Senin, 28 Juli 2008

Kak Seto (Seto Mulyadi)

Dongeng "si Komo"Di Kali Adem
JAKARTA– Kegembiraan anak-anak korban penggusuran Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara, tiba-tiba meledak ketika Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, Rabu (29/10) siang mengunjungi tempat pengungsian di tenda-tenda darurat yang dibangun seadanya.
Untuk sesaat puluhan anak-anak korban penggusuran Kali Adem boleh melupakan kedukaannya menyusul bongkar paksa yang dilakukan aparat Tramtib Jakarta Utara. Dengan menggunakan kapal milik nelayan, Kak Seto bersama rombongan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, datang mengunjungi anak-anak korban penggusuran, Rabu (22/10) siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Tidak kurang dari 40 anak-anak berkumpul di Mushola Serikat Nelayan Tradisional (SNT), Kali Adem Pluit Penjaringan Jakarta Utara untuk bertemu dengan Kak Seto yang hanya mereka bisa lihat di layar kaca.
Bukan hanya anak-anak yang datang, sejumlah ibu-ibu yang menggendong bayinya dan sejumlah warga yang panasaran ingin melihat Kak Seto yang terkenal dengan “Si Komo” secara langsung. “Pengen melihat Kak Seto secara langsung,” ujar seorang ibu yang menggendong bayinya.
Ratusan bahkan ribuan gubug di Kali Adem memang sudah rata dengan kali tetapi tetap menyisakan sebuah mushola berukuran kurang lebih 42 meter persegi. Untuk mencapai mushola tersebut melewati dua jembatan darurat yang dibangun dari puing-puing rumah warga.
Kak Seto tanpa canggung-canggung langsung berbaur dengan anak-anak korban penggusuran. Dia lalu mengeluarkan boneka buaya dan memainkan boneka tersebut dengan tangan kanannya sembari bercanda dengan anak-anak yang mengerubutinya di mushola. “Cita-citanya menjadi apa? Menjadi dokter, polisi, tentara, atau guru?” Tanya Kak Seto berkali-kali.
Atraksi sulap juga berlangsung ditimpali canda tawa. Sekali-kali Kak Seto mengundang anak-anak tersebut berkata: “sim salabim”. Walhasil anak-anak korban gusuran terlihat gembira.
Balon-balon juga setelah dipompa oleh Kak Seto, dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi binatang. Anak-anak diajak menebak binatang apa yang akan dibentuk oleh Kak Seto. “Hayo tebak, ini binatang apa?” Tanya Kak Seto. Anak-anak yang berkumpul langsung menimpali dengan menyebut nama binatang yang dibuat dari balon. ”anjing, kucing, dan seterusnya.”
Gerak dan lagu juga memeriahkan interaksi Kak Seto dengan anak-anak. Lagu “Kepala Pundak Lutut Kaki” dinyanyikan dan diikuti dengan gerakan memegang kepala, pundak lutut dan kaki. Anak-anak juga diajak menyanyi lagu “Bangun Tidur Ku Terus Mandi” dan sejumlah lagu anak-anak lainnya.

Saat berinteraksi dengan anak-anak korban gusuran di Kali Adem, Kak Seto terlihat senang walaupun matahari dengan terik menyinari yang tentunya membuat hawa di dalam Mushola panas.

Anak Nelayan
Pipit (11), anak korban gusuran diberikan kesempatan oleh Kak Seto untuk membacakan sebuah puisi yang ditulisnya dengan dengan judul “Balada Anak Nelayan“. Kak Seto menutup kunjungannya dengan mengajak anak-anak tersebut menyanyi lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” secara bersama-sama. “Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra….” Mengalun dari anak-anak korban gusuran Kali Adem.
“Kak Seto lucu banget,“ kata Rudi (12), seorang anak yang ikut menonton aksi Seto yang berlangsung selama 30 menit tersebut. Masih banyak lagi senyum gembira dari wajah anak yang lain, karena sejak Rabu (22/10) minggu lalu setelah aksi penggusuran, anak-anak Kali Adem tidak mendapatkan hiburan.
Kak Seto juga sempat mampir ke tenda-tenda darurat dan berdialog dengan warga yang tengah memasak di dapur umum. Selain berkunjung, Kak Seto juga memberikan sejumlah bantuan kepada anak-anak tersebut berupa susu dan peralatan sekolah. Anak-anak yang tidak sempat bertemu dengan Kak Seto di Mushola, terlihat menyalami Kak Seto di tenda-tenda darurat tersebut. “Anak-anak harus tetap sekolah,” ujar Kak Seto kepada orang tua anak-anak tersebut.
Kak Seto menjelaskan kepada wartawan tentang kedatangannya ke kawasan penggusuran ini bertujuan memberi dorongan kepada anak-anak tetap semangat bersekolah. Ia juga menambahkan bahwa kegiatannya sekaligus meredam trauma anak-anak pasca penggusuran.
Dokter Silvi Ulaan dari Puskesmas Pluit, Penjaringan Jakarta Utara menyambut positif apa yang dilakukan oleh Kak Seto untuk mengurangi trauma anak-anak yang menjadi korban gusuran tersebut.

Terancam Putus Sekolah
Keceriaan anak-anak korban penggusuran di Kali Adem ternyata tidak dialami ratusan anak korban penggusuran Kampung Sawah, Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mereka bahkan terancam putus sekolah jika Pemda tak segera menyalurkan dana bantuan pendidikan dan memberikan rumah yang layak sebagai pengganti tempat tinggal warga yang telah digusur.
Sejumlah anak sudah berhenti bersekolah sejak rumahnya digusur Kamis (2/10) lalu. Sebagian besar anak hingga kini masih meneruskan pendidikan, meskipun dengan bersusah payah.
Anak yang memerlukan alat transportasi untuk mencapai sekolahnya kini hanya masuk satu atau dua hari dalam seminggu, karena orang tuanya tak lagi memiliki uang untuk membiayai transportasi anaknya ke sekolah. Kebanyakan anak juga terpaksa menunggak biaya SPP dan berbagai biaya lain. Karena itu, jika bantuan pendidikan yang dijanjikan Pemda DKI tak segera disalurkan, mereka dipastikan tinggal menunggu waktu sebelum terpaksa berhenti bersekolah.
“Mereka masih sekolah, tapi semua biaya untuk sementara belum dibayar dulu. Masih untung kalau letak sekolahnya dekat. Kalau jauh, paling seminggu hanya masuk satu dua hari. Itu juga karena orang tuanya lagi ada duit, lalu disisihkan buat ongkos anaknya jalan ke sekolah,” ujar Ny. Manurung, salah satu warga korban penggusuran Tanjung Duren, ketika ditemui SH di halte Jalan S. Parman yang berubah menjadi tempat penampungan darurat, Rabu (29/10).
Sedangkan Mahendra (6), kini terpaksa tak bersekolah. Pada saat penggusuran terjadi, ia baru saja mulai bersekolah di SD Kemanggisan. Tetapi, belum lama ia bersekolah, rumah tempat Hendra—panggilan akrab Mahendra—digusur. Seragam, perlengkapan sekolah dan buku-buku baru Hendra seluruhnya rusak. Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai tukang uruk tanah di lahan sengketa Tanjung Duren, dengan sendirinya kehilangan mata pencaharian setelah penggusuran itu. Akhirnya, kini Hendra tak lagi melanjutkan pendidikannya.
“Waktu itu sudah mendaftar, bahkan sudah membayar cicilan uang pangkal sebesar Rp 10.000. Tetapi saat digusur itu, seragam, sepatu dan buku-buku tak sempat diambil. Bapak juga tak lagi kerja. Ya sudah, karena tak ada biaya, ya sekarang dia tak lagi sekolah,” ujar Ny. Wiwik, ibu Hendra.
Data Komisi Nasional Perlindungan Anak, di Tanjung Duren terdapat 251 anak, yang terdiri dari 18 siswa TK, 157 siswa SD, 44 siswa SMP dan 32 siswa SMU. (SH/thomas jan bernadus/ruth hesti utami/ali amrisyam)
Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0310/30/sh04.html 

Tidak ada komentar: