Kak Agus (Agus Surono)

KAK AGUS SANG PENDONGENG
Punya cita-cita besar, ia menyusun kode etik dan jam bicara profesinya bagai seorang dokter. Bahkan Kak Seto memandangnya sebagai seniman komplet yang langka ....


Hari itu sekelompok anak usia prasekolah diajak merayakan Hari Kartini di sebuah TK di Kota Bandung. Sejauh mana makna yang tertangkap tak jadi soal. Kain sarung yang tersingkap lebar-lebar karena sikap duduk seadanya sebagai bocah, bukan pula masalah. Panasnya suasana hiruk-pikuk seperti terguyur air pegunungan, saat terdengar suara lembut menyapa lewat mikrofon.

"Adik-adik, siapa yang tadi malam tidur sendiriii ...?"

Anak-anak dengan penuh semangat mengacungkan jari, "Sayaaa ...!"

"Siapa yang tadi malam tidur berdiriii ...?"

Kembali telunjuk-telunjuk kecil mendongak ke udara, "Sayaaa ...!"

Pemilik suara itu Kak Agus. Ia duduk di kaki tangga panggung dengan senyum-senyum simpul. Tampak demikian santainya ia menikmati puluhan wajah polos yang duduk di lantai beralas karpet di hadapannya. Di belakangnya ada backdrop berupa pintu gerbang istana antah-berantah. Panggung seluas 8 m2 itu penuh dengan alat-alat bantu permainan, pentas wayang golek sederhana, juga kendang berikut pengendangnya.

Kambing bisa bicara
Kak Agus menunjukkan beberapa sikat gigi warna-warni dan mulai main tebak-tebakan warna. Mata anak-anak makin melebar saat dikeluarkan alat tabung transparan yang ke dalamnya ditiupkan angin, sehingga beterbangan keluar "kupu-kupu". Serentak keyboard mendendangkan Kupu-kupu Yang Lucu-nya Ibu Sud. Kak Agus bertanya, "Siapa yang mau tangkap kupu-kupu?" Kembali jari-jari kecil itu melambung ke udara.

Puncak acara tiba saat di tangan Kak Agus tiba-tiba bertengger "seekor kambing". Dapat bersuara lagi. Ia bercerita soal pentingnya mandi dan gosok gigi. Kambing bersuara lucu itu pandai pula berdialog dengan penontonnya. Dialog makin seru ketika muncul kura-kura.

Bukan cuma penonton cilik; yang dewasa pun memandang tak berkedip. Wayang golek ternyata baru dimainkan di sesi kedua, dengan khalayak anak-anak TK. Begitu meletakkan pantat di belakang batang pisang yang dicat merah muda, Kak Agus beralih fungsi jadi dalang, meski wayang yang disuguhkannya amat sederhana, dalam bahasa Indonesia. Tentu jangan mengharapkan Semar atau Cepot berbicara dalam bahasa Indonesia standar. Logat Sunda-na kaciri pisan!.

Keyboard kini bersahut-sahutan dengan tabuhan kendang membawakan irama ringan Sang Kodok. Kalau Semar berbicara dengan suara orang tua yang bijak, Cepot ditampilkan sebagai anak malas yang suka berbohong. Gerak-geriknya lincah mengikuti irama kendang, dengan goyang kibul yang jenaka. Show sepanjang 17 menit itu ditutup dengan suara Semar bertanya, "Anak-anak, bolehkah jadi anak malas?"

Sudah 20 tahun
Nyata benar, pertunjukan ini, betapapun sederhana dalam konsep, telah dipersiapkan dengan matang. Meski yang tampil di pentas hanya empat orang, ada empat orang lagi yang mendukung tim penghibur anak-anak Kak Agus.

"Anak-anak memang dunia saya," aku Kak Agus yang bernama lengkap Agus Djafar Sodik, pendiri, pemimpin dan pemilik Agus DS Production, yang staf tetapnya sekitar 30-an. Meski mencanangkan terjun di bidang children's entertainment, entah berbentuk panggung boneka, operet atau mendongeng, Agus, pertama dan yang utama, adalah seorang pendongeng. Jam terbangnya kini menginjak tahun ke-20. Sebegitu lama?

Di Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol, dongeng-dongeng Agus sudah menghibur anak-anak sejak 1980. Di Dunia Fantasi, kompleks yang sama, pun ada Panggung Boneka Agus DS. Ia pernah mengisi Acara untuk Anak Ruang Angkasa di RRI. Mengisi suara serial kartun Si Huma produksi PPFN, acara Lagu untuk Anak di TVRI, memproduksi acara untuk anak bulanan di TVRI Stasiun Pusat, serial boneka Dede Iyan di TPI, Paket Ramadhan di RCTI, juga acara Kreativitas Anak di TVRI Stasiun Pusat tiap Kamis pertama.

Pelbagai jenis suara dengan mudah meluncur dari bibir Agus. Dari suara anak balita, orang tua, laki-laki dewasa yang berwibawa, sampai ketawa riang nakal si Burung pelatuk dari serial kartun Woody Woodpecker Show.

Jin keluar dari botol Aladin
Sementara istilah dongeng akrab dengan budaya dan tradisi lama, profesi "pendongeng" rasanya masih termasuk profesi langka. Dalam arti belum banyak orang yang "nekat" menggantungkan nafkahnya pada profesi itu.

Jadi pendongeng yang baik menuntut ramuan yang pas antara bakat, minat, kesempatan, dan kesungguhan. Kalaupun tak berkelebihan dengan fasilitas, petualangan Agus di dunia dongeng dapat disebut berawal dari bakat dan minat yang tak terbendung.

Terlahir dari pasangan Nasuha Effendy dan Siti Fatimah pada 4 Desember 1960, Agus anak kelima dari delapan bersaudara. Ia tidak cukup beruntung bisa menikmati kedekatan dengan ayahnya. Puncaknya terjadi, saat orang tuanya bercerai, ketika ia baru sekitar 6 tahun. Tetapi ia memperoleh ganti. Ibunya menikah lagi dengan H. Purnama Natasasmita, kepala sekolah sekaligus guru SD.

"Justru ayah tiri yang membentuk saya," tuturnya. Haji P. Natasasmita ini yang pertama kali menyediakan lahan bagi bakat Agus cilik untuk berkembang. Sebagai pelatih gamelan dan reog, Pak Haji sering mentas. Sambil menerawang jauh, Agus bercerita, "Sebelum saya sekolah, kalau dia mentas, saya sering diajak naik pentas. Entah disuruh menyanyi, mendongeng, atau menari. Malah saat kelas I dan II saya sudah disuruh ikut lomba." Seingatnya, sejak kecil ia tidak mengenal demam panggung. Pentas selalu identik dengan kegembiraan belaka.

Ketika ia duduk di kelas VI, ayahnya ditempatkan sebagai kepala sekolah SD di P. Kelapa, Kep. Seribu, Teluk Jakarta. Karena satu dan lain hal, hanya Agus yang ikut ke sana. Maklum saja, luas pulau itu cuma + 200 x 1.000 m dan sekolah yang ada baru SD. SLTP baru dibuka oleh ayahnya, saat Agus masuk SLTP. Apa mau dikata, sampai tamat SLTP, bakat seni Agus tidak mendapatkan penyaluran lantaran serba terbatasnya sarana.

Setamat SLTP, Agus meneruskan sekolahnya di SPG IV, Jakarta. Baru saat itu, bak jin menerobos keluar saat lampu Aladin digosok, kemampuan artistik remaja Agus langsung menyembul. "Pak P. Harahap almarhum, kepala sekolah kami, mengizinkan murid-murid menggunakan semua sarana berkesenian di sekolah. Daripada pulang ke kos, saya lebih senang menghabiskan waktu di sekolah," katanya.

Agus menekuni seni suara, lukis, musik, teater. Segala macam lomba ia ikuti, dengan hasil piala bejibun. "Barangkali selemari banyaknya," kenangnya. Dengan bea siswa yang ia terima, ditambah honor menggambar kartun sebagai alat peraga praktik mengajar atas permintaan teman-temannya, ia mampu menopang hidupnya secara mandiri.

Dari murid TK sampai tamu bar
Dunia dongeng diterobosnya saat ia memenangkan lomba dongeng untuk SPG dan SGO se-DKI tahun 1979, dengan dongeng Putri Mili dan Bebek Jenaka ciptaan sendiri dan kostum Abunawas, juga ciptaan sendiri.

Tamat SPG, Agus sempat kuliah di LPKJ (cikal-bakal IKJ). Namun pentas panggung yang sebenarnya terus memanggil-manggil. Tak sabar dengan yang diperolehnya di lembaga pendidikan resmi, Agus keluar. Ia mulai mendongeng di Ancol. Tetapi kegiatannya masih belum terfokus. Selain menerima job mendongeng, mengisi suara di film animasi, ia juga menjadi guru TK pada pagi hari dan pembawa acara di bar di malam hari selama tujuh tahun!

Dua jenis pekerjaan yang membutuhkan pendekatan audience yang sangat berbeda ini rupanya besar peranannya dalam mengasah kemampuan Agus menghadapi hadirin, sambil terus memperkaya khazanah kecakapan panggungnya. Sulap misalnya, ternyata berguna, pada saat mendongeng di depan anak-anak ("Tiba-tiba sang putri berubah menjadi ... burung!"), maupun membawakan acara di depan tamu-tamu bar.

Diakuinya, berkat Kak Seto (Dr. Seto Mulyadi), ia belajar memfokuskan diri pada dongeng. Tahun 1988 Kak Seto mengajaknya mengikuti 1988 Sekai Nigyogeki Festival, festival teater boneka sedunia yang berlangsung selama 40 hari di beberapa kota di Jepang. Selama mengikuti rombongan Kak Seto itu, matanya seperti terbuka. "Oh, ini to dunia dongeng yang sebenarnya?"

Pertaliannya dengan Jepang tidak berhenti di situ. Tahun berikutnya ia diundang lagi ke sana untuk mengadakan pertunjukan bersama panggung boneka Ohanashi Caravan Tsubasa selama sebulan di Osaka. Dua tahun kemudian, kerja sama dengan grup Tsubasa disambung lagi, ketika ia dikontrak untuk pertunjukan keliling bersama mereka ke seluruh Jepang selama satu tahun.

Agu-su
Pertunjukan untuk menghibur anak-anak cacat, papa, dan penghuni panti jompo itu seperti membuka kesadaran baru dalam benak Agus. Misalnya, perkenalan singkatnya dengan seorang anak cacat bernama Mi-chan. Anak ini sejak awal tampak betah bermain-main di sekitar panggungnya. Saat pentas tiba, Agus memanggil gadis berusia tujuh tahunan itu untuk menyanyi bersama di atas pentas. Digendongnya anak itu sambil menyanyi. Usai pertunjukan dan bebenah, Agus mengajaknya bermain lagi. Maka ia terkejut bercampur heran, saat akan beranjak pergi, guru kepala sekolah datang tergopoh-gopoh dengan menangis. Ada apa gerangan?

"Mi-chan kini bisa bicara," katanya. Ya, anak yang sebelumnya tak pernah berbicara itu, mendadak bisa bicara dan ia yakin, kepada Aguslah harus berterima kasih. Ketika dicoba lagi, memang benar. "Agu-su," kata bocah itu. "A-yo-na-ra," sahutnya terbata-bata saat Agus mengatakan sayonara kepadanya.

Pengalaman yang tak terbeli dengan harta itu begitu membekas sehingga di tanah air, Agus semakin terobsesi pada cita-cita yang sudah lama mengendap dalam benaknya: menyuguhkan hiburan bagi anak-anak dalam strata sosial terbawah, yang tak terjangkau oleh pertimbangan untung-rugi para sponsor. Sebuah istana mainan keliling! Impian gila, yang tak mendatangkan untung malah bisa-bisa bikin "buntung". Tapi itulah Agus. Mungkin ia punya keyakinan, kebahagiaan tidak hanya dapat diraup lewat perhitungan untung-rugi.

Baru berhenti, kalau mati
Akhirnya, Agus menyadari jadi pendongenglah panggilannya. Tak beda dengan dokter, ia menyatakan diri "siap" selama 24 jam. Ia pun menerapkan kode etik: tidak mencetuskan kata-kata SARA, tidak mengarah pada pornografi, mengajarkan tata krama, dan berpakaian sopan.

Seorang pendongeng pada dasarnya adalah pendidik. Karena itu pula, ia selalu mengundang ibu dan ayah untuk mendampingi anak-anak mereka saat menyimak dongeng-dongengnya, agar tercipta komunikasi ortu dengan anak.

Andaikan kunci sukses adalah semangat dan antusiasme, maka Agus telah memegang kunci itu. Antusiasmenya tidak pernah kendor; dari saat menceritakan mimpi-mimpinya, pengalamannya, sampai saat mengungkap "rahasia dapur"-nya sendiri,

"Suara jangan terlalu keras, juga jangan terus-menerus berdiri, karena tinggi kita tidak boleh lebih dari dua kali tinggi anak, supaya mereka tidak takut atau terkejut. Untuk anak balita, gunakan bahasa ibu tetapi suara mereka sendiri, suara anak-anak balita, untuk menjalin kedekatan."

Namun pendongeng yang juga sering diundang untuk acara perayaan kawin perak atau emas ini juga biasa mendongeng di depan audience yang beragam usia. Bahkan, pernah mendongeng hanya untuk satu keluarga kecil. Dalam hal itu suara yang digunakannya netral saja.

Untuk audience anak-anak SD pendongeng harus berhati-hati, tidak menampilkan tutur-kata atau perilaku buruk, karena anak-anak seusia mereka masih dalam tahap meniru. Bahwa anak-anak kita kini seakan "diserbu" dongeng-dongeng luar negeri lewat TV, ia tidak mempermasalahkan. "Dongeng-dongeng itu memang digarap bagus. Masalahnya, mengapa kita tidak mulai mengangkat dongeng-dongeng kita sendiri? Misalnya menjadikan Timun Mas seorang heroik macam Sailor Moon?"

Menurut ayah Fian, yang masih kelas VI, dan suami Fikih Aisyah (yang nama aslinya Yuki Takaoka) ini, mendongeng dapat dilakukan kapan saja, dengan atau tanpa alat peraga. Di mobil, di rumah, entah dengan saputangan, korek api, kaus kaki, apa saja.

Untuk mendukung profesinya, ia memiliki perpustakaan dongeng pribadi di rumahnya, terdiri atas ribuan cerita dari pelbagai penjuru dunia. Berkali-kali mentas di festival panggung boneka internasional, ia pernah memainkan lima boneka seorang diri di sebuah festival panggung boneka tingkat Asia. Agus tahu benar, ia baru berhenti mendongeng kalau sudah berhenti jadi manusia. Maka sah saja bila terlontarlah sebuah cita-cita imajinatif lain, "Kalau saya mati nanti, saya ingin ada patung pendongeng di atas makam saya."

Kak Agus hidup karena imajinasinya. Pendongeng yang bisa ketawa tergelak-gelak atau ketakutan oleh cerita yang sedang disusunnya sendiri ini juga ingin mengetuk hati para ortu yang terlampau sibuk, "Mengapa Anda menyediakan waktu sekian jam untuk kerja, tetapi tidak untuk buah hati Anda?" (Lily Wibisono/Yds. Agus Surono)
Sumber : http://www.indomedia.com



Komentar

Unknown mengatakan…
Jika ada no telpon Kak Agus boleh saya minta?? Atau setidaknya alamat FB, email, dsb???

Postingan populer dari blog ini

Kak Imung

Kak Poetri (Poetri Suhendro)

Kak Wuntat Wawan Sembodo