak merasa dekat dengan Anda. Sesekali, beri anak pemahaman di sela-sela dongeng Anda. Misalnya, "Sekarang Ibu menyesal melakukan itu, soalnya karena itu Ibu jadi tidak naik kelas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang bisa Anda lakukan?&lt;br /&gt;Usahakan garis cerita yang pendek dan sederhana.&lt;br /&gt;Gunakan penggambaran detail, seperti, "Ayah dulu memakai baju&lt;br /&gt;kotak-kotak merah dan celana krem yang serasi waktu datang ke rumah Ibu." Itu akan memacu imajinasi mereka.&lt;br /&gt;Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan anak yang terkadang di luar dugaan. Kuncinya, jangan menghindar.&lt;br /&gt;Jangan takut menggunakan kata yang tidak familiar di telinga&lt;br /&gt;anak. Itu justru kesempatan untuk menambah kosakatanya.&lt;br /&gt;Berikan akhir yang jelas dan tidak menggantung.&lt;br /&gt;Cerita tak harus mengandung nasihat. Membuat anak menjadi bagian&lt;br /&gt;dari kenyataan sudah cukup.&lt;br /&gt;Cerita tak harus berupa peristiwa besar. Misalnya, berbagi pengalaman saat Anda dulu kehilangan boneka kesayangan.&lt;br /&gt;Album foto juga bisa menjadi alat bantu yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dwi Astuti, Lotus Komang&lt;br /&gt;Sumber :http://www.tabloidnova.com&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7388937734549483739?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7388937734549483739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7388937734549483739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7388937734549483739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7388937734549483739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/mendongeng-tak-harus-dengan-dongeng.html' title='MENDONGENG TAK HARUS DENGAN &quot;DONGENG&quot; (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI58IWSUcfI/AAAAAAAAACQ/wgL2NwTwXjw/s72-c/19580_dongeng+tak+dongenn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-332560637465740795</id><published>2008-07-28T01:24:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T01:31:38.797-07:00</updated><title type='text'>Kak Kusumo (Kusumo Priyono)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI2DYB-35hI/AAAAAAAAACI/t9ZSHqwtO1o/s1600-h/kusumo.jpeg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI2DYB-35hI/AAAAAAAAACI/t9ZSHqwtO1o/s400/kusumo.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227979191319258642" /&gt;&lt;/a&gt;Pada 1985, Kusumo Priyono tak memenuhi panggilan kakaknya untuk pulang ke lereng Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah, mengikuti pemilihan lurah. Bila tidak, mungkin predikat Raja Dongeng tak disandangnya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dikenal sebagai pencipta Gasa, Garuda Perkasa, yang lahir atas keprihatinan terhadap bangsa. Maklum, menurut dia, tokoh-tokoh kesayangan anak-anak sekarang selalu berasal dari impor dan aneh-aneh. Lihat Superman yang cawatnya kelihatan dari luar, Batman yang codot alias kelelawar sering menghama buah-buahan di pohon-pohon, atau tikus menjadi Mickey Mouse. “Garuda itu mulia tunggangan para dewa, itu tokoh teladan,” tuturnya tentang tokoh ciptaannya. Dan terutama, menurutnya, perilaku Gasa bisa jadi teladan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, terutama setelah mampu membaca sendiri, ia sudah keranjingan mendengarkan dongeng dan mendongeng. Kegilaannya membaca semakin menjadi saat ia kelas 3 SD. Sepulang sekolah ia selalu nyamperi penyewaan buku. Segala macam buku termasuk komik dilahapnya. Tak aneh ia sangat mengagumi Panji Tengkorak dan Wiro Anak Hutan, selain Bende Mataram dan Satria Bukit Menoreh yang ia hafal benar. “Sekalipun sedang angon kerbau atau bebek, saya tetap membaca buku,” papar anak kedua dari sembilan bersaudara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya ia sampai menjual anak kerbaunya untuk membeli tempat penyewaan buku berikut isinya. Akibatnya -- rumahnya yang menjadi “markas” anak-anak -- semakin ramai saja. “Soalnya saya suka punya teman banyak. Teman-teman sekampung saya undang membaca di situ,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Kusumo -- begitu biasa ia dipanggil oleh anak-anak – memang tumbuh dan besar dalam buaian dongeng. Ayahnya R. Elang Sumawinata bin Pangeran Natagiri atau Pangeran Kusuma Natalaksana adalah cucu Sultan Cirebon. Meski seorang mantri pertanian, Sumawinata piawai mendongeng. Di kala senggang atau ketika sembilan anaknya hendak tidur, ia selalu mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumawinata memang tak sekadar mendongeng. Di balik dongeng itu ia menyisipkan nasehat tentang sikap kepahlawanan, jiwa satria, kejujuran, dan etos kerja keras. “Itu dilakukan Bapak untuk menasehati kami. Ia tak pernah menasehati secara langsung selalu melalui dongeng,” tutur ayah dari Gasawati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dongeng membentuk kepribadiannya. Ia menjadi gemar mendongeng dan bakatnya kian terasah secara otodidak. Ia juga keranjingan meniru gaya bapaknya maupun dalang tertentu. Kadang-kadang, saat ia mendongeng, temannya hampir-hampir tak bisa membedakan antara imajinasi Kusumo dan kenyataannya. Cita-citanya pun tak seperti kebanyakan orang, ia “hanya” ingin jadi pendongeng. Sampai sekarang pekerjaannya sebagai pendongeng tertulis dalam KTP-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, meski “melahap” komik dan novel, nilai rapor Kusumo tak pernah jeblok. Malah terbilang bintang kelas di setiap jenjang sekolah. “Nilai pelajaran sejarah, bahasa, dan hafalan selalu sembilan, kecuali matematika, saya enggak suka,” komentar Kusumo yang juga memahami psikologi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa kecil ia sempat dijuluki Yono Korden. Pasalnya korden rumahnya yang bergambar kancil, bunga, matahari, dan perahu itu seolah memberinya imajinasi cerita. Nah, saat lebaran ia meminta ibunya menjahit korden itu menjadi baju, “Rasanya gerah bukan main, korden kan tebal sekali,” kenangnya tergeli-geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai SMP, buku-buku yang ia baca mulai menggelitiknya untuk menulis cerpen, puisi, dan novel. Masa-masa SMA pun ia masih terus mendongeng, malah, katanya, ke mana pun ia selalu dikerubuti temannya. “Saya di sekolah memiliki banyak teman, karena sukangobrol dan mendongeng,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya terhadap dongeng akhirnya membuatnya terjun bebas ke dunia seni. Ia memilih kuliah di Studi Sastra dan Teater di Pusat Pengembangan Kesenian Jakarta. Hari-harinya di bangku kuliah itu juga penuh dengan aktivitas mendongeng. Bahkan ia memadukan keahliannya dengan seni peran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh kehidupan sebagai seniman di Jakarta sempat membuatnya jenuh. Ia merindukan suasana kehidupan di desa, dan ingin kembali ke sana. Apalagi kakaknya yang telah mengakhiri jabatan lurah di lereng Gunung Sumbing, memanggilnya pulang untuk menggantikan posisi sang kakak. Saat itu tahun 1985. Ia bimbang juga, pasalnya, seminggu sebelum surat sang kakak datang ia telah mendaftar ikut lomba mendongeng tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana ia memenangkan perlombaan itu, sontak hidupnya berubah. Uang senilai Rp 1 juta ia kantongi sebagai hadiah. Sebutan Raja Dongeng pun dilekatkan pada dirinya. Maklum, pesertanya datang dari seluruh provinsi di Indonesia. “Judul dongeng saya waktu itu Keong Emas,” paparnya. Banyak koran memberitakan kemenangannya, salah satu dengan memasang judul “Juara Mendongeng Nusantara dari Lembah Lereng Gunung Sumbing.” Nah, ia pun merasa terkenal dan tidak lagi tertarik pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu ia memenuhi takdirnya sebagai raja dongeng, melakukan safari dongeng ke seluruh nusantara dari 1985 hingga 1989. Tak terbilang pengalaman unik menimpanya dalam perjalanan menebar cerita itu. Salah satunya ketika ia mendongeng di Kota Metro, Lampung Tengah, di sebuah pemukiman transmigrasi. Sembari bercerita tentang epos kepahlawanan Pangeran Diponegoro, ia memangku seorang anak kecil. Ia pun meniru kata-kata Jenderal Belanda “Godverdom! Tangkap ekstremis-ekstremis berkepala hitam itu,” suaranya menggelegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba ada rasa hangat mengalir di celananya. “Ah ternyata anak yang saya pangku itu ngompol, kaget dengar teriakan saya,” ujarnya sembari tersenyum. Ibu si anak tergopoh-gopoh minta maaf. “Akhirnya saya, hanya bercawat dan bersarung, mencuci celana di sungai. Soalnya itu celana satu-satunya yang saya bawa,” kenang anak kedua dari sembilan bersaudara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusumo tak mematok angka rupiah untuk urusan mendongeng. Di daerah pedesaan Jawa Tengah, ia kerap dibayar dengan pisang emas, kelapa dan beras. Bahkan saat mendongeng di Sulawesi, ia menerima ayam jago yang menurutnya sangat bagus. “Saya terbiasa dengan proyek sosial alias proyek thank you,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengakui karir mendongengnya benar-benar merayap. Pernah mendongeng di kampung nelayan, desa terpencil, sampai masuk ke istana hingga ke mancanegara. Baru-baru ini ia memperoleh penghargaan The Asean Youth Exellence Award kategori bidang sosial dan anak pada 2001 di Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu Neneng Chairunnisa saat ia menjadi juri Tilawatil Quran di Masjid Istliqlal, Jakarta. Ternyata Neneng putri Alamudin, salah seorang juri tilawatil. Empat bulan kemudiaan sang qoriah ia nikahi. Buah perkawainan itu melahirkan Gasawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pemilihan gubernur DKI 2002, ia mencalonkan diri. Menang kalah tak masalah baginya. Sebab, ia hanya ingin mencoba apakah wakil rakyat dan para pejabat itu memegang janjinya, pemilihan gubernur berjalan demokratis. Siapa pun berhak mencalonkan diri. “Tapi ternyata mengecewakan, semua sandiwara belaka,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kecilnya, Kusumo pernah ingin terbang seperti burung. Ternyata, hanya dengan mendongeng telah terbang melalang buana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber :http://www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/K/ads,20030627-37,K.html&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-332560637465740795?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/332560637465740795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=332560637465740795' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/332560637465740795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/332560637465740795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/pada-1985-kusumo-priyono-tak-memenuhi.html' title='Kak Kusumo (Kusumo Priyono)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI2DYB-35hI/AAAAAAAAACI/t9ZSHqwtO1o/s72-c/kusumo.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5857034959381081058</id><published>2008-07-28T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-28T00:59:14.437-07:00</updated><title type='text'>Kak Ariyo (Moch Ariyo Faridh Zidni)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI178eo5KxI/AAAAAAAAAB4/gapBS_6nSwU/s1600-h/tokoh_02072008486b362c1235f.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI178eo5KxI/AAAAAAAAAB4/gapBS_6nSwU/s320/tokoh_02072008486b362c1235f.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227971021393963794" /&gt;&lt;/a&gt;MALAM itu panggung utama Bobo Fair diramaikan anak-anak. Mereka menikmati  suara renyah seorang pendongeng. Tawa dan komentar anak-anak bersahutan di sela-sela dongeng yang dibawakan Ariyo. Memasuki cerita kedua, anak-anak semakin merapat. Mereka kian antusias mendengarkan cerita itu. Mereka yang tadinya duduk di kursi belakang pindah ke hamparan karpet di bagian depan. Mereka lesehan, bergabung dengan anak-anak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi anak-anak itu beragam. Kadang mereka terbahak. Sebentar kemudian melonggo. Kadang-kadang melompat terkejut saat ceritanya menegangkan. Saat selingan lagu disuguhkan, anak-anak ikut bernyanyi sambil menggoyangkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moch Ariyo Faridh Zidni, nama lengkap pendongeng itu. Pria kelahiran 28 tahun lalu itu menggabungkan dongeng dengan musik. Ariyo mengakui sering mengawinkan dongeng  dengan seni lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, aku bisa menggunakan suara, gerak tubuh, mimik wajah. Kadang aku suka eksperimen bikin dongeng sambil nyanyi duet," kata alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu. "Atau bikin satu dongeng sama tarian. Kadang mendongeng  pakai boneka tangan alias finger puppet, atau pakai tali atau kertas, origami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariyo sering juga menggabungkan dongeng dengan out bond. Dia mengaku terinspirasi film Pirates of Carabian. Jadi, tak ada batasan dalam mendongeng. Baginya mendapatkan inspirasi untuk variasi mendongeng modalnya cuma satu: sensitivitas. Pendongeng harus sensitif dalam menggali cerita dari sumber mana pun, mulai dari nonton film, petunjukan wayang, teater, ilustrasi komik, koran, dan yang paling penting: rajin membaca buku. Semua bisa dijadikan sumber inspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Termasuk mendengarkan cerita tema. Curhatan-curhatan temen itu bisa jadi dongeng," katanya. "Ambil satu segmen bagian cerita dia yang konyol yang lucu-lucu bisa jadi dongeng."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu dekade Ariyo serius menggeluti dunia dongeng. Ia tertarik pada dunia dongeng setelah mengikuti mata kuliah bacaan anak. Salah satu bahasan mata kuliah tersebut adalah pendekatan terhadap anak-anak melalui story telling. Suatu hari seorang dosen mengajaknya mendongeng di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Di sana, Ariyo merasakan dongeng berdurasi 30 menit yang dibawakannya untuk menghibur anak-anak yang menjalani rawat inap begitu berarti. Sejak itu dia terpanggil untuk mendongeng. Foto: VHRmedia.com/Dian Ali Rahman.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber :http://www.vhrmedia.com&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5857034959381081058?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5857034959381081058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5857034959381081058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5857034959381081058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5857034959381081058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-ariyo-moch-ariyo-faridh-zidni.html' title='Kak Ariyo (Moch Ariyo Faridh Zidni)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI178eo5KxI/AAAAAAAAAB4/gapBS_6nSwU/s72-c/tokoh_02072008486b362c1235f.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3403138997042523479</id><published>2008-07-27T20:58:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T21:02:22.064-07:00</updated><title type='text'>MENDONGENG ITU MUDAH (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI1Eq3nbzhI/AAAAAAAAABw/SscvkTvufJM/s1600-h/pendongeng.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI1Eq3nbzhI/AAAAAAAAABw/SscvkTvufJM/s320/pendongeng.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227910245721558546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng itu Mudah!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMILIH bacaan untuk anak di tengah-tengah lautan buku bacaan yang dewasa&lt;br /&gt;ini demikian melimpah ruah, tidak semudah membalikkan telapak tangan.&lt;br /&gt;Apalagi bila dihadapkan dengan buku-buku bacaan hasil terjemahan, entah itu&lt;br /&gt;berupa komik, cerita pendek, atau novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya menumbuhkembangkan daya intelektual anak lewat bacaan, orang tua&lt;br /&gt;mempunyai peran yang cukup penting. Orang tua harus menjadi pembaca pertama&lt;br /&gt;buku-buku yang kelak akan dibaca anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih bacaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama,&lt;br /&gt;lihat bahasa yang dipakainya, apakah mudah dicerna atau tidak oleh si anak.&lt;br /&gt;Setelah itu lihat jalan ceritanya, konflik yang dihidupkannya, latar&lt;br /&gt;ceritanya, dan sebagainya. Pasalnya, dewasa ini hal-hal yang bersifat&lt;br /&gt;pornografis sudah merasuk ke dalam komik, novel, bahkan cerita pendek.&lt;br /&gt;Jangan sampai hal yang belum pantas dibaca anak, malah menjadi santapannya.&lt;br /&gt;Hal itu bisa membuat anak lupa pada tugas utamanya, yakni belajar menghayati&lt;br /&gt;hidup dan kehidupan secara mandiri, arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan juga telah banyak mewarnai buku-buku yang katanya diperuntukkan&lt;br /&gt;bagi anak-anak. Kalau teliti, mungkin kita akan bertanya-tanya benarkah&lt;br /&gt;komik Batman itu diperuntukkan bagi anak-anak? Jika untuk anak-anak,&lt;br /&gt;haruskah di usia dini anak-anak diperkenalkan kepada carut-marutnya dunia&lt;br /&gt;yang babak-belur oleh persoalan kriminal Demikian pula ketika memilih bacaan&lt;br /&gt;semisal Sin-chan yang nakal itu. Adakah bacaan semacam ini cocok pula&lt;br /&gt;disajikan untuk anak-anak kita yang secara kultural berbeda jauh dengan&lt;br /&gt;kehidupan orang Jepang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika kita membelikan VCD "Tom &amp;amp; Jerry" misalnya, harus hati-hati&lt;br /&gt;pula. Di dalam VCD tersebut juga banyak terjadi tindak kekerasan, yang bisa&lt;br /&gt;ditiru anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya orang tua bertindak arif dan bijaksana. Antara lain membelikan&lt;br /&gt;anak sejumlah buku bacaan yang sarat dengan muatan lokal. Dongeng-dongeng&lt;br /&gt;yang pernah dilisankan oleh orang tua kita menjelang tidur, saat ini sudah&lt;br /&gt;banyak yang dibukukan. Entah itu berupa cerita rakyat dari Jawa Barat,&lt;br /&gt;seperti Dalem Boncel, atau cerita fabel seperti Si Kancil, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan-bacaan yang sarat dengan pesan keagamaan, juga bisa dijadikan pilihan&lt;br /&gt;di luar cerita-cerita yang sepenuhnya hanya berpihak pada persoalan sosial&lt;br /&gt;atau kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK menumbuhkan imajinasi di kepala anak, orang tua atau guru perlu&lt;br /&gt;memiliki teknik mendongeng yang baik. "Tapi jangan mundur karena kurang&lt;br /&gt;menguasai teknik. Pede aja lagi. Mendongeng itu mudah, cobalah apa adanya,"&lt;br /&gt;ujar Andi Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat utamanya adalah percaya diri dan komunikatif. Banyak orang tua tidak&lt;br /&gt;percaya diri ketika mendongeng, akhirnya pesan dongengnya sulit ditangkap&lt;br /&gt;anak. Anak jadi boring, sementara orang tua sendiri terlanjur hopelles untuk&lt;br /&gt;meneruskan mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mendongeng bisa dimulai dengan mengaktifkan indra yang kita miliki untuk&lt;br /&gt;membantu memvisualisasikan cerita. Kemudian untuk menggali cerita bisa&lt;br /&gt;mengungkap kejadian sehari-hari, masalah biasa kita temui bukan? Dan untuk&lt;br /&gt;memotivasi diri, tanamkan keyakinan bahwa setiap orang biasa menyampaikan&lt;br /&gt;segala sesuatu yang ada dipikirannya," ujar ayah 3 anak yang juga trainer&lt;br /&gt;mendongeng ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai panduan, Andi memberikan kiat-kiat mendongeng sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pilihlah cerita yang sesuai dengan kesehariannya dan minat anak. Jelaskan&lt;br /&gt;tokoh, tempat dan kata-kata yang belum dimengerti anak. Dengan demikian anak&lt;br /&gt;tidak bertanya terus dan dapat berkonsen- trasi kepada cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bacakan cerita dengan antusias dan akting yang meyakinkan. Ser- takan&lt;br /&gt;emosi, maka anak juga akan menghayati dan mengikutinya dengan emosi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bedakan mimik, ucapan maupun tokoh yang ada dengan mengi- dentikkan diri&lt;br /&gt;kita pada tokoh tersebut, atau boneka yang dibayangkan sebagai tokoh utama.&lt;br /&gt;Beri ekspresi pada apa yang Anda ceritakan. Tapi jangan dilebih-lebihkan.&lt;br /&gt;Variasikan kecepatan, irama suara sesuai kebutuhan teks. Misalnya untuk&lt;br /&gt;membangun ketegangan- ketegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Variasikan nada suara pada pelbagai karakter. Hal ini akan lebih men&lt;br /&gt;dramatisir dialog dan menghidupkan karakter yang ada. Lakukan se cara wajar&lt;br /&gt;karena jika berlebihan, yang diingat anak justru suara An- da dan bukan&lt;br /&gt;ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jagalah kontak mata Anda dengan anak saat bercerita. Dekatkan tubuh Anda&lt;br /&gt;dengan si kecil ketika membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buatlah sinyal ketika cerita itu akan atau telah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ajukan pertanyaan pada anak untuk mengetahui apakah cerita yang kita&lt;br /&gt;sampaikan benar-benar diperhatikan. Doronglah anak untuk bertanya dan&lt;br /&gt;mengomentari cerita tersebut dan tanyakan kembali isi cerita tersebut kepada&lt;br /&gt;anak. Evaluasi terus cara kita mendongeng, bisa juga didiskusikan dengan&lt;br /&gt;anak.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soni Farid Maulana/"PR" - Jalu&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : Pikiran Rakyat , Minggu, 24 Juli 2005&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3403138997042523479?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3403138997042523479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3403138997042523479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3403138997042523479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3403138997042523479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/mendongeng-itu-mudah-suplemen.html' title='MENDONGENG ITU MUDAH (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI1Eq3nbzhI/AAAAAAAAABw/SscvkTvufJM/s72-c/pendongeng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5440682895960338361</id><published>2008-07-27T20:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T20:46:28.245-07:00</updated><title type='text'>Kak Andi (Andi Yudha Isfandiyar)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0_Mygy8LI/AAAAAAAAABo/YAiE2kYQ6Ts/s1600-h/andi.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0_Mygy8LI/AAAAAAAAABo/YAiE2kYQ6Ts/s320/andi.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227904231397322930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu , 04 Mei 2008 ,&lt;br /&gt;Not Only Teach But Also Touch.&lt;br /&gt;Ricky Reynald Yulman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATU hal yang sering dilupakan orangtua dan guru dalam mendidik anak menjadi manusia kreatif adalah memberi anak-anak motivasi. Namun, motivasi tak dapat diberikan dengan cara-cara yang membuat anak justru merasa takut dan tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGATAN ini diungkapkan Andi Yudha Asfandiya, pemerhati dunia anak dalam seminar bertajuk Pendidikan Motivasi + Karakter Gerbang Kesuksesan Masa Depan, di Gedung Vidya Chandra Jalan Sangkuriang Cimahi, Kamis (1/5) pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu hal yang sangat penting dalam mengembangkan kreativitas dan kecerdasan anak adalah menciptakan suasana aman dan nyaman secara psikologis. Jangan sampai ada ungkapan-ungkapan negatif. Jangan ada caci maki, membentak, rasa tak percaya, suudzon, gerutu, cemberut, dan sejenisnya," ingat Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan sekitar 300 peserta seminar yang diadakan Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin dan Forum Masyarakat Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, yang juga CEO Mizan Media Utama ini mengatakan bahwa sekarang masih banyak orangtua dan guru sebatas mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal, kita sebaiknya menggunakan prinsip, not only teach but also touch. Dua aspek ini saling menyeimbangkan satu dengan yang lain buat membentuk karakter anak," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek touch menurut Andi adalah merangsang dan memotivasi anak dengan kasih sayang. "Lewat cara ini anak menerima gambaran utuh pengalaman emosional dan kasih sayang," terang Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencipta karakter kucing Mio dalam komik anak-anak terbitan Mizan ini menambahkan, bila kedua aspek tersebut dilakukan konsisten, maka peluang anak memperoleh kecerdasan makin terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma kecerdasan intelektual (IQ), tapi juga kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Keseimbangan ketiganya, membuat anak tumbuh menjadi anak kreatif dan bisa mengoptimalkan kemampuan mencari solusi dari setiap masalah yang akan dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kecerdasan spiritual (SQ) berkembang baik, seseorang mulai menyadari secara penuh, gagasan, inovasi, dan kreativitas yang ia temukan mempunyai makna dalam kehidupannya. Kesadaran ini menumbuhkan keyakinan pada pemanfaatan lebih luas untuk kebaikan dengan dilandasi ketulusan serta kejernihan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi bakal tepat sasaran bila orangtua dan guru lebih dulu memahami berbagai potensi kreativitas anak-anak yang sifatnya spontan, original, dan tak terduga. (ricky reynald yulman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan Anak Mencoba&lt;br /&gt;METODE rekreatif atau permainan seperti menggambar, mendongeng, dan memasak, sangat direkomendasikan oleh para ahli pendidikan  untuk mengembangkan kreativitas anak. Biarkan anak berani mencoba menggunakan media berupa botol plastik, biji kenari, biji asam jawa, dan sebagainya. Jangan buru-buru melarang, namun awasilah agar apa yang dilakukan anak tak sampai membahayakan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan kondusif bisa diciptakan dengan cara melibatkan anak dalam berbagai kegiatan atau suatu proyek yang dilakukan orangtua atau guru. Misalnya membuat kandang monyet, membuat kue ulang tahun, dan mencuci mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui metode ini anak-anak akan merasa aman secara emosional. Mereka pun merasa diterima dan dibolehkan membantu orang dewasa di sekitarnya. Sehingga para orangtua dan guru bisa lebih mudah menemukan dan menganalisa sampai di mana keseimbangan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ anak. (ricky reynald yulman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendorong Anak Kreatif&lt;br /&gt;ORANGTUA dan pendidik bisa membentuk anak-anak mereka menjadi anak-anak kreatif. Antara lain dengan memberi dorongan terkait beberapa hal:&lt;br /&gt;- Menumbuhkan rasa percaya diri dan berani&lt;br /&gt;- Memberi contoh&lt;br /&gt;- Menyadari keberagaman karakter anak&lt;br /&gt;- Sungguh-sungguh&lt;br /&gt;- Memberi kesempatan anak berekspresi dan bereksplorasi&lt;br /&gt;- Memahami detail karakter anak&lt;br /&gt;- Responsif&lt;br /&gt;- Positive thinking&lt;br /&gt;- Menggunakan aneka metoda dan aneka media&lt;br /&gt;- Disiplin dan konsisten&lt;br /&gt;- Motivasional&lt;br /&gt;- Melakukan satu pekerjaan bersama anak&lt;br /&gt;- Not only teach but also touch&lt;br /&gt;(s&lt;i&gt;umber: Andi Yudha Asfandiya/http://tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=8183&amp;amp;kategori=16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;“Namanya si Ijo!” Kata kak Andi Yudha Asfandiyar, sambil mengelus-elus kepala seekor ular hijau yang melilit di lehernya. Anak-anak yang didongengi kak Andi serentak bergidik. Awalnya ada yang menjerit takut, jijik, tapi tak sedikit pula yang malah menghampiri karena penasaran. Lambat laun, semua ingin mencoba memegang ular tersebut. Bahkan melilitkan di lehernya. Kak Andi tidak hanya pintar mendongeng ternyata, tapi juga jago menggambar. Buktinya beberapa anak yang berani memegang dan mengalungkan ular tersebut di leher mereka lalu digambarnya kemudian hasil gambar tersebut dihadiahkan kepada mereka. Ternyata bukan anak-anak saja yang ikut menjerit, tapi juga ibu-ibu yang duduk di barisan belakang, merasa geli juga melihat ular hijau, besar bermain-main di leher manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah suasana yang terjadi ketika pembukaan diskusi “Keluarga Pengarang” dan launching novel karya Bella “Beautiful Days” yang dilaksanakan pada hari sabtu (10/02) kemarin. Setelah pembacaan puisi dari anak-anak kampung Ciloang dilanjutkan dengan dongeng tadi. Setelah itu baru diskusi tentang menumbuhkan minat baca dan tulis terhadap anak sejak dini. Acara berlangsung tertib. Firman venayaksa sebagai moderator sampai bolak-balik panggung memandu jalannya diskusi. Panggung Acara diskusi “Keluarga Pengarang” memang ditujukan untuk semua usia, mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, tumpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir acara kami kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka; Asma Nadia, Hilman “Lupus” dan Biru Laut datang bersama-sama. Panggung yang di set seperti ruang keluarga oleh Pak Indra Kesuma, Rimba, langlang, Muhzen, Roy, Piter, Aji dan Awi semalam suntuk itu bertambah ramai karena ada diskusi kedua bersama ketiga penulis tadi. Alhamdulillah semua berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Hujan yang kami khawatirkan akan mengguyur kota Serang, berkat do’a semuanya tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya (11/02) kami kedatangan tamu yaitu Embay Mulya Syarif bersama anak lelakinya, Teguh. Ia datang untuk berbagi ilmu enterpreneurship kepada relawan Rumah Dunia sekaligus menyumbang uang sebesar Rp. 200.000 untuk kegiatan Rumah Dunia. Rencananya ia akan menjadi donatur tetap.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber :http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=795&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5440682895960338361?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5440682895960338361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5440682895960338361' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5440682895960338361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5440682895960338361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-andi-andi-yudha-isfandiyar.html' title='Kak Andi (Andi Yudha Isfandiyar)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0_Mygy8LI/AAAAAAAAABo/YAiE2kYQ6Ts/s72-c/andi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-2983928799340952641</id><published>2008-07-27T20:19:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T20:22:26.524-07:00</updated><title type='text'>DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF (SUPLEMEN)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI07KhQ27YI/AAAAAAAAABg/QUtQy8r4U8A/s1600-h/06290bayi01.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI07KhQ27YI/AAAAAAAAABg/QUtQy8r4U8A/s320/06290bayi01.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227899794360823170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi-bayi yang rajin didongengi terbukti memiliki simpul saraf (myelin) yang lebih aktif. Sudahkah Anda melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak si kecil masih dalam kandungan, Rika sudah biasa mendongeng untuk anaknya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari aktivitas yang sedang dilakukannya sampai cerita-cerita sarat pesan moral yang dibaca dari beragam buku. Hingga anaknya lahir, Rika masih terus melakukan kebiasaan tersebut. Sambil memandikan, menyuapi dan bersiap tidur pun, ibu satu anak ini menyelipkan satu-dua cerita. Hasilnya? "Saya lihat perkembangan anak saya lebih cepat dibanding bayi-bayi seusianya. Saya rasa memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mendongeng pada anak sejak bayi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi contoh nyata: seorang mempelai perempuan memilih satu lagu khusus untuk mengiringi pernikahannya. Ketika ditanya alasannya, dengan lugas ia menjawab, "Lagu ini rasanya akrab sekali di telinga saya. Katanya sewaktu bayi saya sering didongengi cerita yang tertulis sebagai syair lagu ini." Wah, masa sih efek dongeng pada bayi bisa sedahsyat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKTIFKAN SIMPUL SARAF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari banyak penelitian sudah dibuktikan bahwa mendongeng pada anak memang banyak sekali manfaatnya. Jangankan sejak bayi, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan pun mendongeng sudah bisa dilakukan," ujar Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati anak yang sudah berulang kali mengikuti seminar tentang dongeng di berbagai negara. Jadi kalau ada pertanyaan mulai kapan bayi bisa didongengi, jawabannya adalah sejak indra pendengaran bayi mulai berfungsi di dalam kandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. "Kalau dilakukan dengan ketulusan hati, 'transmisinya' jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa kesempatan, Andi Yudha selalu menekankan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan ketahanan mental anak. Ia lantas menguraikan manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas mendongeng pada bayi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* mengaktifkan simpul saraf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian membuktikan, cerita-cerita yang didengar anak sejak bayi dapat mengaktifkan simpul-simpul saraf di otaknya (myelin). Cara kerjanya sederhana saja kok. Seperti halnya senam otak, banyaknya informasi yang didapat anak dapat membuat otak si kecil menjadi lebih aktif. Ini pun berimbas pada perkembangan IQ-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* merangsang indra&lt;br /&gt;Dongeng yang disampaikan dapat merangsang indra bayi, terutama indra pendengaran dan penglihatan. Banyak pakar yang sependapat bahwa 5 tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa emas atau masa sedang giat-giatnya anak menyerap berbagai hal yang didengar dan dilihat. Jadi, meski belum bisa memberikan respons yang berarti, semua cerita yang disampaikan orang tua akan ditangkap oleh indra pendengaran dan penglihatannya untuk kemudian direkam dalam memorinya. Kedua indra tersebut juga jadi terlatih menangkap sedemikian banyak informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* perkembangan lebih cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya informasi yang didapat oleh bayi bisa mengoptimalkan pertumbuhannya. "Jangan heran kalau bayi yang lebih sering mendengar cerita nantinya jadi lebih cepat tengkurap, merangkak dan sebagainya. Itu semua akibat perkembangan otaknya lebih optimal karena banyaknya rangsang yang diterima," lanjut Andi Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kemampuan ini tidak berhenti sampai di usia bayi saja. Setelah anak tumbuh lebih besar pun banyak manfaat yang masih terasa apabila dongeng sering diperdengarkan pada bayi. "Paling tidak, karena perkembangan otaknya optimal, stimulus apa pun yang diajarkan padanya akan ditangkap lebih cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* lebih peka&lt;br /&gt;Selain perkembangan kemampuan fisik dan intelektual, bayi-bayi yang sering mendengarkan orang tuanya bercerita diyakini akan tumbuh menjadi anak yang lebih peka. Seiring dengan pertambahan usianya, kepekaan ini akan mendukung sederet sikap positif lainnya, seperti rasa ingin tahu, percaya diri, sikap kritis, kemauan eksploratif, dan sebagainya. Dengan kata lain kecerdasan emosional, spiritual, dan ketahanan mentalnya kian terasah. Memang, tidak semua manfaat positif langsung terasa pada anak sejak bayi karena ada sifat-sifat yang mungkin baru terlihat setelah si anak tumbuh besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK HANYA MEMBACAKAN BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang beranggapan mendongeng untuk bayi hanya bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita. "Padahal tidak hanya sebatas dengan membacakan buku," tandas pendongeng yang baru berkeliling ke beberapa kota besar di Indonesia untuk mendongeng di Taman Kanak-Kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana lagi dong cara mendongeng untuk bayi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sambil beraktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen-momen saat bayi makan, mandi, dipangku, ditimang, dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk mendongeng. "Jadi, tidak harus membacakan cerita sebelum tidur. Kalau harus selalu seperti itu sih, bisa-bisa orang tuanya yang tidur duluan," kelakar Andi. Kendati begitu, boleh-boleh saja membacakan buku cerita tertentu untuk bayi, tapi tidak mutlak harus menggunakan cara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gunakan alat bantu&lt;br /&gt;Gunakan alat bantu supaya dongeng menjadi menarik, selain memberi manfaat lebih untuk merangsang indra bayi. Misalnya dot susu yang sudah tidak terpakai diandaikan sebagai topi atau sepatunya sebagai rumah-rumahan. Demikian halnya dengan kapas, popok, botol sampo, dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan sebagai pendukung cerita. Kelebatan benda-benda dengan warna yang berbeda-beda itu akan menarik perhatiannya sekaligus merangsang penglihatannya. Selain itu, biarkan si kecil memegang dan merasakan tekstur alat bantu dongeng tersebut yang amat bermanfaat untuk merangsang indra perabanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mainkan intonasi suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intonasi suara yang berbeda-beda amat bermanfaat bagi indra pendengarannya. Selain itu intonasi yang berbeda-beda ini akan membuat cerita menjadi lebih menarik. "Coba bandingkan antara cerita yang dibacakan orang tua dengan suara datar sambil terkantuk-kantuk dengan cara bertutur yang amat hidup dan variatif. Ada suara tinggi untuk tokoh A, suara rendah untuk tokoh B, suara cempreng untuk tokoh C, dan sebagainya," saran Andi Yudha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tambahkan gerakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan pantomim sederhana juga bisa disisipkan saat mendongeng. Misalnya ketika bercerita tentang kuda melompat, orang tua dapat menyontohkannya dengan gerakan melompat disertai ekspresi muka yang mendukung. "Tak perlu belajar pantomim secara khusus. Cukup gerakan sederhana saja asal mendukung cerita," lanjut Andi. Biarkan anak belajar berimajinasi sesuai dengan usianya. Bila si kecil sudah bisa membuat beberapa gerakan, tak ada salahnya memanfaatkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Libatkan perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah disebutkan di atas, ketulusan orang tua bisa menjadi "transmisi" yang kuat untuk mengirim sinyal pada bayi. Ikatan batin bisa dibangun dari aktivitas tersebut. Begitu juga rasa sayang dan perhatian orang tua dapat terungkap di situ. "Banyak orang tua yang sekadar mengikuti teori untuk membacakan cerita pada bayinya meski sedang jengkel atau lelah. Jangan salah, bayi bisa merasakan itu semua lo," kata Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Semua hal bisa diceritakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, tidak cuma cerita yang sarat dengan pesan moral yang bisa didongengkan pada si kecil. Kejadian sehari-hari yang paling sederhana pun bisa diceritakan. Misalnya saat mengganti popok, menyuapinya, mengajaknya jalan-jalan di taman kompleks dan sebagainya. "Untuk usia ini, cerita dengan pesan moral boleh saja sesekali diperdengarkan, tapi tidak tiap kali bercerita harus ada tokoh antagonis dan protagonisnya," tukas Andi. Cerita yang mau didongengkan bisa disiapkan sebelumnya dengan menyontoh buku. Bisa juga spontan karena ada kejadian menarik saat itu. Intinya, banyak hal bisa dijadikan cerita untuk si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Batasi waktunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentang perhatian dan konsentrasi bayi masih sangat terbatas. Itulah sebabnya, tidak disarankan untuk membacakan si kecil buku cerita yang tebal sampai selesai. "Cukuplah selama 2-5 menit sebagai permulaan," sarannya. Meski waktunya singkat, tapi kalau frekuensinya sering, lebih terasa manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang juga harus menyertai kegiatan mendongeng adalah kesabaran ekstra. Bagaimana tidak? Karena respons yang ditunjukkan bayi sering tidak terlihat. Berbeda dari anak yang usianya lebih besar, yang responsnya sudah lebih jelas, semisal senang, sebal, tertarik dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang tualah yang harus jeli mengamati situasi, apakah bayinya sedang "enak" didongengi atau sebaliknya. "Cari kesempatan yang enak bagi orang tua maupun bayinya," saran Andi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN SALAH PILIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski memberi sederet manfaat, ada beberapa hal yang mesti dicermati kala bercerita pada bayi. Yang pasti, orang tua harus pandai memilah-milah bahan cerita. Jauhkan cerita yang dapat berdampak negatif, seperti cerita tentang menjelek-jelekkan kelemahan orang lain. "Yang seperti ini ya tidak benar. Kalau yang diceritakan tidak pas, bisa-bisa malah mengganggu perkembangannya," tukas pria yang pernah mengikuti pelatihan mengenai masalah anak-anak atas undangan ACCU-UNESCO, di Tokyo, Jepang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, cerita apa lagi yang sebaiknya tidak didengar anak? "Antara lain, keluh kesah orang tua, baik mengenai keharmonisan rumah tangga maupun masalah finansial. Contohnya, ibu yang curhat pada bayinya mengenai sang mertua. Yang seperti ini jelas kurang bijaksana disamping tentu saja sama sekali tidak bermanfaat bagi anak," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu orang tua harus menyadari bahwa di usia ini bayi begitu cepat menyerap semua informasi. Kalau sampai ada informasi yang keliru, bisa jadi efeknya tidak langsung terlihat saat itu juga, melainkan setelah si bayi tumbuh lebih besar. Runyam kan?&lt;br /&gt;Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman/nakita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber :http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06290&amp;amp;rubrik=bayi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-2983928799340952641?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/2983928799340952641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=2983928799340952641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2983928799340952641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2983928799340952641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/dongeng-aktifkan-simpul-saraf-suplemen.html' title='DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF (SUPLEMEN)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI07KhQ27YI/AAAAAAAAABg/QUtQy8r4U8A/s72-c/06290bayi01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-8177785081925952568</id><published>2008-07-27T19:43:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T19:46:58.727-07:00</updated><title type='text'>Pak Raden (Drs. Suyadi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0y8IiQ5xI/AAAAAAAAABY/ojuuAdtGP3c/s1600-h/20.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0y8IiQ5xI/AAAAAAAAABY/ojuuAdtGP3c/s320/20.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227890751111751442" /&gt;&lt;/a&gt;Nama aslinya Drs. Suyadi, namun ia lebih dikenal dengan panggilan Pak Raden. Lahir pada 28 Nopember 1932 di ujung Timur Pulau Jawa di tepi pantai Laut Selatan tepatnya di desa Puger dari keluarga besar dengan 9 bersaudara. Apa katanya tentang Film Boneka ‘Si Unyil’ yang diputar dalam versi yang jauh dari aslinya di sebuah TV Swasta? Bagaimana pandangannya tentang dunia anak-anak? Berikut obrolan TOGANEWS dengan Pak Raden yang belakangan kerap muncul pada acara-acara mendongeng di Toko Gunung Agung; Sejak kapan sih Pak Raden suka mendongeng? Saya sendiri tidak tahu, tapi sekali-sekali mendongeng yang bukan secara professional begini, tiap kumpul-kumpul mendongeng. Sejak kecil saya suka dongeng dan saya sebetulnya seorang ‘Perupa’, bidang saya senirupa. Di dalam bidang senirupa itu saya pilih senirupa yang naratif, yang mendongeng misalnya illustrasi buku anak-anak. Itu kan bidangnya senirupa tapi sifatnya mendongeng. Saya juga suka mendalang, satu bentuk seni yang bertutur. Dari dulu saya suka mendongeng dengan gambar, dengan main wayang ataupun dengan boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam pandangan Bapak, dunia anak-anak itu seperti apa sih?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang menyenangkan. Rasanya tidak ada kesusahan. Kalau pada anak-anak yang bahagia, kalau pada anak-anak yang menderita ya memprihatinkan. Tapi dunia anak seharusnya dunia yang membahagiakan dalam keadaan yang normal, keadaan yang baik, keadaan yang tidak terganggu oleh situasi macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tentang film boneka ‘Si Unyil’ yang diputar dalam versi baru?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah protes, tapi tidak digubris. Sejak semula saya tidak setuju, kok formatnya jadi lain. Unyil itu kan anak desa dan satu hal yang sangat menyimpang adalah bahwa ‘trade mark’ nya sudah hilang. Sesuatu yang khas secara visual dari Si Unyil itu anak kecil dengan muka lucu, pakai peci, pakai sarung diselempangkan, itu tidak ada lagi. Dulu kita lihat gambar anak pakai peci, sarung diselempangkan; Oo itu Unyil. Sekarang apa? Tidak ada bedanya antara satu dengan yang lain. Unyil yang tadinya sudah enak-enak hidup di desa, sekarang dibawa ke kota dengan alasan katanya anak-anak sekarang tidak suka lihat kehidupan di desa. Omong kosong! Justru kita ingin anak itu mengenal desa. Begitu banyak hal yang bisa kita pelajari dari desa. Kok terus dijadikan anak kota. Lalu satu hal lagi kalau sudah di kota itu apa yang mau dilakukan? Playstation? Kalau di desa dia dekat dengan alam, hutan, jurang, gunung, goa, segala macam. Sehingga kesempatan untuk bertualang banyak. Saya tidak anti, mungkin kalau nanti di desa akan ada juga Playstation, nah kalau seperti itu akan masuk juga akhirnya. Tapi kenapa dia harus dipindahkan? Satu lagi, penampilan Unyil dan lainnya dibuat dengan penggunaan kedipan mata dan mulut yang bergerak kalau bicara. Itu jelek sekali! Seperti monster kecil-kecil, melotot-lotot, dari segi estetikapun tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal kita mendidik anak itu tidak hanya dengan petuah- petuah, dengan cerita, dakwah tapi secara visual anakpun harus dididik dia harus dibiasakan melihat sesuatu yang indah dan apa yang kita lihat dengan Unyil sekarang? Kasihan anakanak sekarang disuruh melihat film yang, sorry ya terus terang kadar estetikanya begitu rendah. Kasihan anak-anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bicara tentang komik luar yang sekarang lagi banjir, komentar Bapak?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak anti komik, saya juga tidak anti membanjirnya komik. Cuma yang saya sayangkan para insan komik kita terdesak oleh komik-komik yang datang dari luar. Mereka punya alasan yang sebetulnya cukup masuk akal. Kalau kita menerbitkan sendiri, bayar pengarang, bayar ongkos cetak dsb, itu mahal. Tapi kalau kita menterjemahkan, gampang kan? Jauh lebih murah. Seperti di TV membuat sinetron untuk anakanak mahal, tapi kalau beli Doraemon-kan gampang. Mestinya harus ada kemauan dari kita sendiri, kemauan pelukis, para perupa kita, seniman kita harus diberi kesempatan. Sekarang masalahnya ini dari luar semua. Seniman harus diberi tempat, memang dari luar banyak yang baik, tapi dari kita juga banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apa yang paling menyenangkan dari masa kecil anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menyenangkan terus terang kalau baca buku anak-anak. Zaman dulu paling senang kalau baca buku mungkin karena dulu belum ada TV jadi anak-anak menghabiskan waktunya dengan membaca. Di sekolah kalau sudah pelajaran membaca, itu yang paling saya nantikan, kenapa? Selain pelajarannya menyenangkan juga illustrasinya bagus-bagus. Ini hikmahnya kalau buku illustrasinya bagus, anak-anak dengan sendirinya akan suka membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Terakhir, apa yang Bapak harapkan dari anak-anak kita?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya adalah terhadap apa yang dinikmati anak. Buku yang bagus untuk anak, film yang bagus untuk anak, tontonan yang bagus untuk anak. Saya lihat sekarang di Gunung Agung banyak buku yang bagus untuk anak.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.tokogunungagung.co.id&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-8177785081925952568?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/8177785081925952568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=8177785081925952568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8177785081925952568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/8177785081925952568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/pak-raden-drs-suyadi.html' title='Pak Raden (Drs. Suyadi)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0y8IiQ5xI/AAAAAAAAABY/ojuuAdtGP3c/s72-c/20.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-5417749523631835608</id><published>2008-07-27T19:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T19:39:44.353-07:00</updated><title type='text'>Kak Bimo (Bambang Bimo Suryono)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0vRxQLrJI/AAAAAAAAABQ/ZqDsHOA9SMQ/s1600-h/kakbimo.png"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0vRxQLrJI/AAAAAAAAABQ/ZqDsHOA9SMQ/s320/kakbimo.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227886724772506770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki keahlian langka, yaitu sebagai pendongeng yang mampu menirukan berbagai karakter dan 154 bunyi-bunyian. 17 tahun menggeluti dunia mendongeng serta mendedikasikan keahlian tersebut untuk turut “Membangun Karakter Bangsa Melalui Dongeng”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah prestasi dan penghargaan telah diperoleh dalam rentang waktu pengabdiannya. Konsep dongeng yang dikembangkannya adalah dongeng edukatif untuk membangun karakter secara massal, atraktif-interaktif, segar-humor, serta bercita rasa nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audiens yang menjadi pecinta fanatik dongengnya berasal dari beragam usia, dari kanak-kanak hingga dewasa. Kemampuan penguasaan audiennya sangat tinggi, dari jumlah audien sedikit hingga belasan ribu orang. Hal yang sulit dicari tandingannya adalah kemampuan kreatifnya untuk mengendalikan audiens dalam waktu singkat hingga berjam-jam lamanya. Uniknya, tak seorang pun yang teralih perhatiannya, hanyut dalam alur dan pesan-pesan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan jam terbang menjadikan Kak Bimo good experience, kerap menjadi narasumber/bintang tamu dalam berbagai event pendidikan, seperti: seminar, lokakarya, workshop, family gathering, launching product, super motivator, spiritual engineering, stadium general, maupun master of ceremony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Bimo adalah penggagas orisinal “Yogya Kota Dongeng”, dan menjadikan dongeng sebagai ikon pendidikan kota Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : htt://kakbimo.wordpress.com&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-5417749523631835608?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/5417749523631835608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=5417749523631835608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5417749523631835608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/5417749523631835608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/seseorang-yang-memiliki-keahlian-langka.html' title='Kak Bimo (Bambang Bimo Suryono)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SI0vRxQLrJI/AAAAAAAAABQ/ZqDsHOA9SMQ/s72-c/kakbimo.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-6065397222157260936</id><published>2008-07-25T20:44:00.001-07:00</published><updated>2008-07-31T23:45:48.478-07:00</updated><title type='text'>Kak Hendro Temble (Paman Kwek Kwek)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqdyV6sDmI/AAAAAAAAABI/W8hBLGCTQGc/s1600-h/kwek.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqdyV6sDmI/AAAAAAAAABI/W8hBLGCTQGc/s320/kwek.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227163805719203426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pendongeng Anak Nasional, Paman Kwek-Kwek, berhasil mendongeng dengan waktu total 48 jam (atau 8 jam sehari) selama enam hari berturut-turut sejak 15-20 Juli 2008, di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Minggu (20/7/2008).&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://foto.okezone.com&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-6065397222157260936?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/6065397222157260936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=6065397222157260936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6065397222157260936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/6065397222157260936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/paman-kwek-kwek.html' title='Kak Hendro Temble (Paman Kwek Kwek)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqdyV6sDmI/AAAAAAAAABI/W8hBLGCTQGc/s72-c/kwek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-582879772170449821</id><published>2008-07-25T20:29:00.001-07:00</published><updated>2008-08-20T20:16:14.135-07:00</updated><title type='text'>PM Toh (Agus Nuramal)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqbpD7-R6I/AAAAAAAAABA/nyB8tBhvKiQ/s1600-h/pm_toh.jpg"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqbpD7-R6I/AAAAAAAAABA/nyB8tBhvKiQ/s320/pm_toh.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227161447250675618" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;Pendongeng Asal Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hikayat Pendongeng di Masa Damai Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Di satu negri di ujungkarang, yang sering dilanda bencana gempa, air laut naik, bumi bergoyang-goyang, lalu orang-orang untuk menghindari gempa, beraya-raya membuat rumah anti digoyang tsunami ... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASIH ingatkah Anda dengan bait syair di atas? Bait syair ini kerap sekali muncul di layar kaca di saat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sedang dilanda bencana tsunami. Pendendang syair tersebut adalah seorang pendongeng hikayat babad asal Aceh, yang hingga kini masih melestarikan sebuah tradisi lisan dari daerahnya sendiri di tanah perantauan. Dialah Agus Nur Mulia yang berjuluk PM Toh dan sudah merantau ke Jakarta sejak tahun 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kafe di Taman Ismail Marzuki (TIM), pada cuaca yang bersahabat, PM Toh biasa dijumpai. Perawakannya yang kecil, lincah, dan bersahabat membuat siapa pun yang berbincang dengannya menjadi cepat akrab. Kala itu dia tengah beristirahat sejenak melepas penat untuk mempersiapkan syuting di sebuah stasiun televisi yang sudah menjadi kegiatan rutinnya hingga setahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melinting rokok dan menyeruput secangkir kopi, dia lantas bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bermula dari menonton pertunjukan teater asal Prancis yang memainkan pertunjukan jenis troubadur di teater tertutup, aku kemudian jatuh hati. Pasalnya, pertunjukan yang dimainkan tersebut memiliki kesamaan dengan kesenian tutur yang ada di Aceh yang dikenal dengan nama deng de ria atau po ha bu atau PM Toh," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah, pria lulusan D3 Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Seni Pertunjukan tersebut memutuskan kembali ke Aceh pada tahun 1992 untuk belajar kepada Tengku Haji Adnan, seorang tukang jual obat keliling kampung yang cukup dikenal di Aceh daratan selama setahun. Di dalam memasarkan obatnya tersebut, Adnan kerap kali bercerita kepada para penontonnya dan ini membuat anak-anak ataupun orang dewasa menjadi terpikat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus kemudian menyambar korek di meja, menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam lantas kebul asap rokok yang tebal diembuskannya kuat-kuat ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nama PM Toh sendiri adalah nama bus trans Sumatera tahun 1969. Singkatannya adalah Perusahaan Motor Onderneeling Nederlands. PM Toh ini adalah sebuah perusahaan joint company Aceh-Belanda. Nah, di bus itulah ada 20 buah klakson di kiri-kanan badan bus yang berbentuk terompet dan dimainkan dengan keybord," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacamata Palsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat Tengku Haji Adnan bercerita dengan memakai hidung dan kacamata palsu, tak jarang dia menirukan bunyi klakson saat hidung palsu yang berwarna merah itu dipencet. "Karena disukai, akhirnya dia dijuluki PM Toh," katanya sambil mengembuskan asap rokok mengepul ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat belajar dengan PM Toh ini, Agus belajar ngomong di mana saja dan kepada benda di sekelilingnya. Ngomong dengan pohon pisang, ngomong dengan laut, dan ngomong terus tiada hentinya. "Eh payung, kenapa kau warna merah. Ada tulisan Mild lagi di sini. Dan sendok, ngapain kau tergeletak di sini," katanya mencontohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus, tujuan dari banyak ngomong tersebut adalah untuk melatih spontanitas berpikir kita supaya tanggap. "Tradisi lisan ini sebenarnya sudah diturunkan secara turun temurun dan sangat imajinatif, maka untuk mendukung daya imajinatif tersebut, aku sering menggunakan media yang biasa dijumpai di sekitar kita. Seperti plastik kresek hitam untuk awan hitam dan sendok ditambah garpu bisa jadi pesawat terbang. Setelah itu, baru saya susun ceritanya," katanya. Inilah yang kemudian menjadi ciri khasnya selain irama yang cepat saat membawakan dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali merantau ke Jakarta sekitar tahun 1998, Agus membawakan permasalahan Aceh dengan menggunakan simbol-simbol. Seperti saat bercerita soal pembunuhan di kampung Bronto, Aceh, ada adegan diserang dua buah pesawat tempur yang membombardir kampung itu dengan bom. "Pesawatnya kupakai dari botol Aqua dan bomnya kubuat dari plastik kresek yang digumpal hingga menyerupai bom," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di saat masa pemerintahan Megawati, Agus memutuskan untuk tidak menyinggung lagi soal Aceh dikarenakan kekecewaannya pada pemerintahan saat itu yang memberlakukan operasi militer. "Saat itu, entah mengapa tidak banyak lagi orang yang mau menggelar pertunjukan lisan ini. Mungkin mereka tidak berani. Namun, tradisi ini tidak hilang," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati pada awalnya, hikayat yang Agus bawakan bernada kekecewaan terhadap operasi militer, namun dia masih tetap tidak dapat menghapus memori yang sudah telanjur tertanam dengan kuat. "Aku ini orang Sabang yang selalu berfantasi dengan laut dan pohon kelapa yang indah. Aku selalu kebayang dengan kekejaman yang berlangsung di Aceh saat masa operasi militer. Aku lihat dengan mata kepala sendiri," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, Agus sudah memainkan 540 kali pertunjukan yang sering digelar di berbagai acara mulai dari demo mahasiswa, sunatan, acara ulang tahun, hingga masuk ke dalam layar kaca. "Aku berharap dengan adanya perjanjian damai ini dapat memberikan hak untuk bebas berekspresi. Sekarang kita tunggu saja apa tanggal 4 Desember saat ulang tahun GAM nanti, mereka mau menggelar pawai kesenian dan tradisi lisan," kata pria kelahiran 17 Agustus 1968 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus boleh sedikit berlega hati. Setidaknya, di tengah kondisi bangsa yang carut marut ini dan di tengah kesepakatan damai yang telah dicapai, dia berhasil mempertahankan tradisi bertutur lisan asal Aceh yang saat ini mulai digemari di tayangan layar kaca. "Saat ini, aku juga diminta untuk main di film anak-anak berjudul Reina garapan Riri Riza yang akan diluncurkan pada 13 Oktober mendatang. Di film itu, aku bermain sebagai tukang jual obat yang sangat pandai mendongeng dan disukai anak-anak," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir perjumpaan, dia menutup dengan salam. Demikianlah kisahku. Semoga apa yang kukisahkan nempel di kepala. Kalaupun gak nempel pun gak apa-apa ... jreng jreng ... (Ali Imron Hamid-48h)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-582879772170449821?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/582879772170449821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=582879772170449821' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/582879772170449821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/582879772170449821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/pm-toh-pendongeng-asal-aceh-hikayat.html' title='PM Toh (Agus Nuramal)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqbpD7-R6I/AAAAAAAAABA/nyB8tBhvKiQ/s72-c/pm_toh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3147341104282364816</id><published>2008-07-25T20:04:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T20:14:43.003-07:00</updated><title type='text'>Kak Rico</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqVdTDTxaI/AAAAAAAAAA0/0P9yWetRv1Y/s1600-h/11.Sok_imut.jpg"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqVdTDTxaI/AAAAAAAAAA0/0P9yWetRv1Y/s320/11.Sok_imut.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227154648079779234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Profil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk menjadi Pendongeng sama sekali tidak pernah sedikit pun terpikirkan oleh kak Rico. Kak Rico lebih senang berkecimpung dalam dunia Teater, Music, dan kegiatan entertainment lainnya. Namun pada tahun 2004, berawal dari keisengannya mengikuti ajakan salah seorang kawannya untuk mengikuti sebuah kegiatan Workshop Dongeng yang diadakan oleh LSM YAPPIKA, kak Rico malah merasakan "kenikmatan" yang sangat berbeda dibanding dengan bermain atau menyutradarai pertunjukan Teater atau Komedi. Ketagihan kak Rico makin menjadi-jadi setelah ia berhasil meraih gelar Juara II Lomba Dongeng di TMII pada tahun itu pula, padahal baru kali itu pula lah kak Rico ikut dalam sebuah kegiatan lomba dongeng. Sejak saat itu lah kak Rico seperti mendapat petunjuk bahwa dongeng merupakan profesi yang tepat untuknya. Hingga akhirnya lambat laun kak Rico pun semakin merasakan bahwa dongeng telah membuat ia menyayangi dan mencintai anak-anak Indonesia. Apalagi hingga saat ini kak Rico belum juga dikaruaniai seorang anak pun, maka sebagai pelampiasannya kak Rico mengganggap anak-anak yang mendengar dongeng kak Rico adalah adalah anak-anak kandungnya sendiri yang dapat membuat kak Rico bahagia bila bisa menghibur mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, sejak tahun 1990 kak Rico lebih sering berkecimpung dan menggeluti dunia seni teater dan musik untuk kalangan remaja dan mahasiswa, termasuk mendirikan beberapa sanggar serta sempat terlibat sebagai pemain utama dan penulis skenario dalam 22 episode fragment rohani “Keluarga Sakinah” di ANTV. Berkat kemampuannya pula ia sempat dipercaya oleh Pimpinan Cinta Rasul (Bpk Haydar Yahya) untuk menyutradarai beberapa video klip Haddad Alwi dan Sulis (Cinta Rasul 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ± 6 tahun belakangan ini kak Rico mulai intens menggeluti dan malang melintang dalam dunia pertunjukan dan kegiatan anak-anak. Bukan hanya sebagai Pendongeng tapi juga sebagai Pelatih Drama dan Vokal (TK s/d SMA), Penulis Cerita, dan bahkan sebagai Pencipta lagu anak pernah ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Rico dalam setiap kali mendongeng tampil dengan konsep enerjik, ekspresif, jenaka, dan musikal, namun tetap edukatif dan memberikan contoh-contoh tauladan untuk anak-anak dalam setiap ceritanya yang kebanyakan dikarang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pretasi yang diraih kak Rico cukup lumayan, diantaranya Juara II Lomba Mendongeng di Taman Mini Indonesia Indah tahun 2004, Juara I Lomba Mendongeng yang diadakan Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2005, dan Juara I Lomba Mendongeng pada acara BOBO FAIR di JHCC Senayan pada tahun 2007. Sayangnya untuk Lomba Mendongeng pada acara BOBO FAIR di JHCC tahun ini kak Rico tidak sempat untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda mendongeng yang pernah kak Rico lakukan antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan Taman Kanak-kanak &amp;amp; Sekolah Dasar di wilayah Jakarta, Bekasi &amp;amp; Tangerang.&lt;br /&gt;Road Show di 10 Taman Kanak-kanak wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi dalam kegiatan FESTIVAL RAYAKAN KEBERSAMAAN &amp;amp; KEBERAGAMAN (RAKKFEST) yang diselenggarakan oleh LSM YAPPIKA (September 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelanggang Remaja Jakarta Timur dalam acara puncak kegiatan FESTIVAL RAYAKAN KEBERSAMAAN &amp;amp; KEBERAGAMAN (2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Road Show di beberapa Store Mc DONALD’s di wilayah Jabodetabek dalam acara SAFARI DONGENG RAMADHAN (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Raya Bintaro dalam kegiatan Santunan Anak Yatim (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Bank Mandiri dalam kegiatan FAMILY GATHERING Dept. GSS BANK MANDIRI (2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaza Mandiri dalam kegiatan Pembuatan Rekor MURI, SUNATAN MASAL (2006 &amp;amp; 2007).&lt;br /&gt;Road Show di 20 Lokasi Taman Kanak-kanak wilayah Jakarta dan Tangerang pada kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHANA DUNIA ANAK (April - Mei 2007).&lt;br /&gt;Poins Square Lebak Bulus dalam Kegiatan Kids Talent Competition BAHANA DUNIA ANAK ( Juni 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Play Mall, SENAYAN CITY JAKARTA (Ramadhan 2007).&lt;br /&gt;Road Show di 72 Sekolah Dasar wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi dalam kegiatan YES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUMU SHOW yang diselenggarakan oleh PT. Frisian Flag Indonesia (Oktober 2007 - Februari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Seni Jaya Ancol dalam kegiatan Klub BOBO (Desember 2007).&lt;br /&gt;Dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memenuhi undangan untuk mendongeng, kak Rico tidak pernah pilih-pilih. Dimana pun dan kapan pun ia bersedia mendongeng untuk anak-anak. Baik di kegiatan komersil atau pun sosial, kak Rico selalu berusaha selalu siap untuk mendongeng. Bahkan kak Rico juga siap tidak diberi honorarium jika diminta mendongeng untuk anak-anak yatim piatu, dan kaum dhuafa yang diadakan langsung oleh yayasan yang terkait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, sebagai Pendongeng, kak Rico mempunyai harapan yang sungguh-sungguh terhadap anak Indonesia, yaitu anak-anak Indonesia kelak harus sanggup menjadi generasi penerus bangsa yang berahlak mulia dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.dongengkakrico.com&lt;/i&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3147341104282364816?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3147341104282364816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3147341104282364816' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3147341104282364816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3147341104282364816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/keinginan-untuk-menjadi-pendongeng-sama.html' title='Kak Rico'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqVdTDTxaI/AAAAAAAAAA0/0P9yWetRv1Y/s72-c/11.Sok_imut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-1183255019328891730</id><published>2008-07-25T19:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T19:22:49.375-07:00</updated><title type='text'>Kak Tias (Tias Tatanka)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqKRgy_QDI/AAAAAAAAAAs/KI_TRQf2YP4/s1600-h/919.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqKRgy_QDI/AAAAAAAAAAs/KI_TRQf2YP4/s320/919.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227142350983086130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Kak Tias (Tias Tatanka)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;MENDONGENG DI RUMAH DUNIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Dunia sebetulnya mulai bergulir tahun 2001, sekitar bulan Oktober. Tapi saat itu masih sosialisasi dengan bermain dan mendongeng. Saya dan istri; Tias Tatanka, mencoba meraih anak-anak untuk datang ke Rumah Dunia dengan cara mengajaknya bermain; mainan anak-anak kami simpan di gubuk mainan, memberi mereka hadiah maknan, serta mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di foto ini diambil akhir tahun 2001. Taampak Tias di pendopo - gubuk pertama - sedang mendongeng di depan anak-anak kampung Ciloang ditemani Bella (masih 4 th) dan Abi (3 th). Kedua anak kami sudah jadi relawan waktu itu; ikut membantu membagi-bagikan makanan dan minuman. Dengan cara mendongeng, mulailah ditanamkan kepada mereka cerita-cerita menarik. Kami berharap, mereka kelak akan tertarik membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami baru membeli lahan seluas 500 meter persegi. Pendopo itu sekarang jadi areal klab bermain Jendral kecil.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.rumahdunia.net&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-1183255019328891730?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/1183255019328891730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=1183255019328891730' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1183255019328891730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1183255019328891730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-tias-tias-tatanka.html' title='Kak Tias (Tias Tatanka)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIqKRgy_QDI/AAAAAAAAAAs/KI_TRQf2YP4/s72-c/919.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-2899074036205293331</id><published>2008-07-25T18:57:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T18:59:26.753-07:00</updated><title type='text'>Kak Agus (Agus Surono)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;KAK AGUS SANG PENDONGENG &lt;br /&gt;Punya cita-cita besar, ia menyusun kode etik dan jam bicara profesinya bagai seorang dokter. Bahkan Kak Seto memandangnya sebagai seniman komplet yang langka ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu sekelompok anak usia prasekolah diajak merayakan Hari Kartini di sebuah TK di Kota Bandung. Sejauh mana makna yang tertangkap tak jadi soal. Kain sarung yang tersingkap lebar-lebar karena sikap duduk seadanya sebagai bocah, bukan pula masalah. Panasnya suasana hiruk-pikuk seperti terguyur air pegunungan, saat terdengar suara lembut menyapa lewat mikrofon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adik-adik, siapa yang tadi malam tidur sendiriii ...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak dengan penuh semangat mengacungkan jari, "Sayaaa ...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang tadi malam tidur berdiriii ...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali telunjuk-telunjuk kecil mendongak ke udara, "Sayaaa ...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik suara itu Kak Agus. Ia duduk di kaki tangga panggung dengan senyum-senyum simpul. Tampak demikian santainya ia menikmati puluhan wajah polos yang duduk di lantai beralas karpet di hadapannya. Di belakangnya ada backdrop berupa pintu gerbang istana antah-berantah. Panggung seluas 8 m2 itu penuh dengan alat-alat bantu permainan, pentas wayang golek sederhana, juga kendang berikut pengendangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing bisa bicara&lt;br /&gt;Kak Agus menunjukkan beberapa sikat gigi warna-warni dan mulai main tebak-tebakan warna. Mata anak-anak makin melebar saat dikeluarkan alat tabung transparan yang ke dalamnya ditiupkan angin, sehingga beterbangan keluar "kupu-kupu". Serentak keyboard mendendangkan Kupu-kupu Yang Lucu-nya Ibu Sud. Kak Agus bertanya, "Siapa yang mau tangkap kupu-kupu?" Kembali jari-jari kecil itu melambung ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak acara tiba saat di tangan Kak Agus tiba-tiba bertengger "seekor kambing". Dapat bersuara lagi. Ia bercerita soal pentingnya mandi dan gosok gigi. Kambing bersuara lucu itu pandai pula berdialog dengan penontonnya. Dialog makin seru ketika muncul kura-kura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma penonton cilik; yang dewasa pun memandang tak berkedip. Wayang golek ternyata baru dimainkan di sesi kedua, dengan khalayak anak-anak TK. Begitu meletakkan pantat di belakang batang pisang yang dicat merah muda, Kak Agus beralih fungsi jadi dalang, meski wayang yang disuguhkannya amat sederhana, dalam bahasa Indonesia. Tentu jangan mengharapkan Semar atau Cepot berbicara dalam bahasa Indonesia standar. Logat Sunda-na kaciri pisan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyboard kini bersahut-sahutan dengan tabuhan kendang membawakan irama ringan Sang Kodok. Kalau Semar berbicara dengan suara orang tua yang bijak, Cepot ditampilkan sebagai anak malas yang suka berbohong. Gerak-geriknya lincah mengikuti irama kendang, dengan goyang kibul yang jenaka. Show sepanjang 17 menit itu ditutup dengan suara Semar bertanya, "Anak-anak, bolehkah jadi anak malas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 20 tahun&lt;br /&gt;Nyata benar, pertunjukan ini, betapapun sederhana dalam konsep, telah dipersiapkan dengan matang. Meski yang tampil di pentas hanya empat orang, ada empat orang lagi yang mendukung tim penghibur anak-anak Kak Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak memang dunia saya," aku Kak Agus yang bernama lengkap Agus Djafar Sodik, pendiri, pemimpin dan pemilik Agus DS Production, yang staf tetapnya sekitar 30-an. Meski mencanangkan terjun di bidang children's entertainment, entah berbentuk panggung boneka, operet atau mendongeng, Agus, pertama dan yang utama, adalah seorang pendongeng. Jam terbangnya kini menginjak tahun ke-20. Sebegitu lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol, dongeng-dongeng Agus sudah menghibur anak-anak sejak 1980. Di Dunia Fantasi, kompleks yang sama, pun ada Panggung Boneka Agus DS. Ia pernah mengisi Acara untuk Anak Ruang Angkasa di RRI. Mengisi suara serial kartun Si Huma produksi PPFN, acara Lagu untuk Anak di TVRI, memproduksi acara untuk anak bulanan di TVRI Stasiun Pusat, serial boneka Dede Iyan di TPI, Paket Ramadhan di RCTI, juga acara Kreativitas Anak di TVRI Stasiun Pusat tiap Kamis pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai jenis suara dengan mudah meluncur dari bibir Agus. Dari suara anak balita, orang tua, laki-laki dewasa yang berwibawa, sampai ketawa riang nakal si Burung pelatuk dari serial kartun Woody Woodpecker Show.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin keluar dari botol Aladin&lt;br /&gt;Sementara istilah dongeng akrab dengan budaya dan tradisi lama, profesi "pendongeng" rasanya masih termasuk profesi langka. Dalam arti belum banyak orang yang "nekat" menggantungkan nafkahnya pada profesi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pendongeng yang baik menuntut ramuan yang pas antara bakat, minat, kesempatan, dan kesungguhan. Kalaupun tak berkelebihan dengan fasilitas, petualangan Agus di dunia dongeng dapat disebut berawal dari bakat dan minat yang tak terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir dari pasangan Nasuha Effendy dan Siti Fatimah pada 4 Desember 1960, Agus anak kelima dari delapan bersaudara. Ia tidak cukup beruntung bisa menikmati kedekatan dengan ayahnya. Puncaknya terjadi, saat orang tuanya bercerai, ketika ia baru sekitar 6 tahun. Tetapi ia memperoleh ganti. Ibunya menikah lagi dengan H. Purnama Natasasmita, kepala sekolah sekaligus guru SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru ayah tiri yang membentuk saya," tuturnya. Haji P. Natasasmita ini yang pertama kali menyediakan lahan bagi bakat Agus cilik untuk berkembang. Sebagai pelatih gamelan dan reog, Pak Haji sering mentas. Sambil menerawang jauh, Agus bercerita, "Sebelum saya sekolah, kalau dia mentas, saya sering diajak naik pentas. Entah disuruh menyanyi, mendongeng, atau menari. Malah saat kelas I dan II saya sudah disuruh ikut lomba." Seingatnya, sejak kecil ia tidak mengenal demam panggung. Pentas selalu identik dengan kegembiraan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia duduk di kelas VI, ayahnya ditempatkan sebagai kepala sekolah SD di P. Kelapa, Kep. Seribu, Teluk Jakarta. Karena satu dan lain hal, hanya Agus yang ikut ke sana. Maklum saja, luas pulau itu cuma + 200 x 1.000 m dan sekolah yang ada baru SD. SLTP baru dibuka oleh ayahnya, saat Agus masuk SLTP. Apa mau dikata, sampai tamat SLTP, bakat seni Agus tidak mendapatkan penyaluran lantaran serba terbatasnya sarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setamat SLTP, Agus meneruskan sekolahnya di SPG IV, Jakarta. Baru saat itu, bak jin menerobos keluar saat lampu Aladin digosok, kemampuan artistik remaja Agus langsung menyembul. "Pak P. Harahap almarhum, kepala sekolah kami, mengizinkan murid-murid menggunakan semua sarana berkesenian di sekolah. Daripada pulang ke kos, saya lebih senang menghabiskan waktu di sekolah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus menekuni seni suara, lukis, musik, teater. Segala macam lomba ia ikuti, dengan hasil piala bejibun. "Barangkali selemari banyaknya," kenangnya. Dengan bea siswa yang ia terima, ditambah honor menggambar kartun sebagai alat peraga praktik mengajar atas permintaan teman-temannya, ia mampu menopang hidupnya secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari murid TK sampai tamu bar&lt;br /&gt;Dunia dongeng diterobosnya saat ia memenangkan lomba dongeng untuk SPG dan SGO se-DKI tahun 1979, dengan dongeng Putri Mili dan Bebek Jenaka ciptaan sendiri dan kostum Abunawas, juga ciptaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat SPG, Agus sempat kuliah di LPKJ (cikal-bakal IKJ). Namun pentas panggung yang sebenarnya terus memanggil-manggil. Tak sabar dengan yang diperolehnya di lembaga pendidikan resmi, Agus keluar. Ia mulai mendongeng di Ancol. Tetapi kegiatannya masih belum terfokus. Selain menerima job mendongeng, mengisi suara di film animasi, ia juga menjadi guru TK pada pagi hari dan pembawa acara di bar di malam hari selama tujuh tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jenis pekerjaan yang membutuhkan pendekatan audience yang sangat berbeda ini rupanya besar peranannya dalam mengasah kemampuan Agus menghadapi hadirin, sambil terus memperkaya khazanah kecakapan panggungnya. Sulap misalnya, ternyata berguna, pada saat mendongeng di depan anak-anak ("Tiba-tiba sang putri berubah menjadi ... burung!"), maupun membawakan acara di depan tamu-tamu bar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, berkat Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi), ia belajar memfokuskan diri pada dongeng. Tahun 1988 Kak Seto mengajaknya mengikuti 1988 Sekai Nigyogeki Festival, festival teater boneka sedunia yang berlangsung selama 40 hari di beberapa kota di Jepang. Selama mengikuti rombongan Kak Seto itu, matanya seperti terbuka. "Oh, ini to dunia dongeng yang sebenarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertaliannya dengan Jepang tidak berhenti di situ. Tahun berikutnya ia diundang lagi ke sana untuk mengadakan pertunjukan bersama panggung boneka Ohanashi Caravan Tsubasa selama sebulan di Osaka. Dua tahun kemudian, kerja sama dengan grup Tsubasa disambung lagi, ketika ia dikontrak untuk pertunjukan keliling bersama mereka ke seluruh Jepang selama satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agu-su&lt;br /&gt;Pertunjukan untuk menghibur anak-anak cacat, papa, dan penghuni panti jompo itu seperti membuka kesadaran baru dalam benak Agus. Misalnya, perkenalan singkatnya dengan seorang anak cacat bernama Mi-chan. Anak ini sejak awal tampak betah bermain-main di sekitar panggungnya. Saat pentas tiba, Agus memanggil gadis berusia tujuh tahunan itu untuk menyanyi bersama di atas pentas. Digendongnya anak itu sambil menyanyi. Usai pertunjukan dan bebenah, Agus mengajaknya bermain lagi. Maka ia terkejut bercampur heran, saat akan beranjak pergi, guru kepala sekolah datang tergopoh-gopoh dengan menangis. Ada apa gerangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mi-chan kini bisa bicara," katanya. Ya, anak yang sebelumnya tak pernah berbicara itu, mendadak bisa bicara dan ia yakin, kepada Aguslah harus berterima kasih. Ketika dicoba lagi, memang benar. "Agu-su," kata bocah itu. "A-yo-na-ra," sahutnya terbata-bata saat Agus mengatakan sayonara kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang tak terbeli dengan harta itu begitu membekas sehingga di tanah air, Agus semakin terobsesi pada cita-cita yang sudah lama mengendap dalam benaknya: menyuguhkan hiburan bagi anak-anak dalam strata sosial terbawah, yang tak terjangkau oleh pertimbangan untung-rugi para sponsor. Sebuah istana mainan keliling! Impian gila, yang tak mendatangkan untung malah bisa-bisa bikin "buntung". Tapi itulah Agus. Mungkin ia punya keyakinan, kebahagiaan tidak hanya dapat diraup lewat perhitungan untung-rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru berhenti, kalau mati&lt;br /&gt;Akhirnya, Agus menyadari jadi pendongenglah panggilannya. Tak beda dengan dokter, ia menyatakan diri "siap" selama 24 jam. Ia pun menerapkan kode etik: tidak mencetuskan kata-kata SARA, tidak mengarah pada pornografi, mengajarkan tata krama, dan berpakaian sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pendongeng pada dasarnya adalah pendidik. Karena itu pula, ia selalu mengundang ibu dan ayah untuk mendampingi anak-anak mereka saat menyimak dongeng-dongengnya, agar tercipta komunikasi ortu dengan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan kunci sukses adalah semangat dan antusiasme, maka Agus telah memegang kunci itu. Antusiasmenya tidak pernah kendor; dari saat menceritakan mimpi-mimpinya, pengalamannya, sampai saat mengungkap "rahasia dapur"-nya sendiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suara jangan terlalu keras, juga jangan terus-menerus berdiri, karena tinggi kita tidak boleh lebih dari dua kali tinggi anak, supaya mereka tidak takut atau terkejut. Untuk anak balita, gunakan bahasa ibu tetapi suara mereka sendiri, suara anak-anak balita, untuk menjalin kedekatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pendongeng yang juga sering diundang untuk acara perayaan kawin perak atau emas ini juga biasa mendongeng di depan audience yang beragam usia. Bahkan, pernah mendongeng hanya untuk satu keluarga kecil. Dalam hal itu suara yang digunakannya netral saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk audience anak-anak SD pendongeng harus berhati-hati, tidak menampilkan tutur-kata atau perilaku buruk, karena anak-anak seusia mereka masih dalam tahap meniru. Bahwa anak-anak kita kini seakan "diserbu" dongeng-dongeng luar negeri lewat TV, ia tidak mempermasalahkan. "Dongeng-dongeng itu memang digarap bagus. Masalahnya, mengapa kita tidak mulai mengangkat dongeng-dongeng kita sendiri? Misalnya menjadikan Timun Mas seorang heroik macam Sailor Moon?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ayah Fian, yang masih kelas VI, dan suami Fikih Aisyah (yang nama aslinya Yuki Takaoka) ini, mendongeng dapat dilakukan kapan saja, dengan atau tanpa alat peraga. Di mobil, di rumah, entah dengan saputangan, korek api, kaus kaki, apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung profesinya, ia memiliki perpustakaan dongeng pribadi di rumahnya, terdiri atas ribuan cerita dari pelbagai penjuru dunia. Berkali-kali mentas di festival panggung boneka internasional, ia pernah memainkan lima boneka seorang diri di sebuah festival panggung boneka tingkat Asia. Agus tahu benar, ia baru berhenti mendongeng kalau sudah berhenti jadi manusia. Maka sah saja bila terlontarlah sebuah cita-cita imajinatif lain, "Kalau saya mati nanti, saya ingin ada patung pendongeng di atas makam saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Agus hidup karena imajinasinya. Pendongeng yang bisa ketawa tergelak-gelak atau ketakutan oleh cerita yang sedang disusunnya sendiri ini juga ingin mengetuk hati para ortu yang terlampau sibuk, "Mengapa Anda menyediakan waktu sekian jam untuk kerja, tetapi tidak untuk buah hati Anda?" (Lily Wibisono/Yds. Agus Surono)&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.indomedia.com&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-2899074036205293331?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/2899074036205293331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=2899074036205293331' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2899074036205293331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/2899074036205293331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-agus-agus-surono.html' title='Kak Agus (Agus Surono)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-1709257740136440820</id><published>2008-07-25T17:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T17:57:12.711-07:00</updated><title type='text'>Kak Trontong (Trontong Sadewa)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIp1_Ka48xI/AAAAAAAAAAk/aKmN1zfM6WQ/s1600-h/sm532.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIp1_Ka48xI/AAAAAAAAAAk/aKmN1zfM6WQ/s320/sm532.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227120045506229010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;SENIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;, 29 Juli. Angin mati. Rembang petang menggerahkan. Tetapi saya dan Trontong Sadewa tetap asyik bercakap. Tak ada gurat kelelahan di wajahnya meski dia baru pulang dari Yogya, setelah empat hari (24-27 Juli) pentas di arena Marketing Exhibition Media Industry di Jogja Expo Center. Ya, wayang dongeng dengan dalang Trontong Sadewa adalah salah satu sajian andalan stan &lt;i&gt;Suara Merdeka&lt;/i&gt; di arena itu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kapan pentas lagi? "Rabu 31 Juli di Teater Terbuka TBRS," ujar dia seraya tersenyum. "Tanggal 10 Agustus di Vila Siberi, Banjarejo, Boja, Kendal, 16 Agustus di kampung saya, Krobokan, dengan warga kampung, dan 19 Agustus di Semanding, Kendal, dalam acara yang diorganisasikan Agung Wibowo." &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Trontong lahir di Boyolali, 25 Januari 1963. Kini dia tinggal di Jalan Cempolorejo Raya 17 Krobokan, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, bersama istri, Lies Hartini Utomo, penari dan pelatih tari Jawa klasik. Lulus dari Fakultas Hukum Undip, 1991, dia diterima sebagai pegawai negeri Departemen Kehakiman. Namun dia tak jadi bekerja sebagai abdi masyarakat saat mendengar bakal ditempatkan di penjara. "Saya tak akan merasa nyaman setiap kali melihat orang terkerangkeng jeruji besi. &lt;i&gt;Mboten tegel&lt;/i&gt;," katanya. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Bagaimana kepekaan dan kelembutan hati itu terasah? "Mungkin karena pada masa kecil hampir setiap malam didongengi Bapak. Favorit saya kisah Baron Sekeber." &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kini dia pun selalu mendongeng untuk anaknya, Anggana Listya Dewaji (5) dan Putri Listyana Dewi (3), dalam bahasa Jawa. Kenapa? "Biar anak-anak tak lupa akar budaya mereka," kata Trontong, lagi-lagi sembari tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Amanat Mbah Tris&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kecintaan pada dunia dongeng-mendongeng membuat dia dekat dengan Drs Soetrisno alias Mbah Tris. Pensiunan guru SMA Negeri 1 Semarang itu dalang wayang kancil atau wayang fabel dan pengasuh acara mendongeng di Radio &lt;i&gt;Lusiana&lt;/i&gt; bersama Mbah Pomo. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Mbah Tris kerap kali ke rumah Trontong. Dua kali dia memberikan uang Rp 200.000, seusai mengambil uang pensiun, untuk biaya pembuatan wayang karton. Ketika dalang wayang kancil itu sakit, Trontong dan kawan-kawan membesuk. Dia membawa pula wayang karton pesanan. Begitu melihat mereka, Mbah Tris bangkit dan mendalang. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Mbah Tris menilai Trontong piawai mendongeng. Mumpuni pula berbahasa Jawa. Itu tak mengherankan sebab dia juga berprofesi sebagai &lt;i&gt;panatacara&lt;/i&gt;. Karena itulah, barangkali, Mbah Tris memberi amanat agar Trontong mendongeng bermedia wayang karton. Mbah Tris pula yang menamakan "temuan" itu sebagai wayang dongeng. Melalui "wayang &lt;i&gt;gagrak anyar&lt;/i&gt;" itulah dia, bersama "Babahe" Widyo Leksono, Agung Wibowo, Sendang Mulyana, Daniel Hakiki, Bowo Kajangan, Supriyati, Yoyok, Widodo, Sri Paminto, dan sesekali pesinden Kumijantoro dari Swagotra Budaya, menyampaikan nilai-nilai budi pekerti. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sumber cerita mereka olah dari isu lingkungan seperti penjarahan kayu hutan dan pencemaran. Ya, mereka antikekerasan, antiperusakan alam. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kali pertama mereka pentas di Lengkongcilik, saat "peluncuran" laboratorium seni dan kebudayaan itu, hampir setahun silam. Kini, Trontong agak lega, karena sedikit-banyak telah melaksanakan amanat Mbah Tris, sang guru. "Cuma sayang," kata dia, "Mbah Tris belum sempat menonton kami pentas. Beliau telah &lt;i&gt;murud kasidan jati&lt;/i&gt;." Tapi bukankah amanat itu tak akan tersapu waktu? (&lt;b&gt;Gunawan Budi Susanto&lt;/b&gt;-75)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;http://www.suaramerdeka.com&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-1709257740136440820?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/1709257740136440820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=1709257740136440820' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1709257740136440820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1709257740136440820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-trontong-trontong-sadewa.html' title='Kak Trontong (Trontong Sadewa)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIp1_Ka48xI/AAAAAAAAAAk/aKmN1zfM6WQ/s72-c/sm532.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-7365841294399381252</id><published>2008-07-25T17:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T17:58:38.010-07:00</updated><title type='text'>Kak Awam (Awam Prakoso)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpzi0PcdPI/AAAAAAAAAAc/YNXKYGQPSgg/s1600-h/KAKAWAM3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpzi0PcdPI/AAAAAAAAAAc/YNXKYGQPSgg/s320/KAKAWAM3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227117359493051634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kak Awam (Awam Prakoso)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ikatan Remaja Masjid Fatullah (IRMAFA) bekerja sama dengan Lembaga Pusat Pelatihan Orang Tua dan Anak (LPPAI) menyelenggarakan kegiatan Parenting dengan mengambil tema "Peranan Orang Tua Sejati, Adalah Impianku". Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Masjid Syarif Hidayatullah UIN Pisangan Ciputat dengan menghadirkan kurang lebih 70 ibu-ibu yang berdomisili di wilayah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talkshow yang membahas Peranan Orang Tua Sejati berjalan selama 60 menit ini membawa ibu-ibu untuk mendidik putera dan puterinya melalui metode Mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="isi1"&gt;Kak Awam menyampaikan, bahwa Dongeng harus lebih dirutinitaskan dalam keseharian daripada hanya difungsikan sebagai pengantar tidur atau sebagai perangsang otak dikala jenuh. Orang tua tidak boleh melupakan bahwa manfaat dan pengaruh dari dongeng untuk anak dapat mempengaruhi pada kehidupan anaknya sehari-hari. Mumpung anak masih menjadi anak, dan belum tumbuh remaja, orang tua harus menanamkan nilai-nilai kebajikan sedini mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="isi1"&gt;Masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur untuk melakukan pembinaan keilmuan dan pemikiran. Jika orang tua mengemas materi dongeng dengan sangat baik dan mengedepankan persoalan tersebut, maka anak akan terangsang imajinasinya dan ia akan berkembang secara efektif, untuk menjadi manusia yang berkarakter dikemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="isi1"&gt;Dalam sesi tanya jawab, banyak sekali ibu-ibu yang merasa kesulitan mendongeng dikarenakan belum terbiasa dan merasa tidak bisa. Kak Awam menyarankan agar ibu-ibu memulai dengan mengumpulkan buku-buku cerita yang disesuaikan dengan usia putera dan puterinya. Dan mulailah dengan membacakan buku cerita s&lt;/span&gt;&lt;span class="isi1"&gt;ebisanya, lama kelamaan orang tua akan semakin terbiasa. Bila mana kebiasaannya sudah menjadi budaya keseharian, tinggal mengoptimalkan diri untuk menjadi pendongeng yang baik dan benar khusus untuk putera dan puterinya. Kak Awam juga menyampaikan jurus-jurus efektif cara mendongeng untuk peserta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="isi1"&gt;Dan di akhir acara, kak Awam menyajikan Dongeng Musikal berjudul "Anak Kelinci Yang Tidak Patuh", yang dipersembahkan untuk putera-puteri peserta yang juga hadir di acara tersebut sekaligus memberikan gambaran kepada ibu-ibu bagaimana cara menarik perhatian agar anak mengikuti adegan demi adegan dalam dongeng yang disajikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="isi1"&gt;Semoga ibu-ibu menjadi pendongeng yang baik bagi putera dan puterinya. (Adul)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="isi1"&gt;Sumber : http://wongawam.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-7365841294399381252?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/7365841294399381252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=7365841294399381252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7365841294399381252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/7365841294399381252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-awam-awam-prakoso-ikatan-remaja.html' title='Kak Awam (Awam Prakoso)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpzi0PcdPI/AAAAAAAAAAc/YNXKYGQPSgg/s72-c/KAKAWAM3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-3902727746007671603</id><published>2008-07-25T17:34:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T20:42:55.107-07:00</updated><title type='text'>Kak Poetri (Poetri Suhendro)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpxqkPlY-I/AAAAAAAAAAU/4K-OOibtqM4/s1600-h/poetri.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpxqkPlY-I/AAAAAAAAAAU/4K-OOibtqM4/s320/poetri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227115293614367714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Kak Poetri (Poetri Soehendro)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="center"&gt;Suaranya akan selalu kita dengar ketika ia mendongeng tiap pagi sekitar pukul 06.00 dan 06.30 di Radio Female mengantar anak-anak ke sekolah. Bahkan ada anak yang belum mau turun dari mobil untuk masuk sekolah kalau belum mendengar dongengannya. Dialah Poetri Soehendro, seorang di antara sedikit yang berminat pada dunia anak dan dongeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Sebelum terjun pada dunia dongeng, ia cukup lama malang melintang di dunia advertising, dari membuat film sampai jingle radio sudah ia lakoni lebih 15 tahun di banyak negara, “Dunia advertising itu ‘kejam’ dalam arti tidak ada hati nurani di situ. Yang penting kejar deadline, kerja mati-matian dan dibayar tinggi selama kita bisa menekan supplier dan kerjaan bagus. Jadi yang namanya hati nurani mati, lempeng aja.” Tutur Poetri saat ditemui Toga News sebelum ia mulai mendongeng di Pojok Anak -Toko Gunung Agung beberapa waktu lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Lepas dari advertising, ia bergabung di sebuah radio atas ajakan seorang temannya. Meski dengan gaji yang sangat kecil, hanya seperlima dibanding ketika di advertising, namun ia sangat menikmati karena menurutnya bekerja di radio ia bisa mengenal berbagai macam problem masyarakat, apa yang dibutuhkan masyarakat, “Rewarding tidak dalam bentuk uang besar sekali dan aku percaya kalau kita senang dengan pekerjaan kita, uang akan ikut kita dengan sendirinya. Pokoknya senanglah, kerja dari pukul 06 sampai 10 pagi, setelah itu bisa kumpul dengan keluarga, bisa bersosialisasi.” Ungkapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;Pilihannya pada dunia dongeng diawali ketika ia melihat tidak adanya acara untuk anak-anak di radio, tidak ada yang melayani anak, pendeknya segala sesuatu untuk konsumsi anak-anak tidak ada yang mempersiapkan, kebetulan bertepatan dengan event art and culture, maka Poetri mengadakan acara dongeng yang ternyata mendapat respons bagus dari pendengarnya baik dari anak-anak maupun orang tua. Dongeng-dongeng yang ia bacakan biasanya ia comot dari buku-buku dongeng tentang apa saja&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Sukses mendongeng di udara (on air) ia mulai off air yang berawal di Pasar Festival Kemang pada tahun 2002 dengan animo masyarakat yang cukup bagus. Mulailah ia mendongeng di acara-acara ulang tahun atau di mal-mal. Sebagai daya pikat, ia menggunakan alat peraga berupa boneka tangan yang kini jumlah koleksinya mencapai lebih dari 30 buah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Boneka-boneka itu ia beli saat ia jalan-jalan di mana saja dengan harga yang relatif murah. Rupanya mendongeng sudah menjadi pilihan profesi Poetri Soehendro, untuk itu ia membentuk semacam sanggar yang diberi nama Beranda Bintang dengan tim yang terdiri dari penulis cerita, pemain keyboard sebagai pengiring dongengnya dan tim riset yang telah memberinya wawasan bahwa mendongeng tidak boleh terlalu lama agar anak tidak bosan, dongeng harus ada funnya dan juga harus ada musiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Poetri Soehendro, kelahiran Jakarta, 7 Juli 1964 tertarik pada dunia dongeng yang notabene dunia anak justru karena ia sebagai anak semata wayang dari pasangan Soehendro dan Maria Robot, yang sebagian besar waktunya habis untuk karir,”Saya sudah merasakan betapa sepi dan dinginnya keluarga kami. Ibu saya sudah wanita karir ketika dulu ibu-ibu lain baru menjahit dan memasak. Sampai sekarangpun untuk ketemu dengannya, saya harus janjian dulu hari dan jamnya. Lewat jam yang sudah disepakati saya belum datang, ya sudah ditinggal,”cerita wanita mungil yang belum juga dikaruniai anak pada 8 tahun perkawinannya ini. Bercermin pada pengalamannya dan melihat betapa hebatnya kaum perempuan saat ini. Poetri menyarankan pada perempuan untuk mulai menentukan menikah atau tidak sama sekali. Kalau memutuskan untuk menikah kita harus konsekuen, karena begitu menikah dan punya anak artinya kita memasuki suatu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang tidak main-main. Kalau tidak mampu lebih baik tidak usah menikah atau kalaupun menikah bias saja dengan komitmen punya anak atau tidak. Karena menurut pengamatan Poetri anak jaman sekarang medannya sangat mengerikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Pada setiap acara mendongengnya selalu dipadati anak-anak, bahkan ada yang dengan manja duduk dipangkuanya, terlihat begitu akrab dan dekatnya ia dengan anak-anak. Dongeng-dongengnya lebih sering bercerita tentang dunia binatang/fable dengan iringan keyboard dan tentu saja boneka tangan. Melihat acara yang dimainkannya, kita akan teringat dengan acara Taman Indria asuhan Bu Kasur yang dulu sering kita lihat di televisi, “Saya lihat sampai saat ini acara anak yang paling menarik memang konsep Taman Indria asuhan Bu Kasur, ya. Dan saya mengambil cerita fable juga berdasar riset teman-teman psikolog bahwa umumnya anak-anak senang cerita fable. Kalau anak umur 8 tahun ke atas baru mereka senang cerita tentang manusia. Untuk itu saya ambil cerita Indonesiana. Anak-anak umumnya punya daya khayal tertentu dengan cerita binatang. Pernah juga saya mencoba memaksakan cerita legenda, tapi sulit baru 5 menit mereka sudah mengalihkan perhatian. Waktu 5 menit untuk merupakan waktu yang menarik sekali untuk mereka, lebih dari itu mereka bosan. Maka untuk selingan saya mengajak mereka bermain dan bernyanyi.:” tutur Poetri tentang kiatnya menarik minat anak dalam mendongeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center"&gt;Ia juga punya kiat khusus untuk mendongeng, ia tidak mau menggurui, ia tidak pernah mengkonklusikan dongeng karena dongeng adalah hiburan bagi anak-anak dan mereka&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;paham dengan pesan yang tersirat dalam dongengnya. Mereka sudah cukup stress di sekolah dan di rumah. Sekolah seminggu dari pukul 07.00 pagi sampai di rumah sudah sore, setelah itu harus mengerjakan Pekerjaan Rumah(PR). Kegiatan Poetri sendiri selain mendongeng yang biasanya akan padat pada bulan Juli, juga melakukan workshop dengan ibu-ibu PKK dan guru-guru. Semacam bertukar pengalaman, tapi sayangnya usahanya tidak terlalu menggembirakan. Ibu-ibu umumnya kesulitan dan kekurangan waktu mendongeng untuk anak-anaknya, guru-guru lebih senang mengejar kurikulum dibanding mendongeng di depan kelas meski mendongeng toh bisa dijadikan sarana menyampaikan pelajaran. Justru para dokter merasa berhasil menarik ana-anak di daerah terpencil untuk mau diajak berobat ke Puskesmas bila sakit setelah mendongeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Sebenarnya apa yang sedang dan bagaimana kondisi anak-anak kita saat ini? “Sangat menyedihkan. Mereka stress sekolah. Bayangkan, anak sekarang sudah bisa bilang; gue bete, gue males. Padahal jaman kita kecil dulu nggak ada tuh. Kayaknya senang begitu ya. Sekarang klinik-klinik psikiater lebih banyak didatangi anak-anak. Mereka datang ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; seminggu dua kali seperti ke dokter gigi saja. Pernah saya wawancara anak 14 tahun. Dia tidak menginginkan apa-apa kecuali bunuh diri. Padahal masa kecil kita dulu adanya seneeeng terus. Pulang sekolah jam 1 siang, masih bisa tidur, bisa panjat pohon atau main. Saya Cuma bisa memberi dongeng seperti ini untuk hiburan mereka.” Katanya dengan nada prihatin. Memang menyedihkan ketika ada sekolah yang memberlakukan 5 hari belajar agar hari Sabtu anak-anak bisa istirahat justru orang tua murid yang minta agar anaknya dibekali PR saat mereka libur. Anak-anak sekarangpun sejak kecil sudah dipaksakan orang tua mereka untuk mempelajari bahasa ketiga di luar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris seperti bahasa Jepang, Mandarin dll. dengan alasan agar ketika saatnya mereka bisa mendapatkan pekerjaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Pada Toga News, Poetri juga mengaku betapa sulitnya mencari sponsor untuk acara dongengnya. Juga ketika ia ingin meluncurkan CD dongengnya karena umumnya mereka menganggap dongeng tidak mendatangkan keuntungan secara materi dibanding acara-acara di televisi. Sebenarnya dongeng mulai disenangi anak-anak &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, justru sulit sekali masuk ke daerah. Kebalikannya, Poetri pernah diminta mendongeng di daerah tapi dalam bahasa Inggris, atau sebuah toko buku pernah memintanya mendongeng dalam bahasa Inggris, “Bayangin, kita sama-sama rambut hitam, hidung pesek. Orang pikir ini gila kali ndongeng pakai bahasa Inggris. Anak-anak itu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; bahasa Inggrisnya juga pas-pasan. Di sekolah sudah diberikan pelajaran bahasa Inggris, mbok ya gantian kita pakai bahasa kita.” Ujarnya gemas. Yang menyedihkan juga kita sekarang tidak lagi punya tempat semacam Gelanggang Remaja atau Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dulu begitu akrab dengan kita. Akhirnya Poetri mendongeng di mal-mal meski hal itu tidak disukainya karena tentunya anak akan lebih tertarik datang ke tempat-tempat makanan junkfood daripada beli buku atau mendengar dongeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Lalu bagaimana dengan mendongeng di toko buku seperti yang ia lakukan di Toko Buku Gunung Agung? “Bagus, Madonna ketika launching bukunya juga mendongeng di toko buku. Juga kalau kita lihat film You Got E-mail nya Meg Ryan, ia mendongeng di toko buku. Saya pikir mendongeng di toko buku adalah tempat yang paling sempurna. Sayangnya tidak banyak toko buku yang berpikiran seperti Gunung Agung Karenanya saya juga berpikir untuk launching CD Dongeng saya di Toko Gunung Agung.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Poetri berharap, Gunung Agung sebagai toko buku bisa tetap melakukan kegiatan-kegiatan seperti mendongeng secara rutin karena dongeng merupakan makanan batin bagi anak-anak. Acara dongeng bisa saja dilakukan dengan siapa saja, menggalang guru-guru TK misalnya. Kalau dari kecil anak sudah biasa ke Gunung Agung, sampai besar akan terbawa dalam ingatannya, ” Waktu kecil saya suka diajak ayah saya ke Kwitang.Makanya waktu Gunung Agung redup saya prihatin karena lengket banget. Baru kemudian saat saya SMA ada toko buku lain ‘” Katanya menutup obrolan dengan Toga News.  &lt;i&gt;(Rini Clara)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;i&gt;Sumber : http://www.tokogunungagung.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Suatu hari, Poetri bertanya pada wanita peramal.&lt;br /&gt;“Bu, ramalin saya dong. Kira-kira, mendongeng cocok nggak buat saya,” kata Poetri penuh ingin tahu.&lt;br /&gt;Peramal tarot itu berujar, “Poetri, mendongeng, its therapy for you. Agar kamu bisa lebih menikmati hidup.”&lt;br /&gt;Antara percaya dan tidak, Poetri berusaha menyelami kata-kata wanita itu. Ia hampir tidak percaya melihat lingkungan sekitarnya yang sangat skeptis dengan pekerjaan barunya itu.&lt;br /&gt;“Tapi ketika bekerja saya sangat enjoy. Saya merasa this is me. Saya sekarang sudah menemukan apa yang selalu saya cari,” kata putri tunggal pasangan RH Soehendro dan Maria C. Robot..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng telah merubah sosok Poetri yang kosmopolitan menjadi wanita yang dicintai anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertama kali mendongeng, badanku keringatan. Kalau bisa, muka jangan sampai kelihatan. Yang pasti, aku dredek sekali,” kata Poetri Soehendro mengenang pengalaman pertamanya mendongeng di depan anak-anak.&lt;br /&gt;Lima tahun yang lalu, Poetri memulai karirnya sebagai pendongeng. Proses yang tidak mudah bagi wanita kosmopolitan yang hobi dugem (dunia gemerlap), merokok, dan belum memiliki anak ini.&lt;br /&gt;“Setelah enam bulan aku selami dunia anak-anak, menjadi pendongeng, lama-lama hati ini berubah. Aku berubah menjadi Poetri yang lain. Poetri yang lebih care pda anak, yang ingin dekat dengan anak, dan ingin berbagi dengan mereka,” ujar Poetri terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poetri yang lincah, banyak bicara, dan senang bercanda, sangat lihai memainkan kedua telapak tangannya yang terbungkus boneka-boneka berkarakter. Sesekali ia tertawa nyaring sambil menggerak-gerakkan boneka harimau. Menit berikutnya, mulutnya cemberut sambil terisak-isak menangis, memainkan telapak tangan yang lain.&lt;br /&gt;“Setiap kali mendongeng, aku harus bisa membawakan empat tokoh berkarakter. Punya Suara yang berbeda, intonasi yang berbeda, juga mimik muka yang berbeda. Memang, butuh keahlian khusus. Tetapi untuk mempelajarinya, siapa saja bisa melakukan,” kata Poetri bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongeng, sangatlah mengasyikkan. Paling tidak, dunia imajinatif ini telah membuat Poetri melanjutkan kuliah S2 di Psikologi Universitas Indonesia jurusan Intervensi Sosial. Ia ingin mempelajari dan tahu lebih banyak tentang dunia kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar berjalan lancar, Poetri memenej kegiatan mendongengnya dengan sangat rapi.&lt;br /&gt;“Yang pertama kali, aku selalu brief dengan EO (Event Organizer)-nya untuk tahu visi misi acara. Setelah itu aku pilih cerita. Bisa cerita tentang binatang, dan apa saja, terserah aku. Setelah ketemu tema dan cerita, aku ngomong dengan musisi. Aku punya pemain keyboard, Mas Tara, yang sudah temani aku selama 5 tahun. Kalau tidak bisa bawa keyboard karena harus keluar kota atau panggungnya kecil, aku bawa laptop. Yang membuat background music Elena Zahna,” ujar lulusan IKIP Jakarta jurusan Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Selanjutnya Poetri menulis script atau cerita yang akan ia dongengkan.&lt;br /&gt;“Biasanya aku mendongeng setengah jam. Ada juga yang sampai satu jam. Nah, kalau lebih dari sepuluh menit, aku selalu membuat games ditengah-tengah acara mendongeng,” kata Poetri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poetri tidak pernah terus menerus mendongeng lebih dari tujuh menit. “Karena batas kesabaran seseorang termasuk anak mendengakan orang hanya 7 menit. Seperti kita mendengarkan radio. Menit pertama pasti dengerin, menit kedua, mulai mikir seru nggak sih omongannya. Menit ketiga, mulai tanya penting nggak sih ini orang. Menit keempat, pintar nggak sih nih orang ngomongna. Menit kelima, wah ngerasa nggak asyik. Pasti ganti ganti gelombang,” kata Poetri.&lt;br /&gt;Menghindari kebosanan, Poetri menyelipkan sejumlah aktifitas yang disukai anak-anak. Bisa mendengar lagu anak-anak, permainan, hingga menyanyi disertai olah tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemetakan acara aku yang bikin. Mereka tinggal aku kasih script supaya tahu dan tahu apa yang akan aku lakukan,” kata wanita kelahiran Jakarta, 7 Juli 1964.&lt;br /&gt;Keajaiban Dongeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah proses panjang bagi Poetri menjadi story teller. Ia mengaku tidak pernah memahami dunia anak. Ia adalah wanita metropolis yang senang menghabiskan waktu di club-club, café, dan tempat-tempat hang out lainnya. Memilih dunia advertising, production house, dan editing house sebagai pekerjaan yang diseriusi.&lt;br /&gt;Belasan tahun Poetri habiskan waktunya bergaul dalam dunia malam dan bau asap rokok. Dan terus berlanjut ketika Poetri menjadi penyiar radio di Female Radio dan di I Radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari, awal tahun 2001, ia mendapat tugas baru dari produser Female Radio membawakan acara mendongeng untuk anak. Terpaksa tapi juga tantangan, Poetri menyanggupi.&lt;br /&gt;Poetri juga di’paksa’ tampil off air di TC Gallery di acara Kemang Festival. “Yang nonton 80 anak. Mereka bayar 10 ribu. Dalam sehari aku tampil di dua show mendongeng. Terus terang, itulah penampilan pertamaku. Aku dredek sekali, kringat dingin dan berusaha mukaku tidak terlihat jelas. Tetapi, justru yang membuat aku kaget, setelah selesai anak –anak datang cium tagnan bilang terima kasih,” kenang Poetri. Saat itu bercerita tentang plotot kecil yang terbuang, cerita sederhana karangan Enid Blyton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 bulan mendongeng barulah hati Poetri terpanggil.&lt;br /&gt;“Dari yang terpaksa menjadi mencintai. Waktu itu aku sendiri nyaris tidak percaya,” ujar Poetri dengan suara takjub.&lt;br /&gt;Poetri mengaku, kecintaan itu muncul ketika ia diundang Kota Wisata saat peluncuran kota baru ‘Zona America’. “Karena enjoynya, waktu itu aku pakai baju koboy, jaket koboy, bots, dan celana jenas. Yang janji hanya setengah jam mendongeng, aku bisa empat puluh lima menit. Aku benar-benar mulai mencintai dunia baruku. Ini benar-benar proses yang aku sendiri masih tidak percaya bisa terjadi dalam hidupku,” kata Poetri bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu keinginan Poetri, “aku ingin setiap Ibu mendongeng untuk anak-anaknya. Percaya deh, kalau anak-anak yang setiap hari mendengar dongeng ibunya, tidak akan ada kejadian dan perlakukan negatif pada anak,” kata Poetri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti kata Kak Seto, betapapun pintarnya Kak Seto, Kak Putri, Pak Raden, Kak Agus, dan pendongeng-pendongeng lainnya, pendongeng yang terbaik tetap Ayah dan Ibunya. Segoblok-gobloknya Ibu, dia tetap pendongeng yang terbaik. Coba kita tanya, apakah kita masih ingat bau keteknya Ibu kita, bau sabunnya, sampai sekarang kita pasti masih ingat. Kita kenang sampai kapanpun. Begitupun dengan dongeng. Apapun dongeng dan nasehatnya di akhir dongengnya. Pasti akan terekam dalam otak menjadi kenangan yang sangat indah. Mendongeng tidak sesakit melahirkan. Hanya butuh waktu lima menit, dan contekannya banyak,” kata Poetri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat dongeng lanjut Poetri sangat banyak.&lt;br /&gt;“Yang pasti di dalam dongeng pasti ada daya khayal, moral, cerita budi pekerti, tata krama, sopan santun, dan hal-hal positif,” kata Poetri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang mendengarkan dongeng akan dirangsang semua inderanya, seperti kuping, mata, hidung, mata dan perasa.&lt;br /&gt;“Jadikanlah anak-anak kita yang utuh. Otak yang utuh. Karena anak Indonesia sekarang masuk five minute generation. Nonton film setelah lima menit bosan, ganti channel. Mengerjakan dua tiga pekerjaan dalam bersamaan seperti mengerjakan PR sekligus nonton televisi dan pencet-pencet kirim sms. Itu bukan salah mereka. Itu tuntutan jaman. Nah, dengan mendongeng, begitu mereka mendengarkan selama lima menit anak dilatih fokus dan dipaksa mendengar. Kalek anak akan menjadi pendengar yang baik,” kata Poetri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesedihan Poetri saat ini. “Jumlah pendongeng Indonesia sangat minim. Tercatat hanya ada Kak WeEs, Kak Kusumo. Kak Seto, Pak Raden, Andi Yudha, Hughes tidak terlalu aktif, Kak Agus DS, Kak Heri, Kak Heru, dan saya. Ada sepuluh pendongeng di Indonesia. Mereka semua ada di Jawa. Sedih sekali kalau kita ngomong Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera,” ujar Poetri.&lt;br /&gt;Hingga muncul satu ide dari benak Poteri membuat workshop bagi para guru TK untuk belajar dongeng dengannya. “Tidak perlu bayar. Gratis dan saya jamin pasti bisa mendongeng,” kata Poetri bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Aien/ Tabloid Wanita Indonesia **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-3902727746007671603?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/3902727746007671603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=3902727746007671603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3902727746007671603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/3902727746007671603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-poetri-poetri-suhendro.html' title='Kak Poetri (Poetri Suhendro)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpxqkPlY-I/AAAAAAAAAAU/4K-OOibtqM4/s72-c/poetri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4152628914442425410.post-1737763281634264954</id><published>2008-07-25T17:06:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T17:28:30.331-07:00</updated><title type='text'>Kak Ario (Hario Hagus Sumono)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpu70dT8kI/AAAAAAAAAAM/_dc7QhMJ4ZE/s1600-h/ARIO.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpu70dT8kI/AAAAAAAAAAM/_dc7QhMJ4ZE/s320/ARIO.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227112291489804866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Dari kecil suka dengan dunia anak. Bahkan ketika kelas V SD, teman bermainnya anak-anak TK dan kelas I SD. Senang mendongeng sejak 9 tahun lalu meski sebelumnya tidak pernah terpikirkan suatu saat menjadi seorang pendongeng. Kebetulan Kak Hario yang nama panjangnya Hario Hagus Sumono ini punya adik-adik asuh, biasanya usai Maghrib mengumpulkan adik-adik asuhnya yang sekitar 50 anak ini sehabis belajar mengaji ia mendongeng tentang Kisah Nabi-nabi, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang ia dapat ketika mendongeng dan berkumpul dengan anak-anak? Dan apa arti dunia anak baginya? Berikut obrolan Toga News dengan Kak Hario yang ditemui sebelum ia mendongeng di ‘Pojok Anak’ Toko Gunung Agung – PIM beberapa waktu lalu sambil menunggu saat berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana ceritanya anda memulai profesi sebagai pendongeng?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu ada Lomba Dongeng Tingkat DKI, saya dibujuk teman-teman untuk mengikuti. Wah saya ragu, apa iya saya mampu? Kata teman-teman harus dicoba, kesempatan bagus. Waktu pagi mau lomba, malam sebelumnya saya kumpulkan anak-anak tetangga sebagai percobaan saya mendongeng. Bayangkan di depan anak-anak tetangga saja saya sudah keluar keringat dingin. Tapi esoknya saya ikut juga lomba itu dan Alhamdulillah dapat juara I dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; finalis. Begitu juga ketika mengikuti Lomba Mendongeng di Tingkat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Selatan, dua kali berturut-turut saya dapat juara I, juga untuk Tingkat Nasional. Dari situlah saya senang mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengalaman apa sih yang anda dapat ketika mendongeng?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wah kepuasan batin. Saya sering mendengar keluhan orangtua adik-adik asuh saya, mereka bilang anaknya bandel, malas sholat, malas mengaji dan sebagainya. Dari situ saya melahirkan metode yang lain dari yang lain dengan mendongeng. Biasanya guru menegur anak dengan ancaman misalnya kalau murid nakal, nilainya rendah, atau orangtua dengan hukuman. Kalau saya bagaimana caranya memberikan suatu perubahan pada anak-anak yang tidak menggurui dan tidak berupa suatu ancaman yaitu melalui metode cerita. Misalnya orangtua mengeluh anak suka melawan, malas sholat, malas ngaji, maka dalam cerita saya masukkan bagaimana untung ruginya seorang anak tidak melakukan sesuatu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Dari kecil suka dengan dunia anak. Bahkan ketika kelas V SD, teman bermainnya anak-anak TK dan kelas I SD. Senang mendongeng sejak 9 tahun lalu meski sebelumnya tidak pernah terpikirkan suatu saat menjadi seorang pendongeng. Kebetulan Kak Hario yang nama panjangnya Hario Hagus Sumono ini punya adik-adik asuh, biasanya usai Maghrib mengumpulkan adik-adik asuhnya yang sekitar 50 anak ini sehabis belajar mengaji ia mendongeng tentang Kisah Nabi-nabi, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang ia dapat ketika mendongeng dan berkumpul dengan anak-anak? Dan apa arti dunia anak baginya? Berikut obrolan Toga News dengan Kak Hario yang ditemui sebelum ia mendongeng di ‘Pojok Anak’ Toko Gunung Agung – PIM beberapa waktu lalu sambil menunggu saat berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana ceritanya anda memulai profesi sebagai pendongeng?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu ada Lomba Dongeng Tingkat DKI, saya dibujuk teman-teman untuk mengikuti. Wah saya ragu, apa iya saya mampu? Kata teman-teman harus dicoba, kesempatan bagus. Waktu pagi mau lomba, malam sebelumnya saya kumpulkan anak-anak tetangga sebagai percobaan saya mendongeng. Bayangkan di depan anak-anak tetangga saja saya sudah keluar keringat dingin. Tapi esoknya saya ikut juga lomba itu dan Alhamdulillah dapat juara I dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; finalis. Begitu juga ketika mengikuti Lomba Mendongeng di Tingkat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Selatan, dua kali berturut-turut saya dapat juara I, juga untuk Tingkat Nasional. Dari situlah saya senang mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengalaman apa sih yang anda dapat ketika mendongeng?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wah kepuasan batin. Saya sering mendengar keluhan orangtua adik-adik asuh saya, mereka bilang anaknya bandel, malas sholat, malas mengaji dan sebagainya. Dari situ saya melahirkan metode yang lain dari yang lain dengan mendongeng. Biasanya guru menegur anak dengan ancaman misalnya kalau murid nakal, nilainya rendah, atau orangtua dengan hukuman. Kalau saya bagaimana caranya memberikan suatu perubahan pada anak-anak yang tidak menggurui dan tidak berupa suatu ancaman yaitu melalui metode cerita. Misalnya orangtua mengeluh anak suka melawan, malas sholat, malas ngaji, maka dalam cerita saya masukkan bagaimana untung ruginya seorang anak tidak melakukan sesuatu yang baik.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Sumber: http://www.tokogunungagung.co.id&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4152628914442425410-1737763281634264954?l=datapendongeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://datapendongeng.blogspot.com/feeds/1737763281634264954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4152628914442425410&amp;postID=1737763281634264954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1737763281634264954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4152628914442425410/posts/default/1737763281634264954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://datapendongeng.blogspot.com/2008/07/kak-ario-hario-hagus-sumono.html' title='Kak Ario (Hario Hagus Sumono)'/><author><name>Papinto Pendongeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16813845930700767932</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_p-Dtm4h7Ww0/SJE8PN8ly-I/AAAAAAAAACs/H7XWPeRtwXk/S220/pendongeng.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-Dtm4h7Ww0/SIpu70dT8kI/AAAAAAAAAAM/_dc7QhMJ4ZE/s72-c/ARIO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
