Minggu, 27 September 2009

Heru Prakoso



Mencetak Pendongeng Andal


Sorot mata penasaran terpancar pada wajah ceria para siswa TK Komimo Jatiwaringin. Sesekali, mereka bangun dari duduk manisnya untuk ikut berceloteh. Hari itu, Selasa (15/9), mereka seolah terlibat dalam cerita Dedek Oni dan Naga Pencuri yang dibawakan Kak Heru, Si Paman Dongeng.

Dengan petikan gitar dan permainan boneka, Heru mengkisahkan Dedek Oni, si yatim piatu penjual kue, yang membuat naga pencuri sadar dan mau menebus kesalahannya. Heru memilih dongeng ini untuk disampaikan dalam acara pemberian santunan kepada sejumlah lansia dan anak yatim piatu. "Pesan moral bisa disampaikan dengan cara yang menghibur," ujar Heru Prakoso, demikian nama lengkapnya.

Suara Heru mungkin tak asing bagi pemirsa cilik. Sejak 2007, ia tampil sebagai perancang sekaligus pendongeng acara Rumah Dongeng di DAAI TV. Jauh hari sebelumnya, tepatnya awal tahun 1990-an, ia lebih dulu menghibur anak-anak pemirsa TPI lewat tokoh Belu dalam Film Boneka Si Komo . "Disamping menjadi pendongeng, saya juga terus berupaya mencetak pendongeng baru," ucap jawara Lomba Dongeng Tingkat Nasional tahun 1992 ini.

Kak Santono, Kak Ryan, dan Kak Nunung, adalah tiga kawan Heru yang sukses melejitkan diri sebagai pendongeng penyabet gelar juara nasional. Mereka menerapkan teknik-teknik mendongeng yang diajarkan Heru. "Kak Nunung adalah seorang guru di Bogor, Jawa Barat," jelas Heru yang sudah 20 tahun mendongeng di sejumlah TK jaringan Yayasan Mentari Indonesia.

Komitmen
Sebagai pendongeng, Heru memegang teguh komitmennya terhadap dunia pendidikan anak usia dini. Ia ingin guru-guru TK bisa tampil sebagai pendongeng hebat, dan pembentuk karakter. "Selepas Lebaran, saya akan mengajar dongeng di Aceh, satu-satunya daerah di Nusantara yang belum saya kunjungi," kata pelatih dongeng Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) ini.

Heru yakin semua orang bisa menjadi pendongeng hebat. Sebab, tidak perlu bakat untuk mendongeng. "Ini keterampilan yang bisa dikuasai dengan berlatih," komentar sarjana ekonomi alumnus Universitas Krisnadwipayana, Jakarta Timur, ini.

Tentu, meyakinkan orang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, yang dibimbingnya bukan cuma guru baru. Para guru senior juga ikut di kelas mendongeng Kak Heru. "Banyak yang tidak berani beralih ke paradigma baru itu," ungkap juri Lomba Dongeng Tingkat Nasional tahun 1994 ini.

Heru kemudian mencoba menggugah kesadaran para guru TK tentang tugas mulia yang diembannya. Lantas, ia mengingatkan keinginan anak untuk bereksplorasi tanpa dibatasi dengan cara klasik, yakni menyuruh mereka mengunci mulut dan memaksa anak mendengarkan guru. "Guru yang seperti itu berarti melanggar hak asasi anak, bisa saya laporkan ke Komnas Perlindungan Anak," katanya.

Heru mengajak guru TK untuk pintar membuat persetujuan dengan siswanya. Pria kelahiran Jakarta, 3 Juni 1964, ini ingin guru dan murid dapat berteman akrab. "Antara guru dan murid tak boleh ada jurang, tetapi harus ada kesepakatan di antara mereka tentang bagaimana seharusnya kelas berjalan," imbuh ayah empat anak yang menjadi pengisi suara film kartun Kampung Edu-UNICEF, TVRI dan SpaceToon, ini.

Kecerdasan majemuk
Heru juga menyerukan agar TK memanfaatkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya untuk menyampaikan dongeng. Menurutnya, tak perlu perlengkapan mahal untuk bisa menarik perhatian anak. "Pergunakan barang-barang yang akrab di mata anak dan libatkan kemahiran Anda menyanyi, main alat musik atau menari," katanya.

Heru lantas membiasakan guru dengan pola dan konsep dongeng yang baik. Dongeng harus ada bagian pembuka, konflik, dan akhir yang bahagia. "Ambil intisari kisahnya lalu ceritakan kembali. Jangan dihafal," saran Heru yang bersama UNICEF giat memasyarakatkan tontonan sehat kepada anak-anak.

Heru juga mengingatkan guru untuk berhati-hati dalam memilih kata. Sebab, anak TK memiliki kapasitas memori baru sekitar 2.500 kata. Pilihan kata juga harus disesuaikan dengan latar belakang penonton cilik. "Selanjutnya, berlatihlah agar bisa tampil percaya diri," saran pemain dan pengisi suara Festival Teater Boneka Tingkat Asia di India tahun 1992 ini.

Tiap kali mendongeng, Heru mengandalkan aksi teater, sulap, permainan gitar dan alat peraga. Tutur katanya mencoba menggugah seraya menghibur pemirsa cilik. Termasuk ketika bercerita di depan anak-anak nelayan Kapuk, Muara, Jakarta Utara, ataupun putra-putri pemulung Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

Heru mengajak gadis dan bujang belia tersebut untuk melihat jauh ke dalam diri mereka masing-masing. Mereka dirangkul untuk menguatkan diri menghadapi keterbatasan ekonomi keluarganya. "Saya ceritakan tentang anak yang ditinggal kedua orang tuanya lalu berusaha menjual kue. Makin hari makin jauh ia berjalan hingga dagangannya laku lebih banyak. Dari situ, ia bisa menabung dan membeli motor untuk memperluas jangkauan pemasarannya. Mengandalkan kekuatan akal pikirannya, anak tersebut akhirnya punya cukup uang untuk mendirikan pabrik kue sendiri," Heru mengisahkan.

Awal karir
Heru mengawali karirnya sebagai pembawa acara di Pasar Seni Ancol dan Dunia Fantasi pada tahun 1983 hingga 1992. Heru digamit Kak Seto untuk mengikuti festival cerita dengan boneka tingkat Asia pada tahun 1989 di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. "Dengan memadukan gaya wayang orang, boneka wayang dari kayu, dan suara unik, kami berhasil mengumpulkan poin penilaian tertinggi dan menjuarai festival bergengsi tersebut," kenang dosen PGTK Mentari, Jakarta, ini.

Kemenangan tersebut membuka mata Heru tentang profesi puppeter , pemain boneka atau pendongeng. Festival yang sama sekaligus memperlihatkan untuk kelas Asia, Indonesia terbilang maju dalam mengembangkan teknik mendongeng. "Saya yang ketika itu masih kuliah berpikir untuk serius menekuni dongeng," kata Heru yang tengah menyiapkan buku berjudul provokatif, Ingin Berpenghasilan Melebihi Sarjana? Yuk Kita Mendongeng!

Penampilannya yang mengesankan di kompetisi tingkat Asia mengirimkan Heru ke Jepang. Selama enam bulan di tahun 1991, Heru bersama seorang pendongeng dan pemain musik latar menggelar pertunjukan boneka Tsubasa menghibur anak-anak cacat. "Kami menikmati fasilitas dengan level seniman berkelas saat berkeliling Jepang," kenangnya.

Di Negeri Sakura, Heru naik panggung membawakan cerita rakyat berbahasa Indonesia. Pelajar Jepang kemudian menerjemahkannya ke bahasa setempat. "Dari kesempatan itu pula kami berbagi tips olah vokal dengan pemain boneka Jepang," tandas pimpinan Bonekaria ini.

Lalu, pada 1992, Heru diminta menjadi pemain sekaligus pengisi suara pada Festival Teater Boneka Tingkat Dunia di India. Sebuah lembaga donor mensponsori keberangkatannya ke India. "Sepulang dari sana, saya mengadaptasi boneka naga yang saya mainkan di India menjadi Si Komo, boneka komodo yang karakternya diciptakan Kak Seto," katanya.
(reiny dwinanda)

Sumber :http://www.republika.co.id/

Tidak ada komentar: