Minggu, 09 Juni 2013

PAPINTO


PAPINTO STORYTELLING DI BAPERPUS - JATIM

Hari Rabu, 13 Juni 2007 suasana ruang anak di Baperpus Jatim sangat meriah. Anak-anak tertawa terpingkal oleh dongengan Papinto, Pendongeng Surabaya yang handal dalam bercerita. Pagi itu Papinto bercerita tentang hewan-hewan penghuni rimba raya, yang dihadiri lebih dari 40 anak setingkat SD dan TK.

Acara storytelling memang merupakan kegiatan rutin dari layanan anak-anak di Baperpus. Setiap Hari Rabu minggu II diadakan kegiatan storytelling dan pemutaran film anak. kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terutama anak-anak untuk aktif ke perpustakaan. Yang pada gilirannya akan memberikan peningkatan pula minat baca pada anak-anak.

Pencerita kali ini, Papinto memang seorang yang eksis terhadap masalah minat dan kemauan membaca anak. Dia seorang pendongeng profesional yang dengan ikhlas hati membantu kegiatan storytelling di Baperpus. Dia juga memiliki sanggar dongeng di kawasan Kedurus.
Sumber : http://www.perpusjatim.go.id/berita.php?nid=65
Paket : #DONGENGFANTASI
Pendongeng Papinto
Wilayah : Surabaya (luar wilayah Surabaya, tapi dalam lingkup Jawa Timur minta pulang pergi dijemput mobil) 
Properti : boneka tangan, rebana, kostum pangeran + puisi humor (ga lucu humor kembali.... atau ga usah didengar atau tutup telinga, silahkan pulang saja kalu bising bikin ribut).

Paket : #DONGENGFANTASI
Pendongeng Papinto
Wilayah : Surabaya (luar wilayah Surabaya, plus biaya transport + makan)
Properti : boneka tangan, rebana, kostum Si Raja Dongeng.

Tarip MENDONGENG per-20 menit :
Rp 300.000 - rumah dalam kampung/gang
Rp 500.000 - rumah pinggir jalan raya/perumahan menengah - atas
Rp 1.000.000 - rumah pengusaha
Rp 1.500.000 - event bisnis (launching product, panggung pameran, ultah perusahaan dll)
Nara sumber/Pembicara Seminar :
Tarip Surabaya Rp 2.500.000, per 2 jam  . 

Workshop/Pelatihan : 
Tarip Surabaya Rp 100.000 /orang per 2 jam. Minimal 20 orang.

Call 031-7663319 / HP 0813 5783 8642 
(minimal undangan 3 (tiga) hari sebelum acara)
 
TERIMA KASIH ATAS UNDANGANNYA :
Citra Raya - Surabaya
Royal Regency - Malang
PT. Astra Toyota - Surabaya
Bank BRI - Surabaya
Bank BJB Surabaya
PT. Hutchison - Tri Carnival - Surabaya
Lions Club Surabaya Kharisma
TK Kartika - Surabaya
TK Al-Azhar - Pakuwon Laguna - Surabaya
TK Medina Luhur - Kebraon- Surabaya
Fakultas Kedokteran UNAIR - Surabaya
SD Juara - Surabaya
TK Al-Azhar - Kebraon - Surabaya
TK Al-Irsyad - Surabaya
TK Aisyiyah 47 - Surabaya 
PAUD Ananda, Surabaya 
Keluarga Eri-Retno - Surabaya 
MI Salafiah - Surabaya

 


 
 
 
 



Rabu, 05 Juni 2013

Kak Nasyir




IMS Peduli Veteran, BMH Ceria Bersama 800 Anak
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Subang ke-63, Islamic Medical Service (IMS) berkerjasama dengan Yayasan Sahabat Veteran (YSV) mengadakan acara pengobatan gratis dan pemberian sembako murah serta dimeriakan dengan hiburan tradisional, beberapa waktu lalu. Acara ini dilaksanakan di kantor Kecamatan Tanjung Siang, Desa Sirap, Subang, Jawa Barat.
Acara sosial ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada para pejuang tanah air Indonesia yang telah berkorban untuk bangsa dan negara akan tetapi sering dilupakan jasanya. Sedikitnya 130 orang para Veteran ikut memeriakan dan memanfaatkan acara kali ini.
Mereka merasa senang dengan diadakannya acara ini selain terbantukan, meraka juga bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan seperjuanngan mereka. Acara serupa juga akan kembali dilaksanakan pada tanggal 05-06 April di wilayah Bogor, Jawa Barat.
Akhir Maret lalu, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) "menggarap" calon-calon pemimpin masa depan, khususnya anak-anak di Paranggupito, Solo.
Bersama Lembaga Koordinasi Gerakan (LKG) TPQ Solo Raya, BMH mengadakan acara "Dongeng Ceria Bersama BMH" untuk 800-an santri TPA se-Kecamatan Paranggupito dan sebagian Kecamatan Giritontro, Ahad (24/03).
Bertempat di Pendopo Kecamatan Paranggupito, acara dibuka oleh Sekretaris kecamatan Paranggupito Sucipto. Hadir pula Sutigjo, S.Ag (Kepala KUA Paranggupito), Slamet Arifin, S.Pd.I (Ketua Badko TPA Kecamatan Paranggupito), dan Sudarmo (Ketua Badko TPA Kecamatan Baturetno).
Dongeng disampaikan oleh Kak Nasyir (pendongeng dari PPMI) didampingi oleh kak Yasir, Kak Ardy, dan kak Luthfi (LKG TPQ Solo Raya). Tema yang diambil ‘CAS (Cerita Anak Sholeh ), CIS (Cerita Ibu Sholihah), CUS (Cerita Ustadz Sholih)’.
Acara Dongeng Ceria berlangsung menarik dan seru. Anak-anak sangat antusias mengikuti sepenggal demi sepenggal kisah yang dibawakan Tim Pendongeng dari PPMI dan LKG TPQ Solo Raya tersebut. Dengan pusat cerita dua anak yang berbeda karakter dan pergaulannya, pendongeng menyampaikan pesan moral yang menggugah jiwa berkaitan dengan nilai tauhid, pengaruh teman bergaul, hingga jasa orang tua terhadap anak.
"Penanaman nilai tauhid ini sangat penting, mengingat wilayah Paranggupito yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini sangat rentan terjadi proyek pendangkalan aqidah, utamanya pada anak anak yang masih polos," kata Ismail Abu Zahfa, manajer program BMH Pusat.
“Melalui acara acara seperti ini, diharapkan anak anak lebih semangat lagi dalam belajar Al-Qur’an, dan memakmurkan masjid dengan ber-TPA,” ucap Slamet Arifin selaku ketua Badko TPA Kecamatan Paranggupito.
Acara yang berlangsung selama 4 jam ditutup dengan renungan dan doa yang dipandu oleh Kak Nasyir. Isak tangis seluruh santri menimbulkan rasa haru bagi para hadirin, terutama para orang tua yang dipeluk oleh anak-anaknya seraya memohon maaf atas segala salah dan khilaf di masa lalu.
Tak terasa air mata menetes membasahi pipi mereka, seraya berharap perilaku mereka juga dimaafkan oleh si anak. Saat itu juga mereka bermunajat kepada Allah SWT agar menjadikan anak-anak mereka menjadi anak yang sholeh sholehah. (bmh/ims/hid)
(Sumber :http://www.hidayatullah.or.id)

Kak Hendri




Potensi yang dimiliki manusia sungguh luar biasa, akan tetapi tidak semua orang bisa memanfaatkan potensi-potensi yang dimilikinya sehingga mampu menciptakan sebuah karya. Masih banyak kita temukan yang belum bisa bahkan tidak menegetahui sama sekali dengan potensi yang dimilikinya. Dampaknya, manusia jadi kehilangan arah dan tujuan. Merasa bingung dan ketidak_tahuan mungkin setiap orang mengalaminya dan tidak tahu apa yang mesti dilakukannya.
Kebingungan-kebingungan seperti ini, benar-benar  memprihatinkan dan mungkin akan menjadi  penyakit mental para generasi bangsa saat ini. Dan tidak terlepas dari kebiasaan malas bahkan seringkali terdengar kata Pengangguran yang semakin bertambah. Sungguh ironis apabila kita mau menyadari bahwa manusia itu hebat dan luar biasa.
Salah satu yang membuktikan bahwa manusia itu hebat dan luar biasa adalah bahwa manusia memiliki benda ajaib yang sangat super. Benda ajaib itu adalah alam semesta seberat satu kilo gram yang mampu menjadikan manusia sebagai pribadi yang SUPER CERDAS dan CERIA. Bahkan benda Ajaib itu bisa dikatakan sebagai raksasa tidur yang menakjubkan bukan wadah untuk diisi, tetapi api yang siap untuk dipijarkan (Mr.SGM, “Super Great Memory” hal: 9). Benda Ajaib itu adalah OTAK.
Lantas, Bagaimana potensi diri manusia dengan otak supernya mampu menjadikan dirinya sebagai makhluk yang siap tempur di era globalisasi sekarang ini? Inilah yang melatar belakangi kenapa SC2 berdiri dan siap menjadi motor penggerak dalam meningkatkan dan melejitkan potensi diri manusia khususnya para generasi muda.
SC2 (ESCITWO) adalah lembaga yang ikut berperan dalam pengembangan potensi generasi bangsa masa kini. Melalui kegiatan-kegiatan seperti workshop, seminar dan pelatihan, diharapkan SC2 bisa terus berperan serta dalam mendukung tujuan dari pendidikan nasional yakni membentuk dan menciptakan generasi bangsa yang cerdas, kreatif, inovatif, pantrang menyerah, dan memiliki budi pekerti yang baik.
 SIAPA KAK HENDRI?
  1. Founder Konsep SC2, sebuah konsep training yang dapat menggairahan dalam membangun potensi diri.
  2. Seorang storyteller (Pendongeng) Profesional juga seorang penulis cerita anak hampir  lebih 50 buku yang sudah diterbitkan.
  3. penulis buku Novel dan buku-buku pendidikan. Buku yang sudah diselesaikannya diantaranya buku “Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng”, 96,4 menjadi  Pendongeng, dan novel  “Jo Sang Juara”.
  4. Seorang Trainer Profesional yang sering diundang di lembaga-lembaga pendidkan dari TK sampai perguruan Tinggi.
  5. Pembina Yayasan Motekar Indonesia dan pengasuh komunitas Barudak Edun.
KEUNGGULAN PELATIHAN DAN TRAINING  BERSAMA KAK HENDRI
  1. Pelatihan dan training tidak terkesan teoritik tetapi asyik dan penuh gairah.
  2. Peserta diberikan wawasan penting seputar materi training.
  3. Penyajian pelatihan dan training dengan gaya seorang praktisi dalam dunia kreativitas.
  4. Peserta akan mengetahui bagaimana cara melejitkan potensi diri.
  5. Peserta akan diajari bagaimana cara menghancurkan Mental Block sehingga bisa keluar dari kungkungan pesimistis yang mengakar dalam dirinya.
  6. Peserta akan semakin percaya diri setelah mengikuti pelatihan dan Training bersama Kak Kendri.
 METODE
  1. Aktif Learning
  2. Menggunakan media Suara seperti Sound
  3. Peserta terlibat dan banyak bergerak
  4. Simulasi kreatif.
MANFAAT UNTUK PARA GENERASI MUDA
  1. Semakin percaya diri untuk meraih sukses sesuai dengan potensinya masing-masing.
  2. Semakin yakin dengan potensi yang dimilikinya.
  3. Mampu menghancurkan Mental Block yang sudah melekat kuat dalam dirinya.
  4. Semakin bergairah dalam meraih sukses.
MANFAAT UNTUK PARA PENDIDIK
  1. Menjadi pendidik yang Meyenangkan dengan memiliki kemampuan mendongeng yang baik.
  2. Menjadi pendidik yang memiliki Cipta dan rasa humor yang menggairahkan pada saat mengajar.
  3. Menjadi Pendidik yang pandai bertutur dengan baik dan menarik.
  4. Mengajar dengan menarik dan memiliki keluwesan yang disenangi peserta didik di kelas maupun di luar kelas.
  5. Menjadi Pendidik yang bergairah yang bisa menghidupkan dan menghangatkan suasana di dalam kelas.
  6. Menjadi seorang Pendidik yang mampu menciptakan “ruang story” hingga suasana belajar lebih berkarakter.
  7. Menjadi guru yang bisa memotivasi siswa dengan cerita sehingga siswa tidak merasa digurui. Suasana belajar dan mendidik siswa pun terasa semakin bijak.
MATERI 
  • Memaksimalkan potensi diri dengan kekuatan otak yang dimiliki
  • Brain gym
  • Menghancurkan mental Block menyalakan Energi Super
  • Mengupas Konsep Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng (Training Pendidikan Karakter)
  • Pandai berkomunikasi dengan Story teknik
  • Menjadi guru berkarakter trainer
Pilihan Training
  1. Memaksimalkan Potensi Diri (Siswa/Siswi SMP, SMA, Mahasiswa dan Umum).
  1. Menghancurkan mental Block menyalakan Energi Super
  2. Pandai berkomunikasi dengan Story teknik
  3. Mengupas Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng (Guru, Orang Tua, Mahasiswa dan Umum)
  1. Menjadi Pendidik Profesional Berkarakter Trainer
BEBERAPA PELATIHAN DAN KEGIATAN YANG SUDAH DISELENGGARAKAN
  1. INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)
  2. IGTK SEKOTA BANDUNG (THE ART OF COMMUNICATION)
  3. INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM BANDUNG
  4. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI BANDUNG
  5. IGTK CINAMBO BANDUNG
  6. PAUD WIJAYA KUSUMA LEMBANG
  7. RA MANUNGGAL BANDUNG
  8. RA CICENDO BANDUNG
  9. TK SANTO AGUSTINUS PURWAKARTA
  10. SUN RISE INTERNASIONAL SCOOL JAKARTA
  11. TK-TK DI BOGOR, BEKASI TANGGERANG DAN JAKARTA, DLL.


Hal tersebut, sekiranya loyal dalam pengembangan dan menciptakan manusia yang mempunyai aktualisasi diri yang kompeten. SC2 adalah inspirasi untuk melihat dan membangun sebuah kereatifitas bagi semua insan dan untuk semua unsur baik anak maupun guru.
Dan semua itu, kami sebagai team SC2 mengucapkan terima kasih bagi semua insan super cerdas ceria dan sukses selalu untuk semua.

(Sumber :www.kakhendri.com/blog/2012/08/30/hello-world)

Kak Hilman


Kak Ardy Ferdinanto

 

Dongeng Itu Asyik
Novida Dhea Farani (15) sudah sejak kecil suka dongeng karena orang tua dan neneknya memang kerap mendongeng sebelum menidurkan dirinya.
Siapa sih yang menyangkal bahwa dongeng itu menyenangkan? Biasanya dongeng disisipi lelucon sehingga ceritanya tidak membosankan. Tambah nikmat, kalau diceritakan sambil tiduran di malam hari.
“Aku senang banget sama dongeng karena banyak lucu-lucunya. Enaknya lagi, banyak pesan-pesannya, tapi kita nggak bosan,” celoteh dara yang biasa disapa Dhea ini.
Menurut pengalamannya, dongeng mengajaknya untuk melakukan sesuatu yang baik. Misalnya, ketika bercerita tentang lingkungan maka dirinya jadi tertarik untuk ikut menjaga lingkungan dengan cara yang sederhana seperti membuang sampah di kotak sampah yang tersedia.
Meski hanya bicara lewat telepon kepada SH, suara antusias Novida di seberang sana menggambarkan murid kelas IX SMP Negeri 265 Jakarta ini mengagumi dongeng yang bersifat keagamaan. Seperti apa yang pernah didongengkan oleh sang pendongeng, Ardy Ferdianto di bulan puasa tahun 2012.
Sarah Safira (13), kawan sepermainan Novida, juga mengaku demikian. Sarah Safira adalah warga Kampung Melayu Kecil I, Jakarta Selatan, yang sering pula didongengi oleh Ardy Ferdianto, pendiri Sanggar Kayu.
“Aku paling suka dongeng pas bulan puasa kemarin. Dongengnya benar-benar bikin terharu. Ceritanya ngajak puasa, gitu. Diceritakan tentang anak yang nggak puasa,” jelas Sarah yang juga bersekolah di SMP Negeri 265 Jakarta, tapi masih kelas VII.
Sarah sudah bisa mengatakan bahwa dongeng mempunyai banyak nilai positif, meski dia lebih menyukai dongeng yang disampaikan secara menarik dan ceritanya kena di hati. Apalagi kalau pendongengnya menggunakan alat bantu seperti boneka, muppet, dan gambar-gambar, Sarah dan kawan-kawannya lebih tertarik.
“Terutama untuk anak-anak yang lebih kecil ya, soalnya Kak Ardy kan suka cerita tentang binatang juga tuh. Jadi kalau ada gambar atau boneka, anak-anak kecil lebih gampang menangkapnya,” ungkap Sarah menggebu-gebut.
Baik Sarah maupun Novida sudah sekitar tiga tahun ini ikut berbagai kegiatan di Sanggar Kayu. Mereka bisa memilih aktivitas yang disukai mulai dari menggambar, menari, menyanyi, membaca puisi, sampai mendongeng.
Bahkan lantaran sering mendengarkan dongeng, Novida sempat punya keinginan menjadi pendongeng. “Waktu itu sih pernah diajak Kak Ardy ke suatu acara, disuruh nyoba dongeng ke anak-anak kecil. Cuma ada rasa malu, suka grogi kalau di depan orang banyak. Mungkin belum pede aja,” katanya seraya tertawa.
Seniman Jalanan
Adalah Ardy Ferdianto, pendiri Sanggar Kayu di Kampung Melayu Kecil I, Jakarta Selatan, itu. Pemuda ini belajar mendongeng secara autodidak. Pada awalnya, di tahun 1999 dia malah menjadi seniman jalanan yang membaca puisi dari bus ke bus di jalanan di Jakarta. Beberapa waktu kemudian, ia meningkat menjadi pembaca cerita pendek (cerpen) di bus-bus. Barulah sejak 2008 Ardy menjadi pendongeng.
Latar belakangnya sebagai pemain teater dan dekat dengan dunia anak-anak membuatnya menyukai dongeng dan akhirnya menjadi pendongeng gratisan. Namun perjalanan waktu membuatnya menggagas jadi pendongeng keliling ke sekolah-sekolah.
Akhirnya direalisasikanlah keinginan itu. Selama dua tahun dia mendongeng di pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah dasar (SD) se-Jabodetabek. Hingga selanjutnya dikontrak oleh beberapa perusahaan, antara lain untuk kampanye peduli lingkungan melalui unit Corporate Social Responsibility (CSR). Dari situlah dia mengolah tabungan yang terkumpul untuk mendirikan Sanggar Kayu.
Sanggar Kayu lebih banyak memberikan pelatihan untuk teater dan seni tradisional, tidak semata-mata fokus pada dongeng. Kegiatannya diadakan setelah lewat jam sekolah supaya tidak mengganggu kegiatan utama murid.
“Lewat teater saya bisa memanfaatkan skill yang berguna bagi anak. Sementara anak-anak juga lebih percaya diri dan motoriknya terangsang untuk dieksplorasi,” tutur Ardy yang punya anggota 30 orang yang berumur 6-12 tahun di Sanggar Kayu tersebut.
Kegiatan mendongeng, bagi Ardy memang asyik. “Kita bisa bercanda sama anak-anak. Jadi anak-anak terhibur senang. Yaaah... bermain sambil belajarlah,” lanjutnya. Tapi Ardy juga mengingatkan bahwa pendongeng harus banyak membaca supaya tambah pengetahuan umumnya yang kemudian bisa ditransfer pada anak-anak lewat dongeng.
Baginya, dongeng merupakan media yang sangat efektif untuk memperkaya imajinasi anak sehingga punya cita-cita tinggi dan mampu menokohkan seseorang yang patut dicontoh.(Wahyu Dramastuti)

Kak Wuntat Wawan Sembodo




Tak terasa, waktu seperti berjalan cepat sekali Sabtu (21/4/2012). Jarum jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 17.30 WIB. Pengajian di Taman Terminal Tirtonadi, Solo, yang diisi Wuntat Wawan Sembodo terlihat begitu berkesan bagi ratusan orang kaum marginal yang hadir.
Peserta pengajian yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu Majelis Asy Syifaa itu tampak antusias mengikuti jalannya acara. Wuntat mengajak mereka yang hadir berperan aktif. Kadang lewat syair lagu maupun gerakan-gerakan badan.
Pembawaan Wuntat mampu menyita perhatian jemaah. Suara dan penampilannya di panggung membuat mereka betah duduk mengikuti pengajian. Suara tawa dan rasa bahagia terpancar di wajah semua yang mengikuti jalannya pengajian.
Bahkan tak segan-segan Wuntat turun panggung mengajak jemaah berinteraksi. Hiduplah suasana pengajian itu.
“Didik anak untuk terbiasa jujur. Kuncinya ada pada keteladanan. Keteladanan dan kata-kata lebih penting keteladanan. Kadang kata-kata hanya didengar tapi tidak diikuti,” ujar lelaki kelahiran Klaten, 21 Mei, 1973.
Banyak nasihat-nasihat yang disampaikan anak pasangan (Alm) Rudiatun Andariyah dan (Alm) Sukowo itu pada pengajian dalam rangka Hari Kartini. Misalnya saja, orangtua supaya tidak hanya pandai menyuruh anak-anak untuk salat dan berbuat baik. Namun, orangtua supaya memberi contoh terlebih dahulu.
Pada kesempatan itu, jemaah yang hadir diajak menjadi suri teladan di dalam keluarga dan masyarakat. Suami Dwi Suranti itu memberikan penghargaan kepada salah satu anak, Albert yang maju dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan jujur.
Ayahnda Tazkia Nazhifa Asy Syahida, Daffa Jihadan Alhaqqi dan Zidan Mumtaza ‘Izulhaq itu kemudian memberi uang Rp 50.000. Selain mengajarkan soal memberi, Wuntat juga meminta uang itu nantinya dibagi juga kepada teman-teman Albert. Dia menginginkan Albert tidak pelit dengan uang tersebut.
“Mendidik anak bukan hanya menjadi cerdas. Yang penting adalah otak cerdas, hati bersih dan amal lurus. Pikir, zikir dan amal,” jelasnya.
Lulusan SDN Jelobo 1, Wonosari, Klaten dan SMPN 2 Wonosari, Klaten itu merasa memiliki tanggung memberikan bekal kepada orangtua tentang pola pendidikan anak.
Tamatan SMAN Delanggu (sekarang SMA Wonosari) mendambakan generasi penerus bangsa ini bisa berubah. Alumnus PPAI Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) Jogja itu lebih banyak target memberikan materi pendidikan.
“Saya ingin anak taat kepada orangtua. Negara carut marut seperti sekarang karena berawal dari keluarga. Saya ingin memberikan sesuatu berupa teknik mendidik anak-anak. Keluarga itu seperti negara kecil. Pendidikan yang diberikan sekarang baru terasa mungkin saja 20 tahun kemudian,” paparnya.
Pria yang tinggal di Dalem KG III/933 RT 045 RW 010 Kotagede Jogja memiliki banyak aktivitas. Wuntat pernah menjadi Dosen di STITY Gunungkidul, dosen PGTK Tarbiyatunnisa’ Bogor, Direktur TPAL AMM Jogja, Direktur ARDIKA (Armada Da’i Khusus Kalangan Anak-anak), Kepala SDIT Salsabila 1 Prambanan, Klaten, Guru Rohis TK Negeri Pembina Yogyakarta.
Sekarang, Wuntat pun masih banyak beraktivitas dan tidak hanya terbatas yang berhubungan dengan anak-anak. Di antaranya yaitu sebagai Kepala SDIT Salsabila 5 Purworejo, Dosen STPI Bina Insan Mulia Jogjakarta, Ketua II Yayasan SPA Indonesia, Direktur Bamaspa (Baitul Mal SPA), Trainer Nasional Metode Iqro’.
Wuntat tak hanya dikenal sebagai pendongeng. Dia juga seorang dai, trainer dan motivator. Lewat kemampuannya itu, beberapa daerah  pernah dikunjungi di antaranya Sulawesi, NTB, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Kepri, Sumatra, Jabar dan Jatim.

Kak Mamat Husein



 

Efektifitas Dongeng Dalam Pembentukan Karakter Anak

Dongeng merupakan suatu metode mendidik yang efektif dalam pembentukan karakter anak.Karena saat anak mendengarkan dongeng, pikiran imajinatifnya akan terangsang dan terpuaskan dengan baik. Sehingga akan terbentuk pola pikir anak yang kreatif, kritis, dan imajinatif. Secara psikologis, anak-anak yang masih dalam fase pertumbuhan memiliki karakter yang cendrung imitatif dan plagis. mereka akan meniru apa saja yang didengar, dilihat, atau ditontonnya. Selain itu kepekaan dan daya simpan memori mereka amat menakjubkan.(Robert Klesges, 1987).Lalu bagaimana jika masa kanak-kanak mereka teracuni oleh video game/playstation yang sudah pasti berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak-anak. Data dari China, menunjukkan adanya anak yang bunuh diri setelah bermain games selama 36 jam. Games dapat meningkatkan zat kecanduan yang merusak. Anak-anak menjadi malas belajar dan cendrung bersikap kasar pada guru dan orang tuanya. Fase kanak-kanak adalah fase menirukan segenap tata-nilai dan prilaku di sekitarnya,mulai masaknya organ-organ seksual, pengambilan pola prilaku dan nilai-nilai baru, idealis dan pemantapan identitas diri.( Irwanto,2002). Apabila anak-anak dibiarkan meniru nilai-nilai baru yang negatif dan merusak secara terus-menerus sampai dewasa, maka mereka kelak akan menjadi generasi korup, kriminal, dan anti-sosial.Naudzubillah mindzalik.


Penulis    : Mamat Husein, S.Pd.I (Aa Mamat)
Aktivitas : guru SDIT Kaifa Bogor, pendongeng jenaka, motivator belajar, penulis buku anak.
CP         : Hp.085310294729-08811116430

Kak Kusuma Pratama



· 

 Pendongeng at Dongeng Muamalah
·  Melanglang buana dengan Dongeng dan menikmati Cokelat.

Kak Ivan Bonang




Mendongeng Efektif Ajarkan Moral dan Karakter
Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, para guru hendaknya memiliki berbagai metode mengajar. Di dalam kelas bila guru menyampaikan materi pelajaran dengan beragam cara maka anak didik tidak akan bosan berada di dalam kelas mengikutinya. Mendongeng adalah alah satu cara mendidik yang dapat menarik minat belajar siswa.
Menurut pendongeng Ivan Bonang, pembelajaran menggunakan metode mendongen atau bercerita sangat efektif untuk mengajarkan anak tentang sesuatu baik moral, karakter, pengetahuan dan lainnya. Menurutnya, meskipun saat ini peralatan semua sudah digital namun pola mengajar melalui mendongeng jangan sampai ditinggalkan.
“Saya mengajak para guru untuk menggunakan metode bercerita atau mendongeng, bernyanyi dan permainan dalam mengajarkan sesuatu kepada anak didik. Soalnya ada yang tidak bisa ditukar dengan program komputer yakni komunikasi dua arah langsung antara pendongeng, guru, atau orang tua yang melibatkan emosi dan anak didik," katannya di Bandarlampung seperti dilansir Antara Rabu, (18/1/2012).
Untuk mensosialisasikan metode mendongeng kepada para guru, Ivan berkeliling ke sejumlah kecamatan di beberapa kabupaten untuk yang memberikan pelatihan mendongeng. Misalnya, November 2011 lalu, ia bersama timnya melatih di Kabupaten Waykanan, Lampung yakni di Kecamatan Pakuonratu, Way Tuba, Kasui, Baradatu, dan Blambanganumpu. Sementara Januari ini mereka melatih di Kabupaten Tulangbawang meliputi Kecamatan Rawapitu, Gedongaji Lama, dan Banjarbaru dan terus belanjut hingga Maret.
Ivan menjelaskan, para guru terutama PAUD dan TK penting diberikan pelatihan mendongeng karena biasanya mereka harus bercerita tentang materi yang akan diberikan kepada siswanya sebelum masuk ke materi. "Kemampuan guru untuk menarik minat siswanya belajar melalui proses bercerita tidak merata sehingga kami memberikan metodenya," katanya.
Menurutnya para guru merasa senang karena jarang mendapatkan kesempatan untuk pelatihan, apalagi pelatihnya yang mendatangi mereka. Pelatihan ini diberikan selama dua hari dan pesertanya maksimal 50 orang per kelas. Pelatihan tersebut yakni memberikan perubahan visi sebagai pendidik dari "tidak ada" pekerjaan pola pikirnya untuk guru, sebenarnya.
Alumni Fakultas Pertanian Universitas Lampung itu dibantu para pendongeng yakni Iin Muthmainnah, M. Reza, Tri Purna Jaya, dan Agung Cahya Karyadi. Ia menjelaskan, teori teknik dasar bercerita, meliptui cara bedah naskah cerita, teknik gerak tubuh (gesture) mengikuti karakter tokoh, teknik vokal mengikuti karakter tokoh, pembuatan alat-alat untuk dongeng, teknik penulisan cerita, dan pembuatan lagu.
Jur. Akhwani Subkhi
Red. Budi

Kak Glory Gracia




Pernahkah anda membaca buku cerita yang begitu menarik sehingga anda tidak dapat berhenti sampai lembaran yang terakhir? Pernahkah anda membaca buku cerita yang memiliki kesan yang begitu kuat dan mengaduk-aduk emosi anda?
Apakah tangan anda terasa gatal untuk menulis cerita-cerita memikat seperti yang pernah dituliskan para penulis ternama? Harry Potter misalnya? Charlie and Chocolate Factory?
Pernahkah terbayang seorang anak mengeposkan anda surat karena kagum akan cerita buatan anda? Jika ya, maka inilah saat yang tepat untuk mengikuti Workshop Online: Menulis Fiksi Anak! Di sini anda akan memperoleh apa saja yang dibutuhkan untuk menulis cerita fiksi anak!
1. Pengenalan Proses Kreatif & Menulis Bebas: Sesi ini memperkenalkan proses kreativitas dan bagaimana mencurahkan ide sebebas-bebasnya dalam tulisan
2. Membangun Duniaku :Sesi ini mengajak anda untuk berlatih menulis tentang setting
Siapakah Jagoanku? Sesi ini mengajak anda mendalami pembentukan tokoh cerita
4. Buatlah Ceritamu Sendiri! Sesi ini merangkum semua sesi sebelumnya dan mengajak anda untuk menuliskan cerita karya anda sendiri

Kak Totok




Sejumlah pelajar di Palembang serius menyimak dongeng anti korupsi yang dibawakan oleh si pendongeng, Kak Totok, Sabtu (18/6) di Benteng Kuto Besak.
Dongeng (telling story) ini adalah rangkaian kegiatan Integrity Fair 2011, kerja sama Pemerintah Kota Palembang dengan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia. (yat)

Kak Al-Habsyi




Wajahnya tak asing di layar kaca, beberapa stasiun televisi menjadikannya bintang dakwah. Lelaki berhidung mancung ini sudah 'beredar' di stasiun-stasiun televisi di Indonesia sejak tahun 2005. Acara pertamanya adalah membawakan kisah para Nabi. Tak hanya model acara dakwah serius yang ia garap, model dakwah yang fun ia jalani dalam beberapa program antara lain yang pernah tayang di Trans  7. “Ada surga di sekolahku”
Pepatah mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, ayahnya juga seorang ulama di Palembang. Sejak kecil cita-cita Ahmad Al Habsyi memang menjadi seorang da’i. Prestasinya pun mulai terlihat sejak remaja. Pada usia tiga belas tahun, Ahmad Abubakar Al-Habsyi pernah ikut Lomba Pidato Tingkat Nasional 1993 dan masuk 10 besar. Pada saat itu, ia merupakan peserta termuda dan bangga bisa bersalaman dengan Ibu Negara, Tien Soeharto. Prinsipnya saat remaja adalah "Jika seseorang memiliki ilmu, maka ilmu itu akan membuatnya mulia, apalagi itu berhubungan dengan agama."
Lulusan Pondok Pesantren Ar Riyadh Palembang ini dikenal sebagai seorang dai yang cukup komunikatif dengan audiens. Ditunjang lagi dengan umur yang baru menginjak 28 tahun ia begitu mudah diterima oleh anak muda. Kekuatan dakwah Ustadz Ahmad Al Habsy adalah kemampuannya untuk menyampaikan materi dakwah dengan kreatif. Bahkan kerapkali  ia disebut sebagai da’i pendongeng karena apa yang dakwah yang ia ceritakan mengalir begitu saja.
Dongeng dari Dai ini secara lengkap diikuti di website pribadinya di alamat http://www.al-habsyi.com

Kak Salma Indria Rahman





Bikin Gemas, Obati Anak-Anak Korban Bencana

Bagi Salma Indria Rahman dongeng tidak sekadar cerita legenda atau cerita rakyat. Dongeng juga menjadi media untuk mendidik dan menyembuhkan trauma pada anak-anak. Lewat karakter rekaannya, Juki and Friends, Salma berkeliling daerah bencana dan sekolah-sekolah anak jalanan untuk mendongeng dengan media boneka jari. SEKARING R ADANINGGAR, Jakarta

JUKI adalah si jerapah periang yang disukai teman-temannya. Juki selalu ceria dan ti dak suka marah-marah. Kemudian, ada Bob, si anjing penolong yang selalu siap membantu temannya; Risa, si rusa yang ramah; Baya, si buaya setia yang hobinya berenang dan bermain layangan; juga Unyu, si penyu hijau yang penya bar dan selalu pandai menenangkan sua sana.

Lalu, ada pula Tiki, si tikus pemurah; Elang, si burung penjelajah; dan Ciki, si ayam yang rajin. Mereka berteman dan hidup damai di Negeri Cermin. Bersama Salma Indria Rahman, kedelapan karakter tersebut berkelana dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia untuk menghibur anak-anak.

Mereka menjelma menjadi boneka jari yang lucu dan menggemas kan. “Lewat dongeng Juki and Friends, aku pi ngin anak-anak mengenal karakter tokoh-to koh dalam dongeng,” urai Salma ketika di temui di markas komunitas Rumah Po hon Activity, kawasan Tebet, Jakarta, pekan lalu.

Menurut Salma, pembelajaran budi pekerti di Indonesia masih rendah, khususnya untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung. Seperti anak-anak jalanan dan anak-anak korban bencana alam. Karena itu, perempuan berusia 38 tahun tersebut tergerak untuk mengajarkan budi pekerti lewat cara yang menyenangkan Meski terkesan sepele, dampak yang ditimbulkan luar biasa.

Salma mencontohkan, ketika dirinya pergi ke daerah pedalaman untuk mendongeng di sekolah yang sangat miskin. Murid-muridnya sampai tidak pernah mandi. “Aku dongengin mereka dengan boneka jari Juki and Friends tentang anak-anak yang nggak mau mandi dan akibatnya. Aku iming-imingi, mereka yang mau mandi akan mendapat boneka jari.

Esok harinya, anak-anak mengajak aku ke sungai. Mereka pamer bahwa mereka mau mandi,” urai Salma sembari tersenyum. Salma menjelaskan, di ujung jari terdapat ribuan sensor motorik yang akan membuka otak kanan.

Dengan jari, anak-anak juga lebih merasa dekat dengan boneka Juki and Friends yang bentuknya mungil. Boneka jari juga bisa menjadi hiasan pensil atau bolpoin. Salma sudah menjelajahi berbagai macam sekolah, mulai sekolah anak jalanan hingga sekolah anak-anak berbakat.

Dia juga pernah menyambangi daerah-daerah bencana dan sejumlah panti asuhan. Bagi perempuan asli Padang itu, setiap anak membutuhkan dongeng untuk bergembira dan berekspresi. Bagi anak-anak jalanan, dongeng efektif untuk mengajarkan budi pekerti.

Sementara bagi anak-anak korban bencana, dongeng bisa menjadi trauma healing yang cukup ampuh. “Kalau disuruh menghitung berapa tempat yang sudah aku datangi untuk mendongeng, ya susah. Udah banyak banget, mungkin ratusan kali,” urainya.

Salma menjadi tukang dongeng secara tidak sengaja. Pada 2009, dia menemukan rumah kos yang mirip rumah pohon di kawasan Tebet. Kamarnya terletak di lantai atas dengan balkon mini dan tangga. Salma pun menamai markas pribadinya itu Rumah Pohon Activity.

Di sekeliling rumah kosnya, perempuan kelahiran 15 Mei 1975 itu sering menyaksikan anak-anak tetangga yang berlagak mirip artis-artis sinetron. Bahkan, pada suatu hari Salma kaget ketika mendengar salah seorang anak tetangga tibatiba menyerukan ingin bunuh diri. “Aku ya kaget banget. Mereka bilang itu (bunuh diri) kayak di sinetron-sinetron.

Akhirnya aku ajak dia ngomong baikbaik dan aku ajarin soal tontonan yang layak dan nggak layak buat anak-anak. Eh, nggak lama kemudian, temen-temen- nya juga sering ikut main ke Rumah Pohon,” ujarnya. November 2010, Salma yang juga seorang travel writer diundang teman penerbitnya di Jogjakarta untuk membahas novelnya yang bakal diterbitkan. Saat dia berada di Jogja itu, Gunung Merapi meletus. Bubar semua rencananya.

Tiba-tiba Jogja menjadi kota mati. Salma pun kebingungan harus berbuat apa. Akhirnya Salma dan rekannya memutuskan untuk mengunjungi serta membantu para korban bencana di lokasilokasi pengungsi. Upaya sukarela iseng Salma tersebut ternyata mendapat respons positif dari teman-temannya di beberapa daerah di Indonesia.

Mereka berlomba-lomba menitipkan uang untuk membantu korban bencana. “Akhirnya kami dapat tiga mobil untuk blusukan ke daerah-daerah pengungsi. Di tempat itu kami bagikan selimut dan bahan-bahan pangan,” ungkapnya. Bersama Salma, ada sejumlah sukarelawan yang lebih dulu berada di kawasan pengungsi. Mereka memiliki program bernama Ceria Merapi.

Namun, mereka tidak terpikir tentang kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi program tersebut. “Dari situlah aku mulai terlibat dalam aktivitas konkret mendampingi anakanak kurang beruntung itu,” ujarnya.

Salma pun mulai merancang kegiatan mendongeng dengan memakai boneka jari. Selama dua minggu berada di kawasan pengungsian Merapi, dia membikin boneka jari dari bahan dasar flanel. Tokoh yang pertama dibikin adalah jerapah.

Setelah itu tokoh-tokoh yang lain bermunculan. Begitu boneka jadi, Salma lalu beraksi. Dia mengajak anak-anak berinteraksi dengan tokoh-tokoh dongeng itu. Dia mendongeng dengan Juki and Friends setiap pagi dan sore.

Senin, 03 Juni 2013

Kak Heru Budiarto



“Storytelling is the most powerful way to put ideas into the world today”. Kalimat Professor Teologi Amerika Serikat, Robert McAfee Brown yang artinya mendongeng adalah cara yang paling kuat untuk menyalurkan ide pada dunia ini, menjadi penyemangat hidup Heru Budiarto, pendongeng buta asal Surabaya.
Melalui dongeng, pemikiran, ide, norma hingga ajaran agama bisa dengan mudah disampaikan dan dimengerti pendengarnya.
Diakuinya, sebelum buta, mendongeng sangat mudah dijalani.Sebab dia berinteraksi langsung dengan pendengar. Tapi pasca menderita kebutaan total, bercerita di depan umum menjadi sulit bagi pria 41 tahun ini.
 “Ya begitulah, setiap kali saya menghadapi pendengar, saya hanya memakai mata batin. Membayangkan wajah-wajah serius mendengarkan cerita saya,” ujarnya.
Meski awalnya dia mengeluh, tapi akhirnya dia sadar kekurangan itu berubah menjadi kelebihannya sebagai pendongeng. Pendengarnya yang rata-rata anak sekolah, biasanya langsung tertarik untuk menyimak karena penasaran, apakah si buta mampu bercerita?” Itu keuntungannya, jadi saya menarik meski belum memulai cerita,” kelakarnya.
Diceritakannya, keputusan menjadi pendongeng sudah menjadi pilihan hidupnya. Pria asli Sumenep, Madura ini sejak menyelesaikan studi di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya, menerapkan sistem bercerita dalam mengajar ke anak-anak.
“Pertama kali saya mengajar di sebuah Taman Pendidikan Al Quran (TPA) di daerah Darmokali Surabaya. Untuk mengatasi anak-anak yang ramai di kelas, saya mendongeng, eh, ternyata mereka langsung suka,” kenang bapak satu putri ini. Dari situlah, tekatnya untuk menggeluti dunia mendongeng semakin membara. Lulusan Jurusan Hukum ini bahkan rela menanggalkan titel Sarjana Hukum yang disandangnya untuk mendalami dunia dongeng. “Sekarang di belakang nama saya arti titel SH adalah sarjana humor,” katanya tersenyum simpul.
Keceriaanya saat mendongeng, ternyata bertolak belakang dengan lika-liku hidupnya yang penuh kepedihan.
Dikatakannya, saat mengalami kebutaan total pada medio 1997 silam, merupakan titik balik dalam kehidupnya. “Waktu itu saya hanya bisa teriak menyebut nama Allah,” kenangnya.
Heru yang dikenal dengan nama panggung Ki Heru Cakra tersebut, mengalami kebutaan akibat virus tokso yang menggerogoti syaraf matanya. Kondisi itu diperparah dengan serangan virus rubela yang juga menyerang retina matanya.
Upaya pemulihan sudah beberapa kali dilakukannya. “Saya sudah menjalani sedikitnya 8 kali operasi. 4 kali di-laser, 2 kali operasi katarak dan 2 kali operasi tanam lensa,” ceritanya.
Namun dia kemudian sadar bila Allah tak berkehendak, maka usahanya tersebut takkan berhasil. Meski awalnya protes, tapi Heru percaya kebutaan total itu merupakan berkah lain dari Sang Pencipta.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, derita hidup Heru ternyata terus berlanjut. Semenjak mengalami kebutaan, berturut-turut Heru kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Pada tahun yang sama ketika dirinya dinyatakan buta, ayahnya meninggal dunia. Pada 2004, giliran adiknya yang menghadap sang Khalik. Setahun kemudian, anak keduanya yang masih berusia 4 bulan di kandungan istrinya, juga tidak diberi kesempatan melihat indahnya dunia. Pada 2008, ibunya turut menyusul menghadap Illahi. Yang terakhir, pada 2009 lalu, istrinya menuntut cerai.
“Ibaratnya, lengkaplah sudah penderitaan ini. Saya benar-benar hancur waktu itu,” katanya.
Meski demikian, Heru tak mau menyerah pada keadaan. Mendongeng lah yang menguatkan batin pria bertubuh tambun ini. Bertemu anak-anak tiap hari dan menularkan ilmu lewat cerita membuat Heru sedikit demi sedikit mulai bisa menghilangkan kesedihan.
“Saya kuatkan untuk bisa mendongeng lagi, bertemu anak-anak lagi. Dan ternyata respon merekalah yang menguatkan saya,” katanya.
Heru yang kerap membawa boneka ketika mendongeng mengatakan, dari interaksinya dengan anak-anak itulah, dirinya mulai bisa bangkit. “Sentuhan anak-anak yang masih suci itu yang membuat saya kuat. Mereka suka mencium tangan, memeluk atau bahkan mengusap perut saya ini,” tuturnya.
Puing kebahagiaan yang sempat berserak kembali  ditatanya. Dia pun bersyukur, karena Allah telah memberikan penyangga bagi hidup dan imannya, kala kepedihan menghampiri. Dia yakin Allah tak akan mencoba kaumnya melebihi kemampuan. “Dan saya yakin Allah telah mengatur,  kebutaan dan dongeng ini menjadi jalan hidup saya. Saya akan terus berbagi cerita yang menggugah semangat generasi muda, termasuk semangat untuk beribadah,” katanya.
Kini, kegiatan Heru sehari-hari selain memenuhi undangan mendongeng di beberapa sekolah, dirinya juga kerap memberikan pelatihan kepada guru-guru TK dan SD untuk mendongeng.
Bahkan beberapa murid mendongengnya sudah berhasil meraih beberapa penghargaan baik di tingkat lokal maupun regional. “Salah satu guru yang saya ajari mendongeng bahkan ada yang sampai juara 2 lomba mendongeng di tingkat nasional,” akunya bangga.
Heru sendiri mengaku tidak pernah memenangi lomba mendongeng. “Tapi justru yang sering, saya dipercaya menjadi juri,” ujarnya tertawa. den (Sumber : Surabaya Post)

Kak Sulistiawati



Anak-anakku, kalian sudah mengerjakan PR belum? Kalau sudah, ini, sekarang ibu kasih hadiah cerita....
Surabaya, Jawa Timur- Seorang ibu menggerak-gerakkan boneka kelinci yang disarungkan di tangan kirinya. Sambil mengecilkan suaranya, kemudian dia menyapa sekumpulan anak-anak yang ada di depannya.
Bukan sekadar menghibur, namun ibu tersebut akan mendongengkan sebuah cerita yang tentu saja sudah dinanti oleh anak-anak tersebut. Cerita berkisar tentang nilai-nilai moral dan budi pekerti.
Hari Rabu 10 Juni 2009 lalu, puluhan guru sekolah dasar dari berbagai kota di Jawa Timur mengikuti perlombaan mendongeng yang diadakan Dinas Pendidikan Jatim. Puluhan guru yang mewakili sekolahnya masing-masing, menampilkan berbagai bentuk dongeng. Dengan gaya khas masing-masing, mereka menuturkan cerita yang mempunyai muatan budi pekerti.
Begitulah dongeng. Didalamnya ada muatan moral yang sengaja ditanamkan kepada anak-anak. Caranya bisa dengan hanya dengan mengandalkan lisan, tetapi ada juga yang menggunakan properti sebagai sarana penyampai pesan.
Peserta yang rata-rata ibu-ibu itu kebanyaknya mendongan dengan menggunakan properti seadanya, yakni beberapa buah boneka tangan berbentuk hewan-hewan lucu, seperti kelinci, jerapah, dan kangguru, dia mulai memainkan peran monolognya. Berbagai suara yang muncul berbeda-beda seiring peran yang sedang dimainkan. Jika sedang memerankan kelinci, maka sebisa mungkin suara harus menggambarkan seperti seekor kelinci. Jika memerankan kangguru, maka suara harus diubah sesuai dengan peran kangguru.
Ada pula seorang peserta menggunakan properti yang lengkap dan megah. Laiknya sebuah pentas teater, seorang pendongeng berakting dengan mengatur blocking terlebih dahulu. Meski demikian, pada akhirnya yang menjadi bahan ceritanya pun sama, yakni seputar fabel (cerita binatang), legenda, atau cerita rakyat suatu daerah.
Tidak hanya itu untuk menarik minat anak, dengan kostum yang memang direncanakan sebelumnya, seorang pendongeng tampil dengan gestur yang memang telah diatur sesuai dengan latar ceritanya. Jadi semua terkesan tidak ada yang spontan, melainkan sudah diatur dan dipersiapkan melalui latihan rutin.
Begitu pula dengan naskah cerita. Beberapa pendongeng mempersiapkan naskah cerita dengan mendownload dari internet, lalu dengan sedikit tambahan alur dan cerita serta dialog, naskah baru kemudian berhasil ditulis dan siap diceritakan pada anak-anak. Selain itu ada pula yang langsung mengambil dari buku-buku cerita yang sudah ada di toko buku dan majalah. Dengan menghapal inti ceritanya, lalu mereka menyiapkan berbagai improvisasinya.
Selain itu, ada pula pendongeng yang tampil tanpa memakai properti apapun.  Hanya dengan berdiri tegak di depan anak-anak, pendongeng itu sudah dengan mudah berinteraksi dengan anak-anak. Meski tanpa properti, namun tetap suara menjadi hal yang penting. Buktinya, hanya dengan berdiri, pendongeng tanpa properti itu dalam waktu singkat sudah mampu memikat anak-anak untuk mendengarkan ceritanya.
Berbagai macam cara memang ditempuh oleh para pendongeng agar mampu menarik perhatian anak-anak yang didongenginya. Mulai dari penampilan megah dan properti yang biasa dibawa ke atas pentas teater, yang kemudian di usung di depan anak-anak, hingga hanya bermodalkan kecakapan memainkan intonasi dan tekanan suara serta keramahan dan suara memanja yang memang digemari oleh anak-anak.
Memang, kesan kesederhanaan penting dalam mendongeng. Bagaimanapun, yang dibutuhkan anak-anak adalah cerita dan ekspresi dari pendongeng yang berhasil ditangkap oleh anak-anak. Dengan begitu, anak-anak seolah akan merasa terlibat dalam cerita yang didongengkan oleh pendongeng.
”Properti yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk bersedia mengikuti seluruh jalan cerita, itu hanya properti yang sifatnya pendukung dan praktis saja, seperti boneka misalnya,” ujar Gumun Santoso, salah satu pendongeng yang juga seorang kepala sekolah di Blitar.
Padahal, sebenarnya, jika dirunut dari sejarahnya, dongeng sebenarnya merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang disampaikan memang secara lisan tanpa ada sebuah persiapan stage seperti laiknya pentas teater dan drama.
Memang, properti yang berlebihan akan membuat dongeng menjadi terasa berlebihan. Dongeng yang seharusnya mengutamakan keterampilan dan kecakapan bercerita, menjadi samar ketika tertutupi oleh properti yang megah dan wah. Perhatian anak pun bisa jadi akan beralih dari pendongeng ke properti tersebut.
Seperti yang dikatakan oleh Lukmanatul Hikmah, seorang pendongeng asal Pasuruan, dia juga tidak begitu sepakat jika dongeng sepenuhnya menjadi ajang pementasan dan adu akting. Menurutnya, properti seperti boneka-boneka tangan masih wajar dipakai oleh seorang pendongeng. Selebihnya itu, misalnya properti lain yang mendukung latar menurutnya terlalu mubazir. ”Sebenarnya sih sah-sah saja. Hanya kok menurut saya itu tidak terlalu penting,” ungkapnya.
Sedangkan berbeda lagi bagi Sulistyowati, seorang pendongeng asal Surabaya. Dengan membawa serta properti yang tidak biasa, dia selalu hadir menyapa anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan sapaan khasnya.”Apa kabar anak-anak?” sapanya selalu dengan suara cempreng yang pasti diikuti dengan suara riuh tawa anak-anak peserta PAUD.
Memang, diakuinya, properti yang dibawanya bukanlah menjadi yang utama. Tapi, tanpa properti itu, dirinya mengaku tak berdaya. Diceritakannya, pernah dia tampil tanpa properti itu, hanya berbekal boneka tangan yang lucu. Di tengah dongengannya, dia lupa dialog dan cerita selanjutnya. ”Itulah percaya atau tidak, kalau dibilang tergantung dengan properti, ya saya memang tergantung,” ungkapnya.
Intinya, perlu atau tidaknya sebuah properti yang megah untuk sebuah dongengan tidak perlu diperdebatkan. Seharusnya yang menjadi permasalahan adalah ada atau tidaknya pendongeng yang mempu bertahan untuk menjadi seoran pendongeng. Setidaknya cukup masuk akal yang dikatakan oleh Yuniani, seorang pendongeng asal Nganjuk yang berpendapat, selama ada orang yang senang berada di dekat anak kecil sekaligus sadar bahwa pendidikan budi pekerti pada anak itu lebih penting dari pendidikan materi, pendongeng akan tetap ada.  (Arief Junianto)

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/ (13 Juni 2009)

Kak Nia

Kak Tony Steve

Senyum Sejuta Makna Anak-anak Al Daaris di Minggu Ceria
Senyum ceria terlihat di bibir anak-anak Sanggar Belajar Dhuafa dan Anak-Anak TK Al Daaris, RT08/10 Ciracas, Jakarta Timur di Minggu (26/5/2013). Ketika itu mereka  menerima sebuah tas sekolah lengkap dengan perangkat sekolah, ditambah jam tangan cantik yang diserahkan Bayu Indriarko dan kawan-kawan dari satusatu.org. Senyum  itu melengkapi meriahnya Dongeng Ceria 4, Majelis Cilik 3 Ciracas yang diadakan rutin sekali sebulan,
Sesuai dengan mottonya “Satu untuk Sejuta Senyum”, satusatu.org telah berhasil memunculkan senyum kebahagiaan bagi anak-anak dhuafa di Ciracas. Ini hal yang baru bagi mereka, karena selama ini belum ada bantuan yang mereka terima yang dapat memotivasi mereka untuk semangat belajar.
“Bantuan ini suatu yang di luar dugaan dan sangat membahagiakan,” kata Irawati, pengurus Al Daaris, mewakili pengurus sanggar dan anak-anak sanggar ketika menerima santunan berupa dana dan 50 tas sekolah lengkap dengan perangkat sekolah dari  satusatu.org.
Selama ini Irawati dan pengelola lainnya, hanya terus bergerak menjalankan sanggar belajar dan mempersiapkan TK untuk anak-anak dhuafa di sekitar RT 08/10 Ciracas. Dia mengaku, tidak menyangka apa yang dilakukannya bersama pengelola lain dengan mengadakan Sanggar Belajar Dhuafa, Majelis Cilik 3 dengan Dongeng Cerianya, Rumah Baca dan sekarang TK Al Daaris akan mendapat dukungan dari banyak pihak.
“Trimakasih satusatu.org, semoga doa-doa kami dan anak-anak dhuafa yang menerima bantuan di Al Daaris diijabah oleh Allah SWT, Semoga tim satusatu.org dilancarkan jalan bisnisnya, diberi keberkahan dan diberikan kesehatan serta pelindungan yang tak terhingga. Amin YRA,” jelas Irawati, Sekretaris Yayasan Al Daaris.
Tentunya Irawati juga tidak lupa menyampaikan terimakasih kepada Bunda Mimi di Singapura yang turut mempermanis senyum anak-anak Al Daaris. Juga kepada  Bunda Liza dan dr. Dona, yang di sela kesibukannya memproduksi dan menjual Nugget Ayam Organik di Depok turut membahagiakan anak-anak Ciracas dengan memberikan 100 goodiebag untuk anak-anak yang ikut menjadi peserta dalam Dongeng Ceria 4 yang diadakan Majelis Cilik 3 Ciracas.
“Trimakasih Bunda Liza, ” ucap anak-anak peserta Dongeng seusai Bunda Liza menyerahkan goodiebag secara simbolis.
Hal sama juga teruntuk Kak Iman Surahman, Pimpinan Dongeng Ceria Management (DCM), Kak Tony Steve, Kak Adhiep, Kak Dwi dan Kak Dini yang tak lelah menginfakkan tenaga dan pikirannya dalam memberikan edukasi melalui dongeng kepada anak-anak Ciracas.  ”Untuk mereka semua, semoga Allah memberikan kemudahan dalam jalan hidupnya,” ujar Irawati.
Begitu juga, kata Irawati,  trimakasih dari Al Daaris untuk Kak Ayu Vrismayang Sari dengan Alumni SMK Telkom Malang yang tidak henti mendukung Sanggar Belajar Al Daaris.  Tentunya juga pada Pak RT08/10 dan masyarakat Ciracas yang terus bersama dalam setiap kegiatan-kegiatan Al Daaris.
Ketika Dongeng Ceria 4 di Majelis Cilik 3 Ciracas  ini juga diterima bantuan buku-buku bacaan untuk anak-anak dari Bunda Ricka, Bunda  Hiqmah, Bunda Liza. Buku-buku tersebut akan melengkapi koleksi Rumah Baca Al Daaris. “Trimakasih juga buat bunda Ricka, Bunda Hiqmah dan Bunda Liza atas buku-bukunya yang kaya ilmu pengetahuan,” ucap Irawati.
Irawati juga mengungkapkan Rumah Baca Al Daaris masih membutuhkan bantuan buku, karena rak-rak bukunya masih banyak kosong dan anak-anak sangat aktif dalam membaca buku-buku tersebut di hari libur dan sepulang sekolah,” jelasnya.(Sumber : Republika.com)

Kak Mal

Kak Isti Retno Prabandari